
Terkejut, Mia membelalakan kedua matanya. Wanita itu bergerak menjauh dari Adriano, kemudian berbalik sehingga membelakangi pria tampan tersebut. Suasana hati Mia seketika menjadi tak karuan saat mendengar nama Christiabel. Kisah masa lalu antara wanita cantik pemilik butik itu dengan Adriano, membuat Mia seringkali merasa terusik karenanya.
"Jangan katakan jika kau ...." Mia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dia sama sekali tidak ingin membayangkan apa yang terjadi antara Adriano dengan Christiabel di dalam kamar hotel.
"Tidak, Mia," sanggah Adriano seraya meraih pundak sang istri. Dia membalikkan tubuh wanita itu sehingga kembali menghadap padanya. "Semuanya tidak seperti yang kau bayangkan," bantah pria bermata biru tadi.
"Memangnya apa yang ada dalam bayanganku? Kalian bermesraan kemudian bercinta?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Mia, terdengar seperti sebuah sindiran dari wanita itu untuk Adriano. Rasa kecewa memenuhi dada ibu satu anak tersebut.
"Kau pikir aku akan melakukan hal seperti itu?" Adriano balik bertanya. Dia tak boleh kehilangan kontrol emosi saat memberikan penjelasan kepada Mia. Ditatapnya paras cantik wanita bermata cokelat tadi dengan lekat. "Kau pikir aku akan berpaling dengan begitu mudah? Seluruh dunia tahu betapa aku sangat tergila-gila padamu, Mia. Berapa lama aku harus menuggu hingga berhasil membuatmu menjadi milikku? Rasanya aku akan menjadi seseorang yang teramat bodoh jika sampai berkhianat di kala cinta yang kuharapkan itu telah berhasil aku dapatkan," jelas Adriano tenang.
"Ada banyak orang yang menyukai tantangan, salah satunya adalah dirimu. Kau senang melakukan hal-hal yang bersifat ekstrim dan kerap membahayakan diri sendiri. Tidak menutup kemungkinan jika mengejarku hanya merupakan sebuah tantangan bagimu," bantah Mia.
__ADS_1
"Apa itu yang kau rasakan, Sayang?" tanya Adriano meyakinkan sang istri. "Jika dirimu berpikir seperti itu, maka kukatakan bahwa apa yang kau pikirkan memang benar. Florecita Mia akan selalu menjadi tantangan besar bagiku. Menaklukanmu, membuatmu merasa kalah dan menyerah dalam pelukanku ... aku merasa puas hanya dengan dirimu. Kau tahu bagaimana masa laluku. Dalam situasi seperti apa diriku dilahirkan."
"Aku sangat menyayangi ibuku, Mia. Dia terluka hati dan juga perasaannya. Begitu juga dengan Claudia. Aku tak akan begitu menyalahkan jika wanita itu teramat marah pada Emiliano Moriarty dan membenciku setengah mati. Kau pikir aku merasa nyaman berada dalam situasi seperti itu, Sayang? Tidak. Oleh karena itulah aku tak pernah ingin mengikuti jejak ayahku. Satu hal yang selalu paman Alessandro tekankan padaku dulu. Dia selalu mengatakan bahwa aku boleh menghabisi semua musuh dengan cara sekeji apapun, tapi aku tidak boleh menyakiti perasaan seorang wanita yang telah memberikan doa serta harapan-harapan terbaiknya untukku. Pria sejati adalah seseorang yang bisa menghargai seorang wanita, bukan hanya menjadikannya sebagai sarana kesenangan semata."
"Dulu, Christiabel memang hanya seorang penghibur bagiku. Akan tetapi, aku tak pernah menganggapnya sebagai seseorang yang rendah dan juga hina. Karena itulah hingga detik ini pun aku masih dan akan tetap menghargainya. Akan tetapi, bukan berarti aku bisa memanfaatkan semua itu. Tidak, Sayangku. Jika selama ini aku terus berusaha untuk semakin memperbesar kekuasaan dan pengaruh dalam dunia bisnis, menaikkan reputasiku dalam dunia hitam hingga menjadi sasaran dari seorang Jacob yang ingin memanfaatkan hal tersebut, maka tidak dengan masalah hati. Aku merasa cukup hanya dengan memiliki cinta darimu, Florecita Mia." Adriano menjelaskan kepada Mia dengan panjang lebar, membuat wanita cantik itu terdiam.
