Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Sacrificio


__ADS_3

Selama beberapa hari di ruang observasi pasca operasi, tanda-tanda vital dalam tubuh Coco berangsur normal. Maka dari itu, tim dokter pun memutuskan untuk memindahkan dia ke ruang perawatan biasa. Pada hari selanjutnya, setelah masa perawatan intensif yang dijalani, Coco sudah mulai siuman. Pria berambut ikal tersebut kini dapat menggerakkan tangan dan tersenyum, meskipun belum dapat berkomunikasi dengan normal. Namun, hal itu telah membuat hati Francesca terasa begitu lega. Dia yang senantiasa menunggu dengan sabar, akhirnya dapat tersenyum lebar.


"Kemarin-kemarin aku sangat takut. Syukurlah, karena sekarang semuanya sudah mulai membaik," Francesca menghapus air mata yang jatuh di sudut bibirnya. Itu merupakan sebuah tangis penyesalan yang bercampur dengan rasa bahagia. Namun,


Coco tidak menjawab. Dia hanya menggerakkan ekor mata ke samping, pada sosok cantik yang selalu menjadi pujaan hatinya selama ini. Coco juga menanggapi ucapan Francesca dengan menyunggingkan sebuah senyuman kecil.


"Apa kau ingin minum?" tawar Francesca. Coco tampak mengangguk lemah. Dengan segera, gadis itu mengambilkan gelas yang telah dilengkapi sebuah sedotan. Francesca mendekatkan sedotan tadi pada bibir sang kekasih, hingga Coco dapat minum tanpa merasa kesulitan. Setelah dirasa cukup, dia meletakkan kembali gelas itu ke tempatnya semula.


"Tunggu sebentar. Aku ingin ke kamar kecil," ucap Francesca lagi. Dia lalu beranjak dari duduknya dan berlalu dari dekat Coco.


Selagi gadis bermata hazel itu berada di kamar kecil, seorang wanita muda lain yang sangat cantik masuk ke kamar rawat. Dengan membawa seikat bunga, wanita yang tiada lain adalah Monique tersenyum manis kepada Coco sambil berjalan menghampiri ranjangnya. "Hai, Ricci. Bagaimana kabarmu hari ini?" sapanya hangat. "Aku tidak tahu harus membawakan apa untukmu. Jadi, kuputuskan untuk membawa bunga chamomile saja. Kau tahu bukan bahwa bunga chamomile bisa memberikan nuansa tenang," tanpa harus diminta, Monique mengganti bunga di dalam vas yang berada di atas meja sebelah ranjang dengan bunga yang dia bawa. "Lihatlah, cantik sekali bukan?" wanita muda dengan rok span ketat itu tertawa renyah seraya melirik kepada Coco. Sedangkan Coco sendiri membalasnya dengan sebuah senyuman.


"Selama kau masih berada di Serbia, maka aku akan selalu menjenguk kemari. Kuharap kau ataupun kekasihmu tidak merasa keberatan," ucap Monique lagi seraya duduk di tepian ranjang sambil menghadap kepada Coco. Dia merapatkan kedua kakinya yang terekspos sempurna sambil terus tersenyum manis. "Kau tahu, Ricci? Kau masih terlihat sangat tampan meskipun dalam keadaan seperti ini. Setelah bertemu denganmu, rasanya aku jadi ingin memiliki pasangan seorang pria Italia. Apa kau punya rekomendasi teman untukku?" canda Monique diiringi tawa yang terdengar sangat manis.


Sementara Coco hanya tersenyum seraya menggeleng pelan. Untuk sesaat, dia memperhatikan wanita cantik nan anggun di hadapannya. Mata hijau zamrud yang dimiliki Monique memang terlihat sangat indah, dan tak membuat bosan siapa pun yang menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Monique yang lama-lama merasa risih karena Coco terus memperhatikannya. "Seandainya kita bertemu ...." Monique tidak melanjutkan kata-katanya, karena saat itu terdengar suara Francesca yang mendehem pelan. Rupanya, gadis itu sudah berdiri di luar kamar kecil sejak beberapa saat yang lalu.


Melihat keberadaan Francesca di sana, Monique segera turun dari ranjang. Dia berdiri sambil membetulkan roknya yang naik. Monique juga merapikan kemeja bagian depan yang hanya dikancingkan beberapa buah saja, hingga belahan dadanya terekspos dengan cukup jelas. "Hai, Francesca," sapa wanita cantik berambut merah tersebut dengan tetap memamerkan senyumannya.


Francesca hanya menanggapi sapaan dari Monique dengan sebuah senyuman yang dipaksakan. Gadis bermata hazel itu berjalan mendekat ke arah Coco. "Apa kau membutuhkan sesuatu, Ricci?" tawarnya. Ekor mata gadis itu kemudian tertuju pada bunga chamomile di dalam vas. Namun, Francesca memilih untuk tidak banyak bicara.


"Oh ya, Ricci," Monique berjalan memutari ranjang dan berdiri pada sisi sebelah kiri. "Aku harap kau segera pulih. Maaf karena aku tidak bisa lama di sini," Monique kembali menyunggingkan senyuman lembutnya. Kali ini, dia menyentuh punggung tangan Coco kemudian mengelusnya perlahan. Hal itu, membuat Coco kembali tersenyum seraya mengangguk pelan. "Видимо се касније (Vidimo se kasnije/Sampai jumpa)." Seusai berkata demikian, Monique melirik Francesca yang hanya terdiam. Dia pun berlalu keluar dari dalam ruangan tersebut.


