
Paris, Perancis.
Suara derap langkah dari hak sepatu pantofel, menggema di dalam koridor kediaman megah Alexander D'aurrville. Siang itu, Pierre Martin D'aurville atau yang lebih dikenal dengan nama Pierre Corbyn, baru kembali dari perusahaan sang ayah yang dalam beberapa hari masih terbaring karena kondisi kesehatannya tak juga membaik.
"Tuan," sapa seorang pelayan wanita yang baru keluar dari kamar Alexander. Dia mengangguk sopan dengan wajah tertunduk.
"Apa ayahku sedang tidur?" tanya Pierre kalem.
"Tuan besar sudah minum obat tadi. Kebetulan dia sedang menerima tamu saat ini," jawab si pelayan tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Baiklah. Kau boleh kembali melanjutkan pekerjaanmu," ucap Pierre. Dia menghela napas pelan, kemudian melanjutkan niat menuju kamar sang ayah yang tinggal beberapa langkah lagi. Sebelum mengetuk pintu dengan ukiran berwarna emas pada pinggirinnya, Pierre sempat tertegun sejenak. Sayup-sayup, pria yang masih betah melajang itu mendengar suara seorang wanita dari dalam sana. Suara yang sudah sangat dia kenal dengan baik.
Pierre kemudian mengetuk pintu sebelum membukanya. Dia melangkah masuk dengan gagah dan penuh percaya diri. Apa yang menjadi dugaannya memang tidak keliru. Di dalam kamar itu tengah duduk seorang wanita cantik berambut pirang. Dari penampilannya, terlihat jika wanita cantik tersebut berasal dari kalangan atas. Dia duduk di tepian ranjang mewah dengan tirai putih yang ditata sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah hiasan yang indah.
"Delphine Varane. Angin apa yang membawamu kemari?" sapa Pierre membuat wanita itu seketika menoleh, dan segera berdiri dengan raut wajah yang terlihat begitu sumringah saat melihat keberadaan Pierre di sana.
"Pierre? Astaga." Wanita bernama Delphine tadi segera menghampiri Pierre yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Alexander. Tanpa sungkan, dia mencium pipi pria bertubuh tegap itu. "Aku pikir paman Alexander hanya bercanda saat dia mengatakan bahwa kau ada di sini," ucapnya setelah melepaskan tangan dari wajah maskulin ajudan setia Adriano tersebut.
"Aku sudah lama berada di sini. Padahal niat awal hanya untuk melihat kondisi ayah, tapi ternyata ada banyak hal yang harus kuurus." Pierre kembali menyunggingkan senyuman kalem. Dia lalu melihat ke arah tempat tidur. Tampaklah Alexander yang sepertinya sudah ingin beristirahat. Pria berambut pirang itu pun melangkah ke sana.
"Ayah," sapanya sambil duduk di tepian tempat tidur, dengan posisi menghadap kepada pria tua yang tengah terbaring lemah.
"Bagaimana? Apa pertemuannya lancar?" Dalam kondisi sakit pun, Alexander masih saja memikirkan perusahaan.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku sudah mengurus semuanya. Beristirahatlah dulu." Lembut nada bicara Pierre kepada sang ayah.
Namun, Alexander tak segera melakukan apa yang putranya sarankan. Dia malah melihat ke arah Delphine. "Kalau begitu, temanilah Delphine berbincang sebentar. Kasihan dia sudah meluangkan waktu untuk datang dan menjengukku kemari," ucapnya seraya kembali mengarahkan pandangan kepada putra bungsunya.
"Baiklah," balas Pierre masih dengan sikap yang lembut. Setelah itu, dia lalu mengecup kening sang ayah. Dibetulkannya letak selimut yang menutupi tubuh renta tersebut. "Kami permisi dulu," pamit pria bermata hijau itu seraya berdiri. Pierre kemudian menghampiri wanita cantik tadi. Dia mempersilakan Delphine untuk melangkah keluar kamar terlebih dahulu.
"Apa sedih melihat kondisi paman Alexander saat ini," ucap Delphine sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Kondisi ayahku justru sudah jauh lebih stabil, jika dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu," terang Pierre. Dia mempersilakan Delphine untuk duduk.
Wanita cantik berambut pirang itu pun memilih tempat yang berdekatan dengan Pierre. Dia duduk dengan kedua kaki tertutup rapat, dan posisi tubuh yang setengah menghadap kepada pria tampan empat puluh tahun tersebut. "Apa kamu akan seterusnya tinggal di Paris?" tanyanya. Tatap mata Delphine begitu lembut dan juga hangat.
