
“Sialan!” umpat Thomas Bolton ketika lengan Adriano yang melingkar di leher, terasa semakin kencang mencekik dirinya. Dia memegangi dan menahan lengan kekar itu, agar dirinya bisa sedikit bernapas.
“Tahan gerakan kalian semua atau kupatahkan leher pria ini dengan sekali hentakan saja,” Adriano menyeringai di balik tubuh Thomas yang tak berdaya.
Mendengar gertakan dari Adriano, pria-pria bertubuh tegap itu terdiam, tapi tetap dalam sikap waspada sambil mengarahkan senjata kepada Adriano.
“Berpikir ulanglah sebelum mengacau, Mate! Kau tidak akan menang melawan kami yang berjumlah jauh lebih banyak!” gertak Thomas lagi. Walaupun dalam situasi terdesak, dia masih sempat tertawa puas.
“Jangan banyak bicara! Sekarang, suruh salah satu anak buahmu untuk memberikan senjatanya padaku!" sentak Adriano.
“Mimpi sajalah, kau,” Thomas kembali terkekeh. Namun, tawanya seketika terhenti ketika satu tangan Adriano mencengkeram puncak kepala, kemudian menariknya ke samping. Saat itulah Thomas tersadar bahwa Adriano tak main-main, bahwa pria tampan bermata biru tersebut memang berniat hendak mematahkan lehernya. Insting bertahan hidup Thomas mulai timbul. Dia tak ingin mati konyol di tangan Adriano, sehingga Thomas pun tak punya pilihan selain berteriak kencang pada salah satu anak buahnya, “Berikan senapan kalian! Lemparkan ke arahku!” titahnya.
Anak buahnya saling berpandangan sebelum salah satu dari mereka maju dan melemparkan senjata. Senapan laras panjang tadi tergeletak tepat di samping kaki kanan Adriano. Luwes, pria itu menarik senapan tersebut menggunakan kaki. Dia menendangnya ke atas, lalu sigap meraih dengan tangan kanan. Senjata tersebut, kini gagah terkokang di tangan sang ketua dari Tigre Nero.
Tak ingin membuang waktu, Adriano menembakkan senapan tadi kepada pria-pria tegap yang mengelilinginya. Semua tak sempat membalas ataupun menahan serangan, karena telah lebih dulu ambruk dengan beberapa butir peluru menembus tubuh mereka. Adriano menambahkan beberapa tembakan pada pria yang sempat memukul wajahnya, walaupun pria itu telah roboh tak bernyawa. Puas rasa hati pria bermata biru itu setelah menghabisi pria-pria bersenjata tadi.
Akan tetapi, ada satu yang dapat lolos dari tembakan membabi buta tersebut, yaitu wanita bernama Duscha. Tubuh gemulainya berkelit dan berguling. Dia bersembunyi di belakang Adriano yang terlalu fokus menembaki anak buah Thomas Bolton.
Tanpa diduga, Duscha mengeluarkan pisaunya dari balik jaket kulit dan langsung menyayat pergelangan tangan Adriano yang memegang senjata. Darah mulai mengalir dari luka sayatan yang memanjang dari ujung hingga siku. Akan tetapi, pria itu masih kuat memegang senjatanya.
Tak ingin mengambil risiko, Adriano menembak Duscha, tapi sayangnya meleset. Wanita itu lebih dulu dapat menghindari tembakan yang diarahkan padanya.
__ADS_1
Adriano memuntahkan pelurunya lagi. Kali ini menyasar paha kiri Thomas Bolton, barulah dia memukul kepala pria tersebut hingga tak sadarkan diri di atas lantai.
Adriano kemudian beralih pada Duscha yang masih bernafsu melumpuhkannya. Wanita itu berlari menerjang ke arah Adriano dengan berani, sembari mengayun-ayunkan pisaunya. Tak ingin membuang tenaga, Adriano kembali menarik pelatuk senjata yang masih dia pegang ke arah Duscha. Namun, sayang sekali karena pelurunya telah habis, sehingga dia hanya bisa menggunakan senjata tersebut sebagai tameng dari serangan pisau terhadapnya.
