Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Two Psychopaths


__ADS_3

Satu per satu tamu undangan sudah berada di mansion tempat diadakannya pesta berlangsung. Sebuah bangunan megah yang selama ini menjadi tempat tinggal antara mendiang Don Vargas dan Juan Pablo Herrera.


Mereka yang diundang ke pesta itu umumnya berasal dari kalangan atas, pebisnis, dan juga merupakan para pemilik kasino yang pernah bekerja sama dengan Don Vargas. Tak pernah mereka ketahui tentang sosok asli Elang Rimba, yang selama ini dianggap sebagai pelindung bisnis mereka. Semaunya hanya tahu bahwa Juan Pablo adalah ajudan setia Don Vargas. Padahal justru dialah pemilik dari segala aset yang selama ini diatasnamakan pria paruh baya itu, demi menutupi jati diri pria asal Meksiko tersebut. Karena itulah kini Juan Pablo ingin mengangkat dirinya sebagai pengganti Don Vargas, meskipun hanya sebagai formalitas saja.


Malam itu, Adriano datang bersama Mia dan juga Pierre menggunakan mobil yang sama. Sementara Gianna serta Carina memakai mobil yang lain. Tampak pula Arsen dan Olivia dalam jamuan pesta tersebut. Mereka sengaja datang dari Yunani demi menghadiri undangan itu. Namun, keduanya lebih memilih untuk menginap di hotel.


“Terima kasih atas kehadirannya di sini,” sambut Juan Pablo, masih dengan ekspresi yang seperti biasanya saat menyambut kedatangan Adriano dan yang lain. “Perkenalkan, ini ibuku Mattea Juanita Herrera,” dia lalu mengarahkan tangannya pada sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda. Penampilannya pun tampak sangat anggun serta elegant.


“Nyonya,” sapa Adriano. Dia meraih tangan Mattea kemudian menciumnya dengan sopan. Sementara Mia tersenyum seraya mengangguk dengan anggun.


“Ini adalah pasangan tuan dan nyonya D’Angelo. Kami bekerja sama dalam proyek kasino terbaru yang bertempat di Birmingham, Inggris,” Juan Pablo memperkenalkan Adriano beserta Mia kepada sang ibu.


“Oh, apa kabar Tuan dan Nyonya D’Angelo,” sapa Mattea dengan lembut.


“Sangat baik, Nyonya Herrera. Panggil saja Adriano, Nyonya. Ini istriku Mia.” Adriano melirik wanita cantik dengan gaun malam indah di sebelahnya.


“Oh, Mia. Kau sangat cantik,” sanjung Mattea dengan senyuman lembut yang menghiasi wajahnya.


“Terima kasih, Nyonya. Anda juga terlihat awet muda dan pandai menjaga penampilan,” balas Mia dengan ramah serta sopan.


Sementara Juan Pablo hanya tersenyum kecil saat menyaksikan hal itu. Namun, senyuman kecil tadi lama-kelamaan menjadi sebuah lengkungan yang jauh lebih lebar, ketika dia melihat seseorang yang datang dengan Carina. Si rambut pirang bermata biru yang tak dia duga akan ikut hadir di sana. Seketika, jantung Juan Pablo berdetak dengan jauh lebih cepat dari biasanya saat kedua wanita itu datang ke arah mereka.


“Selamat malam semua,” sapa Carina dengan anggun. Dia tersenyum pada mereka yang tengah berkumpul. “Hai, Juan. Terima kasih atas undangannya. Aku sangat terkesan karena kau memintaku datang kemari untuk menyanyi,” ujar Carina. Ada rasa bangga dalam nada bicara wanita muda itu.


“Semua orang menyukai suaramu, Carina,” sahut Juan Pablo sambil sesekali beradu pandang dengan Gianna. Hal itu tak luput dari perhatian Adriano dan juga Mattea.


“Maaf, Juan. Aku juga mengajak Gianna tanpa izin terlebih dulu padamu. Dia akan menjadi backing vokalku nanti,” jelas Carina seraya menyenggol lengan Gianna yang saat itu tengah asyik memandang Juan Pablo. Gianna pun terkejut dan menjadi gelagapan karenanya. Namun, gadis itu segera tersenyum, kemudian mengangguk.


“Tak apa,” jawab Juan Pablo singkat seraya mengatur napas. Pria rupawan bermata cokelat madu itu tampak menelan ludah dalam-dalam. Bagaimana tidak, baru kali ini dia melihat Gianna tampil sangat berbeda, dalam balutan gaun malam yang membuatnya terlihat sangat anggun dan tentu saja selalu manis. Tatapannya tak lepas mengikuti gadis itu saat Gianna mendampingi Carina menuju ke atas panggung yang telah disiapkan, dengan band pengiring yang telah menunggu aksi sang artis.


