Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Jumpsuit Rajut


__ADS_3

Setelah perbincangan menguras hati bersama putranya yang tengah dirawat di rumah sakit, Emiliano memutuskan untuk pulang. Namun, dia sempat menghentikan langkah saat melewati kamar Juan Pablo. Dari kaca berukuran kecil yang menempel pada pintu ruang perawatan, pria paruh baya tersebut dapat melihat ke dalam. Tampaklah Juan Pablo yang terbaring sendiri sambil menatap ke luar jendela.


Kembali terngiang isak tangis Gianna, saat meminta dia agar menemani pria asal Meksiko yang kini telah menjadi menantunya tersebut. Wajar jika anak perempuannya itu berkata demikian, karena memang tak ada siapa pun di dalam kamar itu selain Juan Pablo sendiri.


Dua sisi hati dalam diri Emiliano berperang, saling berusaha untuk mengalahkan satu sama lain. Namun, pada akhirnya dia lebih memilih pergi dari sana dengan membawa kegundahan besar. Rasa itu tetap ada bahkan hingga dirinya berhadapan langsung dengan Claudia, yang dalam beberapa hari ini tak turun dari tempat tidur.


"Bagaimana kabar anakmu?" tanyanya masih tetap sinis, meskipun dia sedang dalam kondisi tidak baik.


"Adriano sudah membaik. Begitu juga dengan keadaan Juan Pablo. Dia sedang menunggu untuk dipindahkan ke rumah sakit kota Roma agar bisa lebih dekat dengan Gianna," jawab Emiliano menjelaskan. Namun, dia bukanlah seorang aktor yang hebat dan pandai bersandiwara. Raut wajah pria empat orang anak dari dua wanita berbeda itu tampak begitu muram. Bahasa tubuhnya pun gelisah, menandakan rasa tidak nyaman yang membuat dirinya terlihat gusar.


"Ada apa? Kejutan apa lagi yang ingin kau beritahukan padaku selain dari pernikahan diam-diam dan juga kehamilan Gianna?" Claudia yang sudah mengenal baik Emiliano, dapat merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan suaminya tersebut.


Akan tetapi, Emiliano tak segera menjawab. Terlalu berat baginya untuk memberitahukan apa yang terjadi terhadap Ilario, kepada sang istri yang dalam kenyataannya begitu menganakemaskan sosok putra pertama mereka. Namun, tak benar juga jika dia terus menutupi yang sebenarnya.


Emiliano mendehem beberapa kali untuk sedikit mengurangi kegusaran dalam hati. Sesaat kemudian, pria itu meraih jemari tangan Claudia lalu menggenggamnya erat. "Aku ingin membicarakan sesuatu tentang Ilario," ucap pria itu. Cepat atau lambat, Claudia memang harus mengetahui kondisi Ilario yang sebenarnya.


Wajah masam wanita yang telah setia mendampingi Emiliano tersebut seketika berubah. Rona ceria penuh harap tampak jelas di sana. Dia juga menggenggam erat tangan sang suami dengan jauh lebih erat. "Ilario? Putraku?" Mata Claudia tampak begitu bersinar saat menyebutkan nama sang anak kesayangan. "Di mana dia? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin bertemu dengannya." Claudia terus memberondong Emiliano dengan serentetan pertanyaan yang membuat pria paruh baya tadi menjadi gelagapan.


"Tenanglah, Claudia. Ayo, minum dulu." Emiliano melepaskan genggaman tangannya, kemudian mengambil gelas berisi air puth di atas meja. Setelah itu, disodorkannya gelas tadi kepada Claudia, berharap agar wanita itu bisa jauh lebih tenang meskipun Emiliano tak yakin dengan apa yang akan terjadi kemudian. Dia hanya memperhatikan ibu tiga anak yang tengah meneguk minumannya dengan perasaan getir yang luar biasa.


Sekian lama Claudia menemaninya. Wanita itu tidak mengambil keputusan untuk pergi saat dirinya mendua. Sebuah pengkhianatan menyakitkan yang ternyata begitu membekas hingga saat ini, dan menjadikan Claudia berubah menjadi sosok yang tidak menyenangkan sama sekali.


