
Lampu di atas pintu masuk ruang operasi masih terus menyala, sebagai pertanda bahwa operasi belum selesai. Francesca berkali-kali mengempaskan napas panjang sambil mondar-mandir di depan ruangan. Hal itu dia lakukan hanya untuk membunuh waktu serta mengurangu rasa cemas dalam hatinya. Resah, gadis itu menunggu kabar baik dari tim dokter yang tengah berjuang demi kehidupan Coco di dalam sana.
Namun, gerak penuh kecemasan Francesca segera terhenti, ketika Mia datang dengan setengah berlari ke arahnya. Begitu pula Adriano yang terus mengikuti istrinya tersebut dari belakang.
“Ya, Tuhan, Francy,” Mia langsung memeluk tubuh sang adik dengan erat.
Sementara Adriano hanya berdiri terpaku tak jauh dari kedua wanita itu. “Apa yang terjadi? Bukankah kondisinya telah stabil. Dia juga sudah siuman?” tanya Adriano tak mengerti.
“Entahlah, Adriano. Aku juga tidak tahu. Tadi tiba-tiba saja Ricci bersikap aneh. Lalu dokter segera membawanya. Mereka mengatakan bahwa terjadi pendarahan pasca operasi,” jawab Francesca sambil terus menangis sesenggukan. Makin bertambahlah rasa penyesalan yang menggelayut dalam hatinya saat itu.
“Ya, Tuhan,” desah Mia sambil menutup mulutnya, “bagaimana ini, Adriano?” tanyanya seraya melirik sang suami yang juga terlihat tak percaya dengan penjelasan dari sang adik ipar.
“Tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu ....” Belum sempat pria rupawan itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba lampu yang menyala merah di atas ruang operasi tampak padam. Dengan raut wajah yang terlihat sangat was-was, mereka bertiga menunggu untuk beberapa saat hingga seorang dokter keluar dari dalam ruangan dan melangkah mendekati Adriano.
“Bagaimana keadaan Ricci?” Francesca segera menghambur ke arah sang dokter.
“Seperti yang Anda ketahui, bahwa sebelumnya kami harus memotong bagian usus tuan Ricci yang terkoyak akibat tertembus peluru. Ternyata, tanpa kami duga telah terjadi pendarahan pada bagian yang sudah kami operasi itu. Namun, sekarang Anda semua tak perlu khawatir, karena kami sudah berhasil menghentikan pendarahannya,” jelas dokter itu dengan susah payah, karena dia harus berbicara dalam bahasa Inggris.
“Setelah ini, kami harus kembali mengobservasinya sampai dia benar-benar membaik,” lanjut sang dokter lagi.
Mia menggeleng lemah, kemudian menatap Francesca dengan lekat. “Aku yakin jika Ricci pasti akan baik-baik saja. Percayalah, Francy. Kita berdoa yang terbaik. Jangan pikirkan hal yang macam-macam,” sebisa mungkin Mia menghibur dan memberi kekuatan pada adik tirinya itu. Francesca menaggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Tak ada apapun yang bisa gadis itu lakukan selain pasrah dan sabar menunggu.
Hingga beberapa hari lamanya, Coco kembali berada dalam ruang observasi. Selama itu pula Francesca setia menunggu kekasihnya. Sementara Mia sudah kembali ke Italia.
Siang itu, ketika Francesca baru kembali dari makan siang, dia melihat beberapa dokter keluar dari ruang observasi. Salah satu dari mereka menghampiri gadis itu untuk memberikan penjelasan tentang kondisi terkini dari Coco. “Suami Anda sudah sadar dan berada dalam kondisi stabil. Kami akan memindahkannya kembali ke ruang perawatan,” terangnya.
__ADS_1
Tak terkira, betapa lega dan bahagianya Francesca saat itu. Dengan segera, dia merogoh ke dalam tas kecil dengan tali yang melintang di pundaknya. Francesca kemudian mengambil ponsel, lalu menghubungi Mia. Dia mengabarkan tentang kondisi terbaru dari Coco sambil terus melangkah. Penuh semangat, gadis itu berjalan mengikuti perawat yang mendorong brankar, di mana Coco terrbaring lemah di atasnya. Mereka kembali ke kamar tempat Coco menjalani perawatan sebelumnya.
Lagi-lagi Francesca harus menunjukkan rasa ibanya, ketika para petugas medis itu memindahkan tubuh Coco ke atas ranjang yang baru. Dengan hati-hati, mereka memposisikan tubuh pria tampan tersebut sambil menyambungkan selang-selang pada peralatan medis dan monitor pengukur detak jantung. Setelah semuanya selesai, beberapa orang perawat mencatatkan sesuatu di jurnal mereka, kemudian mengangguk pada Francesca dan berlalu dari dalam sana.
Kini, di dalam kamar itu hanya ada Francesca berdua saja dengan Coco. Tatap mata sayu pria itu mengarah pada wajah cantik Francesca. Coco pun tersenyum melihat sang kekasih yang selalu tampak luar biasa di matanya.
“Ricci,” Francesca kembali menangis. Dia bermaksud hendak mengucapkan kata maaf untuk kesekian kalinya, ketika Coco bergerak dan mengisyaratkan sesuatu. “Minum? Apa kau haus?” tanya Francesca. Coco menjawabnya dengan sebuah anggukan lemah.
