
Adriano yang saat itu tengah memberikan beberapa intruksi kepada adik tirinya, terlihat heran ketika melihat Coco datang ke sana. Pria bermata biru tersebut tampak menautkan alisnya. "Kupikir kau masih di tempat Francesca," ujar Adriano. Dia lalu mengernyitkan kening. Coco terlihat begitu lesu. Tak ada semangat sama sekali dalam dirinya. Dia melangkah gontai ke dekat sofa, kemudian mengempaskan tubuhnya di sana.
"Ada apa lagi ini?" tanya Adriano pemasaran. Sementara Gianna sibuk dengan urusannya di dalam ruangan itu.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Adriano, Coco terlebih dahulu melirik gadis berambut pirang itu. "Hey, Gianna. Bisakah kau keluar dulu dari sini? Aku sedang tidak ingin melihat wanita dalam hidupku," celetuk pria berambut ikal itu seenaknya.
"Astaga, ini masih siang dan kau sudah mabuk, Ricci," balas Gianna dengan ketus.
"Sudah sana pergilah dan jangan banyak bicara sebelum kau melihatku muntah," ujar Coco lagi dengan sikapnya yang semakin tak acuh.
"Temanmu sungguh aneh, Adriano!" cibir Gianna dengan jengkel. Dia mengalah untuk keluar dari ruangan itu.
"Kalian para wanita yang aneh! Makanan dianggap musuh. Menjengkelkan!" dengus Coco tak karuan, membuat Adriano semakin heran melihatnya.
Setelah memperhatikan sikap rekannya untuk beberapa saat, Adriano kemudian menghampiri dan duduk tak jauh darinya. Sementara Coco masih duduk dengan posisi tak beraturan di atas sofa. "Kau tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan, kan?" tukasnya.
"Enak saja! Aku tidak pernah memakai barang-barang seperti itu!" bantah Coco dengan tegas. Sesaat kemudian, pria dengan jaket kulit hitam tersebut segera membetulkan sikap duduknya. "Baiklah. Kuberitahukan sesuatu padamu, hari ini aku memang sangat kacau," ucap Coco lesu seraya mengacak-acak rambutnya.
"Apa karena masalah kemarin?" tanya Adriano memastikan.
"Ya. Selalu dengan masalah yang sama," Coco kembali mengeluh. "Lagi-lagi aku tak habis pikir dengan jalan pikiran Francy. Katakan apa yang harus kulakukan, Amico?"
__ADS_1
"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tanya Adriano.
"Entahlah. Aku rasa mungkin sekitar lima tahun," jawab Coco seraya mencondongkan tubuh ke depan. Dia meraup wajahnya dengan kasar.
"Cukup lama juga rupanya," gumam Adriano seraya mengusap-usap dagu. "Seharusnya kalian sudah saling mengetahui karakter masing-masing," ucap pria bermata biru itu kemudian.
"Masalahnya adalah ketika karier Francy semakin menanjak. Dia begitu terobsesi untuk menjadi model papan atas dunia. Sejujurnya bahwa aku mulai mencemaskan semua itu, termasuk pola makan yang dia sebut sebagai diet demi menjaga bentuk tubuh. Kau lihat sendiri seperti apa tubuh kekasihku saat ini. Astaga, apa yang dipikirkan para wanita?" Coco kembali mendengus kesal. Helaan napas berat pun menghiasi setiap keluhan pria bermata cokelat tersebut.
Sedangkan Adriano tak tahu harus berkata apa. Sejujurnya bahwa dia bukanlah seseorang yang ahli dalam urusan percintaan. Adriano menjalani hubungannya bersama Mia dengan begitu saja.
"Apa tidak sebaiknya kau istirahat dulu. Aku bisa pergi ke Zlatibor dengan mengajak Arsen," sarannya. Namun, Coco tak segera menjawab.
"Kau butuh konsentrasi penuh untuk menemaniku ke sana. Aku pikir, dalam kondisi seperti ini ...."
"Apa kau yakin? Masih ada waktu jika kau ingin membatalkannya. Dengan begitu, aku juga bisa segera menghubungi Arsen dan meminta agar dia datang kemari," ucap Adriano lagi meyakinkan.
"Tidak usah. Lagi pula, kasihan dia baru saja menikah. Bawa saja aku. Kalaupun aku mati, tidak akan ada yang merasa kehilangan ataupun menangisi kepergianku," celoteh Coco lagi sambil beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke arah pintu. Sepertinya Coco hendak pergi dari sana.
"Kau hendak ke mana?" tanya Adriano seraya berdiri. Ada setitik rasa khawatir saat melihat bahasa tubuh Coco yang benar-benar kacau.
"Aku akan pulang saja ke Brescia," sahut Coco seraya menoleh sesaat. Dia melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
__ADS_1
"Ricci, tunggu!" cegah Adriano. Dia bergegas mengejar kekasih dari Francesca tersebut. "Sebaiknya kau kembali ke Brescia denganku. Motormu biar nanti anak buahku yang mengantarkannya ke sana," saran Adriano.
