Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
The Death of The Greatest Love


__ADS_3

Perjalanan singkat telah dilewati, hingga mereka tiba di tempat tujuan. Juan Pablo menghentikan laju mobilnya beberapa meter di depan gerbang pertama Casa de Luca. Akan tetapi, Miabella tak segera turun meskipun Juan Pablo telah mengakhiri ceritanya. Pria itu juga seperti tak berniat keluar dari mobil untuk membukakan pintu bagi Miabella.


"Kau turunlah sendiri. Terakhir kali aku datang kemari, mereka tak mengizinkanku masuk jika bukan karena bantuan Damiano," ucap Juan Pablo mengingat saat terakhir kali dia menginjakkan kaki di tanah Casa de Luca.


"Kenapa mereka tidak menyukaimu, Paman?Walaupun kau terlihat tidak ramah dan bersahabat, tapi aku rasa dirimu bukan orang yang jahat," ujar Miabella seraya memainkan kedua bola mata dengan tak beraturan.


"Begitukah?" Juan Pablo menoleh kepada Miabella, kemudian menggumam pelan. "Keluarlah. Tolong sampaikan salamku kepada Damiano."


"Baiklah," balas Miabella seraya melepas sabuk pengamannya. "Terima kasih atas tumpangannya. Akan kusampaikan salam darimu kepada kakekku." Miabella kemudian membuka pintu mobil sedan klasik itu. Sebelum masuk, dia sempat melongo dari luar jendela kaca. "Apa kau akan tinggal lama di Italia?" tanyanya.


"Aku rasa tidak," jawab Juan Pablo. "Aku harus segera kembali ke Amerika. Memangnya kenapa?" tanya pria asal Meksiko itu.


Miabella terdiam sejenak. Sedangkan tatapannya masih dia layangkan kepada pria di balik kemudi itu. "Bolehkah kuminta nomor ponselmu, Paman?" tanyanya.


Juan Pablo tak segera menjawab. Dia menatap gadis cantik yang merupakan perpaduan antara Mia dan sang adik Matteo. Tanpa berkata apa-apa, pria itu mengulurkan tangan dengan maksud meminta ponsel milik Miabella. Dengan segera, putri sambung Adriano itu pun segera merogoh ponselnya dari dalam saku celana cargo panjang yang dia kenakan.


Miabella menyodorkan alat komunikasi canggih tadi kepada sang paman. Dia menunggu hingga Juan Pablo selesai memasukkan deretan angka yang merupakan nomor ponsel miliknya. Setelah itu, Juan Pablo mengembalikan ponsel tadi kepada sang keponakan.


"Bolehkah jika kapan-kapan aku menghubungimu, Paman?" tanya Miabella sebelum menegakkan tubuhnya.


"Tentu saja," jawab Juan Pablo seraya tersenyum simpul. Dia kembali melajukan kendaraan meninggalkan area Casa de Luca, sebelum Miabella meminta seorang penjaga agar membukakan pintu gerbang itu untuk dirinya.


Gadis itu harus berjalan dengan jarak sekitar dua ratus meter agar bisa tiba di gerbang kedua. Setelah itu, barulah dirinya bisa masuk ke halaman depan Casa de Luca. Di sana, dia melihat Dante yang sudah berdiri dengan raut aneh dan sulit untuk diartikan. Namun, Miabella masih terlihat biasa saja. Dia berjalan menghampiri pria yang bertugas untuk menjadi pengawal pribadinya selama di Italia.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya dengan sikap tak acuh.


"Aku mengelilingi seluruh area perkebunan untuk mencarimu, Nona. Kenapa kau malah muncul dari gerbang depan?" tanya Dante yang tampak sangat kecewa. Andai saja gadis di hadapannya tersebut bukanlah putri dari sang majikan, entah apa yang akan dia lakukan saat itu. Rasanya Dante ingin marah besar, tapi tak mungkin dia lampiaskan dengan leluasa.


"Aku hanya berkeliling," sahut Miabella enteng. "Sudahlah. Lagi pula, aku telah kembali dengan selamat." Miabella tersenyum dibuat-buat. Tanpa ada rasa bersalah sama sekali, gadis itu memasuki bangunan megah tempat dia menghabiskan sebagian masa kecilnya. Sementara Dante hanya berdiri mematung sambil mengempaskan napas panjang.


