Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Pelipur Lara


__ADS_3

“Aku hanya ingin berpamitan pada Damiano,” jawab Juan Pablo datar.


“Kau tahu bahwa dirimu tak diterima di sini. Kenapa harus repot-repot berpamitan. Lagi pula, bagaimana kau bisa masuk kemari? Padahal sudah ada intruksi jelas pada petugas pintu gerbang!” Coco tak bisa menahan emosi. Wajah tampannya memerah menahan amarah dengan kedua tangan terkepal.


“Nak, sudahlah. Aku yang memberinya izin untuk masuk.” Damiano segera berusaha meredam kemarahan Coco. Diusapnya punggung pria berambut ikal itu untuk menenangkannya. “Dia berniat baik dengan berpamitan pada kita. Lihatlah, justru kau yang tak baik karena telah membuat takut Gianna,” bisik Damiano pelan.


“Maafkan suamiku, Ricci. Ini hari terakhir kami tinggal di Italia. Aku dan Juan Pablo akan terbang ke Amerika besok,” tutur Gianna ragu. Dia maju perlahan mendekati Coco yang masih memandang tajam ke arah Juan Pablo.


“Aku tahu apa yang dia lakukan memang tak termaafkan. Wajar jika kau merasakan sakit dan marah yang teramat sangat. Anggap saja, ini adalah terakhir kalinya kami menginjakkan kaki di sini.” Gianna menjeda kalimatnya. Setelah itu, istri Juan Pablo tersebut merogoh dan mengambil sesuatu dari dalam tas yang dia tenteng.


Sebuah bungkusan dengan kertas kado berwarna biru metalik, Gianna serahkan kepada Coco. “Ini adalah kado pernikahan dariku. Maaf aku tak bisa menghadiri pesta kalian,” ucapnya kemudian.


“Apa ini?” Coco mengalihkan perhatiannya pada kado yang masih berada di atas tangan Gianna yang menggantung.


“Terimalah, Ricci. Kumohon,” pinta Gianna penuh harap.


Dengan berat hati, Coco mengambil bungkusan itu. “Grazie,” ucapnya pelan.


“Semoga kau selalu berbahagia bersama istrimu, Ricci. Berhentilah melihat ke masa lalu. Sama halnya sepertiku. Aku sudah tak ingin lagi menoleh ke belakang. Fokusku sekarang adalah masa depan bersama orang-orang yang kucintai.” Senyuman manis Gianna terkembang. Matanya berkaca-kaca ketika Coco juga tengah menatapnya dengan berkaca-kaca pula.


“Bebaskanlah dirimu dari belenggu masa lalu. Hadapi hidupmu yang indah bersama Francesca,” imbuh Gianna.

__ADS_1


“Semoga kau juga selalu berbahagia, Gianna.” Coco mengangguk dan tersenyum samar. Dia lalu berbalik tanpa menoleh lagi, meninggalkan Juan Pablo yang memandangnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


“Maafkanlah sikap anakku. Semua ini tidak mudah baginya,” ucap Damiano setelah Coco tak terlihat lagi di sana. “Matteo bukan hanya seorang sahabat bagi Coco, melainkan sudah seperti saudara kandung. Anak itu yatim piatu sejak kecil. Matteo serta kedua orang tuanya bersikap sebagai pengganti kedua orang tuanya. Mereka juga melimpahi Coco dengan kasih sayang yang tak bisa dia dapatkan dari keluarga yang sudah tak dapat lagi dirinya miliki,” tutur Damiano dengan lembut. Dia mencoba menjelaskan agar tak ada lagi pikiran-pikiran buruk di antara mereka.


“Saat Matteo tiada, Coco bagaikan kehilangan arah hidupnya,” ucap Damiano lagi seraya mengela napas, lalu mengusap sudut matanya yang berair.


Juan Pablo yang sedari tadi lebih banyak terdiam, memeluk Damiano untuk sekali lagi. “Kita menanggung luka masing-masing. Maafkan aku yang sempat tersesat dulu,” ujarnya lirih dengan wajah yang tenggelam di bahu pria tua itu.


“Dengarkan sumpahku, Damiano. Aku tak akan mengotori tanganku lagi dengan nyawa manusia. Mulai detik ini, aku akan berubah. Sebisa mungkin aku akan menjadi pelindung bagi siapa pun yang membutuhkan.” Juan Pablo menangis. Tangisannya yang hanya berupa tetesan air mata itu, ternyata dapat diketahui oleh Damiano.


Pria tua itu balas memeluk Juan Pablo dengan jauh lebih erat. “Casa de Luca adalah rumahmu juga. Kembalilah kemari kapanpun kau mau,” ujarnya.


“Gracias, Damiano. Jika waktunya tiba dan sahabat Matteo tidak memandangku dengan penuh kebencian, aku akan datang lagi kemari,” pungkas Juan Pablo. Setelah itu, dia menjabat tangan Damiano erat-erat sebelum melangkah keluar dari bangunan megah Casa de Luca sambil menuntun Gianna yang tak bisa berjalan cepat karena kehamilannya.


