Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Cokelat Batang


__ADS_3

Carina hanya diam terpaku menanggapi sikap Mia. Dia seakan tak punya kata-kata untuk membalasnya, sehingga yang dapat Carina lakukan saat itu hanyalah meraih jubah renang dan berlalu dari area kolam begitu saja tanpa menoleh lagi.


Mia hanya tersenyum sinis melihat hal itu sambil melipat tangan di dada. Perhatiannya kembali teralih pada Adriano yang tampak bersemangat sekali mengajari Miabella berenang. Tak seperti beberapa hari yang lalu, ketika dia bertengkar dengan sang suami. Mia kini lebih memilih untuk menyembunyikan kegalauannya atas sikap Carina. Tak ingin emosi dalam diri mengambil alih akal sehatnya, Mia memutuskan untuk melepas dress yang dia kenakan. Dengan hanya berbalut pakaian dalam seksi, wanita cantik tersebut melenggang ke tepian kolam.


Sementara Adriano yang saat itu tengah memegang badan Miabella, segera menoleh demi melihat adegan yang tak bisa dilewatkan oleh mata lelakinya. “Mia,” gumam Adriano seraya menelan ludah.


Mia hanya tersenyum kecil sebelum melompat ke dalam kolam. Dia memamerkan kemampuan berenangnya pada Adriano, membuat konsentrasi sang suami sedikit terganggu. Adriano tak bisa fokus kepada Miabella, apalagi ketika Mia berenang menggunakan gaya punggung dengan tubuh menghadap ke atas. Saat itu, tampaklah dengan jelas lekuk tubuh indah Mia, terutama bagian dada yang terlihat begitu menantang.


“Bella, kenapa aku merasa jika ibumu sangat curang? Dia pandai berenang, tapi tak pernah mengajarimu,” bisik Adriano pada putri sambungnya.


“Ibu dulu takut dengan air, Daddy Zio,” jawab Miabella. Mimiknya begitu serius, membuat Adriano tak bisa menahan tawa.


“Alasan macam apa itu, Pirncipessa? Kalau memang takut air, lalu kenapa ibumu mandi setiap hari?” sanggah Adriano seraya mengenyitkan kening.


“Daddy Zio, aku berkata yang sebenarnya!” ujar Miabella sambil bersungut-sungut. “Ibu dulu tidak suka air yang banyak seperti laut atau kolam renang. Setiap kali aku mengajak ibu berenang, dia selalu menolak,” jelas gadis kecil itu berapi-api.


“Oh ya? Aku baru tahu itu,” Adriano kembali menoleh pada Mia yang masih asyik memamerkan kemolekan tubuhnya di atas permukaan air.


“Kalau sekarang mungkin ibu tidak takut lagi, karena ada Daddy Zio di dekatnya,” celetuk Miabella sembari menggerak-gerakkan kakinya dengan lucu. Sekarang dia mulai lihai mengambang di atas air, meskipun harus sedikit dibantu oleh Adriano. Pria bermata biru itu tercenung sesaat sambil terus menatap ke arah Mia.


Hampir satu jam waktu yang keluarga kecil itu habiskan untuk bermain air, sampai akhirnya Miabella mengaku lelah. “Perutku sudah berbunyi, Daddy Zio,” ucapnya.


“Kau sudah lapar, Bella? Baiklah. Kalau begitu, kita akhiri saja pelajaran hari ini. Lagi pula, kau sudah semakin mahir,” puji Adriano. Dia lalu membantu tubuh kecil balita itu naik ke tepian kolam renang. “Mia, apa kau masih ingin terus di sini?” tanya Adriano pada sang istri yang sepertinya masih nyaman berada di dalam kolam.


“Jika kau juga selesai, maka aku juga akan selesai. Aku harus menjagamu dari bahaya,” jawab Mia datar.


“Bahaya? Mansion ini adalah tempat teraman, Mia,” sanggah Adriano dengan sorot tak mengerti.


“Sekarang tidak lagi sejak buaya betina itu masuk kemari,” sahut Mia ketus. “Ayo, Bella. Kita bersihkan badanmu,” ajak wanita cantik itu seraya meraih jubah renang Miabella dan memakaikannya pada sang putri. Dia juga menyerahkan handuk putih yang tergeletak di atas kursi pada Adriano.


“Mana handukmu, Mia?” kening Adriano semakin berkerut saat Mia langsung memakai dressnya dalam kondisi tubuh masih basah.


