Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Miabella


__ADS_3

“Oh, kau mengenalnya, Adriano?” tanya Arsen dalam bahasa Italia yang kaku, dan setengah terkejut.


“Ya. Dia datang bersamaku." Adriano tersenyum bangga. “Akan tetapi, sebentar lagi kami akan meninggalkan tempat ini. Aku akan mengantarnya pulang ke Italia,” jelasnya lagi.


“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Arsen. Dia kembali memandangi Mia dengan lekat. “Kalau begitu, sampai bertemu kembali, Nona ....”


“Mia!” sahut Adriano cepat. “Namanya Mia.”


“Nama yang sangat manis." Arsen meraih tangan kanan Mia tanpa permisi, kemudian mengecupnya pelan.


Sementara, Mia hanya terdiam dan tak berkomentar apapun. Di dalam benaknya, sudah terngiang berulang kali tentang kalimat Adriano yang mengatakan hendak membawa dia pulang ke Italia.


“Apakah kita akan pulang hari ini?” Mia mengalihkan perhatiannya pada Adriano.


“Ya, Mia. Lebih cepat lebih baik,” jawab Adriano lembut. Sorot matanya terlihat berbeda saat menatap Mia. Sedangkan Arsen yang masih berdiri di sana. hanya terdiam melihat adegan itu.


“Aku akan menutup acara sebentar, lalu mempersilakan para tamu untuk beristirahat dan menikmati suasana resort. Tak terkecuali kau, Arsen. Nikmatilah waktumu di sini,” tunjuk Adriano seraya tersenyum hangat. Dia pun berlalu.


“Tentu saja. Untuk langkah pertama dalam bersenang-senang, aku akan mencoba berkenalan dengan penari perut tadi.” Arsen tertawa lebar, lalu menganggukkan kepala pada Mia sebagai tanda berpamitan. Dia mengikuti Adriano berlalu dari hadapan wanita itu.


Kini, tinggal Mia sendiri di sana. Dia kembali termenung sambil menatap deburan ombak untuk beberapa saat, hingga Adriano datang dan menepuk lembut bahunya. “Ayo, kita pulang. Apa kau sudah siap?” tanya Adriano memastikan.


“Aku harus siap,” jawab Mia lirih sambil menundukkan wajah.


“Tidak apa-apa, Mia. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap pria rupawan itu lagi. Diraihnya tangan Mia, lalu dia tuntun menuju area parkir kendaraan. Di sana, seorang sopir telah siaga berdiri di depan mobil Rolls Royce bertipe SUV milik Adriano.


“Selamat siang, Tuan,” sapa sopir itu seraya membungkuk ke arah Adriano, lalu membukakan pintu


untuk majikannya tersebut.


“Selamat siang, Gerome. Antarkan kami ke bandara,” balas Adriano penuh wibawa. Setelah itu, dia membantu Mia menaiki kendaraan dan memasangkan sabuk pengaman.


Tak sampai setengah jam, mobil mewah tadi telah tiba di Bandara Chania. Sang sopir terus melajukan kendaraan hingga tiba di hanggar, tempat pesawat pribadi Adriano berada.


Tanpa membuang waktu, Adriano segera menuntun Mia turun. Pria bermata biru itu mengajaknya memasuki kabin pesawat. Dia mendudukkan Mia dengan hati-hati.


Mia terlihat gelisah, ketika pesawat mulai bergerak. Jantungnya berdebar kencang, sampai-sampai dia harus memegangi dadanya. Napas Mia pun mulai tersengal. Wanita itu kesulitan menghirup udara.


“Hey, tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Adriano yang menyadari gelagat aneh Mia, segera berpindah posisi ke samping wanita itu. Dia merengkuh tubuhnya sambil mengusap pelan punggung wanita tersebut.


“Ingatlah wajah Miabella atau siapa pun yang membuatmu merasa tenang,” hibur Adriano.


Kalimat tersebut kembali memantik memori tentang Matteo yang selalu berkata seperti itu, tiap kali Mia mengalami gangguan kecemasan.

__ADS_1


“Pandanglah aku, Mia. Bayangkan wajahku. Semua akan baik-baik saja.”


“Tidurlah. Buat dirimu senyaman mungkin,” ucap Adriano lembut. Bagaikan hipnotis, Mia langsung didera rasa kantuk yang membuatnya tertidur dalam dekapan Adriano.


Seperti sebuah mimpi bagi Adriano, ketika pria itu dapat bersentuhan langsung dengan wanita yang sekian lama menjadi pujaannya.


Beberapa saat berlalu. Mia terbangun, ketika Adriano menepuk lembut pipinya. “Kita akan segera mendarat. Kencangkan sabuk pengamanmu,” bisik Adriano.


Menyadari bahwa kepalanya masih bersandar di bahu Adriano, wanita itu segera menegakkan tubuh sambil mengusap sudut bibir dan pipinya. Mukanya memerah sambil sesekali melirik Adriano yang tersenyum geli memandang ke arahnya.


