
Siang yang mendung pada awal musim gugur, padahal saat itu sudah lewat tengah hari. Juan Pablo terbangun dengan kepala sedikit pusing, setelah semalam minum dan harus berhadapan dengan Jacob. Pria tampan asal Meksiko tersebut duduk sejenak di tepian tempat tidur, sebelum memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi. Sebuah helaan napas berat pun mengiringi ingatannya akan kejadian semalam yang sungguh di luar dugaan.
Entah apa yang melatarbelakangi Jacob, sehingga menemuinya dan meminta flashdisk yang berisi data-data klien serta semua hal yang berkaitan dengan Killer X. Juan Pablo merasa tak menyimpan benda itu, meskipun pada kenyataannya dia yang telah memporak-porandakan markas dari para pembunuh bayaran tersebut.
Juan Pablo terus berpikir dengan keras. Dia meraup wajahnya kasar, kemudian menyugar rambut gelap yang masih sedikit acak-acakan ke belakang. Ingatannya kemudian tertuju kepada Pedro dan sebuah flashdisk yang dia temukan secara tidak sengaja dalam saku celana jeans, setelah dia kembali dari Arizona.
"Apakah flashdisk yang itu?" pikir Juan Pablo bergumam pelan. Dia lalu beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menuju sebuah meja dengan beberapa laci yang tersusun rapi. Juan Pablo membuka serta memeriksa setiap laci. "Di mana benda itu? Aku rasa sudah menyimpannya di sini," pikir pria bermata cokelat madu tersebut. Dia berdiri sejenak, berpikir sambil berkacak pinggang.
Juan Pablo kemudian mengedarkan pandangan pada sekeliling kamarnya yang luas dan bernuansa hitam. Suasana yang sangat berlainan dengan kamar milik Adriano.
Pandangan pria itu kemudian tertuju pada sebuah meja. Di atas meja tadi, terdapat sebuah kotak kecil dari bahan alumunium. Juan Pablo segera melangkah ke sana. Dia lalu duduk di tepian tempat tidur, seraya meraih kotak tadi. Juan Pablo segera membuka penutupnya.
Di dalam kotak itu ada beberapa benda. Salah satunya adalah flashdisk. Namun, ternyata di dalam sana ada tiga buah benda yang sama. "Astaga. Bagus sekali. Kau benar-benar menyusahkanku, Jacob. Seharusnya aku langsung melenyapkanmu semalam agar tak lagi menjadi ancaman," gumam Juan Pablo mengeluhkan keputusannya yang telah membiarkan Jacob terlepas begitu saja. Andai semalam dirinya berada dalam kesadaran penuh, maka dia pasti akan jauh lebih mudah dalam menghabisi pria asal Swedia itu.
"Kurang ajar kau, Jacob! Berani sekali dirimu mengancamku," gerutu Juan Pablo lagi. Namun, tak lama pria berpostur tegap tadi segera mengalihkan perhatian pada ponsel yang bergetar di atas meja dekat lampu tidur. Juan Pablo pun meraih benda itu dan memeriksanya. Nama Mathea tertera di layar sebagai pemanggil. Pria itu pun menautkan alisnya. "Bueno," sapanya pelan dalam bahasa Meksiko. Segala amarah yang dia rasakan sirna seketika, saat berbicara dengan sang ibu.
"Sedang apa kau, nak?" tanya wanita itu lembut, dari jarak ribuan mil jauhnya.
__ADS_1
"Aku baru saja bangun. Ada apa, bu? Apakah ada masalah?" Juan Pablo balik bertanya seraya berdiri dan mendekat ke arah jendela.
"Tidak ada apa-apa, nak. Aku hanya khawatir jika ...." Mattea seakan ragu melanjutkan kalimatnya. "Ah, lupakan. Aku hanya khawatir kau berbuat macam-macam di Italia," ujar ibunda Juan pablo tersebut.
"Aku sedang berada di Monaco, bu. Tenang saja. Aku tidak akan mengganggu ketentraman ayah kandungku, meskipun dulu dia membuang kita dan menganggap bahwa ibu dan aku tak pernah ada," ujar Juan Pablo seraya tersenyum simpul.
"Lepaskan semuanya, nak. Tak ada gunanya kau mendendam. Semua sudah berlalu. Lagi pula, hidup kita bahagia dan baik-baik saja meskipun tanpa dia," ujar Mattea lagi dengan tutur katanya yang selalu lemah-lembut.
"Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya, bu," ujar Juan Pablo.
"Oh, ya? Lalu, bagaimana perasaanmu?" tanya Mattea.
"Ingatlah selalu pesan ibumu ini, Juanito. Dendam hanya akan menggerogoti jiwamu. Kau tampak hidup dari luar, tapi kau akan mati secara perlahan di dalam sana." Dari intonasi Mattea, tampak jelas bahwa wanita itu adalah seorang yang teramat sabar dan penyayang.
