
Beberapa hari telah berlalu dari semenjak kematian Claudia. Adriano sudah kembali ke Casa de Luca, sementara Juan Pablo pun memilih untuk beristirahat di villa. Dia harus menjaga dan menemani Gianna, terlebih karena Jacob mulai berani masuk ke dalam bangunan yang selama ini menjadi tempat di mana Juan Pablo menghabiskan waktu dalam kesendirian.
“Kutitipkan Juan Pablo padamu. Dia adalah putra kesayanganku,” ucap Mattea dalam perbincangannya melalui sambungan video call bersama Gianna. Mattea begitu bahagia saat mendengar kabar kehamilan wanita muda itu, meskipun dia merasa kecewa karena pernikahan diam-diam yang dilakukan oleh putranya. “Saat nanti kau dan Juan Pablo berkunjung ke Meksiko, maka aku akan langsung menyelenggarakan pesta besar untuk merayakan pernikahan kalian berdua. Aku tak akan menerima kata penolakan,” tegas wanita paruh baya yang merupakan mantan seorang perawat tersebut.
“Siapa yang berani membantah ucapan nyonya Mattea Juanita Herrera?” Juan Pablo yang sejak tadi hanya menyimak obrolan Gianna dengan sang ibu, kini ikut bersuara ketika Gianna mengarahkan layar kamera ponsel ke arahnya. Pria yang duduk tenang di sebelah Gianna itu lebih sering melihat ke arah lain, dengan harapan agar sang ibu tak dapat menangkap beberapa bekas luka memar di wajahnya.
“Ibu juga mendapat salam dari tuan Damiano Baresi,” ucap Juan Pablo kemudian.
“Juanito ....” Raut bahagia Mattea seketika sirna saat mendengar nama Damiano. Itu merupakan sesuatu yang selalu dia coba hindarkan dari sang putra tercinta. Hingga saat ini, Mattea tak pernah mengetahui bahwa Juan Pablo telah menghabisi Matteo de Luca.
“Tenang saja, bu. Aku rasa semuanya sudah berakhir. Kau tidak perlu khawatir. Damiano sangat baik terhadapku. Aku pun mulai memahami segala sesuatunya,” ujar Juan Pablo seraya tersenyum simpul. “Baiklah. Sudah waktunya bagi istriku untuk minum susu dan istirahat. Di sini sudah malam. Kami permisi dulu,” tutup pria bermata cokelat madu tersebut mengakhiri perbincangannya bersama sang ibu.
Setelah perbincangan berakhir, Juan Pablo berusaha untuk beranjak dari duduknya. Tubuh pria itu belum terlalu kuat, karena luka yang dia alami pun memang terbilang parah.
“Apa kau ingin tidur sekarang, Juan?” tanya Gianna yang segera membantu sang suami agar dapat berdiri lebih tegak.
“Astaga, kacaunya diriku,” gumam Juan Pablo tak menanggapi pertanyaan Gianna. “Untuk berdiri saja aku bahkan harus dibantu olehmu,” keluh pria itu lagi seraya berdecak pelan.
“Kau akan segera pulih, Juan.” Gianna menangkup rahang kokoh berhiaskan bulu-bulu halus yang mulai tak beraturan itu dengan lembut.
“Seharusnya. Aku tidak menyukai keadaan seperti ini,” ucap pria asal Meksiko itu lagi. Suara helaan napas berat pun meluncur dari bibir Juan Pablo, sesaat setelah Gianna menciumnya dengan mesra. “Sudah waktunya minum susu dan vitamin.” Senyuman kecil terlukis di wajah tampan khas pria Amerika Latin tersebut.
Sementara Adriano pun malam itu tengah bercengkerama bersama Mia dan juga Miabella. Gadis kecil yang terbiasa meminta digendong oleh sang ayah sambung, kini tak berani melakukan hal itu. Miabella bahkan terlihat iba dan sedih saat melihat keadaan tubuh pria tiga puluh dua tahun tersebut.
“Apa itu sakit, Daddy Zio?” tanya Miabella dengan polos. Balita cantik bermata abu-abu tersebut mengamati luka di tubuh Adriano satu per satu.
“Aku seorang pria dewasa, Sayang. Luka seperti ini tak akan membuat diriku menangis,” sahut Adriano diiringi senyuman khas dirinya.
__ADS_1
“Aku sungguh berharap bahwa ini adalah luka terakhir yang kau alami,” ucap Mia menimpali. Tangannya sedari melingkar pada pinggang sang suami. Nyaman, dia menelusupkan kepalanya di dada bidang Adriano. “Aku tak bisa membayangkan jika aku kehilanganmu di hari itu,” sambung Mia yang mulai terisak.
“Jangan berpikiran macam-macam, Sayang. Aku tak akan mati semudah itu. Lagi pula, ada kau dan Miabella yang harus kujaga.” Tangan kanan Adriano merengkuh pinggang ramping Mia, sedangkan tangan kirinya menarik Miabella agar semakin mendekat lalu memeluk dan mencium kening balita cantik tersebut.
