
Sebelum benar-benar meninggalkan bangunan tersebut, Carlo mencari sesuatu terlebih dahulu. Apa saja yang bisa memberinya petunjuk tentang organisasi bernama Fedor atau Red Wolf. Namun, sayangnya di sana tak ada apapun selain botol minuman keras.
"Aku rasa tempat ini bukanlah markas asli mereka. Tak ada apa-apa yang kutemukan di sini dan bisa dijadikan sebagai petunjuk. Aku juga sempat menggeledah salah satu mayat tadi. Namun, tak ada sesuatu yang berarti," tutur Carlo. Dia lalu membantu Romeo untuk bengkit.
"Tidak apa-apa, Carlo. Aku tadi sempat merekam percakapan mereka. Entah isinya sesuatu yang penting atau bukan, tapi akan kita ketahui nanti jika sudah diterjemahkan," ujar Romeo menanggapi. Dia melangkah dengan sedikit tertatih, berhubung dadanya terasa begitu sakit. Romeo masih beruntung, karena pria dengan janggut tebal tadi tak sempat menghajar wajahnya. Alhasil, paras tampan putra sulung Marco tersebut masih utuh dan tak tergores sedikit pun. Lain halnya dengan Carlo yang mengalami luka lebam di dekat bibir.
"Apa Anda masih sanggup menyetir?" tanya Carlo, ketika mereka telah tiba di dekat kendaraan milik Romeo.
"Ya. Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya merasa sedikit sesak, tapi selebihnya baik-baik saja," jawab Romeo seraya membuka kunci mobil yang tadi dia parkirkan di dekat sebatang pohon rindang.
"Syukurlah. Lagi pula, ini sudah terlalu malam. Kita harus segera kembali ke Casa de Luca," ujar Carlo menanggapi. Pikiran pria tampan tersebut langsung tertuju kepada Miabella. Gadis itu bahkan sempat mengirimkan pesan kepada dirinya.
"Ya, kau benar," balas Romeo. Dia menoleh sesaat kepada Carlo yang hendak menaiki motornya. "Kuharap kau tidak menyesal menemaniku," ucap Romeo lagi.
"Untuk ke depannya, Anda harus lebih waspada dan teliti sebelum bertindak," sahut Carlo.
"Aku terlalu bersemangat," balas Romeo seraya tersenyum simpul. Tak berselang lama, dia pun memasuki kendaraan kemudian melajukannya berbarengan dengan Carlo yang juga melakukan hal sama. Mereka meninggalkan tempat yang hampir saja merenggut nyawa seorang Romeo.
Tak berselang lama, keduanya telah tiba di halaman Casa de Luca. Carlo memarkirkan motor besarnya di dekat mobil Romeo. Sesaat kemudian, pemuda dua puluh tahun tersebut keluar dan kembali menghampiri pengawal pribadi Miabella tersebut. "Apa kau gagal menghabisi pria berjanggut tadi?" tanyanya.
"Dia melarikan diri tepat di saat Anda siuman. Biarkan saja, aku rasa dia pasti akan melapor pada bos besarnya," tebak Carlo.
"Begitukah menurutmu? Dia lah yang bernama Czar. Pria yang kemarin sering disebutkan namanya saat aku dan Miabella diculik," terang Romeo.
Carlo terdiam sejenak sebelum menanggapi ucapan dari Romeo. Dia mencoba mengingat kembali sosok Czar dengan segala gelagat aneh yang ditunjukkannya tadi. Carlo yakin bahwa pria itu pasti mengetahui sesuatu tentang Red Wolf atau apapun itu yang berkaitan dengan identitas dia yang sebenarnya.
"Czar melarikan diri dengan sangat cepat. Aku bahkan tak menyadarinya," sahut pria bermata biru itu seraya mempersilakan Romeo agar segera masuk.
__ADS_1
"Satu lagi." Romeo menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kepada Carlo. "Kuharap kejadian malam ini tak sampai ke telinga ayahku, maksudku ... tentang aku yang hampir mati." Romeo tertawa pelan. "Aku tidak ingin jika sampai terlihat bodoh di hadapannya," ucap pemuda itu lagi berpesan kepada Carlo.
"Anda tenang saja, Tuan muda. Namun, untuk ke depannya kusarankan agar bertindak dengan penuh perencanaan, terlebih jika kita belum mengetahui dengan jelas peta kekuatan lawan. Itu akan sangat membahayakan bagi nyawa Anda," tegur Carlo. Dia memberikan masukannya kepada Romeo yang memang belum mengetahui seluk-beluk dunia mafia secara lebih dalam, meskipun sang ayah merupakan seorang ketua klan. Romeo awalnya memang tidak tertarik dengan urusan organisasi.
"Ya, kau benar. Terima kasih atas saranmu," balas Romeo seraya menyentuh lengan Carlo. "Jadi, sejak kapan kau dan sepupuku ...." Romeo mengenyitkan kening sejenak. "Baiklah. Lupakan," ucapnya kemudian saat melihat Miabella sudah berdiri sambil melipat kedua tangan di dada. "Kukembalikan dia padamu, Bella," ujar pemuda dua puluh tahun tersebut sambil berlalu melewati Miabella begitu saja.
Sedangkan Miabell tak menyahut. Dia mendelik sesaat kepada Romeo, sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Carlo. Gadis cantik dengan singlet putih dan celana tidur itu pun berjalan mendekat. Dia menatap lekat wajah Carlo yang dihiasi sedikit luka lebam di dekat bibirnya. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Miabella penuh selidik.
