
Plaka merupakan daerah di Athena yang sangat menarik, karena di sana terdapat sebuah tempat yang selalu menjadi tujuan para wisatawan yaitu Acropolis. Jalanan di daerah sana pun terbilang sempit dan hanya dapat dilewati oleh satu mobil saja, termasuk mobil yang mengantarkan Arsen dan Olivia hingga ke depan sebuah rumah bertingkat dengan cat dinding berwarna cokelat.
Setelah mengeluarkan semua barang-barangnya dari dalam mobil, Arsen segera mengetuk pintu berwarna hijau dengan hiasan besi berbentuk bulat yang menempel pada pintu tersebut. Sementara Olivia sibuk melihat sekeliling tempat yang begitu asing baginya, di mana rumah-rumah saling berdekatan dan seakan tiada jarak satu sama lain. Cat dindingnya pun tampak berwarna-warni.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seraut wajah muncul dari baliknya. Adalah seorang wanita berambut gelap dengan midi dress floral. Wajahnya terlihat awet muda dan juga cantik. "Epitélous eísai spíti (Akhirnya kau pulang juga)," sambut wanita berkulit bersih tersebut seraya mengecup kening Arsen. "Tadeus, lihatlah putramu sudah kembali!" seru wanita itu menoleh ke bagian dalam rumah.
"Ibu tidak akan mempersilakanku masuk?" tanya Arsen.
"Oh, tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak membawamu ...." wanita itu tidak sempat melanjutkan kata-katanya, ketika arah tatapan dia tertuju kepada Olivia yang berdiri di sebelah Arsen. "Hey, siapa ini?" tanyanya dengan rona tak percaya. Wanita yang merupakan ibunda Arsen tersebut memperhatikan Olivia dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sementara Oivia hanya berdiri dengan salah tingkah. Dia bingung harus bagaimana selain melayangkan sebuah senyuman kepada wanita paruh baya di hadapannya.
"Siapa gadis cantik ini, Arsen?" tanya wanita itu kemudian. Namun, Olivia tak bisa memahami apa yang dikatakannya. Dengan segera ibunda Arsen mempersilakan mereka untuk masuk.
"Ibu, perkenalkan ini Olivia. Dia ... dia adalah istriku. Ya, kami sudah menikah beberapa waktu yang lalu di Monaco," jelas Arsen dengan tenang. Pria berparas rupawan itu kemudian melirik Olivia yang masih terlihat kebingungan. "Dia ibuku, Olive. Namanya Eireen Moras," bisiknya pada wanita muda berambut hitam itu.
Dengan segera Olivia mengangguk sopan sambil tersenyum manis. Namun, dia tidak tahu harus berkata apa. "Aku tidak bisa bahasa Yunani," Olivia balas berbisik kepada Arsen.
"Tak apa, tetaplah bersikap manis. Ibuku orang yang supel dan tidak kaku. Kau pasti akan merasa nyaman dengannya," sahut Arsen kembali mengalihkan pandangan kepada sang ibu. "Istriku tidak bisa bicara bahasa Yunani, Bu. Dia berasal dari Italia," jelasnya.
__ADS_1
"Italia? Oh, luar biasa. Aku selalu ingin pergi ke sana," ujar sang ibu antusias. "Tadeus, kemarilah sayang! Lihat apa yang putramu bawa sebagai oleh-oleh dari kepergiannya kali ini," kembali ibunda Arsen berseru memanggil sang suami.
"Jangan heran. Ibuku memang selalu seperti itu," bisik Arsen lagi, teramat dekat di telinga Olivia bahkan hingga permukaan bibirnya menyentuh daun telinga wanita muda tersebut. Olivia pun bereaksi karenanya, tetapi dengan segera mereka kembali bersikap biasa ketika seorang pria memasuki ruang tamu dengan desain unik khas Yunani kuno.
Tadeus Moras. Dia merupakan seorang pemilik sebuah cafètaria pada salah satu jalan di Plaka. "Ada apa, Sayang?" tanyanya seraya merengkuh pinggang istrinya yang cantik. Sementara Eireen memberi isyarat dengan gerakan mata. "Oh, putra kesayanganku," Tadeus menghampiri Arsen dan memeluknya. Setelah itu, dia melirik kepada Olivia, lalu mengamati wanita muda tersebut dengan lekat.
