Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Last Kiss


__ADS_3

Mia hampir saja putus asa saat menelepon sang suami. “Akan kucoba sekali lagi. Jika dia masih tak mau mengangkatnya, maka aku akan pulang ke Monaco sekarang juga,” tegas Mia. Sambil menarik napas panjang, dia kembali memencet nomor sang suami.


Baru dua kali nada sambung, Adriano langsung menjawabnya. Saat itu, rambut pria yang sangat dicintainya tersebut tampak acak-acakan dengan kemeja putih yang terlihat kusut. Sama sekali tak ada ciri khas dari Adriano yang rapi dengan gaya parlente khas pria itu.


“Hai, Sayang! Sedang apa?” sapa Adriano seraya tersenyum.


“Ada apa dengan penampilanmu, Sayang? Apa kau baik-baik saja?” tanya Mia khawatir.


Tiba-tiba, Adriano mengarahkan layar ponselnya pada sosok pria yang tak Mia kenal. Pria itu berdiri di samping sang ketua Tigre Nero. Tangan pria tadi melingkar di pundak Adriano dan terlihat akrab. “Siapa dia?” tanya Mia dengan kening mulai berkerut melihat keanehan yang terjadi di depan matanya.


“Hallo. Apa kabarmu, Nyonya D’Angelo," sapa pria itu melambaikan tangan pada layar ponsel. “Namaku Jacob. Aku adalah salah satu teman suamimu,” sapanya. Francesca dan Daniella pun ikut mengeburungi Mia demi melihat gambar di dalam layar.


“Di mana suamiku, Adriano? Kau ada di mana? Kenapa kolam renangnya tak kelihatan? Coco mengatakan bahwa kalian semua sedang pesta di kolam renang! Di mana kolamnya?” cecar Daniella dengan suara nyaring.


“Oh, itu,” Adriano mencoba bersikap kalem agar tak menimbulkan kecurigaan. “Aku sedang berada di halaman depan rumah seorang teman. Kolam renangnya ada di dalam,” jawabnya sembari menepuk pundak Jacob. “Kami sedang berjemur di sini,” ujarnya beralasan.


“Berjemur? Ya, ampun. Kenapa kalian aneh sekali? Sejak kapan kalian berjemur siang-siang di awal musim gugur dengan pakaian lengkap seperti itu?” tanya Francesca dengan raut aneh.


“Lagi pula ….” Mia mendekatkan layar ponselnya ke wajah. “Kenapa di sana tidak terlihat seperti Monaco?” pikir wanita itu ikut merasa heran.


“Bicara apa kau, Sayangku? Tentu saja ini Monaco, hanya saja letaknya sedikit ke utara,” dalih Adriano sambil tertawa pelan. Padahal, jantungnya sudah berdegup kencang. Baru kali ini Adriano merasakan takut yang begitu nyata.


“Wah, siapa yang akan melangsungkan pernikahan? Cantik sekali Anda, Nona bergaun putih,” puji Jacob sambil mendekatkan wajah ke layar ponsel Adriano. Dia berusaha untuk mengalihkan perbincangan. "Ini pesta yang sangat menyenangkan. Kami mengadakan lomba meniup balon semalam suntuk. Iya, kan?" Jacob tertawa renyah sambil menepuk pundak Adriano, seakan mereka adalah teman akrab.


"Oh, ya itu seru sekali. Aku meniup banyak balon semalam," sahut Adriano menanggapi. Sesaat kemudian, pria itu mengernyitkan keningnya.


"Ya, kawan. Kau meniup banyak sekali balon berwarna merah," timpal Jacob sambil terus tertawa, padahal tak ada yang lucu sama sekali.


"Ah, iya," balas Adriano menanggapi. Dia juga memaksakan untuk ikut tertawa. Pada akhirnya kedua pria itu sama-sama tertawa.


Sikap mereka tentu saja membuat Mia dan kedua saudarinya merasa semakin aneh. "Kuharap kau tidak minum terlalu banyak, Adriano," ucap Mia khawatir.


"Tentu saja tidak, Sayang. Aku ...."


"Tenang saja, Nyonya. Aku pastikan suamimu aman. Sekali lagi kuucapkan selamat atas rencana pernikahannya, Nona cantik," ucap Jacob lagi. Perhatiannya kembali tertuju kepada Francesca.

__ADS_1


“Oh, terima kasih, Tuan. Jika Anda berkenan, maka luangkanlah waktu untuk hadir di pesta yang akan kami langsungkan dua minggu lagi,” undang Francesca dengan wajah yang sangat bersahabat.