Setibanya di dalam, Miabella segera menuju kamar Damiano. Dia ingin segera bercerita dan juga bertanya banyak hal tentang Juan Pablo Herrera yang baru saja ditemuinya. Saat itu, Damiano terlihat sedang duduk di atas kursi dekat jendela kamar.


"Kakek," sapa Miabella setelah mengetuk dan membuka pintu. Gadis itu segera menghambur ke hadapan pria tua yang sudah terlihat semakin lemah karena faktor usia.

__ADS_1


"Bella," balas Damiano lembut. Dia tersenyum sambil membelai pucuk kepala cucu kesayangannya, yang kini duduk bersimpuh sambil merebahkan kepala di atas pangkuan pria tua tadi. "Kau dari mana saja? Seharian ini aku belum melihatmu," ucap Damiano pelan.


"Tadi aku ke makam ayah," jawab Miabella.


"Oh ya? Kau berdoa untuknya?"' tanya Damiano.


"Tidak," jawab Miabella begitu saja, "um ... maksudku ... aku tidak sempat berdoa," lanjut gadis itu membuat Damiano mengernyitkan kening karena merasa heran.


"Maksudmu?" tanya pria tua itu lagi.


Miabella terdiam sejenak. Gadis itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, putri sulung dari Mia tersebut kembali mengarahkan perhatian kepada sang kakek yang masih menatap dirinya. "Apa Kakek kenal dengan seseorang yang bernama Juan Pablo Herrera?" tanya Miabella pada akhirnya.


"Juan Pablo?" ulang Damiano. "Setahuku dia telah memutuskan untuk pindah ke Amerika bersama istrinya Gianna. Jika aku tak salah ingat, terakhir dia datang kemari saat Gianna sedang mengandung lima bulan. Setelah itu, aku tak pernah mendengar kabar ataupun bertemu lagi dengannya." Damiano boleh berusia lanjut dan terlihat sangat renta. Akan tetapi, dia masih memiliki ingatan yang baik. "Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Juan Pablo?" tanyanya kemudian.


"Aku baru bertemu dengannya di makam ayah," sahut Miabella. "Apakah benar bahwa dia merupakan kakak dari ayahku? Jika memang begitu, kenapa ibu ataupun daddy zio tak pernah memberitahukan tentangnya sama sekali. Kakek pun tidak bercerita apa-apa padaku."


"Juan Pablo ada di Italia? Apakah dia datang kemari bersama keluarganya?" tanya Damiano. Dia tak menanggapi pertanyaan dari Miabella. Damiano pastinya merasa bingung dan tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa untuk mengobati rasa penasaran Miabella.


"Aku rasa dia hanya datang sendiri kemari. Aku sudah meminta nomor ponselnya. Apa Kakek ingin bicara dengan dia? Tadi paman itu menitip salam untukmu. Sepertinya Kakek menjadi seseorang yang istimewa bagi dia." Tanpa menunggu jawaban dari Damiano, Miabella segera mengeluarkan ponselnya. Dia lalu mencari kontak Juan Pablo dan langsung menghubungi pria tersebut.


"Hai, paman. Apa aku mengganggumu?" tanya Miabella ragu.


"Tidak sama sekali. Aku sedang berkemas. Aku akan kembali ke Amerika langsung dari sini. Kenapa?" tanya Juan Pablo setelah memberikan sedikit penjelasan kepada sang keponakan.


"Apa kau punya waktu sebentar? Kakek Damiano ingin bicara denganmu." Miabella menoleh kepada sang kakek yang masih duduk dengan tenang.


"Tentu. Aku ingin sekali bicara dengannya," sahut Juan Pablo terdengar antusias.


Miabella pun segera memberikan ponsel miliknya kepada Damiano. Sementara dia masih duduk sambil meletakkan dagu di atas pangkuan sang kakek yang sedang menyapa Juan Pablo.


"Apa kabar, Juan? Lama sekali tak mendengar kabar tentangmu. Padahal aku ingin sekali melihat wajah cucuku." Damiano memasang wajah penuh haru. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa mendengar lagi suara dari Juan Pablo.


"Kabarku sangat baik, Damiano. Bagaimana denganmu?" Pria asal Meksiko itu balik bertanya.

__ADS_1


"Aku juga baik-baik saja. Namun, rasanya aku sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat," tutur Damiano dengan sikapnya yang terlihat amat tenang.


"Jangan paksakan dirimu, Damiano. Aku ingin sekali bertemu sebelum kembali ke Amerika, tapi aku tak yakin untuk masuk ke dalam area Casa de Luca," ujar Juan Pablo ragu.


