Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Assediato


__ADS_3

“Marcus Bolt? Sedang apa kau di sini?” tanya Adriano penuh curiga.


“Apa kabar, Tuan D’angelo?" sapa Marcus. "Kau tidak ingin mempersilakanku untuk masuk?”


“Siapa yang datang? ” sosok Coco muncul dari balik tubuh tegap Adriano. “Siapa dia?” bisiknya tepat di telinga suami Mia itu. Coco terus mengamati pria yang berdiri di hadapannya. Tatapan lekat kekasih dari Francesca tersebut, kini tertuju pada kalung yang melingkar di leher Marcus. Coco merasa pernah melihat bandul kalung serupa, tetapi entah di mana.


“Apa Anda tidak akan mempersilakanku untuk masuk?” ulang Marcus lagi, membuat Adriano semakin curiga dan bersikap waspada. Dia memicingkan mata dan terus mencoba untuk menerka, siapa sebenarnya sosok Marcus Bolt yang pernah didatanginya ketika mengunjungi negara Amerika. Pria bermata biru itu sampai-sampai mengabaikan pertanyaan dari Coco.


“Pergilah ke kamar Mia. Lindungilah Mia dan juga Miabella,” titah Adriano pelan pada Coco.


“Jangan khawatir,” Coco mundur perlahan dengan sorot mata terus mengarah pada Marcus, lalu bergegas menuju ke kamar Mia.


Adriano baru sadar bahwa saat itu dia hanya sendirian di teras depan. Keempat anak buahnya tersebar di setiap sudut rumah dan tengah memeriksa benda-benda yang mungkin mencurigakan. Dia lalu menutup pintu dan melangkah keluar mendekati Marcus sampai wajah mereka berdekatan.


“Sekali lagi aku bertanya, apa yang kau lakukan di sini?” suara Adriano terdengar begitu dalam dan penuh intimidasi. "Bagaimana kau bisa mengetahui alamatku?"


“Astaga, tidak bisakah kau bermanis-manis sedikit padaku? Aku jauh-jauh datang dari Amerika kemari,” ujar Marcus.


“Tak ada seorang pun yang memintamu datang,” desis Adriano. Dirinya tak membawa senjata saat itu, yang Adriano miliki hanya tangan dengan posisi terkepal dan siap untuk dia lesakkan ke perut Marus Bolt, andai pria itu berani berbuat macam-macam terhadapnya.


“Begitukah caramu berterima kasih atas semua yang telah kulakukan? Aku berjasa dengan memberimu banyak informasi tentang para pembunuh bayaran yang menghabisi Matteo de Luca,” Marcus masih terlihat tenang saat itu.


“Baiklah, kuucapkan terima kasih. Sekarang, katakan padaku, dari mana kau mengetahui posisiku saat ini dan untuk apa kau kemari?” Adriano berdiri tegak sambil membusungkan dada.


“Tentu saja aku tahu dari anak buahmu di Monaco,” jawab Marcus enteng.


Adriano terkekeh pelan sambil melipat kedua tangan di dada. “Marcus, kau tak mengenalku rupanya. Aku sangat membenci pembohong,” mata biru itu tajam menatap Marcus. Aura bengisnya muncul dan terasa begitu mengintimidasi.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Marcus lalu mundur selangkah.


“Anak buahku selalu memberi laporan setiap saat. Sampai laporan terakhir yang kuterima, tak ada orang yang menanyakan tentang diriku di Monaco. Jadi, katakan dari mana kau mengetahui keberadaanku?” desak Adriano.


Marcus sempat tertegun. Dia lalu terdiam dan menyeringai. Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik kaus putih tipisnya. Sebuah kalung yang Adriano ingat betul, bahwa itu adalah benda yang sama persis dengan yang dipakai oleh Thomas Bolton. Adriano masih mengingatnya saat pertama kali dia bertemu dengan pria tersebut. “Kalung itu ….” geramnya.


