
Seperti yang telah dikatakan oleh Marco sebelumnya, siang itu Romeo dan Tobia sudah tiba di Casa de Luca. Miabella segera menyambut kedua sepupunya yang kini telah tumbuh dewasa dan juga berpostur tinggi. Tanpa rasa canggung sama sekali, gadis cantik bermata abu-abu tersebut memeluk kedua putra Marco tadi secara bersamaan.
"Aku senang karena kalian juga datang kemari," ucap Miabella yang berdiri di antara kakak beradik itu. Dia merengkuh pundak mereka sambil berjalan masuk. "Aku akan memiliki teman untuk berpetualang selama di sini," ujarnya lagi penuh semangat.
"Sebenarnya aku tidak berencana untuk menghabiskan liburan di Casa de Luca. Aku sudah berniat untuk pergi ke Amalfi. Akan tetapi, ibu justru malah menyuruhku untuk menemani Tobia kemari. Menyebalkan," terang Romeo yang diakhiri sebuah keluhan.
"Aku tidak pernah memaksamu untuk ikut. Sudah kukatakan sejak awal. Dari sini kau bisa langsung pergi ke manapun yang dirimu inginkan," sahut Tobia tanpa menoleh kepada sang kakak.
"Ya, tapi kau benar sekali, Romeo. Aku juga sering merasa malas jika Adriana sudah mengikuti diriku. Dia seperti anak kucing yang terus bergelayut di kaki majikannya. Astaga!" Miabella menimpali ucapan Romeo dengan raut dan nada bicara yang terdengar begitu gemas.
"Kalian berdua sama saja, kakak tidak bertanggung jawab," balas Tobia dingin. Tampak jelas jika remaja berusia sembilan belas tahun itu tengah merasa kesal. Tobia berjalan mendahului kakak dan sepupunya. Namun, langkah pemuda tadi seketika terhenti saat melihat Coco yang baru datang menyambut mereka.
"Ah, rupanya kalian sudah tiba. Aku baru kembali dari perkebunan," ucap Coco seraya merangkul Tobia yang berjarak jauh lebih dekat padanya.
"Aku tahu jika Paman tidak suka dengan kedatangan kami," sahut Tobia setelah melepaskan rangkulannya. Dia pun melanjutkan langkah begitu saja, membuat Coco menjadi keheranan.
Pria berambut ikal itu pun mengalihkan perhatian kepada Romeo yang memaksakan diri untuk tersenyum. Coco juga melakukan hal yang sama. "Apa kabar, Romeo?" sapanya. Dia lalu merengkuh tubuh jangkung pemuda yang berusia hanya terpaut satu tahun dari sang adik.
"Seperti yang Paman lihat. Aku masih muda dan sanggup berdiri tegak dalam waktu yang lama," jawab Romeo enteng. Kata-kata yang segera ditanggapi dengan tawa renyah oleh Miabella.
"Apa-apaan kau, Romeo?" Miabella menepuk lengan sepupunya sambil terus tertawa geli. "Ayo, aku ingin mengajakmu berwisata di sekitar Casa de Luca." Tanpa banyak bicara lagi, Miabella menarik tangan sepupunya untuk berlalu dari hadapan Coco, yang saat itu hanya dapat mengempaskan napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Bertambah lagi pengacau dunia yang datang kemari," gumam pria berambut ikal tersebut sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.
Sementara Miabella mengajak Romeo ke area perkebunan. Mereka berdua menyusuri jalanan setapak dengan rumput-rumput di bagian sampingnya. "Kau akan tinggal berapa lama di sini?" tanya Romeo seraya melirik Miabella.
"Aku akan tinggal sangat lama di sini. Aku rasa, sebentar lagi daddy zio akan mengirimkan sisa pakaianku yang ada di Monaco," jawab Miabella dengan tatapan yang tertuju lurus ke depan.
"Jangan katakan jika paman Adriano mengusir dan tidak mau mengakuimu sebagai anaknya lagi," celetuk Romeo, yang seketika membuat Miabella menghentikan langkah. Gadis cantik berambut panjang itu mendelik tajam kepadanya. Sedangkan Romeo terlihat tak ada rasa bersalah sama sekali.
"Tentu saja tidak," bantah Miabella dengan segera. "Alasanku tinggal lama di sini karena hal lain," jelasnya.
"Apa itu?" tanya Romeo kembali menyertai langkah Miabella dari samping kirinya.
