
“Apa kabar, Tuan D’Angelo?” sapa Don Vargas dari seberang sana. Suara pria itu terdengar sangat ramah.
“Tidak begitu baik, Don,” jawab Adriano lesu.
“Dengar, aku menelepon anda karena satu alasan,” lanjutnya dengan nada datar dan terdengar sangat serius.
“Ada apa? Apakah ada hubungannya dengan kerja sama kita?” Don Vargas balik bertanya.
“Ini tentang Nenad Ljudevit,” tegas Adriano, penuh penekanan.
“Nenad Ljudevit?” ulang Don Vargas setelah sempat terdiam beberapa saat lamanya.
“Anda tak perlu repot-repot mengungkap identitas asli pria itu, karena aku sudah bertemu dengannya secara langsung,” tutur Adriano dengan nada bicara yang terdengar cukup puas.
Tak terkira betapa terkejutnya Don Vargas saat mendengar hal itu. “Di-di mana anda bertemu dengan Nenad Ljudevit?” tanyanya gugup.
“Di Serbia. Aku datang langsung ke markasnya. Sayang sekali, dia berhasil melarikan diri,” jawab Adriano. Matanya terpejam saat mengingat semua hal yang terjadi kemarin.
“Kalau begitu, aku juga akan menyelidiki ke markasnya,” tegas Don Vargas.
“Anda sudah terlambat, Don. Polisi dan pihak berwajib telah lebih dulu mencium kerusakan yang berhasil aku ciptakan kemarin. Mereka kini sudah berada di lokasi kejadian dan menyegel tempat itu. Anda tidak akan bisa masuk ke lokasi, apalagi hanya untuk mencari petunjuk,” sahut Adriano dengan senyum sinis.
“Sial!” gerutu Don Vargas pelan, kemudian mengembuskan napas panjang sebelum kembali berbicara lagi. “Lalu, bagaimana caraku untuk mengalahkan Nenad?” nada bicaranya meninggi karena telah lebih dulu merasa emosi.
__ADS_1
“Anda tidak perlu melakukan apapun, karena dia sudah kalah,” Adriano terkekeh pelan.
“Maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti,” ucap Don Vargas.
“Saat aku menerobos markasnya, di sana aku menemukan banyak hal. Di samping berbisnis senjata, ternyata Nenad juga memproduksi yang lain. Sepertinya dia sedang melakukan penelitian untuk mengembangkan morfin jenis baru. Akan tetapi, produksi morfinnya terancam gagal karena percobaan yang dia lakukan dalam menciptakan obat jenis baru itu tidak berhasil. Sementara aku bisa menjamin, pabrik senjatanya juga pasti akan berhenti beroperasi, sebab polisi telah terlebih dulu menggerebeknya,” terang Adriano. “Satu hal yang ingin aku sampaikan kepada anda adalah, aku sudah berhasil menemukan dan melihat secara langsung sosok Nenad. Akan kukirimkan kepada anda foto terbaru pria itu. Jadi, anda akan lebih mudah untuk dapat melacaknya,” sambung Adriano lagi.
Suasana hening untuk sejenak. Don Vargas tak menanggapi penjelasan Adriano selama beberapa menit. Beberapa saat kemudian, terdengar suara tawa yang menggema. “Tak kukira, anda begitu hebat, tuan D’Angelo. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, anda sudah bisa menemukan keberadaan musuh bebuyutanku itu,” sanjungnya kemudian.
“Kuharap anda tidak lupa dengan perjanjian kita, Don. Anda sudah berjanji untuk mempertemukanku dengan Elang Rimba,” balas Adriano datar, tapi penuh penekanan.
“Oh, tentu saja, tuan D’Angelo. Aku tak akan pernah lupa dengan janji yang sudah diucapkan. Seperti itulah jiwa seorang militer. Tunggulah sampai urusanku dengan Nenad selesai,” ujar Don Vargas kemudian.
“Baik,” ujar Adriano singkat. Setelah sedikit berbasa-basi, pria rupawan itu segera mengakhiri panggilannya dan beranjak dari sana. Dia bermaksud untuk masuk kembali ke dalam gedung tempat Coco dirawat. Adriano juga hendak mencari keberadaan Mia. Akan tetapi, sesampainya di sana Adriano terpaksa menghentikan langkah, ketika dia melihat sesosok wanita yang teramat cantik. Wanita yang dia ingat sebagai Monique. Monique datang menjenguk dengan membawa sebuket bunga dan berdiri di depan ruangan kaca tempat Coco menjalani perwatan. Tampak matanya menatap nanar, menembus ke dalam jendela kaca itu. Sementara Francesca dan Mia memandang penuh selidik dari kursi tunggu.
“Semua sudah sesuai yang kumau, Tuan ….” Wanita itu menjeda kalimatnya karena dia baru sadar bahwa dirinya belum mengetahui nama Adriano.