Begitu juga dengan Gianna yang merasa sedikit kikuk. Juan Pablo terlihat sangat tampan dan juga rapi dengan stelan tuksedo hitamnya, membuat Gianna tampak salah tingkah karena Juan Pablo terus menghujaninya dengan tatapan yang penuh arti.


Namun, Gianna pun berusaha untuk tetap bersikap profesional. Dia segera mengesampingkan perasaan tersebut dan menjalankan tugasnya dalam mendampingi Carina. Makin lama, Gianna tampak mulai menikmati penampilannya di atas panggung. Aksi dari kedua wanita cantik tadi begitu memukau dan sangat menghibur para tamu undangan.


“Aku baru tahu jika Gianna pandai bernyanyi,” ucap Mia. Harus diakuinya bahwa adik tiri Adriano tersebut memang sangat berbakat.


“Setahuku dia sudah masuk les menari sejak kecil. Namun, untuk urusan menyanyi aku pun baru mengetahuinya kali ini,” balas Adriano tanpa menoleh kepada Mia. Tatapan lekat pria bermata biru itu masih tertuju kepada Juan Pablo yang terlihat berbeda saat memandang ke arah Gianna.

__ADS_1


Sementara Mattea pun merasakan hal yang sama. Dia memperhatikan raut wajah putranya sejak tadi. Pada akhirnya, Mattea memilih untuk mendekat kemudian berbisik, “Itukah gadis berambut pirang yang pernah kau ceritakan padaku, Juan?” tanyanya.


Seketika, Juan Pablo tersadar dari lamunannya. Dia menoleh kepada sang ibu dan menatap wanita itu untuk sejenak. Juan Pablo tak memberikan jawaban apapun.


Akan tetapi, Mattea sudah dapat mengetahui makna dari sorot mata sang anak. Wanita paruh baya itu pun tersenyum lembut. “Maukah kau memperkenalkan gadis itu padaku?” bisik wanita itu lagi.


“Iya, tapi lain kali saja,” jawab Juan Pablo datar. Dia sadar bahwa Adriano tengah memperhatikannya saat itu. Juan Pablo pun segera menoleh kepada sang ketua Tigre Nero tersebut. Memang benar adanya bahwa pria bermata biru itu tengah memandang ke arahnya. Juan Pablo pun mengangguk. Dia berpamitan kepada sang ibu untuk menghampiri Adriano. “Tuan D’Angelo,” sapanya. “Selagi para tamu undangan sedang menikmati hiburan, bagaimana jika kita berbincang sejenak di ruang kerja?” tawar sang tuan rumah penyelenggara pesta.


Adriano tak segera menjawab. Dia melirik ke arah Mia. Wanita itu sepertinya tak merasa keberatan. Mia tampak mengangguk pelan. “Aku tak apa-apa,” ucapnya.


“Nyonya D’Angelo bisa berbincang-bincang dengan ibuku. Dia sudah lama ingin memiliki anak perempuan, aku rasa pasti dia akan sangat senang jika ada yang menemaninya di pesta ini,” timpal Juan Pablo.


“Oh, tentu,” sahut Mia menyambut baik usul dari Juan Pablo.


“Kau yakin, Sayang?” tanya Adriano memastikan.


“Ya, Adriano. Aku akan baik-baik saja,” sahut Mia yakin.


“Baiklah. Jika ada apa-apa, panggil saja Pierre ....” Adriano tampak mengedarkan pandangannya. Dia mencari sosok sang ajudan yang entah berada di mana. “Ke mana Pierre?” gumamnya.


“Tempat ini aman. Tidak ada yang akan berani menyusup kemari. Jadi, Anda tidak perlu terlalu khawatir,” Juan Pablo kembali menimpali.


“Baiklah. Mari,” ajak Adriano. Dia menerima ajakan dari pria asal Meksiko itu. Mereka pun kemudian berjalan bersama keluar dari aula tempat berlangsungnya pesta. Kedua pria bertubuh tegap tersebut berjalan bersama menuju ke ruang kerja.


Setibanya di sana, Juan Pablo segera mempersilakan Adriano untuk masuk. Dia juga memgarahkan tangannya pada sofa yang ada di sana. Adriano segera duduk saling sambil menyilangkan kaki, menunggu sang tuan rumah yang tengah menuangkan minuman untuk ikut duduk bersamanya.


Sesaat kemudian, Juan Pablo pun menghampirinya seraya menyodorkan segelas minuman.


“Terima kasih,” ucap Adriano saat menerima gelas itu. “Jadi, hal apa yang akan kita bahas kali ini?” tanyanya.


“Anda tahu bahwa aku sudah berhasil menghabisi Lionel,” ucap Juan Pablo mengawali perbincangan mereka, setelah dia duduk tak jauh dari Adriano.


