Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Messaggero


__ADS_3

“Bisakah kau mengantarkan Paman?” pria misterius itu tersenyum, lalu menyeringai kecil. Sedangkan Miabella segera menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, seraya berusaha menarik tangan mungilnya dari cengkeraman pria tak dikenal tadi.


“Apa yang kau lakukan!” suara berat dan dalam Adriano tiba-tiba terdengar dari arah belakang balita cantik itu.


“Daddy Zio!” seru Miabella, bersamaan dengan pria tersebut yang segera melepaskan tangannya dari Miabella.


Dengan segera, Adriano menarik dan merengkuh Miabella. Dia membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya. Sorot mata biru Adriano pun terlihat penuh amarah saat itu. Dia lalu menempelkan kepala Miabella ke dada, kemudian menutupi telinga gadis kecil itu dan berkata, “Kau tidak boleh sembarangan menyentuh anak seseorang! Jika ini bukanlah pesta pernikahan sahabatku, pasti sudah kulubangi kepalamu saat ini juga!"


“Tenanglah, Tuan. Wajah tampan Anda terlihat sangat menakutkan,” pria misterius itu malah tergelak. “Aku hanya mencari penyelenggara pesta ini saja,” kilahnya.


“Siapa kau?” tanya Adriano dingin dan datar.


“Aku hanya utusan dari seorang tamu undangan. Kebetulan majikanku tidak bisa hadir,” jawabnya masih terlihat tenang dan seakan tidak takut sama sekali.


Sementara Adriano terdiam sambil tetap menatap tajam pria itu untuk beberapa saat. “Mari kuantar kepada Arsen,” ajaknya kemudian, sambil melangkah ke meja tempat Arsen berbincang seru bersama Damiano, Mia dan juga Olivia. Sementara Miabella tetap berada dalam gendongannya.


“Arsen!” panggil Adriano dengan tidak terlalu nyaring. “Orang ini mencarimu,” tangannya terarah pada pria misterius tadi.


Arsen segera menoleh, kemudian mengernyitkan kening. “Siapa? Kurasa kita tidak pernah bertemu sebelumnya,” ucapya seraya berdiri dan memperhatikan pria tersebut.


“Aku adalah utusan dari tuan Nenad Ljudevit. Beliau meminta maaf karena tidak bisa hadir di pesta ini, sekaligus mengucapkan selamat atas pernikahan Anda. Oh, ya, namaku Dejan Rostislav,” pria tinggi besar itu kembali memamerkan senyumnya pada semua orang. Baik Olivia maupun Mia dan juga Damiano, mengangguk ramah kepadanya.


Namun, tidak dengan Adriano. Dia terbelalak tak percaya, ketika menyadari bahwa pria di sampingnya merupakan anak buah Nenad Ljudevit, orang yang selama ini dia cari.


Pandangan mata Adriano kemudian beralih kepada Don Vargas dan Juan Pablo yang duduk di meja berbeda. Jarak mereka cukup jauh dari meja tempat dia berada. Don Vargas masih menikmati jalannya pesta. Pria paruh baya tersebut tampak tengah menikmati hidangan dan tak memedulikan kehadiran Dejan di sana.


"Aku sama sekali tak mengira bahwa dia akan merespon undangan dariku,” Arsen terlihat antusias sambil sesekali menepuk lengan Dejan, sang utusan dari Nenad.

__ADS_1


“Tuan Ljudevit tak akan pernah melupakan orang yang pernah berjasa dalam hidupnya,” sahut pria itu masih dengan gestur yang sama seperti tadi.


“Kau mengenalnya, Arsen? Apa kau mengenal Nenad?” sela Adriano dengan raut tak percaya. Pancaran rasa ingin tahunya semakin besar tatkala Arsen mengangguk ceria. “Kalau begitu, kita harus bicara,” ajaknya sembari memindahkan Miabella dari gendongannya ke pangkuan Mia. Setelah itu, dia menarik lengan Arsen untuk menjauh dari sana.


“Ada apa ini, Adriano?” tanya Mia tak mengerti.


“Ya, ada apa ini?” sahut Arsen dengan sorot keheranan.


“Aku meminjam suamimu sebentar, Olivia. Sementara itu, jamulah Tuan Dejan dengan baik,” Adriano menutupi gejolak di hatinya dengan senyuman ramah dan hangat.


“Silakan duduk, Signor,” terdengar suara Damiano mempersilakan Dejan, saat dirinya dan Arsen sudah berada cukup jauh dari tempat jamuan.


“Ada apa ini, Adriano? Kenapa kau bersikap aneh?” tanya Arsen sambil berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan kekar Adriano.


“Jadi, kau mengenal Nenad? Nenad Ljudevit?” suara Adriano begitu dalam. Dia juga mendekatkan bibirnya pada telinga Arsen.


