Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Flame of Love


__ADS_3

"Bibi! Bibi!" seru Miabella sambil menggedor pintu kamar Olivia. Akan tetapi, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. "Bibi, aku sudah pulang!" seru Miabella kembali dengan pelafalannya yang menggemaskan. Sesaat kemudian, gadis kecil itu menoleh kepada Mia. "Apa bibi berambut hitam sedang tidur, Bu?" tanyanya yang tiba-tiba terlihat murung.


Dengan segera, Mia meraih tubuh mungil putri kesayangannya ke dalam gendongan. "Mungkin bibi berambut hitam sedang istirahat, atau bisa jadi dia sedang tidak di dalam kamar. Ayo, sebaiknya kita bersihkan dulu dirimu, barulah nanti menemui bibi berambut hitam lagi," ajak Mia dengan lembut.


Miabella tampak cemberut. Pipinya yang gembul tampak semakin mengembung. "Aku ingin bercerita tentang Chester, Millie, dan Chiko kepada bibi," ujarnya dengan kecewa. Dia menyebutkan nama-nama hewan yang kemarin ditemuinya saat berada di pondok kayu milik Russell.


"Kau bisa bercerita nanti, Sayang. Sekarang kita hilangkan dulu bau tidak sedap ini," balas Mia sambil mengendus tubuh Miabella dan sedikit menggelitiknya, membuat anak kecil berambut panjang itu tertawa geli. Dia seketika lupa dengan rasa kecewanya karena tidak bisa bertemu dengan Olivia.


Sementara itu, Arsen sudah berada di ruang bermain billiard, di mana Adriano telah menunggunya. Pria tampan asal Yunani tersebut, segera memberikan sambutan hangat kepada rekan terdekatnya itu. Namun, sesaat kemudian Arsen tampak menautkan alis karena merasa heran, ketika melihat pergelangan tangan Adriano yang masih dibalut perban. "Apa yang terjadi selama di sana, Kawan?" tanyanya. Untuk sejenak, Arsen menyingkirkan pikiran tentang Oivia.


Adriano mengempaskan napas pelan. Dia memperhatikan luka berbalut perban pada pergelangan tangannya untuk sejenak. "Ada banyak hal yang terjadi dan sunguh di luar dugaan," jawabnya datar.


"Jadi, kau sudah berhasil menemukan Thomas Bolton?" tanya Arsen penasaran.


"Lebih dari itu. Ricci berhasil menghabisinya," terang Adriano.


"Sudah kuduga jika montir itu bukan pria sembarangan," balas Arsen menanggapi.


"Ricci tak akan menjadi sahabat dekat Matteo de Luca, jika dia hanya pria sembarangan," Adriano kembali menegaskan, "tapi ... sayangnya aku tetap tidak bisa mengungkap siapa sebenarnya Elang Rimba atau Tangan Setan. Entah kenapa kedua nama tersebut seakan begitu misterius. Aku tidak tahu harus mencari informasi ke mana lagi setelah Thomas Bolton tewas," raut wajah Adriano tampak kecewa. Dia yang saat itu berdiri di sebelah Arsen dengan menyandarkan sebagian tubuhnya, kini menegakkan badan dan berbalik menghadap kepada pria asal Yunani tersebut. Adriano meletakkan tangan kanan di pinggang, sementara tangan kiri di dekat pinggiran meja billiard. "Seperti yang sudah kukatakan, maksudku memintamu datang ialah untuk sebuah tugas," ucapnya penuh wibawa.

__ADS_1


"Tugas seperti apa?" tanya Arsen dengan segera."Kuharap kau tidak memintaku untuk menyelidiki siapa Elang Rimba atau Tangan Setan. Kau tahu bukan jika aku tidak menyukai sesuatu yang rumit," ujarnya dengan enteng.


Adriano tertawa pelan mendengar ucapan sang rekan. "Tenang saja, ini tidak ada hubungannya dengan kedua nama tadi," jelas pria bermata biru itu tenang.


"Lalu?" Arsen mengernyitkan keningnya seraya menatap ketua Tigre Nero di sebelahnya.


Sebelum menjawab dan memberikan penjelasan kepada Arsen, Adriano kembali mengempaskan napas dalam-dalam. "Aku terlalu ceroboh. Kupikir tidak akan terjadi sesuatu yang berbahaya, tapi nyatanya ...." Adriano menggelengkan kepala seraya berdecak pelan. "Aku dan keluargaku tidak aman jika harus berlama-lama di sana. Karena itulah, aku menugaskanmu sebagai perwakilan untuk ikut memantau proyek yang sedang dikerjakan bersama Don Vargas. Lagi pula, kau mengenalnya jauh lebih dulu dariku. Sepertinya tidak akan ada kesulitan bagi kalian dalam hal komunikasi," terang Adriano.


"Kira-kira berapa lama aku harus berada di sana?" tanya Arsen. Bayangan Olivia tiba-tiba kembali muncul dalam ingatannya. Pria itu mengusap alis dengan ibu jari, demi menetralkan perasaan tak menentu yang sedang mengganggu.


"Sepertinya agak lama, hingga proyek selesai atau mungkin terserah Don Vargas. Kau tidak perlu khawatir, karena aku yang akan menjamin segala fasilitas dan apapun kebutuhanmu di sana, kecuali wanita. Untuk urusan itu kau cari saja sendiri," ujar Adriano. Dia tahu betul siapa dan seperti apa Arsen Moras.