"Tidak ada, kami hanya sedikit bersenang-senang," jawab Carlo memamerkan senyuman khasnya yang menawan.
"Begitukah?" Miabella menautkan alisnya. Ada rasa tak percaya dalam nada bicara serta sorot mata gadis berambut panjang tersebut.
"Iya," jawab Carlo singkat. Dia berusaha terlihat biasa saja, meskipun dirinya tak pandai menyembunyikan satu kebohongan dari Miabella.
"Baiklah," balas Miabella. Tanpa berkata apa-apa lagi, putri sulung Mia tadi segera membalikkan badan. Dia bermaksud untuk berlalu dari hadapan sang pengawal.
"Perkelahian kecil sehingga membuat wajahmu lebam begitu?" Miabella kembali menoleh.
"Aku bukan tokoh superhero," celetuk Carlo.
"Aku tahu," balas Miabella. Dia menepiskan tangan Carlo, kemudian melanjutkan langkah ke dalam bangunan Casa de Luca.
Carlo pun tak tinggal diam. Dia bergegas menyusul Miabella yang tampaknya akan kembali merajuk. Mengurusi gadis muda dengan emosi yang masih labil, ternyata begitu memusingkan. Ini sama halnya dengan melakukan pengintaian bersama Romeo beberapa saat yang lalu. Carlo terus mengikuti langkah sang nona muda menyusuri koridor dengan lampu tempel berwarna kuning temaram.
"Apa kau marah lagi, Nona?" tanya Carlo pada akhirnya.
"Aku memang pemarah. Kau sudah mengetahui hal itu," sahut Miabella tanpa menoleh.
__ADS_1
Mendengar jawaban ketus dari Miabella, Carlo pun mempercepat langkah hingga dia dapat kembali meraih pergelangan tangan gadis itu. Dia menarik Miabella dengan tidak terlalu kencang, kemudian menyandarkan tubuh semampai si pemilik mata abu-abu tersebut pada dinding koridor. "Jangan marah," pintanya pelan dengan napas yang menghangat di wajah Miabella.
"Kalau begitu, rayu aku agar tidak marah lagi," ucap Miabella dengan tatapan nakal.
"Aku tidak pandai melakukannya. Aku bukan pria yang romantis," balas Carlo dengan tenang.
"Kau pencium yang hebat jika dibandingkan dengan Lucas. Dia sama sekali tak ada apa-apanya," ujar Miabella seraya tertawa manja.
"Astaga, kau nakal juga rupanya. Aku tidak tahu kapan Lucas melakukan itu. Seingatku, selama di Inggris aku selalu menemanimu ke manapun," pikir Carlo mengingat-ingat jika saja ada hal yang terlewat oleh dirinya.
"Kami melakukannya di belakangmu," ucap Miabella kembali tertawa dengan suaranya yang terdengar agak parau. "Sama seperti saat ini. Kau menciumku dengan diam-diam di belakang daddy zio ...." Miabella memainkan telunjuknya di dekat luka lebam Carlo. Setelah itu, telunjuk lentik tadi menyentuh permukaan bibir Carlo sembari mengusapnya perlahan.
Sedangkan Carlo hanya tersenyum. Sebagai seorang pria normal, tentu saja dia sangat menyukai perlakuan seperti tadi. Apalagi yang melakukannya adalah gadis secantik Miabella. Carlo tersenyum kalem. Dia semakin merapatkan tubuh tegapnya, ketika Miabella menarik bagian depan jaket yang dia kenakan. Tak ada hal lain yang ingin mereka lakukan saat itu, selain mengulang kembali adegan tadi sore saat di perkebunan. Kali ini, ciuman mereka bahkan jauh lebih panas dari sebelumnya.
Carlo bertindak semakin berani. Dia melu•mat bibir gadis itu dengan tangan yang bergerak nakal, menelusup masuk ke dalam singlet putih Miabella. Gadis cantik tadi menggelinjangkan tubuhnya perlahan. Dia juga melepaskan ciuman panas mereka untuk beberapa saat. Keduanya saat itu saling bertatapan dengan dalam.
"Apa kau menyukaiku, Carlo?" tanya Miabella begitu lirih.
"Sangat," jawab Carlo. Dia mengeluarkan tangan dari dalam singlet Miabella, kemudian berpindah pada pipi lalu membelainya lembut.
"Sejak kapan?" tanya Miabella lagi.
"Haruskah kujawab?" Carlo balik bertanya. Sorot matanya begitu menggoda dan membuat Miabella terlena di dalamnya. Pria itu kemudian tersenyum kalem. Tanpa menjawab pertanyaan dari Miabella, sang pengawal tampan tersebut kembali melu•mat bibir si gadis.
Suasana sepi dengan pencahayaan yang temaram, membuat mereka seakan lupa akan segalanya. Entah berapa lama dua sejoli itu saling bermesraan, memadu kasih dengan leluasa. Carlo pun sudah tak merasa sungkan lagi untuk menjamah setiap lekuk indah tubuh Miabella yang hanya membiarkannya. Gadis cantik tersebut tampak menikmati. Miabella pun melakukan hal yang sama. Dia bahkan melepaskan jaket bikers jeans yang Carlo kenakan.
Namun, satu hal yang tak mereka sadari bahwa ada seseorang tengah berjalan ke arah keduanya. "Siapa di sana?"
__ADS_1