“Ini adalah kalung multifungsi, karena bisa juga digunakan sebagai peluit,” Marcus memegangi bandul yang berbentuk tabung kecil dan memanjang. Dia meniup benda kecil itu hingga terdengar suara yang teramat pelan.


“Untuk apa benda itu?” kedua tangan Adriano bergerak mencengkeram kerah kaus yang dikenakan Marcus, sehingga pria tadi ikut tertarik. Namun, belum sempat Marcus memberikan jawaban, tiba-tiba dari pagar semak yang mengelilingi rumah sewaan Adriano, muncul empat ekor anjing berjenis American Pitbull. Anjing yang terkenal galak itu berlari kencang ke arah pria bermata biru tersebut. Sigap, Adriano melingkarkan tangannya di leher Marcus Bolt dan menariknya masuk ke dalam rumah.


Secepat kilat, dia menutup pintu bersamaan dengan anjing garang yang hendak melompat ke arahnya.


“Sialan kau! Apakah selama ini kau menjebakku?” umpatnya nyaring. Tangan ketua geng Tigre Nero itu memang terluka, tapi tak berarti dia kehilangan kekuatannya. Adriano semakin kencang mencekik leher Marcus menggunakan lengan. “Siapa kau sebenarnya, Brengsek!” gertak Adriano dengan tegas.


Bukannya menjawab, Marcus malah meniup bandul kalung itu sekali lagi. Tak berapa lama, terdengar benturan nyaring di jendela samping. Kaca pun pecah berhamburan seiring masuknya anjing-anjing berukuran besar tersebut. Keempat anjing itu menggeram dan menyeringai, menunjukkan gigi-giginya dan bersiap untuk menyerang. Sementara dari atas tangga, turunlah empat orang anak buah Adriano yang sudah siap mengokang senjata. Sebelum hewan-hewan itu menerjang, mereka lebih dulu menembaki keempat anjing tadi sampai mati.


“Ikat dia, Jules!” perintah Adriano sebelum berlari ke lantai dua untuk melihat keadaan Mia dan juga Miabella. Dengan terburu-buru, Adriano membuka pintu kamarnya dan mendapati Mia tengah memeluk Miabella erat-erat. Sedangkan Coco berjaga di samping jendela. Pria berambut ikal itu serius mengamati sesuatu di luar sana.


“Apa kalian baik-baik saja?” Adriano bergegas menghampiri Mia dan merengkuh wanita itu ke dalam dekapannya. Demikian pula Miabella yang juga merapatkan tubuh mungilnya pada Adriano.


“Jangan takut, Principessa. Aku akan selalu melindungimu,” Adriano mengecup puncak kepala putri kecilnya.


“Lihatlah itu, Adriano. Sepertinya temanmu itu tidak datang sendirian,” tunjuk Coco ke arah taman belakang rumah sewaan.


Adriano terpaksa melepaskan pelukannya dan ikut melihat ke arah telunjuk Coco. Tampak di sana, belasan pria berkaus hitam dengan memakai kacamata dan topi berwarna senada, mengelilingi rumah sewaan yang dia tempati.


“Adriano, apa yang terjadi? Ada apa di luar sana?” tanya Mia dengan suara bergetar. Wanita itu terlihat sangat ketakutan.

__ADS_1


Adriano segera menoleh dan berbalik pada wanita yang teramat dicintainya. “Tidak apa-apa, Sayang. Itu hanya masalah kecil,” ujarnya seraya menyunggingkan senyuman. Sebisa mungkin dia harus tetap membuat istri dan putrinya merasa aman.


“Jangan berbohong padaku,” sahut Mia penuh penekanan. Dia tahu bahwa Adriano tengah menutupi sesuatu dari dirinya.


“Sayangku,” Adriano menenangkan Mia dengan mencium bibirnya lembut. “Kau akan aman selama tetap berada di sini bersama Ricci. Jagalah Miabella. Aku akan berunding dengan orang-orang itu,” ucapnya sembari membelai pipi sang istri.


