Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Fare L'amore


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Mia membuka matanya. Dia sudah semakin merasa tenang. "Aku baik-baik saja, Adriano," suara lembut wanita itu, telah membuat pria bermata biru yang tadi mencoba untuk menenangkan dirinya ikut membuka mata. "Aku tidak apa-apa," ucap Mia lagi pelan.


Perlahan Adriano sedikit menjauhkan wajah dari Mia. Dia menatap wanita cantik yang teramat dicintainya itu dengan penuh perasaan. Sesuatu yang sangat berbeda dengan sikap yang dia tunjukkan terhadap Emiliano. "Kau yakin, Mia?" tanyanya.


Mia mengangguk pelan. Senyuman lembut terlukis di wajahnya. Dia lalu menyentuh wajah sang suami. "Kau akan membawaku ke mana?" kini Mia yang balik bertanya. Namun, Adriano tak segera menjawab. Pria bermata biru itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat di mana mereka kini berada. Saat itu, keduanya telah tiba di sebuah bukit kecil, dengan pemandangan danau dan kota Brescia yang terlihat jelas dari ketinggian. Mia yang mengikuti arah pandang sang suami, kembali tersenyum bahkan kini jauh lebih lebar. "Aku belum pernah kemari sebelumnya," ucap wanita berambut cokelat itu seraya bedecak kagum.


"Kalau begitu, ayo," ajak Adriano sambil mengulurkan tangan.


"Ke mana?" tanya Mia.


"Kita pacaran," sahut pria bermata biru itu, membuat Mia mengernyitkan keningnya dengan diiringi tawa renyah. "Kita bertemu dan langsung menikah. Aku juga ingin merasakan seperti yang orang lain lakukan," ujar Adriano lagi. Dia membantu Mia turun lalu menuntunnya keluar mobil. Tak jauh dari sana, ada sebuah pohon yang terlihat sangat rindang. Adriano mengajak Mia untuk duduk di bawah pohon tersebut.


"Kau yakin, Adriano?" tanya Mia ketika pria bertubuh tegap itu duduk di bawah pohon tadi.


"Anginnya benar-benar sejuk. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi tempat ini," ujar Adriano dengan tatapan sedikit menerawang. Sementara Mia yang saat itu masih berdiri, segera memilih untuk duduk di depan Adriano. Dia menyandarkan tubuh di dada sang suami yang segera mendekapnya dari belakang.


Untuk sejenak, Mia memejamkan mata sambil merasakan angin yang berembus dan menerpa wajah cantiknya. Sementara Adriano memandang lurus ke depan. Sesekali, dirinya mengecup dan mengirup aroma dari rambut sang istri. "Rambutmu wangi sekali," bisiknya.


Terdengar suara tawa pelan dari Mia. Dia menoleh dan menatap wajah Adriano yang berada di pundak sebelah kanannya. “Itu hanya wangi shampoo, Adriano,” sahut Mia.


“Apapun yang kau pakai, meskipun biasa saja tapi akan menjadi luar biasa bagiku,” balas Adriano mulai merayu sang istri. Dia lalu menunduk dan mengecup bibir Mia. Mereka pun berciuman untuk beberapa saat lamanya.


“Apa sikapmu selalu semanis ini pada semua wanita, Adriano?” tanya Mia segera setelah pria itu melepaskan bibirnya.


Akan tetapi, bukannya menjawab pertanyaan Mia, Adriano justru malah terbahak. “Kau boleh tak percaya, Sayang. Aku jarang sekali berbasa-basi dan selalu menjaga jarak dengan siapa pun, bahkan terhadap Bianca yang merupakan kolegaku selama bertahun-tahun,” jawabnya.


“Carina?” tanya Mia lagi seraya memainkan kedua bola matanya dengan manja.


Lagi-lagi Adriano tertawa, kemudian menatap lekat kepada Mia. “Kami akrab semasa masih SMA. Akan tetapi, aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Setelah itu, kami berpisah dan tak bertemu lagi. Tak ada yang istimewa dari Carina, apalagi melihat sikapnya padamu sekarang,” tegasnya. “Kaulah yang paling istimewa, Mia. Gadis kecil yang menyelamatkanku dari kelaparan, hanya dirimu. Tak ada yang lain,” Adriano meraih dagu Mia dan mengangkat wajahnya. Kembali sang ketua Tigre Nero tersebut menikmati bibir ranum Mia dengan begitu lembut dan penuh perasaan.