"Aku harus mengambil alih pengurusan perkebunan. Alasannya karena kakek Damiano sudah terlalu tua, sedangkan paman Ricci akan pindah ke Roma."
"Entahlah. Aku tidak yakin apakah masih bisa melakukan semua yang diriku inginkan dengan sesuka hati atau tidak setelah itu," sahut Miabella yang kemudian terdengar mengeluh pelan.
"Ya, itu juga yang kurasakan sekarang. Kita ada di posisi yang sama." Romeo berdiri sejenak sambil mengedarkan pandangan pada sekeliling tempat tersebut. Romeo yang sudah berusia dua puluh tahun, tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Dia memiliki rambut pirang yang sama seperti sang ibu, Daniella.
"Maksudmu?" tanya Miabella menatap Romeo dengan sorot tak mengerti. Dia membalikkan badan, sehingga menghadap sepenuhnya kepada sang sepupu. Romeo selalu terlihat percaya diri mengenakan celana cargo pendek, dengan atasan sebuah t-shirt yang disertai kemeja pendek sebagai luaran. Pemuda itu sedikit memicingkan matanya yang berwarna amber, akibat cuaca panas di sana. Sungguh Miabella tak punya kira-kira, karena dia memaksa Romeo untuk menemaninya ke perkebunan pada tengah hari.
"Ayahku sudah ada niatan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua klan. Sebagai anak tertua, tampuk kepemimpinan otomatis akan jatuh ke tanganku. Dia terus berusaha untuk mengarahkanku ke sana," terang Romeo. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, lalu kembali mengedarkan pandangan ke sekitar perkebunan tempat mereka berada.
__ADS_1
"Lalu, kau sendiri bagaimana? Apa kau tertarik untuk menduduki jabatan itu dan menggantikan ayahmu?" tanya Miabella sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah sang sepupu.
"Entahlah." Romeo menautkan alisnya seraya memundurkan wajah agar sedikit menjauh dari Miabella. "Kau tahu bukan jika aku mengambil jalur pendidikan di bidang arsitektur?"
"Ya. Itu artinya kau harus membangun klan de Luca agar semakin berjaya dan disegani," celoteh Miabella dengan enteng.
"Mudah sekali kau berbicara," cibir Romeo.
"Bicara memang mudah," balas Miabella. Dia kembali mengalihkan perhatian pada perkebunan yang sudah turun-temurun sejak beberapa generasi. "Sebenarnya aku juga masih belum memiliki bayangan. Entah apa yang akan kulakukan agar bisa membuat perkebunan milik keluarga de Luca tetap menjadi yang terbesar di kawasan Lombardia. Du Fontaine, itu sebuah nama yang sangat legendaris." Miabella menghela napas pelan. Gadis itu terlihat fokus menatap hamparan pohon anggur sejauh mata memandang. "Dulu, mendiang ayahku juga pasti merasakan hal yang sama saat pertama kali diserahi tanggung jawab besar ini," ucap Miabella lagi.
"Semua orang pasti akan merasa canggung dengan apapun yang dihadapinya untuk yang pertama kali. Namun, lama-kelamaan juga pasti akan terbiasa dan justru menghadirkan kenikmatan tersendiri," sahut Romeo. "Terkadang aku juga memikirkan hal seperti itu. Aku merasa kasihan dengan ayahku. Dia juga tak mungkin memberikan jabatan ini kepada Tobia."
"Jadi, dia datang kemari membawa masalahnya?" tanya Miabella.
"Ya, dan aku ditugaskan oleh ibuku untuk selalu mengawasi anak itu," jelas Romeo. Dia melihat ke kiri dan kanan, sebelum akhirnya mendekat kepada Miabella. "Apa kau ingin mendengar sesuatu yang menggelikan?" tawarnya.
"Apa itu?" Miabella melirik sepupunya yang tampan sambil menautkan alis.
"Adikku telah mengencani anak rektor di kampusnya. Dia juga membawa gadis itu untuk ikut serta dalam balapan liar yang selalu dirinya ikuti setiap malam di akhir pekan," tutur Romeo setengah berbisik, padahal di sana hanya ada mereka berdua.
"Oh ya? Itu sungguh luar biasa," sahut Miabella sambil membelalakan mata abu-abunya yang indah.
__ADS_1
"Apanya yang luar biasa?" sanggah Romeo. "Ayah gadis itu mendatangi kediaman kami dengan tanpa diduga. Akhirnya dia tahu bahwa Tobia adalah putra dari seorang ketua mafia," tutur pemuda itu lagi.