
Miabella tak juga turun dari atas motor. Gadis dua puluh dua tahun itu tampaknya masih saja merajuk terhadap Carlo yang telah melepas helm dan meletakkannya di depan dada. Carlo kemudian mengacak-acak rambut yang sedikit basah oleh keringat. "Baiklah, jadi apa maumu sekarang?" tanyanya. Sikap Carlo saat itu seperti seorang pria yang tengah membujuk kekasih tercinta saat merajuk.
"Aku tidak mau apapun," jawab Miabella ketus tanpa melepas helm yang dia kenakan.
"Ya, sudah. Kalau begitu, kau tunggu saja di sini selama aku bersantai di dalam cafè," ujar Carlo. Dengan tenang, dia turun dari motornya tanpa menunggu Miabella turun terlebih dulu.
"Apa? Di mana tanggung jawabmu sebagai pengawal pribadiku?" protes Miabella masih tanpa melepas helm.
"Inilah bukti tanggung jawabku padamu, Nona. Aku yang mengajakmu kemari, maka aku yang akan menraktir. Kau boleh pesan apapun yang dirimu inginkan," ucap pria dengan kaca mata hitam yang menghiasi wajah tampannya.
"Apapun?" ulang Miabella. Sedangkan Carlo segera mengangguk. Dia tersenyum lebar saat melihat gadis itu bersedia melepas helm yang sejak tadi tak juga dia tanggalkan. "Aku harus membawa helmnya ke dalam, karena ini merupakan benda bersejarah bagi bibi Francy," ujarnya sambil berjalan masuk dan mendahului Carlo yang masih berdiri di dekat motor.
Miabella memilih meja yang berada di paling ujung. Pada jam seperti itu pengunjungnya memang belum terlalu ramai, sehingga ada beberapa kursi yang masih kosong. Baru saja mereka berdua duduk, seorang pelayan berusia muda langsung menghampiri keduanya. Dia menyodorkan buku menu sederhana. Perhatian Miabella langsung saja tertuju pada nama gelato.
"Aku ingin gelato. Ada rasa apa saja di sini?" tanya Miabella. Gadis itu seperti sudah lupa dengan rasa kesal yang tadi dia bawa dari rumah singgah.
"Ada beberapa varian rasa yang bisa dicoba. Di antaranya tiramisu, vanilla, espresso, rose petals, pistacio, dark ...."
"Aku ingin semua," potong Miabella tanpa menunggu sang pelayan menyebutkan semua varian rasa.
"Nona?" Carlo menatap gadis cantik itu dengan senyum penuh isyarat. Sementara Miabella hanya membalasnya dengan senyuman yang terkesan dipaksakan.
"Aku ingin semua," ulang Miabella pada pelayan tadi.
"Tidak ada yang lain?" tanya pelayan yang tampak kebingungan itu.
"Tidak ada. Terima kasih," tutup Miabella yang seakan mengusir si pelayan secara tidak langsung.
"Aku belum memesan kopi," protes Carlo.
__ADS_1
"Kau tidak membutuhkan kopi. Kau hanya butuh sesuatu yang manis, agar bisa mempertahankan dan semakin menambah kadar manis dalam dirimu," sahut Miabella setengah menyindir.
"Maksudmu?" tanya Carlo tak mengerti.
"Kau pikir saja sendiri!" jawab Miabella kembali bersikap ketus.
"Astaga. Kau benar-benar egois." Carlo mengempaskan napas pelan. Tak berselang lama, pesanan Miabella pun datang. Meja yang mereka tempati, kini dipenuhi oleh gelato aneka rasa.
"Lihatlah, Carlo. Bukankah mereka tampak begitu menggugah selera?" Miabella memilih salah satu rasa, kemudian mencicipinya. Dari semenjak kecil hingga saat ini, Miabella masih selalu kalap saat melihat es krim dan juga gelato.
"Habiskan saja," sahut Carlo sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu yang dia duduki.
"Kau yakin tak ingin membantuku menghabiskannya?" tanya Miabella lagi seraya menaikkan sebelah alis.
"Tidak usah," tolak Carlo. Pria itu kemudian tersenyum lembut. Dia memperhatikan Miabella yang tengah asyik menyantap gelato bagaikan anak kecil. Untuk beberapa saat, pikiran Carlo kembali tertuju pada perbincangannya dengan Miranda. Krasnyy Volk alias Red Wolf. Nama itu muncul lagi dalam bayangannya. Entah apa hubungan antara dia dengan organisasi tersebut. Lalu, tak berselang lama nama Fedor tiba-tiba ikut mengisi ingatannya.
"Kenapa?" tanya Miabella yang dapat mendengar suara pria itu meskipun pelan. Miabella begitu mirip dengan mendiang Matteo yang memiliki insting serta pendengaran tajam.
"Tidak apa-apa," jawab Carlo kembali tersenyum lembut.
"Apa kau memikirkan ibumu?" tanya gadis itu tiba-tiba, membuat Carlo terdiam untuk beberapa saat. "Kenapa tak minta bantuan kepada daddy zio untuk mencari keberadaannya?" saran Miabella dengan enteng sambil terus menikmati sisa gelato dalam cup bercorak bendera negara Italia.
