
Adriano yang saat itu duduk sambil menyilangkan kaki, menatap tajam kepada Mia. Kedua tangannya, dia letakan lurus mengikuti lengan kursi kayu. Pria itu mencengkeram erat ujung dari lengan kursi tersebut.
Adriano seakan tengah menahan sebuah gejolak amarah yang teramat kuat. “Apa maksud dari semua ini, Mia? Kau ingin bermain-main denganku?” Pertanyaan yang sederhana tapi, terdengar sangat menakutkan bagi Mia. Nada bicara Adriano terdengar begitu tajam dan menusuk hati kecil wanita itu.
Sementara, Mia tak segera menjawab. Dia memikirkan rangkaian kata yang dirasa pantas untuk disampaikan kepada seroang Adriano, agar pria itu dapat memahami maksudnya.
“Kenapa kau diam? Apa kau tak memiliki cukup alasan, selain untuk kembali melarikan diri atau ….” Adriano tak melanjutkan kata-katanya. Tatapan tajam itu masih terus menyerang Mia. Membuat wanita yang tengah dilanda kegalauan tersebut, semakin terlihat gelisah.
Sesaat kemudian, Adriano menyunggingkan sebuah senyuman simpul. Tanpa mengubah posisi duduknya, pria itu kembali berkata, “Jangan memulai sesuatu, yang sekiranya hanya akan membuatmu semakin merasa terbebani. Ingatlah bahwa akan selalu ada harga yang harus dibayar, dalam sebuah perjanjian. Kau pikir aku tidak paham atas maksudmu ini?” Ucapan Adriano lagi-lagi membuat Mia seperti kehilangan kata-kata. Dia semakin tak dapat berbicara dan mengungkapkan maksud yang ada dalam hatinya.
Namun, Mia mengumpulkan segenap keberanian untuk bicara. “Memangnya berapa harga yang harus kubayar?” tanya Mia pada akhirnya. Dia juga memberanikan diri melawan tatapan tajam pria tampan itu.
“Jangan menawarkan sesuatu yang tidak bisa kau penuhi. Kau tahu sedang berurusan dengan siapa, Mia? Aku mahir dalam berisnis dan juga melakukan negosiasi. Adriano D'Angelo, tak ingin melakukan sesuatu yang sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi dirinya." Adriano menarik tangan kanan yang sejak tadi terulur lurus mengikuti lengan kursi, kemudian dia tekuk ke atas. Pria itu mengusap-usap dagunya yang dihiasi janggut tipis.
Sementara, Mia masih merasa bingung. Entah bagaimana Adriano bisa menebak apa yang sedang dia rencanakan. Sungguh, pria di hadapannya itu bukanlah seseorang yang sembarangan.
Adriano begitu sulit untuk ditebak. Entah seperti apa karakter asli dari pria tersebut. Dia dapat berubah menjadi sosok yang lain, dalam waktu yang sangat cepat.
“Kau harus tahu bahwa aku sangat membutuhkan bantuanmu,” ucap Mia lagi, mencoba membujuk dan meyakinkan Adriano.
“Aku pasti akan membantumu tanpa harus kau minta,” jawab Adriano datar dan terlihat seriusm
“Sungguh?” Mia meyakinkan lagi.
Namun, Adriano malah memalingkan wajah seraya mendengkus kesal. Napas pria itu terdengar memburu. “Kenapa kau harus menawarkan sesuatu yang menjadi keinginanku, Mia!” tegasnya dengan penekanan yang cukup dalam sambil mengepalkan tangan.
__ADS_1
“Pada akhirnya, aku tetap akan merasa berutang budi padamu,” ujar Mia resah.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan jika menjadi istriku?” Nada bicara Adriano terdengar semakin tegas. Dia kembali mengarahkan pandangannya kepada Mia. “Aku tidak yakin kau akan mampu menjalani hal itu, Florecita Mia,” ucap pria itu lagi ragu.
Mia tak segera menjawab. Untuk sesaat, wanita bermata cokelat tersebut kembali merenungkan jalan yang akan diambilnya. “Mari kita buat sebuah kesepakatan,” ucap Mia kemudian. Nada bicaranya terdengar pelan, tapi cukup tegas. Mia tampak sudah benar-benar yakin dengan keputusannya.
“Kesepakatan seperti apa?” Adriano membetulkan posisi duduknya. Pria itu menunjukan raut tertarik, atas penawaran dari Mia. Tatap mata Adriano pun tak setajam sebelumnya.
“Bantu aku mengungkap pembunuh Matteo. Aku yakin kau bisa melakukan hal itu dengan mudah, mengingat betapa besarnya pengaruh dan jaringan yang kau miliki di daratan Eropa. Kekuasaanmu begitu luas. Kau bisa melakukan segalanya tanpa ada hambatan apapun,” pinta Mia. Nada bicara serta sorot matanya dipenuhi dengan keyakinan.
“Satu tahun sudah berlalu. Akan tetapi, pihak yang berwajib belum juga mampu mengungkap kasus ini. Begitu pula dengan Marco yang terus bekerja keras. Namun, semuanya seakan sia-sia,” tutur Mia lagi dengan penuh sesal.
“Aku sering mendengar percakapan antara paman Damiano dengan Ricci dan juga Marco. Hatiku sakit, karena hingga saat ini suamiku belum mendapatkan keadilannya. Aku berjanji, setelah kau dapat menemukan siapa pelaku dari pembunuh Matteo ... maka ... maka aku akan menyerahkan diriku padamu seutuhnya." Mia menatap Adriano dengan tegas, meskipun tubuhnya bergetar hebat saat mengatakan hal itu.