"Apa lagi yang harus kubuktikan padamu? Dengan cara bagaimana aku bisa meyakinkan bahwa Adriano D'Angelo tak menginginkan cinta dan kehangatan lain, selain dari dirimu? Kau dan Miabella sudah cukup bagiku. Aku rela jika harus meninggalkan segala kenyamanan ini. Namun, diriku tak akan pernah berani untuk melepaskan kau dan juga gadis kecil itu. Tidak, Mia. Aku tak akan pernah mengambil risiko sekecil apapun, karena kalian berdua adalah kehidupanku saat ini."
Adriano menurunkan tubuhnya. Dia berlutut di hadapan Mia yang sejak tadi hanya berdiri tanpa bicara sepatah kata pun. "Kulepaskan segala harga diri sebagai seorang ketua dari organisasi terbesar di Eropa yang bernama Tigre Nero. Aku berlutut di hadapan cinta dari seorang Florecita Mia. Aku tak peduli dengan cibiran dunia yang menertawakanku karena melakukan hal ini. Satu yang pasti, apapun akan kulakukan agar kau dan Miabella tetap berada di dekatku." Adriano menundukkan wajah, menunggu apa tanggapan dari Mia terhadap dirinya.
"Karena wanita sepertimu yang telah membuat hidupku merasa jauh lebih berarti, jika dibandingkan dengan segala rasa hormat dari siapa pun," jawab Adriano dengan yakin.
__ADS_1
"Sayangku." Tanpa berkata apa-apa lagi, Mia menurunkan tubuh untuk memeluk erat pria yang telah berhasil mengalihkan perhatiannya dari mendiang Matteo de Luca.
Untuk beberapa saat lamanya, suami istri itu saling berpelukan dan meluruhkan segala rasa. Tak lama kemudian, Mia merenggangkan rangkulannya. Dia membantu Adriano untuk kembali berdiri.
"Jadi, Jacob memanfaatkan Christiabel untuk mengancammu?"
"Ya, Mia. Dia mengunci pintu kamar selama hampir satu jam secara otomatis serta mengacaukan jaringan. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan alat penyadap sebagai pegangan jika sampai terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Akan tetapi, semuanya sia-sia. Jacob ternyata menggunakan rekaman CCTV hotel yang menunjukkan bahwa aku dan Christiabel memasuki hotel dan kamar yang sama, lalu keluar setelah satu jam kemudian seakan-akan kami telah melakukan sesuatu di dalam sana. Namun, demi nama ibuku ... kami tidak melakukan apapun, Mia. Aku dan dia bahkan duduk saling berjauhan," jelas Adriano.
"Christiabel bukan wanita yang bodoh. Dia paham betul seperti apa cinta yang kurasakan untukmu. Walaupun dirinya sempat mengungkapkan perasaan cinta terhadapku, tapi ... tapi itu tak berarti apa-apa," ucap Adriano lagi meyakinkan. Dia lalu kembali beranjak ke dekat jendela. Tatapan pria rupawan itu menerawang jauh pada suasana sekitar Casa de Luca.
"Aku sudah terjun dan melangkah sangat jauh, Mia. Ini bukan hanya tentang kasus kematian Matteo lagi, tapi telah melebar ke mana-mana. Setidaknya aku tahu dan menjadi lebih waspada. Namun, terus terang saja aku belum bisa bernapas lega. Di luar sana yang entah dari arah mana, Jacob sedang mengawasiku. Aku harus menghentikannya," ucap Adriano dengan tatapan yang terlihat kosong. Sesaat kemudian, dia lalu menoleh kepada Mia. "Izinkan aku, Sayang. Biarkan aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Berikan keleluasaan padaku untuk bertindak dan bergerak. Aku berjanji padamu akan selalu menjaga diri dengan baik. Kau tahu kenapa?" Adriano kembali mendekat kepada sang istri yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
__ADS_1
Adriano menangkup paras cantik Mia, menatap matanya dengan penuh perasaan. "Aku harus tetap hidup karena kini diriku memiliki alasan untuk itu. Satu hal lagi, jangan lupa untuk melakukan tes kehamilan."
Mia segera menundukkan wajahnya. "Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu, Adriano," ucapnya pelan. "Akan tetapi, jika memang ini demi keamanan kita semua, maka ... maka kukembalikan lagi kebebasanmu, Sayang. Lakukan segalanya hingga selesai. Segera akhiri ini, karena aku ingin kita dapat hidup dengan tenang."