
"Claudia, kemarilah. Kita kedatangan tamu, istimewa," seru Emiliano seraya mempersilakan Adriano dan Mia untuk duduk. Tak berselang lama, seorang wanita berambut ikal sebahu muncul di ruangan itu. Dia cukup terkejut melihat kedatangan Adriano bersama seorang wanita dan anak kecil. Claudia yang merupakan ibu tiri Adriano segera menghampiri mereka. Akan tetapi, dia tidak ikut duduk. Wanita itu hanya berdiri di sebelah kursi yang ditempati oleh Emiliano.
Tatapan tajam penuh rasa penasaran, Claudia layangkan kepada Mia yang saat itu hanya terdiam. Sejujurnya, Mia tak tahan berada di sana. Dia teringat akan cerita dari Adriano tentang kekejaman sang ibu tiri. Namun, Mia mencoba untuk tetap terlihat tenang.
"Apakah ini istrimu, Adriano?" tanya Claudia dengan nada bicaranya yang terdengar sinis.
"Ya," jawab Adriano dingin dan singkat.
"Ow ...." hanya kata itu yang keluar dari bibir Claudia saat menanggapi jawaban Adriano.
"Kenapa kau tidak menghidangkan minuman untuk tamu-tamu kita?" tegur Emiliano seraya melirik sang istri.
"Tidak usah. Lagi pula kami hanya mampir sebentar," cegah Adriano sebelum Claudia sempat menjawab.
"Kau dengar itu, Emiliano? Putramu hanya mampir sebentar," ulang Claudia dengan nada bicara yang terkesan tidak bersahabat. Sementara Emiliano hanya berdecak pelan.
"Memangnya ada perlu apa lagi kau datang kemari? Aku pikir kau akan memberikan sedikit uangmu untuk membantu kami. Bukankah kau sudah tahu jika perusahaan ayahmu sedang di ambang kehancuran?" Claudia kembali berkata dengan nada bicara yang teramat sinis. Lagi-lagi, karena masalah uang.
"Biarkan anak-anakmu yang bertanggungjawab. Mereka yang menikmati uang perusahaan. Kau pikir aku tidak mengetahuinya?" lawan Adriano dengan senyuman sinis di sudut bibirnya. Pria itu masih memperlihatkan sikap yang tenang.
"Apa yang kau tahu? Jika kau tak ingin mengeluarkan uang dari kantongmu, setidaknya biarkan Emiliano untuk menjual rumah peninggalan Alessandro. Harga jual rumah itu cukup untuk menutupi utang-utang kami, meskipun tak seluruhnya bisa dilunasi," ujar Claudia lagi semakin berani.
Adriano menanggapi ocehan ibu tirinya dengan tawa pelan. Dia tak menyangka jika wanita itu ternyata masih belum berubah. "Aku pikir, usia tua akan membuatmu menjadi jauh lebih bijaksana. Ternyata diriku sudah keliru," sesalnya. "Lagi pula, aku telah membahas hal itu dengan suamimu kemarin," Adriano mengarahkan pandangannya kepada Emiliano yang hanya berdiam diri. Terlihat jelas, jika sang istri jauh lebih dominan jika dibandingkan dengan dirinya. Pantas saja jika dulu dia tak dapat mempertahankan Adriano sebagai putranya dari Domenica.
"Ya. Kami telah membahas itu. Bukankah aku juga sudah membicarakannya denganmu?" Emiliano menoleh kepada sang istri.
__ADS_1
"Kau lebih senang bekerja di perkebunan daripada membangun kembali perusahaanmu?" nada bicara Claudia tiba-tiba meninggi kepada Emiliano. Tak ada rasa hormat sama sekali dari wanita itu kepada suaminya.
Sementara Adriano segera menepuk-nepuk punggung Miabella yang terbangun sebentar karena suara keras Claudia. "Kau membuat tidur putriku terganggu," ujar Adriano dengan tatapan dingin kepada Claudia.