Namun, sebelum memasuki kendaraan itu, Juan Pablo sempat mendongak dan menatap sendu ke arah Coco yang juga tengah memandangnya. Juan Pablo mengangguk. Akan tetapi, Coco tak membalasnya. Dia membalikkan badan begitu saja lalu menutup pintu balkon.


Dengan langkah lunglai, Coco berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepiannya. Dia menunduk sambil menopang kepala dengan kedua tangan, kemudian mende•sah perlahan.


“Lihatlah hadiah dari Gianna ini, Ricci. Indah sekali.” Seruan ceria dari Francesca, mau tak mau membuatnya mengangkat wajah dan menoleh pada sang istri.


Dilihatnya Francesca memakai satu set perhiasan lengkap bermata jamrud, mulai dari anting-anting, kalung, hingga gelang. Wanita itu menjadi semakin cantik. Perhiasan itu begitu pas dan indah dipakai oleh Francesca.

__ADS_1


“Kau cantik sekali, Francy,” sanjung Coco seraya berdiri dan menyambut tubuh ramping Francesca. Diciuminya wajah dan leher wanita yang akan mendampinginya seumur hidup itu. Dia juga memamerkan senyuman hangat untuk wanita cantik tersebut. Akan tetapi, satu hal yang Coco lupa, yaitu menyeka air matanya.


“Kenapa kau menangis? Ada apa, Sayang?” tanya Francesca. Jemari lentiknya lembut mengusap sudut mata sang suami. Akan tetapi, Coco tak menjawab. Dia hanya menggeleng lemah tanpa bersuara.


“Apakah karena Juan Pablo?” terka Francesca.


Lagi-lagi Coco tak menjawab. Dia malah membenamkan wajahnya di leher jenjang Francesca dan bermain-main di sana untuk beberapa saat lamanya.


“Oh, Ricci,” Francesca merintih pelan, saat suaminya mengisap dan mencium lehernya dengan beringas. Wanita itu sudah paham, tiap kali Coco berbuat demikian, itu artinya suaminya sedang meredam gejolak emosi yang ada di dalam dada.


“Hentikan,” susah payah Francesca mendorong mundur tubuh Coco dan memandang iba padanya. “Apalagi yang kau khawatirkan? Aku ada di sini dan tetap di sampingmu. Kau tak akan sendiri lagi, Ricci. Sampai kapanpun, ada aku dan anak-anak kita kelak yang akan selalu menghilangkan rasa kesepianmu,” tutur Francesca.


“Lepaskanlah semua beban,” ujarnya seraya meletakkan telapak tangannya di dada bidang Coco. “Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, tidak terkecuali dia. Jika kau mau membuka pintu maaf untuknya, maka aku rasa kau bisa menghadirkan lagi sosok Matteo. Kau tahu bukan siapa dia yang sebenarnya?” sambung Francesca dengan tutur katanya yang lembut.


Coco paham, ‘dia’ yang dimaksud oleh sang istri adalah Juan Pablo. Namun, dirinya memilih untuk tidak menanggapi. Pria berambut ikal itu melepas perhiasan di tubuh Francesca dan membantu menyimpannya di dalam kotak khusus. Setelah itu, dia menarik tubuh sang istri dan mengarahkan ke atas ranjang. "Tenangkan aku," bisiknya sambil melepas jalinan tali panjang yang saling bersilang di bagian depan dress Francesca. Setelah tali itu terlepas, dress tadi pun terbuka lebar dan dapat dilepas dengan mudah.


Wanita bermata hazel tadi hanya terdiam. Dia membiarkan Coco dengan apapun yang diinginkannya, termasuk saat pria berambut ikal tersebut membaringkan tubuh semampainya yang hanya ditutupi pakaian dalam. Sedangkan bagian dada sudah terekspos dengan sempurna.


Francesca tersenyum lembut kepada Coco yang berbaring dalam posisi menyamping di dekatnya. Mereka berciuman mesra untuk beberapa saat, sebelum Coco mengalihkan ciuman pada puncak yang membuatnya tertantang. Sementara tangan kanan pria itu menelusup masuk ke dalam kain segitiga berwarna putih, yang masih melindungi Francesca dari kenakalannya yang sebentar lagi akan semakin menjadi.


Wanita cantik itu pun menggelinjangkan tubuh indahnya disertai desa•han pelan. Rasa geli bercampur nikmat menyatu dalam dirinya, menghadirkan sensasi panas yang membuat dia ingin mendapat sesuatu yang lebih dari sekadar sentuhan. Dire•masnya rambut belakang Coco yang masih membenamkam wajah di dada dan seakan tak ingin berhenti menikmati hidden marble merah muda.

__ADS_1


"Apa lagi yang kau tunggu?" bisik Francesca dengan suara paraunya yang terdengar manja, membuat Coco mengangkat wajah dan tersenyum.


__ADS_2