“Matteo sudah menyerahkan kalian padaku,” lanjut Adriano lirih, membuat Mia langsung mendongak dan menatap suaminya dengan mata membulat.
“Kapan dia mengatakan itu padamu?” tanya Mia dengan nada setengah tak percaya.
“Dulu, saat aku mengalami kecelakaan di Inggris dan hampir mati. Dia datang dan menyelamatkanku,” jawab Adriano sambil tersenyum kecil.
“Apakah ayahku terlihat sehat, Daddy Zio?” tanya Miabella polos.
“Ya, Sayang. Ayahmu terlihat tampan dan sangat luar biasa. Dia juga pasti bahagia melihat keadaan kalian berdua saat ini,” sahut Adriano lagi sambil kembali mengecup kening Miabella.
Sementara Mia tak berniat untun menimpali. Tiba-tiba bayangan Matteo yang tengah tertawa, terlintas begitu saja dalam benaknya. Air mata pun mengalir semakin deras. Namun, sebisa mungkin tak dia tunjukkan di depan Adriano. Dengan segera dihapusnya tetesan air mata yang meleleh di pipi sebelum mengenai kaus sang suami.
Begitu pula Adriano yang keheranan terhadap putri sambungnya. “Dari mana kau tahu istilah ‘suami’, Bella? Memangnya kau mengerti apa artinya?” tanya Adriano dengan geli dan raut tak percaya..
“Romeo sering mengatakannya padaku, Daddy Zio. Suami itu adalah seseorang yang memberikan cincinnya kepadamu, lalu kalian berdua berjalan di altar dan begini,” Miabella menunjukkan kedua telapak tangannya yang menguncup, kemudian saling menempel, menggambarkan dua orang yang berciuman.
“Astaga. Hentikan, Bella!” Mia segera menepis tangan Miabella pelan. “Aku akan memarahi Romeo nanti,” ujarnya kesal.
“Sudahlah, Sayang. Mereka hanya anak-anak,” tegur Adriano seraya terkekeh.
Kelucuan ibu dan anak itu sungguh mengobati segala gundah dan luka fisiknya. Hanya dengan melihat tawa Mia dan juga Miabella, Adriano merasa seluruh masalah hidup dan lelahnya luruh tak tersisa. “Aku mencintai kalian berdua,” ucapnya penuh perasaan.
Beberapa saat kemudian, ponsel milik Adriano berdering, memecah kehangatan suasana saat itu. Mia bergegas bangkit dan meraih benda pipih yang tergeletak begitu saja di atas nakas. Sekilas dia melihat nama Pierre yang tertera di layar.
__ADS_1
“Dari siapa, Sayang?” tanya Adriano.
“Pierre,” jawab Mia seraya berbalik dan menyodorkan ponsel itu pada sang suami. “Apa kau ingin menjawabnya, Sayang?” tanya wanita itu lagi.
“Tentu,” bala Adriano tersenyum manis pada Mia saat menerima ponsel dari tangan sanh istri. Dia lalu menempelkan benda itu di dekat telinga. “Pronto! Apa kabarmu, Pierre? Bagaimana keadaan ayahmu?” sapanya hangat. Namun, sesaat kemudian raut wajah Adriano seketika berubah. “Apa? Ya, Tuhan. Padahal aku belum sempat menjenguk tuan Alexander,” ucap Adriano penuh sesal.
Melihat ada yang tak beres, Mia langsung duduk di samping Adriano. Ditatapnya dengan ekat wajah sang suami yang tampak sedih.
“Aku turut berbelasungkawa, Pierre,” ucap Adriano pelan, lalu mengakhiri panggilannya. Dia lalu tercenung untuk beberapa saat.
“Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi pada Pierre?” tanya Mia penasaran.
Adriano tersadar dari lamunan, kemudian menoleh kepada Mia sambil memaksakan senyum. “Tuan Alexander, ayahanda Pierre baru saja meninggal dunia. Entah apakah aku bisa menghadiri pemakamannya, mengingat keadaanku yang seperti ini,” sesal pria yang akan segera menjadi ayah dari darah dagingnya sendiri.
“Jangan memaksakan dirimu, Sayang. Pierre pastilah sangat mengerti akan keadaanmu saat ini.” Mia menangkup wajah rupawan sang suami, lalu mencium bibirnya lembut. Adriano pun membalasnya tak kalah hangat. Mereka seakan lupa bahwa masih ada Miabella di sana.
“Kalian berdua persis seperti yang dikatakan oleh Romeo,” celetuk Miabella dengan polosnya.
“Astaga.” Dengan segera, Mia melepaskan ciumannya kemudian tertawa lebar.
“Sebaiknya aku menghubungi Benigno saja. Akan kuminta dia yang mewakiliku untuk menghadiri upacara pemakaman tuan Alexander,” putus Adriano dengan segera. Beruntung karena selama masih berada di rumah sakit, Coco telah membantunya membelikan ponsel yang baru. Adriano pun tak harus meminjam ponsel milik Mia lagi untuk berkomunikasi.
🍒 🍒 🍒
Satu rekomendasi lagi dari ceuceu. Silakan cek dan masukan rak.
__ADS_1