"Hah, putrimu? Putri siapa?" cibir Claudia menanggapi ucapan Adriano. "Aku menawarkan seorang gadis cantik dan juga penuh prestasi padamu, tapi kau tak berniat untuk berpaling dari janda beranak satu ...."
"Tutup mulutmu!" semua sikap tenang Adriano yang sejak tadi dia pertahankan, akhirnya terusik saat Claudia mulai menyinggung status Mia yang merupakan seorang janda. Raut wajah Adriano berubah seketika. Mia pernah melihat hal seperti itu, sewaktu dirinya mendapat gangguan dari para pria di Yunani. Namun, yang Adriano hadapi saat ini bukanlah sekelompok preman bersenjata, melainkan hanya seorang wanita tua bermulut besar. Segera dia sentuh paha sebelah kanan Adriano. Mia mengusap-usapnya dengan lembut. Wanita itu berharap agar sang suami dapat menguasai dirinya.
"Jaga bicaramu atau aku akan melupakan bahwa kau adalah istri dari ayahku!" suara Adriano terdengar sangat dalam dan tegas.
"Claudia, tolong hentikan. Masuklah," pinta Emiliano dengan raut wajah yang tidak enak. Dia tak pernah mengharapkan situasi seperti itu.
Sementara Claudia hanya bisa tertegun ketika melihat ekspresi Adriano yang tampak begitu mengerikan. Sudut hatinya berbisik bahwa yang dia hadapi kini, bukanlah lagi anak kecil kurus yang bisa dia aniaya dengan mudah.
“Ka-kau pikir aku takut padamu, Adriano?” Claudia setengah mendongak sembari melipat tangan di dada. Sekuat mungkin dia sembunyikan rasa takutnya dan berusaha menantang anak tirinya itu. Hal tersebut dia lakukan hanya sekadar untuk menunjukkan bahwa dirinya tetap memiliki kuasa dan tak mudah untuk ditaklukkan.
Emiliano tampak gugup dan salah tingkah. Namun, pada akhirnya dia tersenyum dan mengangguk pelan. “Aku menerima tawaran dan semua saranmu, Nak. Aku sudah mengajukan permohonan bangkrut dan akan segera menjual seluruh aset perusahaan untuk mengembalikan modal. Setelah itu, aku akan mulai bekerja di bawah perintah tuan Damiano,” jawabnya tegas dan lugas sembari melirik Claudia diam-diam.
Adriano tersenyum puas. Wajah tampannya terlihat berseri, tapi tidak demikian halnya dengan Claudia. Wanita itu benar-benar marah sampai dia harus menghentakkan kakinya sebelum meninggalkan ruang tamu.
“Aku bahkan tidak berani meminta maaf padamu atas semua sikap Claudia,” keluh Emiliano. Suaranya lirih tertahan yang dengan segera tenggelam oleh suara nyaring sang istri yang tengah memanggil anak-anaknya.
“Agustine, Ilario, Gianna! Kemarilah! Kita harus bicara!” teriak Claudia.
Kali ini, Miabella benar-benar terkejut dan terbangun. Gadis kecil itu menatap kebingungan ke sekitarnya. “Di mana ini, Bu?” bisiknya pada Mia.
__ADS_1
“Tenanglah, Sayang. Kita akan segera pergi dari sini,” selesai bicara demikian, Adriano segera bangkit dan langsung diikuti oleh Mia.
“Sebaiknya kau menenangkan istrimu terlebih dulu, Padre. Aku pamit,” pria itu mengangguk pelan pada sang ayah dan bermaksud meninggalkan kediaman Emiliano.
Akan tetapi, baru saja langkahnya mendekati pintu keluar, Claudia kembali berseru, “Jangan mempersulit semuanya, Adriano! Serahkan rumah itu pada kami! Emiliano lebih berhak karena dia adalah adik kandung dari Alessandro Moriarty. Agustine dan Ilario juga jauh lebih berhak darimu, karena mereka menyandang nama Moriarty, tidak sepertimu yang hanya dilahirkan dari rahim wanita murahan!” amarah Claudia sudah tak dapat dia bendung lagi. Wanita itu berkali-kali mendengus kesal, dengan deru napas terengah-engah dan wajar yang merah padam. Dia juga berkacak pinggang sambil terus menatap tajam Adriano.