Duscha kembali menghunuskan pisau ke arah Adriano. Namun, pria itu terlalu tangguh untuk seorang wanita seperti dirinya. Dengan mudah, Adriano mengelak dan menampik tangan Duscha menggunakan popor senapan, hingga pisau miliknya patah menjadi dua. Kesempatan emas bagi Adriano. Dia segera menendang perut dan memukul paras cantik Duscha. Wanita itu terhuyung sebelum roboh. Tak puas, Adriano menarik rambut Duscha dan mengarahkan wajah itu kepadanya. “Hei, apa kabar?” godanya sambil menyeringai kejam.
Dalam keadaan setengah sadar, Duscha membalas senyuman Adriano yang menawan. “Kau terlihat semakin seksi, Tampan,” racaunya seraya tertawa pelan.
“Jadi, apa kau masih ingin bercinta denganku?” tanya Adriano dengan nada datar. Tangan pria itu semakin erat menjambak rambut Duscha dengan darah di sudut bibirnya. Wanita asal Rusia tersebut meringis pelan. Namun, dia masih tetap tersenyum di sela ringisannya.
“Tentu saja,” Duscha mengulurkan tangan kepada Adriano. Dengan segera, Adriano memelintir tangan kanan yang terulur itu hingga si pemiliknya memekik kesakitan.
Adriano bermaksud keluar dari gudang tempat dia disekap. Namun, tiba-tiba tangan Thomas Bolton yang terkapar segera mencengkeram kakinya. Pria tampan yang kini tampak acak-acakan itu berbalik. Dia menyeringai lalu menendang wajah Thomas hingga kembali tak sadarkan diri.
Tak ingin membuang waktu, Adriano berlari keluar dari bangunan tadi. Di sana, dia melihat kendaraan inventaris milik Don Vargas yang sudah dipinjamkan untuknya. Mobil sedan hitam itu terparkir di depan gudang. Kondisinya pun masih mulus, sama seperti terakhir dia tumpangi. Adriano bergegas membuka pintu mobil yang ternyata terkunci. “Sial!” gerutunya. Dia menggebrak atap kendaraan, seakan lupa jika tangannya tengah dalam keadaan terluka. Adriano baru sadar ketika darah yang terus mengucur deras dari tangan kanannya, membasahi beberapa bagian bodi mobil.
Pria itu melupakan sejenak amarahnya. Dia lalu melepas kemeja putih yang tak lagi memiliki kancing, kemudian menyobek dan membelitkan di atas luka sayatan hanya dengan menggunakan satu tangan. Adriano kemudian mengikatkan kemeja itu cukup kencang dengan bantuan giginya yang rapi. Apa yang dia lakukan, dimaksudkan untuk menghambat darah yang terus menetes.
Sementara pikirannya kini teralihkan pada hal lain. Dia berpikir bagaimana cara membuka kunci mobil serta menyalakannya.
Adriano kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tersebut. Di samping gudang, terdapat beberapa senapan dan potongan besi yang tersandar begitu saja pada dinding. Dia segera berlari ke sana, lalu mengambil satu senapan dan sepotong besi yang cukup panjang. Sebelumnya, Adriano sempat memeriksa jumlah peluru yang berada di dalam senjata tersebut.
__ADS_1
Setelah memastikan barang-barang yang akan dia pergunakan, Adriano kembali ke mobil dan memecahkan kaca jendela memakai besi tadi. Hal itu membuat alarm menyala dan berbunyi nyaring. Kerasnya suara alarm mobil, telah membuat Thomas Bolton kembali sadar dari pingsan.
Pria itu segera berdiri dan tertegun melihat seluruh anak buahnya yang telah tumbang. Demikian pula Duscha, prajurit yang paling tangguh. “Sialan!” Thomas mengumpat keras-keras seraya berlari ke luar gudang dengan terpincang-pincang. Peluru Adriano berhasil bersarang di kakinya. Namun, dia sempat menghubungi dan meminta bantuan seseorang.
