
Siang itu, Miabella kembali berkeliling perkebunan dengan menggunakan kuda kesayangan yang diberi mana Uva. Seperti biasa, gadis itu akan menghabiskan banyak waktu di sana. Miabella mulai menikmati segala pekerjaannya. Terlebih, karena dia sudah mulai menumbuhkan tekad yang kuat dalam hati, bahwa dirinya akan bersikap jauh lebih bertanggung jawab.
Namun, ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran putri sulung Mia tersebut, yaitu Carlo. Semua berhubungan dengan jati diri pengawal tampannya yang baru terungkap setelah sekian puluh tahun berlalu. Miabella dapat merasakan bahwa itu pasti merupakan sesuatu yang tak bisa diterima dengan begitu saja.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Miabella seusai makan malam. Dia dan Carlo baru bisa bertegur sapa, setelah seharian sibuk dengan urusan masing-masing.
"Baik. Apa kau sangat sibuk hari ini?" Carlo balik bertanya.
"Begitulah. Aku menyibukkan diri," sahut Miabella seraya tertawa renyah. Namun, tawanya seketika sirna, saat melihat kehadiran Oxana di sana. "Apa kau butuh sesuatu?" tanya Miabella padanya.
Gadis asal Rusia itu tertegun sejenak. "Aku butuh bantuan Carlo," jawab Oxana. Dia mengarahkan pandangan kepada pria tampan tiga puluh empat tahun yang juga menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Carlo.
"Aku kesulitan membuka kaleng ikan tuna ini." Oxana menyodorkan benda pipih yang digenggamnya.
"Ada banyak pelayan di sini, kenapa harus meminta bantuan kepada Carlo? Lagi pula, memangnya kau belum makan malam?" protes Miabella.
"Aku ...." Oxana terlihat gugup melihat sikap Miabella yang ketus.
Melihat hal itu, Carlo segera bertindak. Dia berjalan menghampiri Oxana, lalu meminta benda tadi. Dengan mudahnya, pria rupawan bertato tersebut membuka kaleng yang Oxana sodorkan. "Ini," ucapnya seraya mengembalikan kepada gadis asal Rusia itu.
"Terima kasih, Carlo," balas Oxana lembut. Dia memamerkan senyuman manis. Bodohnya adalah Carlo membalas dengan hal yang sama. Pria itu mengangguk. "Apa kau juga mau? Aku akan memisahkannya untukmu," tawar Oxana tanpa melepas tatapan dari sosok sang pengawal yang rupawan.
"Tidak usah. Aku sudah makan malam tadi. Kau saja ya ...." Carlo tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dia lebih dulu melihat Miabella yang berlalu begitu saja. Namun, gadis itu bukan berjalan ke koridor kamarnya, melainkan ke arah tangga menuju lorong yang menghubungkan bangunan utama dengan perkebunan.
__ADS_1
Tanpa banyak berbasa-basi lagi, Carlo langsung saja menyusulnya. Dia meninggalkan Oxana yang berdiri dalam kebingungan. Setengah berlari, Carlo mengejar Miabella yang sudah menyusuri lorong dengan lampu tempel berwarna kuning. Gadis itu melangkah tergesa-gesa menuju ke area perkebunan. "Nona!" panggil Carlo.
Miabella dapat mendengar suara pria itu dengan jelas. Akan tetapi, dia tak menoleh apalagi sampai berhenti. Miabella terus saja berjalan, hingga kakinya menapaki tanah perkebunan. Entah apa yang akan gadis itu lakukan di sana. Dia menjejakkan kaki pada jalan setapak berhiaskan rerumputan yang selalu dipangkas rapi.
"Nona!" Carlo yang bergerak cepat, akhirnya dapat menyusul Miabella. Dia meraih pergelangan tangan gadis cantik bermata abu-abu tersebut.
"Lepaskan aku, Carlo!" tolak Miabella tegas. Dia berusaha menepiskan tangan Carlo darinya.
Akan tetapi, bukannya melepaskan genggaman dari Miabella, Carlo justru malah menarik gadis itu, lalu dia dekap. Pengawal tampan tersebut bahkan semakin mengeratkan pelukan terhadap sang nona muda. "Kau kenapa lagi?" tanyanya dengan napas yang menghangat di wajah Miabella.
"Aku muak padamu!" Miabella terdengar kesal dengan tatapan yang seakan menantang pria di hadapannya.
"Padaku?" Carlo menautkan alisnya yang tebal. Tanpa merenggangkan pelukan dari Miabella, Carlo kembali bertanya kepada gadis itu. "Katakan apa salahku?"
"Aku merasa biasa saja," bantah Carlo.
"Itu menurutmu," sanggah Miabella tanpa berusaha melepaskan dirinya dari dekapan sang pengawal.
