
Entah apa yang ada di dalam pikiran Gianna, sehingga dia menerima ajakan Juan Pablo. Mereka melangkah bersama menyusuri trotoar jalanan kota, berbaur dengan para pejalan kaki lainnya. Sesekali, Gianna melirik pria tampan dengan postur yang tak jauh berbeda dengan Adriano. Sementara Juan Pablo masih tampak biasa saja. Dia menatap lurus ke depan. Pria itu melangkah dengan begitu gagah. Satu tangan mengenggam ponsel, sementara tangan lainnya berada di dalam saku celana.
"Kau sudah makan siang?" tanyanya melirik kepada Gianna untuk sejenak.
Gadis berambut pirang itu menoleh, lalu menggeleng pelan. Tanpa banyak bicara lagi, Juan Pablo kemudian mengarahkannya pada sebuah restoran. Setelah memilih meja yang dirasa paling nyaman untuk mereka berdua, pria asal Meksiko tersebut tampak memilihkan beberapa menu untuk santap siang hari itu.
"Kau sering kemari, atau kau memang tinggal di sini?" tanya Gianna. Gadis muda itu memang sangat supel, sehingga dia tak terlihat canggung sama sekali.
"Kebetulan aku tinggal di Monaco, tapi aku juga punya sebuah villa yang terdapat di pinggiran kota Roma," jelas Juan Pablo dengan tatapan lekat yang dia tujukan kepada Gianna. Gadis cantik bermata biru tadi tersenyum sambil manggut-manggut pelan. "Jadi, kau adalah adik dari tuan D'Angelo? Lalu, kenapa nama belakang kalian berbeda?" pertanyaan dari Juan Pablo, mengawali perbincangan mereka berdua.
"Ah, jangan katakan jika kau mengajak berbincang di sini hanya untuk mengorek informasi tentang kakakku," tukas Gianna dengan sorot mata penuh selidik.
Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Juan Pablo. Dia tak segera menanggapi ucapan Gianna, karena saat itu datang seorang pelayan yang menyajikan makanan pesanan mereka berdua. Setelah pramusaji itu berlalu dari sana, barulah Juan Pablo kembali bersuara. "Terus terang saja bahwa nama belakangmu mengingatkanku pada seseorang. Aku pernah bertemu dengannya ketika masih tinggal di Amerika," jelas pria bermata cokelat madu tersebut.
__ADS_1
Gianna tersenyum kecil mendengar ucapan pria rupawan di hadapannya. Dia seperti sudah tahu siapa yang Juan Pablo maksud.
"Oh, jadi kau pernah tinggal di Amerika? Aku selalu bermimpi untuk bisa pergi ke sana," ujar gadis itu dengan mata birunya yang seketika berbinar indah. Sesaat kemudian, wajahnya kembali terlihat biasa lagi.
"Apa orang yang kau maksud tadi adalah Vincenzo Moriarty?" Gianna meyakinkan. Gadis itu kemudian tertawa renyah. Tawa yang membuatnya terlihat semakin manis. "Jika memang benar, maka itu artinya kau tidak keliru. Dia adalah kakak sepupuku dan Adriano tentunya," ujar adik tiri dari ketua Tigre Nero tersebut.
Akan tetapi, Juan Pablo masih saja tampak belum merasa puas. Pria itu terdiam sambil terus memperhatikan gadis manis di hadapannya. "Jadi, artinya tuan D'Angelo juga merupakan sepupu dari Vincenzo Moriarty. Hmm, menarik sekali. Sayangnya aku tidak pernah tahu tentang hal itu," ucap Juan Pablo seraya mengernyitkan kening.
"Apa itu masalah besar untukmu?" tanya Gianna, masih dengan nada dan tatapan yang terkesan penuh selidik. Dia sadar bahwa Juan Pablo pasti bukan orang sembarangan, jika pria itu mengenal kakak sepupunya, Vincenzo Moriarty. "Apa kau juga dari kalangan seperti kakak-kakakku?" Gianna kembali bertanya, kali ini dengan penuh penekanan.