“Tenang saja, Mia. Kau tidak meneteskan air liur di atas kemejaku,” canda Adriano seraya tertawa geli.


Namun, Mia tak membalas gurauan pria itu. Setelah mengencangkan sabuk pengaman, dia berpegangan erat pada pinggiran kursi, sambil memejamkan mata hingga pesawat mendarat dengan sempurna.


Mereka telah tiba di Bandara Malpensa, Kota Milan. Seorang anak buah Adriano telah menunggu kedatangan mereka. Dia segera mempersilakan keduanya, agar masuk ke kendaraan. Saat hendak memasuki mobil, Adriano berhenti sejenak dan menoleh kepada Mia. “Sebelum bertolak menuju ke Casa de Luca, bolehkah aku mampir dulu ke suatu tempat? Sebentar saja,” tanyanya meminta izin.


“Terserah kau saja,” jawab Mia singkat. Dalam hati, dia bersyukur karena dirinya bisa mengulur waktu untuk tiba di kediaman mendiang sang suami. Rumah dengan sejuta kenangan indah bersama Matteo.


Mobil Adriano bergerak membelah jalanan Kota Milan yang padat dan selalu ramai. Milan yang merupakan salah satu pusat mode dunia, tentu saja tak pernah sepi dari segala macam aktivitas manusia. Termasuk, salah satunya yang berada di pinggiran kota.


Mobil Adriano melaju pelan, saat tiba di depan sebuah bangunan besar tiga lantai yang dikelilingi oleh pagar putih. Di jeruji pagar itu, ditumbuhi semacam tanaman merambat dan berbagai kertas berisi gambar khas anak-anak yang sengaja ditempelkan.


“Rumah siapa ini?” Mia menyembulkan kepalanya ke luar jendela.


Tak berselang lama, seorang wanita membuka pintu bangunan itu. Dia tampak terkejut melihat sosok Adriano berdiri di luar pagar. “Astaga! Tuan Adriano!” seru wanita tadi sambil berjalan cepat menuju ke arah Adriano berdiri. Wanita tersebut merogoh saku apronnya untuk mengambil kunci gembok, lalu membuka gerbang. Dibukanya gerbang itu lebar-lebar. Sementara, mobil Adriano masih terparkir di tepi jalan.


“Masuklah, Tuan. Astaga! Sudah berapa lama Anda tidak menjenguk anak-anak? Mereka semua merindukan kedatangan Anda di sini,” ujar wanita itu terharu, atas kehadiran Adriano. Berkali-kali dia memeluk tubuh si pria sambil mengusap air matanya.


“Anak-anak?” Mia mengernyitkan kening. “Kau sudah punya anak?” tanyanya penasaran.


“Aku mempunyai banyak anak,” jawab Adriano seraya tertawa renyah.


“Tuan Adriano adalah seorang penyelamat, Nyonya. Dia memberikan rumah ini dengan cuma-cuma untuk tempat tinggal kami. Dia bahkan yang membiayai seluruh kebutuhan sandang dan pangan,” terang wanita itu antusias.


“Kami? Kami siapa?” Mia semakin tak mengerti.


“Ayo. Masuklah. Kau akan mendapatkan jawabannya di sana." Adriano kembali menggenggam tangan Mia, lalu mengajaknya melintasi halaman berumput yang begitu luas.


Wanita paruh baya tadi mempersilakan Adriano dan Mia untuk memasuki sebuah ruangan yang mirip lobi. Di sudut ruangan, ada sofa panjang yang sengaja dipasang. Terdapat banyak pintu di tiap sisi ruangan. Di tengah-tengah ruangan, terdapat anak tangga besar menuju lantai atas.


“Sebenarnya tempat apa ini, Adriano?” Mia mulai didera perasaan was-was. Namun, perasaan itu lenyap seketika, saat wanita paruh baya tersebut membunyikan peluit yang dikalungkan di leher. Pintu-pintu tadi terbuka serempak. Puluhan anak mulai dari usia balita hingga remaja, berhamburan dari dalam sana. Semuanya tampak girang, kala melihat Adriano berdiri gagah di tengah-tengah ruangan. “Ayah!” Riuh rendah suara mereka memanggil Adriano.


“Mereka ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya karena terperanjat.

__ADS_1


“Ya, Mia. Mereka anak-anakku. Ini adalah ....” Kalimat Adriano terpotong begitu saja, saat anak-anak itu menghambur dan menerjang tubuhnya, hingga pria itu terhuyung ke belakang. “Hei, sudah. Sudah. Semua akan mendapatkan bagian pelukan dariku!” ujar Adriano riang. Tawanya semakin lebar menyambut mereka.