“Wanita yang sangat cantik,” ujar Francesca sesaat setelah Monique menghilang di balik pintu ruang perawatan. “Sepertinya dia juga tertarik padamu,” sambungnya sembari menatap lekat kepada Coco yang ternyata juga tengah memperhatikannya. Setitik air mata menetes di pipi mulus Francesca tanpa mampu dia cegah. Dengan segera gadis itu mengusapnya dan menutup perasaan galau di dalam hati dengan sebuah senyuman.


“Aku berhasil menggapai impianku, Sayang. Seminggu yang lalu sebelum aku datang kemari, manajerku menawarkan kontrak kerja sama dengan sebuah rumah mode eksklusif dan paling terkenal di Eropa. Akan tetapi, aku belum sempat menjawab ‘iya’, karena Mia menelepon dan memintaku untuk bersiap-siap. Saat itu, aku sudah mendapat firasat yang aneh. Perasaanku sangatlah tidak nyaman. Aku yakin, ada sesuatu yang terjadi padamu. Namun, aku berusaha untuk tetap berpikir positif dan menghalau segala macam hal buruk dalam benakku ....” Francesca menjeda penuturannya ketika melihat Coco berkedip seakan tengah memberi isyarat. “Ada apa?” tanyanya lembut. “Apakah kau mau minum?”


Coco segera menggeleng dan mengedipkan mata seakan meminta Francesca melanjutkan ceritanya.


“Kau ingin aku kembali bercerita?” tebak gadis itu. Coco pun segera mengangguk.

__ADS_1


“Aku berjanji akan memberikan jawaban kepada managerku itu dalam waktu dua puluh empat jam. Lalu, aku datang kemari dan mendapati dirimu tengah dalam kondiai kritis, Ricci ….” Francesca menutupi wajahnya dengan telapak tangan seraya menangis sesenggukan. “Beberapa menit setelah aku tiba, manajerku menelepon dan aku langsung menolak tawaran kerja sama tersebut. Saat itu aku sepenuhnya sadar, bukanlah ketenaran yang aku inginkan. Aku tidak ingin lagi hidup di antara lampu-lampu blitz, fotografer, pencari bakat dan perwakilan majalah fashion. Aku tak berharap lagi menjadi artis ataupun model terkenal, karena saat aku tahu kau berbaring koma di ruangan ICU, aku merasa semua keberhasilan dan prestasi yang telah berhasil kugapai selama ini sama sekali tidak ada artinya. Semua tak berharga lagi jika kau tidak ada di sisiku, Ricci. Maafkan aku yang terlambat menyadari. Aku ingin memulainya dari awal lagi, hanya bersamamu. Kumohon, berilah aku kesempatan,” Francesca memperlihatkan wajah cantiknya yang berderai air mata dan kembali menggenggam tangan Coco erat-erat.


Tak disangka oleh Francesca, Coco yang sedang terbaring lemah itu juga terlihat menitikkan air mata. Mulutnya bergetar seakan hendak mengucapkan sesuatu. “Fran-cy,” sebut Coco. Suaranya begitu lemah dan terdengar sangat lirih.


“Iya, Ricci,” Francesca mengangguk dan mendekatkan wajahnya pada Coco.


“Me-ni-kah,” ucap Coco pelan dan terbata.


“Aku mau, Ricci. Segera setelah dirimu sembuh, kita akan melangsungkan pernikahan. Aku akan menemanimu ke manapun kau pergi. Kau dan aku, Ricci. Kita .…” tiba-tiba Francesca menghentikan kalimatnya ketika melihat keanehan pada diri Coco. Tangan pria itu bergetar hebat dan basah oleh keringat. Napasnya pun tiba-tiba tersengal. Mata yang awalnya terbuka, kini mulai menutup perlahan.


“Ricci!” teriaknya. Panik, Francesca menekan tombol darurat di atas ranjang. Tak berapa lama, beberapa orang berseragam medis tiba dan memeriksa Coco. Mereka saling berkata dalam bahasa yang sama sekali tak Francesca pahami. Salah satu dari petugas medis itu kemudian mendorong dan mengarahkannya untuk keluar dari dalam kamar. Tak ada yang bisa dilakukan Francesca selain menurut.


Francesca hanya bisa pasrah ketika melihat lebih banyak petugas memasuki kamar perawatan Coco, sambil membawa banyak peralatan medis. Beberapa saat kemudian, para petugas medis keluar dari kamar sambil mendorong ranjang Coco. Tampak pula alat bantu pernapasan yang terpasang dan menutupi sebagian wajah tampan pria itu. “Akan kalian bawa ke mana dia? Katakan padaku, apa yang terjadi?” suara nyaring Francesca memenuhi lorong rumah sakit.


Salah satu dari perawat menoleh padanya, kemudian menenangkan gadis itu. “Calm down,” ucapnya dalam bahasa Inggris. “Sepertinya suami Anda mengalami pendarahan pasca operasi. Kami akan segera melakukan tindakan kepadanya. Tenanglah.”

__ADS_1


__ADS_2