"Ya, Tuan. Sebagai sahabat dekat Adriano, aku harap Anda bisa juga ikut menjadi saksi dalam pesta pernikahan adikku," timpal Mia dengan senyumannya.


“Tentu saja, Nyonya. Aku merasa sangat tersanjung, terima kasih banyak. Aku pasti akan hadir di sana,” ucap Jacob sumringah.


Mia yang ramah, segera dapat menjalin obrolan hangat bersama jacob. Namun, percakapan akrab itu harus terhenti ketika Adriano mendengar sayup-sayup suara ledakan yang berasal dari dalam rumah.


“Um, maaf Mia. Aku harus pergi. Sepertinya Coco sedang membutuhkan bantuan dengan tamu-tamu pesta. Aku harus masuk ke dalam,” pamit Adriano.


“Sebenarnya kau ada di mana, Adriano? Di mana alamat rumah temanmu itu? Apa perlu aku pulang ke Monaco sekarang?” Mia kembali menunjukkan raut curiga.


“Tidak, jangan!” cegah Adriano gugup. “Jangan ke mana-mana. Aku akan pulang secepatnya. Ti amo, Mia. Sampai jumpa,” tutup Adriano seraya mengecup layar ponsel. Dia lalu mengakhiri panggilan begitu saja. Setelah itu, segera dimasukkan ponsel tadi ke dalam saku celana. Dengan segera, dia meraih rompi anti peluru yang sempat dilemparkannya begitu saja saat menjawab panggilan dari Mia. Dia memakai benda itu dengan setengah berlari menuju ke arah rumah.


“Tunggu!” cegah Jacob sembari mencekal lengan Adriano.


“Ada apa lagi?” Adriano menarik tangannya hingga terlepas dari cengkeraman Jacob.


“Bantu aku menemukan flashdisk yang kuceritakan tadi, maka aku akan membantumu menemukan Elang Rimba,” pinta Jacob memberikan penawaran, membuat Adriano terdiam sesaat.


Sementara itu di lantai atas, Coco dan Marco baru saja menghabisi tiga orang beberapa saat setelah Coco mematikan ponselnya. “Jadi, di mana Nenad berada?” tanya Marco mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Entahlah. Dia tak terlihat di manapun,” gumam Coco sedikit curiga sambil kembali menelusuri pintu demi pintu di ruangan itu. Gerakannya terhenti pada pintu paling akhir. Coco tampak sedikit kesulitan memutar pegangannya yang terasa macet. “Tidak bisa dibuka,” ucap pria berambut ikal itu.


“Tembak saja,” saran Marco. Sang ketua Klan de Luca itu sudah bersiap membidikkan senjata, ketika lantai yang dia pijak tiba-tiba retak dan ambrol. Marco pun terjatuh ke lantai bawah.


“Marco!” seru Coco yang begitu terkejut. Dia berbalik dan bermaksud membantu calon kakak iparnya. Akan tetapi, Coco harus mengurungkan niat tersebut, ketika pintu di belakangnya tiba-tiba terbuka. Sosok Nenad berdiri sambil menarik pelatuknya. Sedikit lagi, peluru dari dalam pistolnya akan meluncur menembus kening Coco. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi kepada Coco, seseorang melompat dari langit-langit dan mendarat tepat di depan pria berambut ikal tersebut. Akibatnya, peluru yang tengah melesat tadi bersarang di dada seseorang yang tiada lain adalah Monique. Wanita jelita berambut merah itu roboh di dekat kaki Coco.


Seketika, Coco terbelalak tak percaya. Demikian pula dengan Nenad. Pria itu tampak begitu terkejut. Di saat lengahya itulah, Coco segera mengarahkan senjata tepat ke kepala Nenad. ”Brengsek kau!” geramnya sembari menembakkan peluru berkali-kali ke tubuh pria yang selama ini menjadi incarannya. Coco tak berhenti sampai pria itu terhuyung dan terjerembab ke belakang. Nenad pun tewas bersimbah darah.


Sementara itu di lantai bawah, Marco meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang terkilir. Hampir saja dia menjadi sasaran tembak yang empuk. Beruntung Adriano datang di saat yang tepat. Ketua klan Tigre Nero itu sigap menembakkan pistolnya ke arah beberapa orang yang sudah mengerumuni Marco.