"Kenapa kau ini? Sejak kapan kau begitu mencemaskanku?" tanya Coco dengan senyumannya yang terlihat mencibir. "Kau pikir aku bocah ingusan. Sudah sana, urusi pekerjaanmu. Aku pulang dulu," Coco melangkah keluar sambil melambaikan tangan. Dia terlihat penuh percaya diri, meskipun saat itu suasana hatinya sedang tak karuan.
Setelah mengenakan helm full face hitam, Coco kemudian memasang sarung tangan. Akan tetapi, kali ini dia tidak memakai pelindung siku dan lutut. Entah sengaja atau memang karena dirinya sedang tidak fokus. Pada awalnya, Coco menjalankan motor sport merah itu dengan kecepatan sedang. Namun, makin lama dia menambah kecepatan, terlebih saat ada sepeda motor lain yang berhasil mendahului lajunya. Coco yang sedang galau menjadi sangat sensitif. Dia merasa tak terima dan langsung tertantang untuk mengejar si pengendara.
Naluri pembalapnya kian muncul, ketika si pengendara tadi seakan menerima tantangan darinya. Kedua motor sport tadi saling mengejar dan menyalip. Coco bahkan terus menambah kecepatan. Sementara dia tidak terlalu menguasai medan yang dilewati. Coco lupa bahwa ada beberapa tikungan yang harus dilaluinya. Dia masih saja menggeber sepeda motor itu dengan maksimal.
Lalu, tibalah saat di mana dirinya harus melewati tikungan tersebut. Dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil mini cooper merah. Coco yang saat itu sedang dalam posisi kecepatan penuh, refleks menggerakkan stang motornya ke arah berlawanan. Akan tetapi, itu membuat dirinya menjadi hilang keseimbangan. Bobot motor yang berat tak dapat dia tahan dan kendalikan. Pada akhirnya, dia dan kuda besi itu terjatuh di atas aspal dengan posisi motor yang terus melaju. Namun, untungnya karena dulu Coco merupakan seorang pembalap di lintasan sirkuit. Dia tahu teknik perlindungan diri jika menghadapi situasi seperti itu.
Coco terengah-engah seraya bangkit. Celana jeans yang dia kenakan sobek di beberapa bagian. Di sana juga terdapat noda darah dari luka lecet akibat bergesekan dengan aspal jalanan yang keras. Pergelangan kaki pria berambut ikal itu pun sepertinya terluka, karena sepatu yang dia kenakan pun terlihat rusak cukup parah.
Dengan tertatih, Coco berusaha membangunkan sepeda motornya. Untunglah saat itu ada beberapa pengguna jalan lain yang bersedia membantu. Sebelum melanjutkan perjalanan, Coco memeriksa kondisi motornya terlebih dahulu. Dia juga harus menenangkan diri, serta mengumpulkan lagi sisa-sisa tenaga yang telah terkuras habis.
Coco berdiri sejenak, kemudian duduk di atas jok motornya sambil menatap jalanan tempat di mana tadi dia terjatuh. Bagi seseorang yang pernah hidup di dunia balapan seperti dirinya, hal seperti tadi bukanlah sesuatu yang aneh. Terjatuh dan cedera, sudah menjadi risiko. Akan tetapi, lain dengan yang dia alami untuk saat ini. Rasanya terlalu berat jika dia harus cedera atau bahkan sampai meregang nyawa.
Sebatang rokok menemani lamunan pria berusia tiga puluh dua tahun itu. Ingatannya kembali pada sosok sang kekasih yang tadi dia tinggalkan begitu saja. Coco pun segera merogoh ponselnya dan mulai menghubungi Francesca.
Tak membutuhkan waktu yang lama hingga panggilannya tersambung. "Pronto," suara parau Francesca terdengar di ujung telepon. Dia juga terisak pelan. Sepertinya gadis itu tengah menangis.
"Francy? Kau menangis?" tanya Coco pelan. Darahnya berdesir dengan lebih cepat saat mendengar isakan itu makin lama terdengar menjadi sebuah raungan. Rasa perih dari luka akibat terjatuh tadi, tak dia hiraukan. Hatinya ternyata jauh lebih pedih saat menyadari bahwa dirinya telah menyakiti dan membuat kekasih yang sangat dia cintai dalam keadaan bersedih.
__ADS_1
"Francy, maafkan jika ucapanku terlalu keras padamu. Aku sama sekali tak bermaksud untuk membatasi kehidupan atau mengubur mimpi, serta cita-cita besarmu. Aku hanya ingin agar kita bisa selalu bersama, saling berdekatan. Aku sangat merindukan saat-saat itu, di mana aku dapat memelukmu kapanpun aku mau. Maafkan aku," sesal Coco.