“Ya, dia adalah teman lama. Kami bertemu saat di Colombia. Aku menyelamatkannya dari kejaran kartel narkoba saat itu,” papar Arsen. “Memangnya kenapa?”


“Ya, aku sudah mendengar selentingan itu. Akan tetapi, Don Vargas tidak pernah mengutarakannya langsung padaku,” jawab Arsen santai.


“Lalu kau dengan beraninya mengundang Nenad kemari? Seandainya dia tidak berhalangan untuk hadir di pestamu, dia pasti akan bertemu dengan Don Vargas. Apa kau tidak membayangkan betapa kacaunya nanti jika dua mafia itu saling bersitegang di tempat ini?” Adriano berdecak tak mengerti dengan jalan pikiran Arsen.


“Oh, tentu saja aku tidak bisa membayangkannya, Teman. Namun, aku masih bisa bersikap tenang, karena Don Vargas tak pernah mengetahui seperti apa wajah Nenad. Pria itu selalu menyembunyikan identitasnya,” ujar Arsen seraya terkekeh pelan.


“Kau selalu saja tak pernah berpikir panjang,” tegur Adriano. “Sekarang hubungkan aku dengan Nenad. Ada satu urusan yang harus kuselesaikan dengannya,” pintanya dengan intonasi datar.


“Urusan apa? Aku sangat ingin tahu,” bola mata gelap milik Arsen tampak berkilat karena terlampau antusias.

__ADS_1


“Ini tentang mendiang Matteo,” jawab Adriano dengan kepala menunduk.


“Matteo de Luca? Bagaimana bisa? Apa hubungan Matteo dengan Nenad?” Arsen terpaksa harus menutup mulut saat seorang tamu melintas di depannya. Dia mengangguk ramah kepada orang tersebut, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Adriano.


“Sergei telah menjual senjata rakitan Matteo kepada Nenad. Setelah itu, Nenad menjualnya ke pasar Amerika, di mana pasar itu bukan merupakan wilayah kekuasaan dia. Sepertinya hal itu memicu amarah beberapa kelompok yang akhirnya memutuskan untuk menghabisi Matteo,” terang Adriano dengan nada penuh sesal.


“Kenapa mereka membidik Matteo dan bukan Nenad?” bisik Arsen sambil menggeleng pelan.


“Karena Nenad dengan liciknya memakai nama Matteo untuk mengedarkan senjata-senjata rakitan itu,” jawab Adriano. Dia lalu terdiam dan menoleh kepada Mia. Ditatapnya sang istri tercinta yang tengah bersenda gurau bersama Olivia sambil sesekali mengelus kepala Miabella.


Adriano lalu mengembuskan napas perlahan, lalu kembali menoleh kepada Arsen. “Aku … aku harus mencari tahu pembunuh Matteo, demi membayar segala kepedihan yang pernah Mia rasakan,” gumamnya.


“Hm,” Arsen mengangguk samar, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Mungkin kau bisa memulai penyelidikanmu dari sana, dari Nenad Ljudevit. Aku selalu menyimpan nomor kontaknya. Jika kau mau, aku bisa mengatur pertemuan kalian. Apabila dia berkenan, maka dia akan menerima."


“Aku tidak ingin bertemu langsung dengan Nenad. Tidak sebelum aku tahu benar seperti apa kekuatannya,” tegas Adriano.


“Maksudmu?” Arsen mengernyitkan kening.


“Aku akan menyelidiki pria itu terlebih dahulu. Berikan saja nomor kontaknya. Setelah itu, aku akan memutuskan langkah selanjutnya,” ujar Adriano.


“Baiklah, aku akan memberikannya padamu nanti. Sekarang, ayo kita kembali ke pesta. Jangan sampai membuat istri-istri kita khawatir,” Arsen tersenyum lebar saat menyebut kata ‘istri’. Kata yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.


Adriano mengiyakan dan mulai berjalan mengikuti Arsen yang melangkah lebih dulu. Akan tetapi, dia segera berhenti ketika tiba-tiba terlintas sesuatu di dalam kepalanya. “Arsen, tunggu!” Adriano mencekal lengan Arsen sehingga pria Yunani itu tertarik mundur.


“Kenapa lagi?” pria itu berdecak kesal.


“Bukankah Don Vargas juga salah satu penguasa wilayah Amerika dalam perdagangan senjata?” tanya Adriano lagi.

__ADS_1


“Itu tidak diragukan lagi,” ujar Arsen sambil berkacak pinggang. Dia membalas tatapan Adriano, lalu menyadari sesuatu beberapa menit kemudian. Mulutnya terbuka membentuk huruf O. “Apakah menurutmu ….” Arsen mengangkat satu jari telunjuknya.


“Kita bisa menginterogasi utusan Nenad,” Adriano menyeringai puas.


__ADS_2