Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
l'indizio


__ADS_3

Adriano mengalihkan pandangannya kepada Marco dan Coco. Seperti biasa, pria bermata biru itu masih tetap terlihat tenang.


Sementara Marco yang tadi sempat mengeluarkan pistol, kini telah menyimpannya kembali. Dia mendekat kepada Ignazio. “Aku sudah mencari informasi tentang Tangan Setan. Namun, penyelidikanku selalu berujung pada kebuntuan. Beritahu kami sesuatu yang bisa membuatku yakin bahwa Tangan Setan itu bukan hanya sebuah organisasi siluman bagai gelandangan yang tak diketahui asal-usulnya,” pinta pria yang kini mulai terbiasa memelihara janggut tipis di wajahnya.


Ignazio tertawa pelan sambil menoleh kepada Marco. “Tangan Setan memang sulit dilacak keberadaannya. Mereka tak memiliki tempat khusus yang dijadikan sebagai markas. Dalam kehidupan sehari-hari, anggota organisasi ini menyebar dan berbaur bersama masyarakat. Tak ada yang bisa mengenali, atau dapat menandai bahwa mereka merupakan anggota pembunuh bayaran sadis berdarah dingin,” jelas putra dari detektif Ranieri tersebut.


“Lalu, jika seperti itu sistem organisasinya ... bagaimana bisa mereka dapat melakukan penyerangan dengan bergerombol? Mereka pasti tetap memiliki sebuah tempat untuk melakukan persiapan. Tak mungkin merancang suatu rencana penyerangan mematikan hanya dengan pengarahan melalui telepon atau media sosial,” bantah Coco menyangsikan penjelasan Ignazio.


“Kau benar sekali,” tunjuk Ignazio dengan lagaknya yang sok pintar terhadap Coco. “Tangan Setan saling terhubung satu sama lain. Mereka memiliki kode rahasia dan simbol serta isyarat yang hanya dapat dimengerti oleh sesama anggotanya. Di Italia sendiri, diperkirakan ada sekitar dua ratus lima puluh orang yang menjadi anggota organisasi ini. Data itu didapat dari berbagai sumber di setiap daerah yang pernah menjadi sasaran kebrutalan mereka,” jelasnya lagi.


“Bagaimana cara mengetahui bahwa mereka bukan orang-orang yang sama? Setahuku, anggota organisasi ini beraksi dengan menggunakan topeng,” tanya Adriano masih tak mengerti.


Ignazio terdiam sejenak. Pria itu menatap ketiga pria di hadapannya satu per satu. “Seberapapun ahlinya seseorang, mereka pasti melakukan kesalahan juga. Pernah ada salah satu anggota mereka yang berhasil tertangkap. Seperti yang kita ketahui, Tangan Setan merupakan organisasi berisikan para pembunuh bayaran. Itu terjadi ketika mereka melakukan penghadangan terhadap salah satu pengusaha besar di Verona. Pengawal pribadi dari pengusaha tersebut berhasil menembak salah satu dari mereka. Tim kepolisian setempat berusaha untuk mengorek informasi darinya. Dia mengatakan bahwa mereka bergerak di bawah arahan seorang pembunuh bayaran kelas kakap, Aguila de la Selva (Elang Rimba),” Ignazio menyeringai kecil saat menyebutkan nama itu. Sementara Coco dan Marco hanya saling pandang. Lain halnya dengan Adriano yang telah mendengar nama itu sebelumnya dari Marcus Bolt. Pria berparas rupawan tersebut tidak menunjukan rasa penasaran yang terlalu berlebihan.


“Aku pernah menyelidiki asal-usul Elang Rimba. Berita tentangnya masih simpang siur. Ada kabar yang mengatakan bahwa dia adalah warga asli Spanyol yang bermukim di Amerika kemudian berpindah ke Belgia, dan terakhir dia berhasil merekrut beberapa orang di Rusia. Elang Rimba adalah pembunuh bayaran bertangan dingin. Dia juga tak jarang turun langsung untuk mengeksekusi targetnya,” terang Ignazio lagi.


“Ya, seperti yang dilakukannya terhadap Matteo de Luca,” timpal Adriano datar, tetapi berhasil membuat Marco dan Coco terbelalak seraya memandang ke arahnya dengan bersamaan.


“Baiklah. Aku rasa cukup perbincangan untuk hari ini. Kalian harus segera pergi, karena sebentar lagi beberapa anggota dari tim penyelidikan akan datang kemari. Ingat dengan kerja sama yang kutawarkan tadi,” sikap Ignazio masih terlihat pongah saat itu.


Namun, raut percaya dirinya seketika sirna saat Coco mengeluarkan ponsel dan tersenyum. “Rencana kerja sama sudah terekam semuanya di sini,” ujar pria itu dengan tawa puas, yang segera diikuti oleh Marco dan juga Adriano. Ketiga pria itu berlalu dari hadapan Ignazio yang hanya bisa terpaku. “Dasar bodoh,” ejek Coco. Meskipun ucapannya tidak terlalu nyaring, tetapi Ignazio masih dapat mendengarnya dengan jelas. Pria itu sempat berpikir, mungkin karena itulah pihak kepolisian merasa malas untuk mengusik jaringan para mafia. Mereka lebih cerdik dari kelihatannya.


Sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut, Adriano menghentikan langkah untuk sejenak dan kembali menoleh kepada pria yang masih terpaku di tempatnya berdiri. “Aku akan memikirkan rencana kerja sama yang kau tawarkan. Jangan khawatir,” ucapnya seraya tersenyum lebar penuh ejekan. Ketiganya segera pergi meninggalkan tempat kejadian perkara, dan menuju ke Istana de Luca di Palermo.