Ya, kesalahan. Setiap orang pasti melakukannya tanpa terkecuali. Ia mengikuti ke manapun manusia pergi, mengiringi setiap langkah meskipun berusaha untuk selalu dihindari. Akan tetapi, ia terkadang datang pada saat yang tidak terduga, walau pada akhirnya akan melahirkan suatu pelajaran berharga.


Claudia kembali menyimpan gelas tadi di atas meja. Kini, wanita itu meminta agar Emiliano segera memberitahukan kabar tentang keberadaan Ilario padanya. "Katakan di mana putraku?" pintanya pelan. Tak biasanya Claudia berkata dengan suara yang terdengar lembut.


"Ilario ... dia ...." Emiliano tetap kesulitan untuk mengungkapkan yang sebenarnya.


"Kenapa dia?" desak Claudia yang sudah tak sabar mendengar penjelasan dari sang suami. "Bisakah untuk tidak berbelit-belit?"


"Ya tapi ... aku ...."

__ADS_1


"Katakan saja," desak Claudia lagi.


"Claudia, aku ... ini begitu ...."


"Katakan saja, Emiliano! Apa yang terjadi pada putraku Ilario? Kenapa kau harus membuat perasaanku menjadi gelisah seperti ini?" Claudia yang sedang sakit tampak sangat kesal karena sikap suaminya yang begitu bertele-tele. "Dari dulu hingga saat ini, kau selalu bersikap seperti seorang pengecut!" maki wanita itu membuat Emiliano tak nyaman.


"Tidak seperti itu. Kau tak bisa memahami betapa berat bagiku untuk memberitahumu bahwa ...."


"Bahwa apa?" desak Claudia yang mulai kehilangan kesabaran.


"Bahwa Ilario sudah tewas! Dia dihabisi kelompok mafia karena ulahnya sendiri," jawab Emiliano sambil berdiri. Namun, dengan segera pria tersebut menghentikan ucapannya, terlebih karena dia melihat perubahan ekspresi pada wajah istrinya.


Wanita itu seketika membeku, seperti tak berniat untuk menanggapi lagi perbincangan mereka. "Claudia ... aku ...."


"Keluarlah." Datar nada bicara Claudia saat itu dengan tatapan kosong menerawang pada dinding kamar. "Tinggalkan aku sendiri," pintanya kemudian tanpa ada ekspresi sedikit pun.


"Claudia, tolong ... ini ... ini sudah menjadi takdir yang harus diterima oleh Ilario. Dia ...." Emiliano tak sanggup melanjutkan kata-katanya, apalagi karena Claudia tampak memalingkan wajah darinya.


Mau tak mau, Emiliano pun menurutinya. Namun, sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar, dia kembali menoleh dan menatap sejenak sang istri yang masih terpaku di atas tempat tidur.


"Aku akan kemari lagi untuk membawakanmu makan siang," ucapnya tulus meski dia tahu bahwa Claudia tak akan menanggapi. Emiliano pun berlalu dari sana.


Claudia kini sendiri di dalam kamar. Air mata mulai jatuh perlahan. Tak lama kemudian, tetesan itu menjadi semakin deras, mengiringi kepedihan hatinya atas berita yang telah disampaikan oleh Emiliano. "Ilario ... putraku ...." Isakan Claudia terdengar begitu memilukan, hingga tubuhnya terguncang perlahan. Dalam bayangannya saat itu muncul wajah sang anak yang teramat dia rindukan.


Mengapa Claudia begitu menyayangi Ilario jika dibanding dengan yang lain? Semua kembali pada sosok Emiliano. Ilario kecil adalah seseorang yang selalu menemaninya menangis, di saat Emiliano kerap pergi dari rumah dengan alasan bahwa mereka menikah bukan atas dasar cinta. Ilario kecil yang selalu mengatakan bahwa dia akan menjadi pelindung sang ibu, memeluk Claudia dengan erat dan terkadang ikut menangis bersamanya. Semua kenangan yang terasa begitu menyebalkan, tapi menghadirkan sebuah kebanggaan tersendiri bagi Claudia terhadap anak itu.


"Ilario ... anakku ...." Claudia mulai meratap. Dia terus menangis, mencurahkan segenap kepedihan melalui air mata yang mengalir dengan semakin deras. Sesaat kemudian, wanita itu beranjak dari tempat tidur. Dia melangkah perlahan menuju pintu kemudian menguncinya. Lemah, Claudia berjalan ke dekat lemari. Dia mengeluarkan beberapa lembar pakaian hingga berceceran di lantai.