Arsen terlihat kikuk mendengar kalimat terakhir Adriano, meskipun sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah sebuah candaan. Namun, untuk posisinya saat ini, hal itu menjadi terasa cukup sensitif. "Baiklah," sahutnya menanggapi, "kapan aku harus berangkat ke Inggris?"


"Apa ada hal lain yang terjadi di sana?" selidik pria yang berusia sama dengan Adriano tersebut.


Pria bermata biru itu terdiam sejenak. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu. Adriano kembali menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja billiard. Dia melipat tangan kiri di dada, sedangkan tangan kanan sibuk mengusap-usap dagu dengan janggut yang belum sempat dirapikan. "Apa kau tahu sesuatu tentang Juan Pablo Herrera?" tanyanya tiba-tiba. Bukannya menjawab, Arsen malah tertawa renyah saat mendengar pertanyaan itu. "Kenapa kau malah tertawa? Apanya yang lucu?" protes Adriano tak mengerti.


Sesaat kemudian, pria asal Yunani tersebut mengakhiri tawanya. "Rupanya Juan Pablo begitu memikat, sehingga semua orang teramat penasaran terhadap pria itu. Kau tahu? Dulu rekanmu Ricci yang bertanya tentangnya padaku, lalu sekarang kau. Apa yang membuat kalian berdua begitu ingin tahu tentang Juan Pablo?"

__ADS_1


"Entahlah, Arsen. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan dengan pria itu. Namun, aku juga belum dapat memastikannya," jawab Adriano sambil terus berpikir.


"Aku harap bukan karena rasa cemburu," goda Arsen, membuat Adriano seketika mendelik padanya. "Setahuku, Juan Pablo ataupun Don Vargas merupakan orang-orang yang hidup dalam lingkungan militer. Karena itulah keduanya dikenal dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi dan pastinya tegas. Don Vargas memang terlihat ramah, tetapi pria itu menerapkan aturan-aturan yang ... um ... dia lebih mengerikan dari kepala asrama tempatku belajar dulu," tutur Arsen


"Kau sangat mengetahuinya," Adriano menanggpi.


"Aku mendengar hal itu dari seorang kenalan yang pernah bekerja di tempatnya. Akan tetapi, sejauh yang kuketahui selama ini, Don Vargas adalah pria yang baik. Aku belum mendengar ada sebuah kejahatan yang melibatkan namanya. Begitu juga dengan Juan Pablo. Ya, mereka adalah perpaduan yang sangat cocok. Mereka berdua ibarat tangan kiri dengan tangan kanan," terang Arsen.


"Tangan kiri dengan tangan kanan. Menarik," gumam Adriano. Belum sempat sang pemilik mansion itu melanjutkan kata-katanya, suara dering ponsel telah lebih dulu berbunyi. Adriano segera merogoh saku kemejanya. Adalah sebuah panggilan masuk dari Bianca. Sebelum Adriano mengucapkan sapaannya, Bianca telah lebih dulu berbicara dengan nada yang terdengar cukup kesal.


"Kau sangat keterlaluan! Aku benar-benar tidak menyukainya!" gerutu wanita muda itu.


"Hey, ada apa?" protes Adriano. Namun, pria itu masih terlihat tenang. Dia seakan sudah mengetahui alasan dari rasa kesal Bianca terhadapnya.


"Kau memutuskan untuk kembali ke Monaco tanpa memberitahuku? Oh, astaga! Apa kau tidak tahu betapa cemasnya aku selama dirimu menghilang kemarin? Kau sungguh menyebalkan dan sangat keterlaluan, Adriano!"


Sementara Adriano hanya menanggapi kemarahan Bianca dengan sebuah tawa pelan. Tak biasanya, wanita yang telah cukup lama menjadi sahabat dekatnya tersebut melampiaskan kekesalan seperti itu. Akan tetapi, Adriano dapat memahami dengan baik, sehingga dia tidak menanggapi kemarahan Bianca dengan serius. "Maafkan aku karena harus kembali dengan mendadak. Aku bahkan tak sempat meninjau ulang ke lokasi proyek. Ada alasan yang tidak bisa aku sebutkan padamu, yang mengharuskanku untuk segera kembali ke Monaco," jelas Adriano.


"Aku tidak peduli dengan proyek atau apapun! Aku hanya mencemaskan keadaanmu, tapi kau tidak menghargai hal itu," ujar Bianca terdengar kecewa.

__ADS_1


Namun, Adriano masih terlihat tenang. "Baiklah, maafkan aku, nona Alegra. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu kecewa. Aku hanya ...." Adriano tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dia melihat Mia sudah berdiri di ambang pintu masuk ruang bermain sambil melipat kedua tangan di dada. Wajah cantik ibunda Miabella tersebut tampak tidak bersahabat, ketika mengetahui Adriano berbicara dengan begitu akrab bersama Bianca. Rasa cemburu tampak jelas pada sorot mata Mia yang dia layangkan terhadap sang suami.


"Matilah kau," bisik Arsen dengan setengah mengejek. Dia tertawa puas saat membayangkan apa yang akan Adriano hadapi setelah itu. Arsen pun memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Mia berjalan mendekat kepada sang suami.


__ADS_2