Carlo mengempaskan napas berat setelah mendengar protes yang dilakukan oleh Miabella. Setidaknya, dia dapat memahami sesuatu. Saat itu Miabella tengah dilanda cemburu, sama seperti terhadap Delana beberapa hari yang lalu. "Kau pencemburu berat rupanya," bisik pria itu tepat di dekat telinga Miabella. Bibir Carlo yang dihiasi kumis tipis, bahkan sampai menyentuh daun telinga gadis cantik tersebut.
Sementara Miabella tidak menjawab. Dia hanya memejamkan mata, ketika merasakan embusan napas berat Carlo menghangat di dekat telinga serta lehernya. Entah siapa yang memulai, tetapi saat itu bibir mereka telah saling bertaut dengan manis. Akan tetapi, adegan tersebut tak berlangsung lama. Carlo melepaskan ciumannya, kemudian mengajak Miabella duduk di atas rerumputan dekat pohon anggur yang berderet rapi.
Miabella menurut saja. Dia menyandarkan tubuh di dada Carlo yang mendekap dirinya dari belakang. Mereka sama-sama menatap langit yang gelap. Namun, itu jauh lebih bagus, karena dapat menyamarkan adegan romantis di antara keduanya.
"Apa kau tidak kedinginan?" bisik Carlo.
__ADS_1
Sedangkan Miabella hanya menanggapi dengan sebuah gelengan pelan. Carlo pun semakin mengeratkan dekapannya.
"Dia cantik bukan?" Miabella terlihat begitu nyaman menyandarkan kepalanya di bahu sang pengawal.
"Siapa?" tanya Carlo.
"Gadis Rusia itu," jawab Miabella dengan tatapan yang masih tertuju ke langit. "Dia berambut pirang dan juga memiliki mata biru yang indah," pancing Miabella.
"Dia juga penari yang hebat," celetuk Carlo keceplosan, membuat Miabella seketika mendelik dengan tajam. Gadis itu bermaksud untuk melepaskan diri dari dekapannya, tapi segera Carlo tahan. Miabella pun tak dapat beranjak dari sana. "Kau mau ke mana?" Lengan Carlo melingkar erat di dada gadis itu.
"Kau menyebalkan!" gerutu Miabella.
"Hey, aku tak sengaja melihat Oxana malam itu. Kami mengintai dia dari kejauhan di sebuah klub tempatnya bekerja," jelas Carlo. Pria tampan tersebut berusaha untuk menenangkan Miabella yang terus mencoba melepaskan diri.
"Pria selalu saja banyak alasan," dengus Miabella.
"Ayolah," bujuk Carlo. Dia menyingkirkan lengan kekarnya dari dada Miabella, membuat gadis itu dapat membalikkan badan. Untuk beberapa saat keduanya saling berhadapan. "Kau yang paling cantik. Aku sudah bosan melihat mata berwarna biru. Selain itu, rambut cokelat terlihat jauh lebih indah bagiku," ucap Carlo seraya membelai lembut rambut panjang Miabella.
Sentuhan lembut Carlo, kemudian beralih pada dagu gadis itu. Dari sana, lalu bergerak menelusup ke belakang leher. Mereka pun kembali berciuman. Lembut dan penuh perasaan, Carlo melu•mat bibir si gadis. Perlahan, dia merebahkan tubuh ramping Miabella di atas rerumputan.
"Carlo ...." desah Miabella tertahan, ketika sang pengawal rupawan itu tak berhenti mencumbuinya. Sentuhan bibir serta rabaan nakal, terus menghujani setiap inci dari tubuh putri sulung Mia tersebut.
Gadis itu melepaskan ciuman mereka untuk sesaat, kemudian menatap sayu kepada pria yang berada dalam posisi menyamping di sebelah dia. Untuk pertama kali, Miabella merasakan ada seorang pria yang berani menyentuh dirinya dengan jauh lebih dalam. "Apa kau menginginkannya, Carlo?" tanya Miabella lirih. Pertanyaan yang juga terdengar seperti sebuah tawaran. Pria tampan bermata biru itu mengangguk pelan, sebelum kembali melu•mat bibir Miabella dengan lembut.
Udara malam di musim panas. Tak mereka pedulikan di mana kini keduanya berada. Cumbuan-cumbuan mesra Carlo datang tanpa henti, menyirami rasa haus dan penasaran dalam diri Miabella. Ditangkupnya paras tampan yang tanpa Miabella sadari, sudah berhasil mencuri hatinya itu. “Aku mulai mencintaimu,” bisik gadis cantik bermata abu-abu itu. Suara merdunya lembut menyatu dengan desir angin malam perkebunan.
__ADS_1