Francesca tampak begitu telaten. Dia mengambil sedotan yang masih terbungkus plastik, kemudian meletakkannya ke dalam gelas berisi air putih. Perlahan, gadis itu mengarahkan sedotan tadi ke dekat mulut Coco. Terdengarlah beberapa tegukan, sampai Coco melepas sedotan itu dari bibirnya. Samar bibir pria berambut ikal itu bergerak membentuk kata-kata yang dapat dipahami Francesca dengan jelas sebagai ucapan terima kasih.
Segera digenggamnya jemari Coco dengan lembut, lalu dia tempelkan punggung tangan sang kekasih pada pipi mulusnya sambil terus terisak. “Kapan kau akan sembuh, Ricci? Aku tak sabar ingin melangsungkan pernikahan denganmu,” ucap Francesca lirih.
Akan tetapi, sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Coco malah menggeleng pelan seakan tak menyetujui apa yang baru saja Francesca ucapkan.
“Ti-dak,” jawab Coco begitu lemah dan terbata. “Ja-ngan," ucapnya lagi dengan berat dan susah payah. Sesekali, dia meringis ketika merasakan sakit di bagian bekas operasinya.
“Jangan apa?” tanya Francesca tak mengerti. Namun, Coco tak juga menanggapi pertanyaan Francesca. Pria tampan itu malah menyunggingkan senyum samar sebelum matanya terpejam. “Ricci?” sebut Francesca lagi. Akan tetapi, Coco tak meresponnya sama sekali.
“Ricci?” gadis itu tak berputus asa. Namun, Coco malah tertidur. Suara dengkurannya yang halus membuat Francesca terpaksa harus bersabar menunggu jawaban dari pria itu.
Akhirnya Francesca memilih untuk duduk di sofa yang terletak di bawah jendela sembari menopang dagu. Cukup lama dia menunggu Coco siuman demi menunggu penjelasan dari kata ‘jangan’ yang sempat terucap dari bibir sang kekasih.
Tak berapa lama, pintu ruang perawatan terbuka. Adriano yang kembali lagi dari Italia masuk dengan wajah dibuat setenang mungkin. “Bagaimana keadaannya?” tanya pria itu sambil mendekat ke arah ranjang tempat Coco terbaring.
“Dia sudah sadar dan bisa berbicara sedikit denganku,” jawab Francesca sambil memaksakan senyumnya.
__ADS_1
“Syukurlah,” sahut Adriano. Matanya kemudian beralih kepada Coco yang tampak menggeliat pelan. “Ricci?” panggilnya.
Francesca juga segera berdiri dan mendekat ke tempat tidur. “Apa kau ingin minum lagi, Sayang?” jemari lentiknya mengusap lembut pipi sang kekasih.
Coco yang awalnya terpejam, kemudian terbangun. Sorot mata coklat miliknya beradu dengan mata indah Francesca. Dia lalu menggeleng pelan. “Ja-ngan,” ucapnya lagi dengan begitu pelan, tapi dapat didengar dengan jelas oleh Adriano dan juga Francesca.
“Kenapa kau mengucapkan kata itu terus sejak tadi, Ricci? Aku tidak mengerti,” raut wajah Francesca tampak was-was.
Coco menelan ludah dan mengempaskan napas pelan. Dia seakan tengah mengumpulkan energi untuk berbicara kepada Francesca. “Ja-ngan korban-kan karier dan ma-sa depan-mu untukku,” ujarnya kemudian dengan terbata-bata.
“Aku tidak merasa mengorbankan apapun, Ricci. Memang inilah seharusnya yang kulakukan sejak dulu,” bantah Francesca.
Sedangkan Coco menggeleng pelan seraya meringis. Ternyata sedikit gerakan saja telah membuat perutnya terasa nyeri. “Francy,” desisnya. Coco kembali mengatur pernapasan untuk melontarkan kata-kata yang jauh lebih panjang. “A-ku ti-dak mau me-nikah dengan-mu, ji-ka hal itu me-rugikan di-rimu,” tegas kata-katanya meskipun dia sampaikan dalam nada yang lemah. “Le-bih baik ki-ta batal-kan sa-ja renca-na ma-sa depan ki-ta,” Coco terengah selesai berkata demikian.
“Apa?” Francesca terbelalak tak percaya.
“Francy, nanti saja. Ricci masih belum pulih benar,” cegah Adriani yang sedari tadi hanya diam mengamati.
“A-ku ti-dak ma-u meru-gikan-mu,” ulang Coco sekali lagi. Sungguh penuh perjuangan baginya hanya untuk mengatakan hal itu. Rasa nyeri kembali menerjang sehingga Coco meringis dan memutuskan untuk tak lagi bersuara.
“Berapa kali harus kukatakan bahwa kau sama sekali tidak merugikanku, Ricci! Aku tidak merasa rugi sama sekali!” bantah Francesca dengan nada yang cukup tinggi.
“Francesca, sudahlah. Nanti kau bisa bicarakan lagi tentang hal itu jika Ricci sudah benar-benar sehat,” cegah Adriano lagi. Dia yang pernah berada dalam posisi seperti Coco, sangat tahu seperti apa rasanya.
Francesca tersadar dan memilih untuk mengalah. Dia mengangguk, lalu mundur ke arah sofa dan duduk di sana. Gadis itu menunduk sambil menyilangkan tangan di depan dada. Dia sama sekali tak percaya bahwa kini giliran Coco yang menolak menikah dengannya.
__ADS_1