“Ti amo, Mia,” desah Adriano pelan. Hembusan napasnya yang hangat menyapu wajah sang istri, sehingga membuat wanita itu terpejam.

__ADS_1


“Anch'io ti amo, Adriano,” Mia tersenyum saat mengucapkannya. Tak disangka, ternyata dirinya bisa jatuh cinta terhadap pria lain selain Matteo. Angannya melayang begitu saja pada belasan tahun lalu saat dirinya pertama kali bertemu dengan Adriano. Benaknya kembali pada sosok remaja kecil yang penuh luka lebam dan lecet di sekujur tubuh.


“Aku masih mengingatnya. Saat pertama kali kita bertemu. Adriano yang malang,” Mia membelai pipi suaminya dan hendak mengecup bibir tipis itu, ketika terdengar nyaring dering ponsel miliknya. “Mungkin Miabella,” bisik Mia lirih seraya berdiri dan berjalan menuju mobil.


Dia lalu meraih ponsel yang berada di dalam tas yang diletakkannya begitu saja pada kursi penumpang.


“Siapa, Sayang?” Adriano ikut berdiri dan menghampiri. Dikecupnya pundak halus sang istri dari belakang.


“Paman Damiano,” Mia tersenyum lalu menjawab panggilan yang ternyata merupakan panggilan video. “Ada apa, Paman,” sapanya. Wajah Damiano dan juga Miabella tampak memenuhi layar, membuat Adriano tertawa melihatnya. Wajah lucu gadis kecil itu berada terlalu dekat pada kamera sehingga terlihat aneh, membuat Adriano kembali tertawa geli. Sebuah hiburan yang sangat luar biasa di kala dirinya tengah merasa galau.


“Daddy Zio! Ada yang mencarimu lagi!” seru balita cantik itu. Kini yang tampak pada layar hanyalah bibir mungilnya.


“Siapa lagi, Sayang?” Mia mengerutkan keningnya keheranan.


“Laki-laki, Bu. Baru saja kakek selesai mengobrol dengannya,” jawab Miabella dengan riang.


“Siapa lagi kalau bukan Juan Pablo,” sela Adriano. “Pria itu sepertinya mulai senang untuk mampir ke Casa de Luca,” ujar Adriano lagi. Dia segera mengajak Mia masuk ke dalam kendaraan sambil tertawa renyah, kemudian berjalan memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.


“Menurutmu, apakah Juan Pablo kembali untuk menanyakan tentang Sergei?” tanya Mia was-was setelah terdiam beberapa saat. “Adriano, aku tidak mau dan tidak bisa jauh darimu,” resahnya kemudian seraya memegangi lengan berbalut kemeja hitam yang mulai memegang kemudi.


“Tenang saja, Sayang. Jangan mengkhawatirkan apapun. Semua akan baik-baik saja,” ucap Adriano menenangkan sembari menepuk lembut punggung tangan Mia.


“Apa menurutmu Juan Pablo sudah mengetahui bahwa … bahwa ….” Mia tak dapat melanjutkan kata-katanya.


“Aku rasa tak ada alasan bagi dirinya untuk menjatuhkan tuduhan padaku. Namun, jika sampai hal itu terjadi, maka akan kucari cara untuk mengelak. Aku juga tak sudi jika harus dihukum hanya karena telah membunuh seorang pengkhianat,” ucap Adriano datar, lalu tersenyum.


Sisa perjalanan mereka lalui dengan hening sampai akhirnya jeep peninggalan Matteo berhenti tepat di belakang mobil mewah yang terparkir di halaman Casa de Luca. Dari dalam rumah, sosok Miabella menghambur keluar, menghampiri Adriano yang tengah membukakan pintu mobil untuk Mia. “Daddy Zio!” serunya. Adriano berbalik dan langsung menyambut tubuh mungil itu, lalu menggendongnya. Bersama Mia, dia bergegas menuju ruang tamu.


Di sana, Juan Pablo tengah duduk dengan gagahnya sambil berbincang dengan Damiano. Pria tampan berwajah dingin itu segera berdiri ketika Adriano tiba.