Tak membutuhkna waktu yang terlalu lama untuk tiba di markas besar Klan de Luca. Sesampainya di sana, Marco langsung mengarahkan Coco dan Adriano ke ruang kerja miliknya.

__ADS_1


“Dari mana kau mengetahui tentang Elang Rimba?” Marco yang sudah penasaran sejak tadi, akhirnya dapat menanyakan hal itu secara langsung kepada Adriano.


“Aku pergi ke Amerika bukan hanya sekadar menghabiskan uang untuk berlibur. Mia bahkan mengetahui hal itu, karena dia ikut denganku ketika kami menemui seseorang bernama Marcus Bolt. Menurut penjelasannya, salah satu peluru yang ditemukan di dalam tubuh Matteo berasal dari senjata khusus dan hanya dimiliki oleh orang tertentu. Salah satu dari empat peluru itu adalah milik Elang Rimba. Dia bahkan memberikan sebuah link padaku,” terang Adriano seraya duduk tak jauh dari Marco dan Coco.


“Link tentang apa?” tanya Coco tampak begitu tertarik dengan penuturan Adriano.


“Aku sendiri belum sempat memeriksanya. Namun, berdasarkan penuturan dari Marcus Bolt, link itu bisa kugunakan untuk menyewa seorang pembunuh bayaran yang juga merupakan salah satu sniper pembunuh Matteo,” jelas Adriano.


“Jadi bukan Elang Rimba maksudmu?” tanya Marco.


Adriano menggeleng pelan. Pria itu berpikir sejenak. “Pembunuh bayaran tersebut adalah rekan Elang Rimba. Jadi, jika kita dapat menangkap pembunuh bayaran itu, maka artinya kita sudah satu langkah lebih dekat pada orang yang sedang kita cari saat ini. Ada sesuat yang sudah pasti, salah satu dari keempat eksekutor merupakan seseorang yang berasal dari militer. Entah dia yang disebut sebagai Elang Rimba atau bukan. Marcus Bolt tidak memberitahuku tentang hal itu,” Adriano mengempaskan napas pendek seraya mengusap-usap keningnya.


“Aku pusing sekali mendengar penjelasanmu. Seharusnya kau bertanya pada pria itu, bagaimana dia bisa memberikan penjelasan dengan begitu yakin padamu, seakan dirinya benar-bebar mengetahui selik beluk para pembunuh bayaran tersebut,” Coco segera beranjak dari tempat duduknya dan berlalu menuju dapur, meninggalkan Adriano dan Marco yang hanya dapat saling pandang.


"Tumben sekali dia berpikir dengan benar," ujar Marco seraya mengeluarkan sebatang cerutu dan menawarkannya kepada Adriano, yang masih memikirkan ucapan dari Coco. Suami dari Mia itu menolaknya. Dia sedang tak ingin mengisap cerutu saat itu.


“Tidak bisakah kau bersikap biasa saja, Adriano?” tanya Coco dengan nada penuh kekesalan.


Adriano yang setengah mendongak karena tengah menenggak bir, segera menatap lurus pada Coco sembari mengernyit. “Apa maksudmu?” tanyanya.


“Ya, Coco! Apa maksudmu?” timpal Marco yang juga memandang pria berambut ikal itu heran.


“Menurutku Adriano selalu berlagak sok keren,” dengus Coco.


Hampir saja bir yang berada dalam mulut Adriano tersembur keluar, andai saja tidak cepat-cepat dia telan. “Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menikmati minuman dingin yang kau suguhkan,” ujarnya membela diri. Adriano mengeleng tak mengerti. "Aku merasa heran, bagaimana Matteo bisa tahan memiliki sahabat sepertimu," gumamnya pelan seraya berdecak.

__ADS_1


“Ya, tapi … ah, sudahlah!” Coco memalingkan wajahnya ke arah jendela besar di sisi ruangan.


“Akui saja bahwa Adriano jauh lebih keren darimu, Coco. Bahkan aku yang seorang pria normal saja dapat menilai dengan jelas betapa kerennya saudara ipar kita ini. Adriano pasti mengalahkanmu dalam hal menaklukkan wanita,” puji Marco dengan antusias diiringi tawa.


“Aku tidak pernah bermain-main dengan wanita, Marco. Aku bukan seorang playboy. Sejak dulu hanya ada satu wanita, yaitu Mia,” suara Adriano terdengar pelan, tapi terdengar meyakinkan.


“Menurutku, kau hanya terobsesi pada Mia dan berusaha untuk menaklukkannya,” sanggah Coco.


Adriano menggeleng sambil tertawa kecil. “Aku bahkan sudah pernah bertemu Mia, jauh sebelum dia mengenal Matteo,” terangnya santai.


“Itu tidak mungkin!”


“Benarkah?” seru Marco dan Coco dengan bersamaan.


“Sudahlah, bukan saatnya kita membahas hal itu. Kita akan terlalu banyak membuang waktu dengan percuma,” Adriano lalu merogoh sesuatu dari saku kemejanya. Secarik kertas bertuliskan sesuatu yang membuat Marco mengernyitkan kening.


“Nyalakan komputermu! Kita akan menyelidiki link ini,” suruhnya.


🍒


🍒


🍒


Hai, ini jangan bosan ya. Ini ceuceu bawakan rekomendasi novel keren lagi. Jangan lupa tengok.

__ADS_1



__ADS_2