“Hei!” Thomas berteriak kencang ketika dilihatnya Adriano mencoba menyalakan mesin mobil, dengan cara memotong kabel starter. Thomas berlari ke arah mobil itu, tapi sayangnya Adriano telah berhasil menyalakannya. Kendaraan tersebut melaju meninggalkan Thomas yang terus berusaha menghentikan ketua klan Tigre Nero tersebut, meskipun dia harus berlari dengan susah payah.
Akan tetapi, baru saja mobil Adriano meninggalkan area peternakan biri-biri itu, sebuah mobil lain bertipe SUV hitam datang dari arah berlawanan. Pantang menyerah, Adriano malah menginjak pedal gas dan membanting kemudi ke kiri. Kendaraannya tak terkendali hingga menabrak pagar kayu yang mengelilingi lapangan rumput luas, dan menjadi tempat penggembalaan biri-biri.
Adriano semakin memacu kendaraannya. Dengan kencang dia menyetir mobil itu melintasi padang rumput hingga tiba di sebuah jalan raya. Pria tampan tersebut berpikir bahwa dia telah berada dalam keadaan aman. Namun, perkiraannya ternyata salah besar. Mobil SUV tadi berhasil menyusul dan sekarang berada tepat di belakang mobil yang Adriano kendarai. SUV hitam itu bahkan berkali-kali menubruk bemper mobil di depannya.
Adriano makin waspada mengendalikan kemudi, karena sebelah kanan jalan raya adalah jurang terjal berbatu. Dia semakin berhati-hati, terlebih ketika mobil SUV itu telah berada di samping kiri mobilnya. Kendaraan tersebut terus menyerempet dan menabrak mobil Adriano. Tak tinggal diam, ketua Tigre Nero itu membalas perlakuan mobil hitam tersebut dengan menabraknya balik sampai kendaraan SUV tak dikenal tersebut keluar dari marka jalan dan menabrak pembatas.
Adriano menyeringai puas sembari mempercepat laju mobilnya. Akan tetapi, lagi-lagi senyumnya harus kembali memudar ketika satu kendaraan lain menyusul di belakang. Melalui kaca spion tengah, Adriano dapat melihat dengan jelas seseorang mengeluarkan separuh anggota badan dari jendela mobil sambil memegang senjata. Pria yang tak lain adalah Thomas, melesatkan peluru dari senapan yang diarahkannya pada mobil Adriano. Tembakan itu tepat mengenai kaca belakang mobil hingga pecah.
Adriano segera menunduk demi menghindari desingan peluru yang ditembakkan Thomas ke arahnya, membuat konsentrasi pria itu menjadi buyar. Dia menjadi lengah saat melihat tikungan yang berada tepat di depan kendaraannya. Ketika sadar, Adriano terlambat membelokkan kemudi. Separuh bodi mobil sudah berada di luar pembatas antara jalan raya dengan jurang terjal.
Adriano kehilangan kendali. Dia tak kuasa mengembalikan mobil kembali ke jalan raya. Pria itu hanya bisa pasrah ketika kendaraannya meluncur bebas dan terhempas hingga ke dasar jurang.
Di belakang dengan jarak tak begitu jauh dari titik kendaraan Adriano terjatuh, mobil yang ditumpangi Thomas pun tampak berhenti. Pria itu turun dari sana sambil memanggul senapan laras panjangnya. Sementara celana yang dia kenakan penuh dengan noda darah akibat luka tembak. Thomas bersorak dan berputar-putar untuk merayakan kemenangan. “Matilah kau, bos Tigre Nero!" ucapnya sambil menyeringai puas.
"Duscha! Andreja! Kupersembahkan kematian Adriano D’Angelo untuk kalian berdua!” seru Thomas seraya merentangkan tangan dan menengadahkan wajahnya ke arah langit. Pria itu pun tertawa lebar dengan rasa bahagia dan bangga yang tak terkira. Dia kembali menatap ke bagian bawah jurang, di mana teronggok bangkai mobil yang sudah ringsek di beberapa bagian. Tawa lebar itu kembali menghiasi wajah garang Thomas. "Pintu neraka sudah menunggumu, Adriano D'Angelo. Selamat bertemu kembali dengan Matteo de Luca di sana," seringainya.
__ADS_1