"Tidak usah. Aku tak ingin merepotkan siapa pun. Lagi pula, kau dengar sendiri apa yang Miranda katakan tadi. Ibuku tak ingin dicari ataupun ditemukan," tolak Carlo denga raut kecewa yang berusaha dia sembunyikan.
"Ayolah, Carlo. Jangan bersikap seperti itu," protes Miabella. "Seandainya ibumu masih hidup hingga saat ini, aku yakin dia juga pasti penasaran dan ingin melihat wajahmu ketika dewasa," ujar Miabella seakan memberikan semangat kepada sang pengawal setia.
"Ya, tapi ... entahlah. Aku masih bingung." Carlo terdengar mengempaskan sebuah keluhan pendek. Dia lalu mengambil satu cup gelato rasa espresso sebagai pengganti kopi yang tak sempat dirinya pesan. Pria tampan berambut gelap tadi menikmati setiap sendok gelato yang masuk ke dalam mulutnya.
Ketika Carlo asyik dengan makanan tadi, Miabella justru memperhatikannya begitu lekat. Harus dia akui bahwa pria tiga puluh empat tahun tersebut sangatlah tampan dan juga seksi. Carlo tentu saja seribu kali lebih maskulin jika dibanding Lucas yang pengkhianat dan hanya ingin bersenang-senang. Pikiran Miabella kemudian tertuju kepada Delana. Wanita muda itu terlihat baik dan juga manis. Penampilannya sederhana tapi sangat sopan untuk ukuran gadis muda zaman sekarang. Carlo juga terlihat begitu akrab dengan dia.
__ADS_1
Miabella mengempaskan napas pelan. Makin dirinya banyak berpikir, dia semakin ingin segera menghabiskan sisa gelato yang masih ada beberapa cup lagi. Akan tetapi, unek-unek dalam hati juga terus memberontak dan seakan mencoba merangsak keluar dari bibirnya. Pada suapan terakhir dari gelato pistacio, Miabella menyerah. Dia meletakkan sendok, lalu kembali menatap Carlo yang juga seperti tengah larut dalam pikirannya sendiri.
"Jadi, seberapa dekat kalian?" tanya Miabella pada akhirnya.
"Siapa?" Carlo yang sejak tadi hanya diam dan termenung, segera menanggapi pertanyaan Miabella.
"Tentu saja kau dan gadis tadi. Siapa namanya?" Miabella menautkan alis dan berlagak seperti tengah berpikir.
"Delana?" Carlo mengernyitkan kening. Dia berpura-pura tak tahu dengan orang yang Miabella maksud.
"Ah, iya dia. Delana." Miabella tersenyum. Sebuah senyuman yang teramat dipaksakan.
"Aku dan Delana berteman sejak lama, karena kami sama-sama menghabiskan waktu di rumah singgah. Memangnya kenapa?" jelas Carlo. Dia balik bertanya kepada Miabella. Carlo sebenarnya tak ingin mengharapkan sesuatu yang berlebihan, apalagi dia sudah mendapat ultimatum keras dari Adriano.
"Tidak apa-apa. Aku lihat kalian sangat akrab. Seperti pasangan kekasih yang sudah lama tidak bertemu," ujar Miabella bernada setengah menyindir atau mungkin dia sedang memancing Carlo untuk berkata jujur. Akan tetapi, Carlo ternyata menanggapi ucapan Miabella dengan sebuah tawa renyah. Pria itu memang selalu menghadapi segalanya dengan santai.
"Kenapa kau hanya tertawa?" protes Miabella.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Carlo yang seakan ingin menggoda sang nona yang pemarah.
Apa yang Carlo lakukan memang berhasil. Miabella mendengus kesal. "Jika kau punya kekasih, maka itu artinya kau akan segera menikah," celetuk Miabella dengan polos.
Namun, ucapan gadis cantik tersebut telah berhasil membuat Carlo yang hendak menyalakan rokok, jadi mengurungkan niat. Dia hanya mengapit rokok tadi tanpa menyulutnya. "Bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu, Nona?" Carlo mengernyitkan kening karena tak mengerti. Dia kembali bermaksud untuk menyulut rokoknya.
"Usiamu sudah tiga puluh empat tahun. Usia yang sangat matang untuk menikah. Cepat atau lambat, kau pasti akan pergi dariku, demi masa depanmu," ucap Miabella pelan. Selera makannya untuk menghabiskan sisa gelato yang masih ada beberapa cup lagi, hilang seketika. Miabella merasa kenyang dan tak ingin lagi menyentuh jajanan kesukaannya tersebut.
Carlo kembali menjeda apa yang akan dia lakuka. Rokok tadi tidak jadi dia sulut. Tatapan pria itu tertuju pada wajah cantik yang terlihat murung.
"Sejujurnya aku tak peduli dan tidak pernah memikirkan berapa umurku. Jika perlu, aku akan memilih untuk tidak menikah dengan siapa pun, bila itu menjauhkanku darimu."
__ADS_1