"Datanglah kemari, nak. Aku juga ingin bertemu secara langsung. Aku takut kita tidak bisa berjumpa lagi jika kau sudah kembali ke Amerika," ucap Damiano pelan. Dia membelai pucuk kepala Miabella yang sejak tadi hanya mendengarkan dirinya berbicara dengan Juan Pablo.


Miabella terlihat asyik menyimak pembicaraan sang kakek, hingga Damiano mengakhiri panggilannya. Pria tua tersebut kemudian mengembalikan ponsel milik Miabella. "Apa paman akan datang kemari, Kakek?" tanya gadis itu.


"Aku sudah membujuknya. Dia akan datang besok sebelum berangkat ke bandara," sahut Damiano terlihat ceria. "Bella, bisakah kau membantuku ke tempat tidur?" Damiano tampak hendak berdiri. Dengan segera Miabella pun memapahnya hingga ke dekat ranjang.


"Apa Kakek ingin berbaring?" tanya Miabella.


"Iya. Aku sangat lelah dan rasanya ingin tidur saja," jawab Damiano setelah merebahkan tubuhnya.


"Baiklah. Nanti akan kubawakan makan malam untukmu kemari," ucap Miabella seusai menyelimuti sang kakek yang hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan. Sesaat kemudian, Damiano pun terlihat memejamkan matanya. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi pria tua itu untuk tertidur.


Miabella yang masih berdiri di dekat ranjang, tampak tersenyum lembut memperhatikan sang kakek. Rasa sayangnya terhadap pria yang telah merawatnya dengan baik itu tak akan pernah lekang oleh waktu. Damiano adalah seseorang yang selalu ada, bahkan di saat Mia meninggalkannya untuk pergi ke Yunani. "Selamat tidur, Kakek. Selamat beristirahat. Kau yang terbaik, sama seperti Daddy zio-ku. Aku sangat menyayangimu." Sebuah kecupan lembut pun mendarat di kening Damiano yang telah terlelap. Setelah itu, Miabella memutuskan untuk keluar dari sana.


Gadis itu berjalan menyusuri lorong, hingga dia tiba di depan kamarnya. Miabella ingin segera membersihkan tubuh setelah seharian membakar diri di bawah sinar matahari. Berendam dalam bathub adalah sebuah solusi yang paling tepat.


Sementara waktu terus merangkak menuju malam. Francesca tampak sibuk menata meja makan. Sedangkan yang lainnya sudah duduk manis di kursi masing-masing. Ada yang berbeda kali ini, yaitu dengan kehadiran Romeo dan juga Tobia.


"Kau terlihat sangat segar, Bella," sapa Francesca yang telah selesai dengan pekerjaannya.


"Aku sudah mandi, Bibi," sahut Miabella. Dia lalu melihat kursi tempat Damiano yang masih kosong. "Kakek belum kemari? Tadi aku mengatakan padanya akan membawakan makan malam untuknya ke kamar," ucap Miabella seraya beranjak dari duduk dan mengambil piring. Setelah mengisi piring tadi dengan makanan, gadis itu pun bermaksud untuk menuju kamar Damiano.


"Kenapa tidak ajak saja Damiano untuk makan bersama di sini," ujar Coco.


"Baiklah. Aku akan menjemputnya dulu." Miabella meletakkan kembali piring tadi di atas meja. Dia pun berlalu menuju kamar Damiano.


Setibanya di sana, suasana begitu gelap karena lampu kamar belum dinyalakan. Miabella pun merasa heran. "Kakek, apa kau sudah bangun?" tanyanya setelah menekan tombol saklar. Tampaklah Damiano yang masih tertidur pulas. "Astaga, kau masih terlelap rupanya." Sebuah senyuman lembut tersungging di bibir gadis cantik tersebut.


Miabella kemudian mendekat. Dia lalu duduk di tepian ranjang dan meraih tangan sang kakek. "Kakek, bangunlah. Sudah waktunya untuk makan malam. Tadinya aku akan membawakan makananmu kemari, tapi paman Ricci ingin agar kau makan bersama kami," ucap gadis itu. Tanpa sadar, dia mengusap-usap punggung tangan Damiano. Namun, tak ada respon sama sekali dari pria tua yang sedang tertidur itu.

__ADS_1


"Kakek ...." Miabella tak mampu melanjutkan kata-katanya saat melihat wajah pucat Damiano.


__ADS_2