"Kau tak apa-apa?" tanya Adriano khawatir.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Namun, sepertinya aku akan kembali ke Italia dengan kaki terkilir," jawab Marco seraya meringis lalu mendesis pelan.

__ADS_1


"Katakan saja bahwa kau terpeleset saat main seluncuran di kolam renang," saran Adriano.


"Ya, dan Daniella akan memukul kepalaku dengan hak sepatunya," balas Marco menanggapi saran konyol dari Adriano. "Dari mana saja kau?" tanya putra Antonio itu kemudian.


"Aku tadi berbicara dengan ...." Adriano menoleh ke belakang. Akan tetapi, sosok Jacob tak ada di sana. Entah ke mana menghilangnya pria asing tersebut. "Lupakan. Di mana Ricci?" tanya Adriano.


"Dia ada di lantai atas," tunjuk Marco.


"Kau menepilah. Aku akan memeriksa ke atas," ucap Adriano. Dia membantu Marco untuk bangkit, kemudian memapahnya ke pinggir. "Tunggulah di sini," pesan pria bermata biru itu. Adriano kemudian berdiri dan kembali menyiapkan pistolnya.


Di lantai atas, Coco tengah sibuk menolong Monique. Wanita cantik itu terbaring dengan kepala di atas pangkuannya. Wajah putih Monique tampak semakin pucat, terlebih karena dia sudah kehilangan banyak darah.


"Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat," ucap Coco. Dia bermaksud untuk membopong tubuh Monique. Akan tetapi, wanita berambut merah tadi segera menolaknya.


"Tidak, Ricci. Aku tak ingin pergi ke rumah sakit. Aku ... aku hanya ... hanya ... ingin bi-bicara deng-denganmu," Monique memegangi tangan Coco. Susah payah dia mencoba untuk berbicara.


"Kenapa kau lakukan ini, Miljana?" tanya Coco dengan penuh sesal.


"Ka-karena ... karena ... ak-aku ... menyukaimu, Ricci," jawab Monique. "Kau ... sang-at tampan. Ak-aku ... a-aku sung ... aku sungguh jatuh cin-ta pa-da-mu. Maaf ka-rena ... karena ak-aku telah mem-memba-wamu ke-kema-kemari ...." ungkap Monique lagi.


"Sudahlah. Berhenti bicara karena aku akan segera membawamu ke rumah sakit," ucap Coco. Dia kembali bermaksud untuk mengangkat tubuh indah Monique. Namun, lagi-lagi wanita itu menolaknya.


"Men-dekatlah," pinta Monique.


Tanpa diminta dua kali, Coco mendekatkan wajah kepada wanita itu. Monique rupanya hendak membisikkan sesuatu kepadanya. Entah apa, tapi itu membuat Coco segera bereaksi. Dia seakan tak menyukai apa yang wanita cantik tersebut katakan padanya. "Jangan gila! Kau akan baik-baik saja!" bantah Coco dengan tegas, bahkan setengah membentak.


Namun, saat itu Monique hanya tersenyum. Dia lalu menyentuh wajah tampan Coco dengan tangannya yang berlumuran darah. "Se-lamat at-atas rencana pernikahanmu. Ak-aku tahu ka-kalian ber-du-a sal-saling mencintai," ucapnya lagi.


"Sudah kukatakan aku akan ...." Ucapan Coco tertahan, karena melihat Monique menggelengkan kepalanya. Dia memandang Coco dengan lekat. "Biarkan aku membawamu ke rumah sakit, Miljana," pinta Coco dengan wajah serius.


Saat itu Monique tersenyum. "Ba-baiklah, ta-tapi bujuk ak-aku dulu," ujarnya. Dia menatap Coco penuh harap. Pria bermata cokelat itu pun seakan paham dengan maksud dari ucapan wanita itu. Dibelainya pipi Monique dengan lembut dan penuh perasaan. "Cium aku," pinta Monique masih dengan napasnya yang tersengal-sengal.


Coco terdiam sejenak sambil memandangi paras cantik wanita yang telah mengorbankan diri demi menyelamatkan nyawanya. Tak ada rasa apapun dalam hati pria berambut ikal itu, selain sebuah balas budi atas apa yang telah dilakukan Monique untuknya. Coco pun kemudian mendekat dan mencium wanita berambut merah tersebut untuk beberapa saat. Setelah itu, dia bangkit sambil membopong tubuh Monique.


Sedikit terkejut, karena dia melihat Adriano telah berdiri di sana. "Jangan salah paham, Amico," pinta Coco.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku bisa memahaminya."


__ADS_2