“Panggil saja Adriano, dan itu istriku,” tangannya terulur, mengarah kepada Mia. “Di sampingnya adalah Francesca, adik dari istriku sekaligus kekasih Ricci, pria yang terbaring di dalam sana,” tunjuk Adriano.
Mendengar penjelasan dari Adriano, seketika wajah cantik Monique tampak terkejut. Terlebih saat dia mengunci pandangan pada sosok Francesca. Wanita itu pun lalu terdiam. Dia memaksakan untuk tersenyum sambil mengangguk, yang kemudian berbalas senyuman samar dari Francesca.
Setelah itu, Monique pun kembali memusatkan perhatiannya kepada Coco yang masih terbaring tak sadarkan diri, dengan segala macam alat medis yang menempel di tubuhnya. “Apakah kondisinya separah itu?” tanya wanita cantik dengan rok span ketat di atas lutut itu.
Adriano menggeleng lemah, lalu melirik ke arah Mia. “Entahlah. Dia masih belum juga siuman. Tadi malam, dokter sempat mengatakan kepadaku bahwa Ricci berada dalam kondisi koma,” tuturnya.
__ADS_1
Sontak Monique begitu terperanjat mendengarkan penjelasan Adriano.
“Ko-koma?” desisnya. Mata indah wanita itu terlihat berkaca-kaca. “Memang tak seharusnya kalian masuk ke dalam Menara Hitam. Apakah kalian tak pernah mendengar tentang desas-desus yang beredar tentang tempat itu?” ungkap Monique.
“Desas-desus apa?” sela Francesca begitu saja. Demikian pula dengan Mia yang ikut berjalan mendekat.
“Sebuah mitos yang entah diciptakan oleh Nenad atau bukan. Namun, hal itu sering saja terjadi,” jawab Monique ragu-ragu.
“Jelaskan padaku,” pinta Adriano.
“Sebuah mitos sengaja digaungkan kepada penduduk sekitar, jika ada dua orang asing yang berhasil masuk dan melewati pintu emas secara bersamaan atau hanya salah satunya saja, maka siapa pun itu pasti akan menemui kematian. Selama ini, memang tidak pernah ada yang berhasil melampaui pintu emas, karena sebelum mencapai ke sana, mereka sudah tewas terlebih dulu di tangan para tentara bayaran Nenad,” jelas Monique.
Tubuh Francesca seketika kembali lemas. Hampir saja dia jatuh terduduk di atas lantai, andai saja Mia tidak sigap menahannya. “Francy, tenanglah. Aku yakin jika Ricci akan baik-baik saja. Mungkin mereka berdua adalah orang pertama yang menghancurkan mitos itu,” tajam sindiran Mia, dia arahkan kepada Monique. “Duduklah,” dia lalu mengajak sang adik untuk duduk di tempatnya semula.
“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud menakut-nakuti. Aku sendiri juga tidak rela jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap pria sebaik dia. Tuan Tampan itu adalah pria pertama yang bersikap manis dan sopan padaku. Dia juga mengatakan jika dirinya sangat mencintai nona Francesca,” elak Monique dengan sikap yang sedikit salah tingkah.
“Ya, Tuhan,” desah Francesca lemas. Sejuta penyesalan dan perasaan bersalah semakin menggelayut di hatinya. Gadis itu membungkuk, menopang kepala dengan kedua tangan sembari terisak. “Bagaimana ini, Mia? Bagaimana jika dia tidak akan pernah membuka mata lagi?” isaknya dengan penuh keresahan.
“Jangan bicara macam-macam atau aku akan marah, Francy!” Mia berdiri tiba-tiba dan melotot pada adik tirinya itu. “Sungguh aku ingin merasakan kehidupan yang damai, sekali saja. Tanpa perkelahian, tanpa pertumpahan darah, tanpa permusuhan dan kebencian! Aku sudah lelah! Jika Adriano tak dapat mengabulkan keinginan sederhana itu, lalu kepada siapa lagi aku akan meminta?” Mia menatap Adriano dengan tajam, sebelum kembali duduk di samping Francesca.
“Mia,” Adriano mendekat dan berlutut di hadapan wanita yang paling dia cintai dalam hidupnya. Sepasang mata biru yang menawan itu lembut menatap wajah cantik sang istri. “Maafkan aku, Sayang. Kau benar. Kau berhak mendapatkan kedamaian. Aku berjanji padamu, Mia. Ini adalah terakhir kalinya aku berbohong. Mulai saat ini, akan kuturuti apapun keinginanmu,” dia meraih jemari sang istri lalu mengecupnya berkali-kali. “Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya,” pinta Adriano dengan sungguh-sungguh.
“Kalian para pria memang pandai bicara,” Mia memalingkan wajahnya. Sedangkan Adriano hanya tersenyum kecil.
__ADS_1