“Aku tidak membawa handuk, karena pada awalnya aku memang tidak berniat untuk berenang,” jawab Mia seraya berjalan masuk ke dalam bangunan mansion menuju kamarnya.


“Kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk berenang?” Adriano mengejar langkah cepat Mia dan menyejajari istrinya.

__ADS_1


“Aku harus mendinginkan kepalaku, Adriano. Jika tidak, maka aku akan kembali ‘meledak’!” Mia berhenti sejenak saat memberi penjelasan pada suaminya, lalu berjalan lagi sampai mereka tiba di depan pintu kamar.


“Astaga, aku harap kita tidak bertengkar lagi seperti kemarin. Rasanya sangat menyakitkan, Sayang,” keluh Adriano. "Lagi pula, kau sendiri yang memberinya izin untuk menginap di sini," ucap pria itu lagi tak mengerti. Tangan kanannya memutar pegangan pintu dan membukanya. Dia menutupnya kembali saat ibu dan anak itu sudah masuk ke dalam kamar.


“Semuanya karena Gianna. Itu saja! Aku juga tidak ingin bertengkar denganmu, karena ….” Mia menatap Adriano dengan sorot ragu.


“Karena apa?” Adriano mengembuskan napasnya perlahan seraya mendekati sang istri.


“Karena jika kita sering bertengkar, nanti kau akan bosan padaku. Saat kau bosan, maka ….”


“Maka apa?” tanya Adriano lagi.


“Maka dirimu akan beralih ke pelukan wanita mana pun yang kau kehendaki. Apalagi Carina mengatakan padaku bahwa pria sepertimu tak akan betah berlama-lama hanya berada dekat dengan satu wanita,” Mia menunduk seraya mengeluh pelan.


“Astaga, Mia,” Adriano menggaruk keningnya yang tak gatal.


“Daddy Zio, jangan nakal pada ibuku,” tegur Miabella yang sejak awal menyimak percakapan kedua orang tuanya.


“Principessa.” Adriano terkekeh pelan, lalu menurunkan tubuh supaya sejajar dengan putri kecilnya. “Aku tidak akan pernah bisa berbuat nakal pada ibumu, tapi sepertinya ibumu tak pernah bisa percaya padaku. Bisakah kau membantu untuk meyakinkannya, Bella,” pinta Adriano dengan mimik memelas.


“Aku pasti akan membantumu sekuat tenagaku, Daddzy Zio!” Miabella mengangkat kedua tangan dan mengepalkannya di udara, membuat Adriano terbahak melihat tingkah lucu putrinya. “Baiklah. Katakan pada ibumu bahwa aku tidak akan pernah bosan pada nyonya Florecita Mia D’Angelo, apalagi sampai meninggalkannya. Hal itu sama sekali tak pernah terlintas di dalam kepalaku,” tegasnya.


Meledaklah tawa Adriano ketika itu. “Ya, ampun, Principessa. Mungkin kau lupa karena perutmu sedang lapar, ya?” candanya. Begitu pula Mia yang harus menahan tawa sekuat tenaga, padahal dia masih merasa jengkel.


“Astaga, kalian ini. Ayo, Bella. Kita bersihkan dulu tubuhmu. Setelah ini akan kubuatkan kau makan siang,” ucap Mia sambil beranjak ke kamar mandi.


“Aku ikut,” tanpa menunggu jawaban dari Mia, Adriano menggendong tubuh mungil Miabella begitu saja, lalu membawanya ke kamar mandi.


Beberapa menit berlalu, Miabella telah selesai lebih dulu. Dia terlihat sudah segar dan rapi. Adriano sengaja menuntun putrinya duduk di tepian ranjang. Dia lalu membuka laci berdesain antik serta penuh ukiran yang terletak tepat di samping ranjang. “Lihat ini, Principessa,” tunjuknya.


Sontak, mata bulat nan indah milik Miabella membulat sempurna. Bola mata abu-abunya berbinar melihat laci yang penuh dengan coklat. “Apakah itu untukku?” tanyanya sumringah.


“Tentu saja.” Adriano mengambil sebatang coklat dan memberikannya pada Miabella. “Makanlah dulu untuk sekadar mengganjal perutmu. Jika masih kurang, kau boleh mengambilnya lagi sepuasmu,” ucapnya.


“Terima kasih, Daddy Zio!” seru Miabella sembari memeluk erat Adriano.

__ADS_1


“Baiklah. Tunggulah sebentar di sini, ya,” pesan Adriano setelah membalas pelukan Miabella dan mengecup kening putri kecilnya. Dia lalu bergegas masuk ke kamar mandi, di mana Mia tengah asyik membasuh tubuhnya di bawah shower.