"Namanya Olivia. Istri dari putra kita, Sayang," ucap Eireen terlihat bahagia. Lain halnya dengan Tadeus. Pria itu seketika menoleh kepada sang istri sambil menautkan alis. Dia seakan tak percaya bahwa Arsen telah memiliki seorang pasangan. "Kau terkejut, Sayang? Aku juga sama," ujar wanita berambut gelap itu dengan mata indahnya.
"Ini luar biasa," gumam Tadeus mengalihkan perhatiannya kepada Arsen dan Olivia, "tapi, kapan kau menikah, Nak? Kenapa kau tidak memberitahu orang tuamu?" Tadeus seakan hendak melakukan protes keras terhadap sang anak.
"Ceritanya sangat panjang, Ayah. Nanti saja, karena aku sangat lelah. Kami baru kembali dari Inggris dan langsung kemari. Kami ingin beristirahat dulu," ujar Arsen sambil merengkuh pundak Olivia. Tanpa banyak basa-basi lagi, Arsen menggeret kopernya beserta tas jinjing yang berisi baju-baju milik sang istri. Dia berlalu menuju kamarnya di lantai dua.
"Di sini kita harus tidur sekamar. Aku tidak ingin jika orang tuaku bertanya macam-macam karena mereka tak akan cukup sekali membahasnya, terlebih ibuku. Kau lihat sendiri, dia sangat cerewet," ujar Arsen sembari meletakkan koper beserta tas jinjing di sebelah meja dekat tempat tidur tadi.
Entah Olivia mendengarkan apa yang Arsen katakan atau tidak, karena dia sibuk mengamati sekeliling ruangan kamar itu. Olivia juga membuka pintu menuju balkon dan berdiri di sana. Dari balkon tersebut, dia dapat melihat pemandangan sekitar. Di kejauhan pada bukit yang tinggi, tampaklah sebuah bangunan megah. "Itu apa?" tunjuk Olivia.
Arsen yang tengah merapikan barang-barang bawaan segera menoleh. Dia menghentikan sejenak aktivitasnya kemudian berjalan menghampiri Olivia. Pria tersebut berdiri tepat di sebelah wanita yang kini mulai terbiasa dengan kebersamaan mereka. Kurang lebih satu bulan lamanya, mereka berdua menghabiskan waktu di Inggris. Dari semenjak kejadian mengerikan tempo hari, Olivia bahkan setuju untuk tidur sekamar dengan Arsen, meskipun tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Olivia masih merasa takut untuk melakukannya. "Itulah Acropolis yang terkenal. Kau pernah mendengarnya?" Arsen melirik sang istri yang terlihat amat lugu.
__ADS_1
"Ya, dulu sewaktu sekolah. Akan tetapi, aku tidak tahu seperti apa bentuk aslinya," sahut Olivia tersenyum cukup lebar. "Rasanya seperti mimpi karena aku bisa berada di Yunani," ujarnya lagi.
"Memangnya kenapa?" tanya Arsen.
"Kau tahu sendiri jika aku bukan anak orang kaya. Dulu, nyonya D'Angelo mengajakku ke Amerika. Setelah itu aku ikut denganmu ke Inggris, dan sekarang diriku berada di Yunani," senyum manis Olivia kembali terkembang di bibir tipisnya. "Jika orang tuaku sampai mendengar hal ini, entah apa yang akan mereka katakan," ucapnya lagi.
"Kau adalah istriku sekarang. Katakan saja negara mana lagi yang ingin kau kunjungi. Jika nanti aku sudah punya cukup uang, kita bisa pergi berdua. Bagaimana?" tawar Arsen membuat Olivia seketika menoleh padanya.
"Sungguh?" raut polos wanita muda itu kembali terlihat jelas.
"Ya, kenapa tidak," sahut Arsen. "Aku pernah pergi ke Potugal dan Spanyol. Jika kau mau, kita bisa memasukan dua negara itu ke dalam daftar perjalanan berikutnya, tapi entah kapan. Aku rasa tidak dalam waktu dekat, karena kita membutuhkan bekal yang banyak untuk berlibur," jelasnya.
Olivia tertawa renyah. Dia terlihat begitu manis, membuat Arsen begitu gemas padanya. Tanpa permisi, Arsen segera mengecup permukaan bibir Olivia dengan sangat lembut.
🍒🍒🍒
Satu lagi novel keren untuk dibaca dan dimasukan ke rak.
__ADS_1