“Claudia, sudahlah! Kau tak tahu siapa yang kau hadapi saat ini,” Emiliano berusaha menengahi dan meredam suasana.
Lain halnya dengan Adriano. Dia tidak akan bisa mengontrol emosinya saat itu jika saja dirinya tidak sedang menggendong Miabella. Perlahan dan dengan sikap tenang, Adriano berbalik, lalu tersenyum sinis pada Claudia. “Katakan itu pada pengacara paman Alessandro. Kau boleh mengajukan tuntutan ke pengadilan atas surat tanah resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah distrik yang jelas-jelas mencantumkan namaku sebagai ahli waris rumah tersebut. Akan tetapi, kau harus ingat. Biaya menyewa pengacara sangatlah mahal dan kau sudah bisa dipastikan akan kalah. Gunakan otakmu sekali-sekali, Matrigna. Jangan sampai kau rugi berkali lipat,” ejek Adriano seraya menyeringai puas.
“Jaga bicaramu! Dasar anak haram!” Agustine yang tidak terima ibunya dihina, segera maju dan menghampiri Adriano. Matanya berkilat penuh amarah dengan telunjuk lurus mengarah kepada pria bermata biru itu.
Miabella yang masih balita, tentu saja merasa sangat ketakutan akan situasi tersebut, sehingga Mia memutuskan untuk membawa putrinya keluar terlebih dahulu. Ekor mata Adriano terus mengikuti Mia hingga wanita itu menghilang dari pandangan, kemudian berbalik menatap tajam pada adik tirinya.
“Kusarankan padamu, harusnya kaulah yang harus menjaga bicara,” Adriano lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. “Anak buahku tersebar di mana-mana. Sekali tombol ini kutekan, maka mereka akan datang kemari dan membakar rumahmu. Mereka tak akan berhenti sampai hunian megah ini menjadi abu,” ujarnya datar.
“Akan tetapi, aku bukanlah seorang yang semena-mena. Untuk menghadapi makhluk lemah seperti kalian, aku hanya perlu menggunakan kata-kata saja. Mundurlah, Agustine atau akan kupatahkan jari-jarimu,” desis Adriano. Raut wajahnya berubah dingin dan tanpa ekspresi. Aura kebengisan mulai terpancar dari sana.
Agustine langsung mundur beberapa langkah setelah mendengar ancaman dari Adriano. Sedangkan tangannya mengisyaratkan pada Ilario untuk maju membantunya.
Pandangan Adriano pun berpindah pada Ilario yang berdiri tak jauh dari Agustine. Sementara Claudia dan Gianna hanya bisa terdiam sambil saling berpegangan.
Secara sekilas, Adriano dapat menilai bahwa Ilario adalah seorang yang penakut. Gertakan kecil darinya, cukup membuat saudara tirinya itu gemetaran.
“Astaga, Padre. Aku turut iba. Kedua anak laki-lakimu yang menyandang nama Moriarty tidak ada yang bisa diandalkan. Paman Alessandro akan menangis karena hal ini. Benar-benar memalukan,” Adriano terkekeh pelan sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
__ADS_1
Sementara Emiliano hanya dapat menunduk seraya menggeleng pelan. Dia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Dirinya menjadi serba salah. Bagaimanapun juga, mereka semua adalah keluarganya.
“Kutunggu kedatanganmu di Casa de Luca. Damiano sudah mempersiapkan segalanya. Satu lagi, aku datang kemari untuk berpamitan karena besok kami akan kembali ke Monaco,” tutup Adriano seraya melangkah pergi. Dia ingin secepat mungkin menjauh dari rumah yang membawa banyak kenangan buruk tentang masa kecilnya.