Gadis berambut pirang itu menjadi kian penasaran dengan sosok rupawan di hadapannya. Dia memperhatikan Juan Pablo dengan begitu detail, mulai dari potongan rambut hingga hal-hal lain yang dirasa menarik. Akan tetapi, makin diperhatikan ternyata Juan Pablo terlihat semakin menawan. Pria itu sama seksinya dengan Adriano. "Apa kau sudah menikah?" tanya Gianna tiba-tiba, membuat Juan Pablo hampir tersedak. Dengan segera, pria asal Meksiko itu meneguk minumannya, kemudian mengatur napas.
"Apa aku terlihat seperti seseorang yang sudah menikah di matamu?" Juan Pablo balik bertanya dengan datar.
__ADS_1
"Entahlah," jawab Gianna tak acuh. Dia lalu beralih pada makanan di hadapannya. Gadis manis bermata biru itu, mulai mencicipi menu santap siang yang telah Juan Pablo pesankan untuk dirinya. "Seperti yang telah kita ketahui, bahwa ada banyak orang yang dengan sengaja menyembunyikan identitas asli mereka dengan berbagai alasan. Terkadang bahkan ada yang memakai alasan tak masuk akal," ujar Gianna tanpa menoleh. Dia sibuk mencicipi makanannya yang terlihat sangat menggugah selera.
Kini, giliran Juan Pablo lah yang memperhatikan gadis manis yang tengah asyik menikmati menu khas Italia dengan lahap. Gianna terlihat tidak merasa terbebani sama sekali. "Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya pria berambut gelap itu dengan setengah bergumam. Juan Pablo mungkin berharap agar Gianna tak mendengarnya. Akan tetapi, sayang sekali karena suasana di restoran itu cukup sepi, sehingga Gianna dapat mendengar pertanyaan tadi dengan jelas.
Gianna pun menghentikan suapannya. Dia lalu menoleh dengan tatapan yang terlihat aneh. Gadis berambut pirang tersebut menelan makanan yang ada di dalam mulut, sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang sepertinya tak sengaja terlontar dari mulut Juan Pablo. Gadis manis itu pun meletakkan sendok yang sedang dia pegang. Gianna lalu tersenyum sambil melipat kedua tangannya di atas meja, tepat di depan dada. "Menurutmu bagaimana?" dia balik bertanya sambil menatap pria yang juga tengah memandang ke arahnya.
"Entahlah. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa ada banyak orang yang menyembunyikan identitas asli mereka dengan berbagai alasan," jawab Juan Pablo yang sengaja mengulang kata-kata Gianna tadi, membuat gadis itu segera memalingkan wajah sambil mengulum senyuman. Tak disangka, ternyata Juan Pablo memiliki sisi unik dalam dirinya.
"Jadi apa yang kau inginkan sekarang, Tuan Herrera?" tanya Gianna seakan menantang pria di hadapannya. Dia kembali mengarahkan tatapan kepada si pemilik mata cokelat madu itu. Gianna bersikap berani dengan melawan sorot tajam dan agak dingin dari Juan Pablo.
"Aku tak ingin apapun, Nona Moriarty. Aku hanya mengajakmu untuk berbincang santai seperti saat ini. Lagi pula, aku rasa tak akan beban bagi kita berdua. Satu hal yang terpenting adalah tak akan ada pria yang mengejar untuk memukulku," ucap Juan Pablo dengan tanpa ekspresi, meskipun kata-katanya terkesan sebagai sebuah gurauan. Namun, raut wajah itu begitu datar dan juga terkesan sangat misterius.
"Kau tidak takut, bukan? Maksudku, kau tidak merasa takut terhadap seorang pria?" Gianna menautkan alisnya, lalu terdiam sejenak. Dia mengulum bibir seraya memikirkan pertanyaan yang barusan dia lontarkan sambil menggelengkan kepala. Sesuatu yang tentu saja terdengar aneh.
__ADS_1
Diliriknya Juan Pablo yang ternyata tengah menatapnya dengan tajam. Pria itu meraih gelas di samping tangan kanan, lalu meneguknya pelan. “Tentu saja. Kau harus tahu bahwa aku tidak pernah merasa takut terhadap siapa pun,” jawab pria itu dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.