“Kau ... bersedia menyerahkan dirimu padaku?” tanyanya beberapa saat kemudian. Adriano seakan ingin meyakinkan penawaran yang Mia berikan.
“Ya,” jawab Mia yakin.
“Sampai kapan?” tanya Adriano lagi.
“Selama yang kau inginkan,” jawab Mia tanpa ada rasa ragu. Apapun akan dia lakukan, demi mendapatkan keadilan bagi sang suami yang haknya telah terenggut paksa, oleh seseorang yang bahkan tidak dia ketahui dengan jelas.
Mendengar jawaban demikian dari Mia, Adriano segera beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri wanita yang masih duduk dengan anggun, di atas kursi yang berada tak jauh dari tempat duduknya tadi. Dengan segenap kekuatan yang dia miliki, Adriano memutar kursi itu hingga menghadap padanya.
Pria bertubuh tegap tersebut lalu sedikit membungkuk, dengan bertumpu pada kedua tangan yang dia letakan di sisi kiri dan kanan pegangan kursi yang Mia duduki. Adriano semakin mendekat, sehingga membuat Mia sedikit mendongak saat menatap dirinya. “Kalau begitu, mari kita menikah. Aku ingin memilikimu selamanya. Aku berjanji padamu, akan segera menemukan pembunuh Matteo de Luca,” ucap Adriano tegas dan penuh penekanan. Suara beratnya menggema di depan wajah cantik Mia.
__ADS_1
Seakan tercekik saat Mia mendengar ucapan dari Adriano. Namun, itulah harga yang harus dibayar dalam kesepakatan tersebut. “Baiklah. Kita akan segera menikah. Akan tetapi, kau harus ingat dengan perjanjian kita. Jangan pernah menyentuhku, sebelum dirimu dapat membawa pembunuh Matteo ke hadapanku,” tegas Mia, menahan rasa bergejolak dalam hati. Tak terbayangkan, apa yang akan terjadi seandainya Adriano dapat melakukan hal itu. Mia harus bersiap untuk menyerahkan dirinya.
Adriano menunjukan seringainya kepada Mia. “Aku akan mengingat hal itu, Mia. Aku tak akan menyentuhmu, sebelum mempersembahkan mayat dari pembunuh Matteo. Kecuali, jika kau sendiri yang datang padaku untuk menyerahkan dirimu dengan sukarela." Hangat, napas Adriano Mia rasakan di permukaan wajahnya.
Pria itu tampak sangat berbeda kali ini. Dia kembali terlihat menakutkan, sama seperti saat memberikan ancamannya kepada Mia beberapa hari yang lalu. Namun, Mia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Wanita cantik tersebut semakin mengatupkan kaki. Dia tersenyum canggung, meskipun saat itu dadanya terasa bergemuruh kencang.
“Ibu ....” Suara lembut Miabella terdengar di ruangan itu. Kehadiran Miabella menjadi penyelamat bagi Mia yang akhirnya dapat bernapas lega.
Seketika, Adriano menegakan tubuhnya. Pria itu menoleh pada gadis kecil tadi. Sementara, Mia sibuk mengatur napas yang tercekat di tenggorokan.
“Bella,” sapa Adriano diiringi senyuman hangat. Dengan langkah tegap, pria berkemeja putih itu berjalan menghampiri Miabella yang berdiri di dekat pintu. Adriano menurunkan tubuhnya di hadapan gadis kecil berambut cokelat tersebut.
“Tadinya aku ingin melihatmu bermain piano, tapi sepertinya aku datang terlambat. Tak apa. Kita akan memiliki banyak waktu,” ujar Adriano yang segera mengangkat tubuh mungil Miabella. Dia mengendongnya dengan sebelah tangan. Bobot sekecil Miabella, bukanlah hal yang terlalu berarti untuk si pemilik tubuh tegap itu.
“Lihatlah. Aku membawakan sesuatu untukmu.” Adriano meraih paper bag yang diletakannya di atas meja. Dia lalu mendudukan Miabella pada salah satu kursi.
Melihat hal itu, Mia segera bangkit dan menghampiri mereka. Diperhatikannya raut wajah Adriano yang seketika terlihat berbeda, ketika sedang berhadapan dengan putrinya.
Adriano mengeluarkan sepasang sepatu cantik dengan merk ternama, untuk gadis kecil bermata abu-abu tersebut. “Apa kau menyukainya, Bella?” tanya pria itu diiringi senyuman.
Miabella tersenyum seraya mengangguk. Dia lalu mendongak kepada Mia, yang kemudian mengelus rambut panjangnya. “Ibu menyukainya juga?” tanya Miabella polos.
Mia menanggapi pertanyaan gadis kecil itu dengan sebuah anggukan setuju. “Itu sepatu yang sangat cantik, Sayang,” sahut Mia seraya mengecup pucuk kepala Miabella. Dia lalu melirik Adriano yang ternyata tengah menatapnya. Namun, Mia tak ingin melawan tatapan itu. Dia lebih memilih untuk menghindar dan kembali mengalihkan perhatian kepada Miabella. “Apa kau ingin kubuatkan sesuatu untuk makan siang, Bella?” tawar Mia lembut.
“Aku ingin mengajak paman tampan untuk bermain. Bolehkah, Bu?” tanya Miabella membuat kedua orang dewasa itu saling pandang, setelah mendengar sebutan gadis kecil tersebut untuk Adriano.
__ADS_1