Mia menggeleng kuat-kuat. “Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu ke manapun! Jangan keluar dari sini, Adriano! Kumohon, tetaplah bersama kami,” cegah Mia cukup tegas. Tangannya kemudian melingkar erat di pinggang Adriano.


“Tenanglah, Mia. Tidak akan terjadi apa-apa,” Coco yang semula terdiam, ikut membujuk calon kakak iparnya. "Kau percaya saja pada kemampuan suamimu," ujar pria itu lagi.


“Aku tidak sanggup lagi jika harus jauh darimu, apalagi kehilangan,” Mia mulai terisak. Dia menyembunyikan wajah di dada bidang Adriano. Melihat ibunya menangis, Miabella ikut mencebikkan bibir. Mata abu-abunya yang bulat dan indah, turut berkaca-kaca.


Melihat raut Miabella, Adriano teringat pada mimpi buruknya semalam. Namun, segera dia tepiskan bayangan mengerikan itu. Walaupun Miabella bukan darah dagingnya, tetapi Adriano merasa sangat terikat dengan gadis kecil tersebut. “Kalian akan baik-baik saja. Aku sudah berjanji pada arwah Matteo untuk selalu menjaga kalian,” tegasnya.


Adriano kini beralih kepada Miabella yang tengah memeluk erat pahanya. “Aku berjanji akan segera kembali. Setelah itu, kita akan segera pulang ke Monaco bersama-sama,” perlahan, dia melepaskan tangan mungil yang melingkari kakinya. Adriano kemudian berlutut dan memeluk Miabella erat-erat. “Kau sekuat ayahmu, Principessa. Ingat itu. Kelak, kau akan meneruskan nama besar Matteo de Luca,” bisik pria itu lembut. Sesaat kemudian, Adriano lalu melepaskan pelukannya dan berdiri. “Apa pistolmu sudah terisi penuh?” tanyanya kepada Coco.


“Semua aman di sini,” Coco mengacungkan senjata yang dia pegang, kemudian kembali mengawasi ke luar jendela.


“Bagus,” Adriano kembali mencium bibir Mia sekali lagi, sebelum bergegas keluar kamar dan menguncinya. Sementara Mia hanya bisa pasrah melihat sang suami yang kini telah menghilang di balik pintu. Tujuan Adriano adalah ruang kerja. Dia mengambil dua buah pistol dan menyelipkan senjata tersebut ke sisi kanan dan kiri pinggangnya. Tak lupa, dia juga meraih satu senapan laras panjang kesayangan yang tergantung di dinding. Ke manapun Adriano pergi, dia selalu membawa senjatanya tersebut. Setelah semua lengkap, Adriano setengah berlari menuruni tangga. Di lantai bawah, keempat anak buahnya berdiri waspada mengelilingi Marcus Bolt yang sudah terikat erat di kursi, menggunakan tali tampar. “Apa dia belum siuman?” tanyanya.


Salah satu anak buah Adriano yang bernama Jules, maju dan menampar pria itu. Akan tetapi, Marcus diam tak bergerak. “Masih pingsan,” gumam Adriano setelah melihat keadaan pria Amerika tersebut.


“Apa kita harus membangunkannya, Bos?” tanya Jules.


“Tidak usah! Aku ....” Sebuah ketukan keras di pintu, memotong kalimat Adriano begitu saja. Tanpa disuruh, Jules bergerak mengintip dari lubang pintu. Dia kemudian menoleh dan menggeleng pada Adriano dengan tak bersuara. Adriano kemudian memberikan isyarat padanya untuk mundur dan segera berlindung.


Beberapa saat kemudian, pintu diketuk kembali. Kali ini, diikuti dengan suara seruan cukup nyaring dari seseorang di luar sana. “Buka pintunya! Aku hanya ingin berbicara baik-baik dengan Tuan Adriano D’Angelo!”

__ADS_1


__ADS_2