“Itu sangat mengerikan, tapi aku yakin pasti benar-benar memuaskan untukmu. Iya, kan?” Sorot mata Adriano tampak berbeda. Kembali terbayang dalam ingatannya, kondisi tubuh Melker alias Lionel yang sangat mengenaskan.


“Apalagi yang membuat orang-orang seperti kita merasa puas, selain dapat melihat darah musuh tertumpah habis dari dalam tubuhnya,” sahut Juan Pablo dengan tatapan dingin. “Aku menikmati setiap erangan kesakitan dari orang-orang yang ingin kuhabisi,” ucap Juan Pablo lagi yang tampak sangat puas.


“Ya, kau benar,” balas Adriano menanggapi.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka jika kau ternyata sangat berbahaya, Tuan Herrera. Apakah para mafia dari Amerika Latin memang sesadis itu? Wow, bukan maksudku untuk meremehkanmu. Namun, jika kau saja bisa bertindak demikian, lalu bagaimana dengan Elang Rimba yang terkenal?” celetuknya.


“Ada apa dengan Elang Rimba?” Juan Pablo berusaha bertanya dengan nada senormal mungkin.


Adriano tak segera menjawab. Dia memperhatikan raut datar Juan Pablo untuk beberapa saat lamanya. “Aku memiliki dendam pribadi dengan Elang Rimba,” jawabnya kemudian.


Juan Pablo yang saat itu tengah meneguk sampanye mahalnya, hampir saja tersedak. Namun, dengan segera dia dapat menguasai diri. “Kenapa Anda dendam padanya?” Juan Pablo meletakkan gelas minumannya ke atas meja, lalu mengarahkan perhatian sepenuhnya pada wajah tampan Adriano dengan raut penuh keheranan.


“Seperti yang Anda ketahui, Matteo de Luca tewas di tangan empat penembak jitu. Aku sudah menyelidikinya dan menemukan bahwa salah satu dari keempat penembak itu adalah Elang Rimba. Gara-gara orang itu, Mia tenggelam dalam kesedihan dan depresi yang mendalam. Istriku dulu bahkan hampir saja bunuh diri,” terang Adriano dengan sikap kalem.


“Aku tak akan memaafkan siapa pun yang sudah merenggut kebahagiaan dari hidup Miaku,” tegasnya. Wajah pria bermata biru itu berubah bengis. Sementara Juan Pablo terus berusaha bersikap wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan di hadapan Adriano.


“Kenapa Anda menaruh kebencian sedemikian besar terhadap Elang Rimba? Bukankah seharusnya anda berterima kasih? Akibat tewasnya Matteo de Luca, Anda jadi bisa menikahi istrinya,” Juan Pablo tertawa pelan, mencoba melemparkan candaan.


Akan tetapi, Juan Pablo tak menyangka jika kalimatnya itu telah memantik emosi dalam diri Adriano.


Pria rupawan itu bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah Juan Pablo. “Asal kau tahu, Tuan Herrera. Aku terkenal sebagai psikopat dan tak kenal ampun di kalangan musuh-musuhku. Namun, itu tak berarti bahwa diriku tak memiliki hati sedikit pun.


Lebih baik aku tak memiliki Mia selamanya, daripada harus mendapatkan dia dengan cara merenggut kebahagiaannya terlebih dulu,” sambung Adriano.


“Untuk siapa pun yang pernah melukai Florecita Mia, maka dia harus merasakan sisi gilaku yang paling gelap dan dalam,” tegasnya.


Suasana hening untuk sesaat. Juan Pablo tak tahu bagaimana cara menanggapi perkataan Adriano. Pria tampan itu hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia lalu tersenyum. “Tak kusangka, sedikit banyak kita memiliki sifat yang sama,” ucapnya kemudian.


“Begitukah menurutmu?” tanya Adriano masih dengan mimik bengisnya.


“Ya,” Juan Pablo menggaruk pelipisnya yang tak gatal. “Kurasa kita meninggalkan pesta terlalu lama. Aku khawatir tamu-tamu akan mencari keberadaanku.”


“Aku menurut saja apa katamu, Tuan Herrera,” sahut Adriano yang mulai melunak.


“Bisakah kau memanggilku Juan saja? Sudah kukatakan bahwa aku ingin lebih akrab denganmu,” ujar Juan Pablo seraya mengarahkan Adriano keluar dari ruang kerja menuju lantai pesta.


“Apakah alasanmu ingin akrab denganku karena kau tertarik pada Gianna?”


Pertanyaan Adriano membuat Juan Pablo hampir tersedak ludahnya sendiri. “Ka-kau tahu?” tanyanya ragu.


"Tak hanya Elang Rimba yang memiliki insting kuat, Tuan Herrera ... ah, maksudku Juan. Aku juga memilikinya," tutup Adriano

__ADS_1


__ADS_2