Adriano buru-buru melepas handuk dan celana renangnya. Dia lalu berjalan pelan mendekati Mia kemudian mendekapnya dari belakang. “Katakan rahasiamu yang belum kuketahui, Sayang,” ucapnya lirih sembari menempelkan tubuh atletisnya pada tubuh ramping Mia, hingga tak ada jarak antara keduanya.


“Rahasia apa? Aku tak punya rahasia apa-apa.” Setengah gugup Mia memutar badan dan balas menatap Adriano, walaupun saat itu dadanya berdebar kencang. “Aku tak mengenal banyak pria seperti halnya kau yang pernah dekat dengan banyak wanita,” balas Mia setengah menyindir. Mimik cemberutnya benar-benar menggoda Adriano.


“Aku tak sedang membicarakan tentang lawan jenis, Sayang,” Adriano menyentuh dagu Mia dan sedikit mengangkatnya, sehingga dia bisa leluasa mencium bibir Mia dengan lembut dan begitu dalam. Ciuman yang membuat mereka berdua terbuai. Mia pun seolah lupa akan hal yang membuatnya emosi. Semuanya luruh dalam sentuhan bibir Adriano yang penuh gairah.


“Miabella mengatakan padaku jika kau pernah takut laut atau kolam renang,” ujar Adriano sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya.


“Itu … itu .…” Mia tergagap. Mata coklatnya menerawang jauh ke dalam bola mata Adriano yang terlihat sangat indah. “Warna mata birumu seperti warna laut. Aku bagaikan terhipnotis setiap melihatnya,” lanjut wanita itu dengan setengah berbisik.


“Jangan mengalihkan pembicaraan, Sayang. Katakan kenapa kau takut pada air?” desak Adriano yang semakin mendekatkan wajahnya pada Mia. Dikecupnya lagi bibir ranum itu beberapa kali.


“Itu … karena … saat itu ….” Mia seolah ragu mengungkapkan kata-kata.


“Katakan. Jika tidak, maka akan kukotori lagi tubuhmu yang sudah bersih ini.” Tangan Adriano mulai bergerak nakal menelusuri setiap inci permukaan kulit Mia sampai ke pangkal paha. “Ayo, Mia,” bisik pria itu ketika dua jemari sudah berada di titik kesukaannya.


“Ah, Adriano. Jangan. Ingat, Bella menunggumu untuk makan siang bersama.” Mia mendesis pelan. Matanya terpejam demi menahan gejolak yang mulai membara.


“Kalau begitu, katakan padaku,” paksa Adriano dengan jemari yang tak mau berhenti.


“Baiklah, tapi hentikan dulu. Aku tak bisa bercerita dalam keadaan begini,” elak Mia.


“Berceritalah, baru akan kuhentikan.” Adriano tak mau mundur barang sedikit pun.


“Itu karena kau!” pekik Mia sedikit tertahan.


“Karena aku? Bagaimana bisa?” Adriano memiringkan wajahnya dan menatap lekat pada sang istri.


“Dulu, setelah kejadian itu ... Theo mengatakan padaku bahwa dia telah membuang tubuhmu ke dasar samudera. Sejak saat itu, aku selalu merasa ketakutan. Setiap kali aku melihat air dalam jumlah banyak, aku merasa seakan melihat bayangan dirimu di sana. Kau seperti tengah memanggil dan mengajakku untuk ikut serta tenggelam ke dalamnya,” tutur Mia.


“Lalu, kenapa kau mencoba bunuh diri dengan hendak melemparkan dirimu ke samudera?” tanya Adriano heran.


“Kupikir itu pantas. Melemparkan diriku yang hilang arah ke tempat di mana Theo pernah membuangmu,” sahut Mia.

__ADS_1


“Untunglah saat itu aku menemukanmu, Mia. Kau benar, aku telah menarikmu. Namun, bukan ke dasar samudera, melainkan ke sebuah kehidupan yang sangat jauh dari yang pernah kita berdua bayangkan,” ujar Adriano dengan napas hangat yang terhembus ke wajah cantik Mia. Dia hendak kembali menikmati bibir Mia saat terdengar ketukan kencang di pintu.


“Daddy Zio! Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar. Padahal aku sudah menghabiskan empat batang coklat. Kenapa masih lapar?” celoteh Miabella dari balik pintu kamar mandi.


__ADS_2