“Ini adalah panti asuhan yang dibangun tuan Adriano. Sudah banyak anak-anak terlantar atau tanpa orang tua yang mendapatkan pertolongan dan perlindungan di sini,” jeoas wanita paruh baya tadi. “Oh, ya. Maafkan aku, Nyonya. Di mana sopan santunku? Namaku Miranda. Senang berkenalan denganmu." Wanita tersebut menjabat tangan Mia dengan antusias, sambil menggerak-gerakkannya hingga membuat Mia terguncang.


Perasaan Mia menghangat saat mendengar penjelasan wanita bernama Miranda tadi. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari seorang Adriano D’Angelo.


Tak terasa, dua jam mereka habiskan di tempat anak-anak kurang beruntung itu. Pengalaman yang membuat Mia tersadar, bahwa setiap orang pasti mengalami kehilangannya sendiri-sendiri. Setiap kehilangan pasti terasa amat menyakitkan. Namun, melihat wajah-wajah ceria tanpa beban anak-anak di sana, seakan menyadarkan Mia bahwa kehilangan seseorang yang dicintai, tak berarti harus membuatnya terus terpuruk.


“Sudah malam, sebaiknya kita pulang,” ucap Adriano tiba-tiba. Mia menoleh perlahan pada Adriano, lalu mengangguk. Ya, dia sudah siap untuk segalanya. Siap datang dan memeluk Miabella, buah cintanya bersama Matteo yang harus dirinya jaga dengan baik.


Hampir satu jam di perjalanan, mereka lalui hingga akhirnya tiba di gerbang terluar Casa de Luca. Lagi-lagi, Mia tak kuasa menahan tangis. Terpaksa, Adriano yang keluar dan mengabarkan pada penjaga bahwa dia mengantarkan Nyonya de Luca.


Penjaga itu pun segera menunduk penuh hormat, lalu membuka seluruh akses hingga ke halaman depan bangunan utama. Penjaga juga telah menghubungi Damiano, sehingga ketika mobil Adriano tiba di halaman depan, Damiano sudah berdiri di sana sambil menggendong balita yang terlihat sangat cantik dengan mata abu-abunya.


“Miabella,” desis Adriano. Matanya berkaca-kaca melihat gadis mungil itu.


“Keluarlah dulu, Adriano. Kumohon,” pinta Mia lirih.


“Baiklah.” Adriano menuruti Mia. Dia bergegas turun menghampiri Damiano.


Tak terkira rasa terkejut pria tua itu, saat melihat Adriano dalam keadaan sehat.


“Tuan D'Angelo?” Damiano sampai harus menurunkan Miabella dari gendongan. Pikirannya yang selama ini selalu tenang, berubah menjadi panik dan kacau saat melihat Adriano yang tengah berdiri gagah di hadapannya.


“Apa kabar, Tuan Baresi?” sapa Adriano ramah.


“Ta-tapi, waktu itu ....” Damiano terbata.


“Ya. Aku masih hidup. Tuhan menyelamatkanku. Tidak apa-apa, Tuan. Aku sudah melupakan dan memaafkan semuanya,” ujar Adriano tulus. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan, ketika dia merasakan seseorang menarik-narik celananya.


Adalah Miabella yang melakukan itu sambil memandang tak berkedip pada Adriano. Mata bulatnya terlihat begitu menggemaskan.


“Apa kau teman ayahku?” tanyanya dengan gaya bicara yang masih cadel.


Adriano menurunkan tubuh dan menyejajarkan dirinya dengan Miabella. “Iya, Bella. Aku adalah teman ayahmu,” jawab Adriano seraya mengusap pipi tembem balita itu.


“Apa kau mengetahui kabar ayahku? Kakek Damiano mengatakan, ayah pulang ke surga dan tidak bisa kembali. Bisakah kau menjemput ayahku? Katakan padanya kalau aku rindu. Ajaklah dia pulang,” celoteh gadis kecil itu, sangat cerdas untuk anak-anak seusianya.


“Oh, Miabella. Seandainya bisa, maka pasti akan kulakukan itu.” spontan, Adriano memeluk Miabella.


Satu hal yang membuat Damiano terkejut adalah Miabella membalas pelukan Adriano lebih erat. Selama rentang waktu dia menjaga Miabella sejak bayi, Damiano mengetahui secara pasti bahwa balita itu tak pernah mau disentuh oleh siapa pun, kecuali dirinya dan kedua orang tuanya. Miabella bahkan tak mau didekati Francesca dan Daniella yang notabenenya adalah saudara Mia, apalagi oleh Coco dan Marco. Balita itu bersikap layaknya Matteo ketika kecil. Dia tak mengizinkan siapa pun mendekat, kecuali atas keinginannya.


“Apa kau tak merindukan ibumu?” tanya Adriano setelah menguraikan pelukannya.

__ADS_1


Miabella menggeleng lemah. “Ibu membenciku,” jawabnya pelan.


__ADS_2