Claudia baru berhenti mengobrak-abrik isi lemarinya, ketika dirinya menemukan sesuatu. Adalah sebuah jumpsuit rajut berwarna abu-abu dengan hiasan tiga buah kancing pada bagian pundak. Baju itu dia rajut sendiri dengan tangannya, ketika Ilario baru dilahirkan.


Air mata Claudia semakin deras. Tangisnya pun terdengar makin nyaring. Didekapnya dengan erat baju mungil itu untuk beberapa saat. "Ilario ...." Sejak tadi, hanya nama itu yang keluar dari bibir Claudia. Sebuah penyesalan besar dari keadaan yang tak mungkin dapat dia kembalikan. Andai saja akan berakhir seperti ini, maka dirinya tak akan pernah menyuruh Ilario untuk pergi dan melarikan diri saat orang-orang asing itu mencari sang anak. Sekuat tenaga dia akan menyembunyikan putra sulungnya tersebut.

__ADS_1


Claudia terus menangis. Tak dilepaskannya jumpsuit rajut tadi dari dalam dekapan. Wanita itu bahkan menciumi baju kenangan masa kecil Ilario hingga beberapa kali. Bagaimanapun juga, hatinya sebagai seorang ibu sedang terluka.


Sesaat kemudian, Claudia yang sejak tadi duduk bersimpuh di lantai, lalu beranjak ke dekat jendela. Masih terbayang hari terakhir saat Ilario meninggalkan rumah diiringi tatapannya dari tempat yang sama. Claudia tak beranjak hingga tubuh jangkung putranya tidak terlihat lagi dari pandangan. Saat itu Ilario berjanji akan selalu memberi kabar. Namun, pada kenyataannya hanya kabar buruk yang Claudia dapatkan.


Selang beberapa saat, terdengar suara ketukan di pintu. Claudia menoleh ke sana, tapi wanita itu tak berniat untuk membukanya.


"Claudia, buka pintunya. Aku membawakanmu makan siang," seru Emiliano dari luar kamar.


Akan tetapi, Claudia tak menanggapi sama sekali. Wanita itu kembali menatap ke luar. Jauh di dekat pintu gerbang rumahnya, dia melihat sosok jangkung itu berdiri dan tersenyum. "Ilario?" desahnya lirih. Claudia tersenyum nanar. Sambil terus mendekap jumpsuit rajut abu-abu tadi, dia melangkah masuk ke kamar mandi.


Prrraaaaang.


Emiliano yang masih berdiri di luar kamar, seketika tersentak. "Claudia!" serunya dengan suara yang jauh lebih nyaring. Dia meletakkan nampan berisi makanan, lalu menggedor pintu dengan kencang. "Claudia, buka pintunya!" seru pria itu lagi panik. Dia takut terjadi sesuatu di dalam sana.


Agustine yang mendengar sang ayah berteriak memanggil nama sang ibu, segera datang menghampiri. "Ada apa, Padre?" tanyanya.


"Claudia mengunci diri di dalam kamar. Dia tak mengizinkanku masuk. Namun, baru saja kudengar ada suara benda pecah. Aku khawatir dia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan," terang Emiliano yang terlihat begitu was-was.


Mendengar penjelasan dari sang ayah, Agustine berinisiatif mendobrak pintu meskipun dia begitu kesulitan. Agustine tak memiliki kekuatan seperti Adriano. Walaupun sudah berkali-kali mencoba mendobrak pintu kamar tersebut, tetapi dia tak juga berhasil. Pada percobaan yang kesekian kali, barulah pria itu berhasil melakukannya.


Pintu kamar terbuka. Emiliano terkejut melihat pakaian berceceran di lantai. Dia juga tak melihat keberadaan Claudia di sana.


"Padre!" pekik Agustine dari dalam kamar mandi.


Dengan segera, Emiliano beranjak ke sana. Seketika tubuhnya terpaku saat melihat pemandangan mengerikan di depan mata. Claudia terbaring di dalam bathub dengan leher tersayat sambil memegangi jumpsuit rajut tadi. Darah segar pun memenuhi bak mandi tersebut.


🍒 🍒 🍒


Hai, tenangkan diri dulu sejenak yuk dengan baca novel ini.


__ADS_1


__ADS_2