“Apa kabar, Tuan D’Angelo?” sapanya seraya mengulurkan tangan.

__ADS_1


“Seperti yang Anda lihat, Tuan Herrera,” Adriano memaksakan senyumnya tatkala dia mendapati Juan Pablo yang mengalihkan pandangan ke arah Mia. Sementara wanita berambut cokelat itu hanya mengangguk pelan, lalu melingkarkan tangannya erat di lengan sang suami.


“Apakah kedatangan Anda masih dalam rangka mencari keberadaan Sergei Redomir?” tanya Adriano seraya mempersilakan Juan Pablo untuk duduk kembali dengan menggunakan isyarat tangan.


“Oh, bukan. Don Vargas sendiri sudah memerintahkan beberapa anak buah untuk mencari Sergei Redomir. Aku yakin tak lama lagi pria itu akan segera diketemukan,” jawab Juan Pablo yang kembali mencuri pandang kepada Mia.


Menyadari hal itu, tentu saja Adriano tak menyukainya. Dia menoleh kepada Mia yang duduk di sebelah bersama Miabella. "Sayang, bagaimana acara memancingmu?" tanya Adriano kepada Miabella. "Apa kau mendapat ikan?"


Miabella menoleh seraya mengangguk dengan segera. "Banyak sekali. Aku mendapat tiga," jawab gadis kecil itu sambil menunjukkan jari kelingking dan jari manis kepada Adriano. Sikap lucu Miabella telah membuat Juan Pablo segera menunduk. Pria itu juga tampak mengulum senyumnya.


Sementara Mia dan Adriano pun terlihat menahan tawa, hanya Damiano lah yang tampak begitu lepas saat itu.


"Oh, luar biasa. Kenapa kau tidak menunjukkan ikan-ikan hasil tangkapan itu kepada ibumu. Dia pasti ingin sekali melihatnya. Bukankah begitu, Mia?" nada bicara Adriano terdengar berbeda saat ucapannya ditujukan kepada sang istri.


Mia dapat memahami arti dari nada bicara tersebut. Tanpa memberikan bantahan, dia segera berdiri kemudian mengajak Miabella untuk berlalu dari sana. "Baiklah. Silakan lanjutkan, Tuan-tuan. Aku permisi dulu," pamitnya dengan diiringi tatapan dari Adriano dan juga Juan Pablo. Sepasang mata cokelat madunya terus memperhatikan langkah Mia hingga wanita itu menghilang di balik dinding kokoh Casa de Luca.


Adriano yang melihat hal itu, segera mendehem pelan, membuat Juan Pablo tersadar. Pria latin tersebut kembali mengarahkan perhatiannya kepada sang ketua Tigre Nero yang duduk di kursi tak jauh darinya. Namun, sebelum kedua pria rupawan tadi melanjutkan perbincangan mereka, Damiano juga tampak berdiri. Sepertinya, pria tua itu hendak pergi dari sana. "Silakan kalian lanjutkan. Aku ingin beristirahat dulu," ucapnya. Sesaat kemudian, tatapan Damiano tertuju kepada Juan Pablo. "Sekali lagi kuucapkan selamat datang di Casa de Luca, Nak," nada bicara Damiano terdengar lain saat itu, membuat Adriano memicingkan matanya.


Juan Pablo tersenyum simpul seraya mengangguk. Entah ada apa dengan pria asal Meksiko tersebut. Dia seakan kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menyunggingkan sebuah senyuman. "Terima kasih, Tuan Baresi," balasnya.


"Damiano, Nak. Panggil saja aku begitu, sama seperti panggilan dari Adriano dan juga ... putraku Matteo," desir kepedihan tampak jelas di wajah Damiano. Namun, dengan segera pria itu tersenyum. Sesaat kemudian, dia pun berlalu dari sana meninggalkan Adriano dan juga Juan Pablo berdua di ruang tamu.


"Pria yang sangat baik," gumam Juan Pablo sepeninggal Damiano.


"Ya. Matteo beruntung karena hidup dalam didikan Damiano. Jadi apa maksud kedatangan Anda sebenarnya?"


🍒🍒🍒


Hai, hai ... yuk mari mampir lagi ke novel keren ini.


__ADS_1


__ADS_2