"Aku mengerti, bu. Gracias," sahut Juan Pablo sambil tersenyum samar.
"Baiklah, kututup dulu teleponnya, nak. Hari ini aku mendapat undangan pertemuan dari dewan kota. Oh, ya. Jika ada waktu longgar, ajaklah Gianna kemari. Aku sangat ingin berbincang dengannya," ucap Mattea penuh semangat.
__ADS_1
"Pasti, bu. Jika ada waktu, aku akan mengajaknya ke sana," sahut Juan Pablo sebelum menutup teleponnya. Seperti itulah yang selalu Mattea lakukan setiap hari, demi mengurangi rasa rindu terhadap Juan Pablo, putra semata wayangnya.
Sementara Juan Pablo tampak termenung sejenak sambil mengamati layar ponsel yang sudah berubah gelap. Dia lalu kembali memusatkan perhatian pada tiga buah flashdisk dalam kotak yang masih digenggamnya. Juan Pablo beranjak dari sana dan memutuskan ke luar kamar. Dia terus berjalan menuju ruang kerja dan mulai menyalakan laptop. Satu tangan pria itu dia ketuk-ketukkan ke atas meja, sementara tangan yang lain cekatan memasukkan ujung flashdisk ke dalam USB port. Dia membuka dan memeriksa isi flashdisk yang ditemukannya satu per satu.
Isi flashdisk pertama tak begitu penting. Di sana hanya berisi laporan keuangan kasino dan klub malam miliknya yang selama ini berjalan atas nama Don Vargas. Merasa tak menemukan apa-apa pada flashdisk pertama, dia kemudian beralih pada flashdisk kedua.
Flashdisk itu ternyata hanya berisi aliran dana yang dia keluarkan untuk organisasi Killer X. Kala itu, Juan Pablo membayar anak buah Lionel dalam jumlah besar untuk mengeksekusi Matteo de Luca. Di sana, tertera pula nama Thomas Bolton dan Andreja, dua pembunuh terbaik Killer X yang harus mati di tangan Adriano dan Coco.
Juan Pablo melepas flashdisk kedua, lalu berpindah ke flashdisk terakhir. Dia masih ingat jika isi flashdisk ketiga itu adalah rekaman video yang dibuat oleh Pedro. Namun, demi meyakinkan diri akan isinya, Juan Pablo kembali memutar rekaman itu sampai selesai.
Beberapa saat kemudian, pria bermata cokelat madu tersebut mengernyitkan kening, karena tak menemukan sesuatu yang aneh dalam video tadi meskipun sudah dia tonton dan amati berkali-kali. Juan Pablo pun berniat mengeluarkan flashdisk itu sebelum melihat tanda berkedip di layar folder.
Juan Pablo mengarahkan kursos pada tanda berkedip tersebut, membuat layar laptopnya berubah gelap untuk beberapa saat. Tak lama kemudian, gambar pada layar berangsur normal kembali. Namun, di pojok atas ikon folder muncul dua folder baru. Juan Pablo semakin keheranan. "Tadi dua folder itu tak ada di situ," gumamnya pada diri sendiri.
Penasaran, Juan Pablo mengarahkan kursor dan menekan enter. Keluarlah semua data dan grafik yang berjumlah ribuan. Terdapat pula gambar cetak biru bangunan markas Killer beserta seluruh hitungan matematisnya. Pria rupawan bermata elang tadi tersenyum lebar. "Jadi, benda inikah yang kau cari, Jacob?" ujarnya. Juan Pablo lalu beralih pada folder berikutnya yang ternyata berisi data dari seluruh klien dan pihak-pihak yang pernah menyewa jasa organisasi pembunuh bayaran itu.
"Karena tio Pedro yang memberikan benda ini padaku, maka flashdisk ini milikku." Juan Pablo tersenyum sinis seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
__ADS_1
Pria itu terdiam sejenak sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya pada permukaan meja. Sesaat kemudian, dia meraih ponsel yang sedari tadi diletakkan di atas meja sebelah laptop. Dari sekian banyak kontak, dia memilih nama sang ketua Tigre Nero dan menyentuh tombol panggil. Dengan dua kali nada sambung saja, panggilannya tersambung. Terdengar suara berat Adriano dari seberang sana. "Pronto," sapanya.
"Halo, Adriano. Kau sedang apa? Kuharap kau tidak sibuk, karena aku tengah merencanakan sebuah pesta besar-besaran untuk merayakan pembukaan kasino kita di Birmingham. Aku ingin kau hadir dan membantuku menyelenggarakan pesta itu," ajak Juan Pablo.