"Entahlah. Aku masih terikat pekerjaan dengan tuan D'Angelo. Kami harus membicarakan hal ini terlebih dahulu. Sekarang majikanku sedang berada di Italia," jelas Pierre dengan tenang.
"Aku ingin sebuah pengalaman yang berbeda," balas Pierre menanggapi ucapan wanita dengan rambut panjang bergelombang tersebut. "Apa kau akan lama di Paris?" tanyanya kemudian.
"Entahlah. Jika ada yang membuatku merasa tertarik di kota ini, aku bisa tinggal lebih lama dari yang sudah kurencanakan," sahut Delphine seraya menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
"Kau tahu bahwa ada banyak hal yang menarik di Paris." Pierre kembali menanggapi dengan santai, meskipun dia tahu maksud Delphine yang sebenarnya. Sudah sejak lama, wanita cantik berambut indah itu menaruh rasa yang istimewa. Meskipun Delphine tak mengungkapkannya secara terang-terangan, tapi Pierre bukanlah pria yang bodoh.
Perbincangan hangat pun terus berlangsung di antara keduanya. Dari mulai obrolan ringan hingga masalah pekerjaan. Tanpa terasa, waktu sudah beranjak sore. Sekitar pukul lima belas, Delphine pun berpamitan. Dengan senang hati, Pierre mengantarnya hingga ke depan. Tak lupa, dia juga membukakan pintu mobil untuk wanita cantik tersebut.
"Sampaikan salamku kepada paman Alexander. Aku akan mampir lagi kapan-kapan," ucap Delphine sebelum masuk ke dalam kendaraannya.
__ADS_1
"Tentu," sahut Pierre dengan senyuman lembut.
"Jika kau ada waktu, mampirlah ke apartemenku. Akan kubuatkan ayam panggang kesukaanmu." Delphine tersenyum menggoda. Tatapannya pun berubah menjadi penuh rayuan. Jika pria yang ada di hadapannya bukanlah Pierre, maka sudah pasti mereka akan langsung bermesraan saat itu juga.
Namun, Pierre selalu dapat mengendalikan diri. Terlebih karena dia hanya menganggap Delphine sebagai sahabat. "Kau memang koki yang luar biasa. Akan kuusahakan untuk mampir, itu juga jika dirimu masih ada di Paris," balas pria berambut pirang itu tetap menunjukkan sikapnya yang tenang.
""Sudah kukatakan tadi, aku akan tinggal lebih lama andai ...." Delphine tak melanjutkan kata-katanya, ketika sebuah mobil taksi masuk ke halaman dan berhenti tak jauh dari tempatnya dan Pierre berada. Begitu juga dengan Pierre yang ikut menatap dengan sorot penasaran ke arah taksi tadi.
Tak lama kemudian, pintu untuk penumpang pun terbuka. Tampaklah stiletto hitam yang menghiasi kaki jenjang berkulit eksotis dan begitu mulus terawat. Setelah itu, wajah cantik si pemilik kaki tadi terlihat jelas saat dia keluar dari dalam alat transportasi tersebut. Adalah wanita bermata abu-abu dengan tatapan yang terarah kepada Pierre. Dia melangkah anggun, menghampiri pria berposur tegap itu.
"Nona Alegra," sapa Pierre yang tak menyangka bahwa wanita muda itu akan datang ke kediamannya.
"Kau di sini?" balas Bianca. Rona kesombongan yang selama ini selalu ada dalam dirinya, tak terlihat sama sekali saat berhadapan langsung dengan Pierre.
"Tentu saja aku di sini. Paris adalah kampung halamanku, dan bangunan megah ini merupakan kediaman dari keluarga D'aurville, keluargaku. Seharusnya kau tak perlu merasa heran lagi," ujar Pierre tenang. Dia mengempaskan napas pelan untuk sesaat. "Justru semestinya aku yang bertanya dan merasa heran, ada keperluan apa kau datang kemari?" Nada bicara Pierre terdengar aneh dan sulit diartikan di telinga Delphine. Dia tak mengetahui siapa wanita cantik yang tengah bertegur sapa dengan Pierre.
"Kau tidak ingin mengenalkan kami berdua, Pierre?" tanya Delphine menyela. Dia merasa tak nyaman karena seolah diabaikan.
🍒 🍒 🍒
Hai semua. Ada satu rekomendasi novel keren dari ceuceu. Rekomended banget, karena ceritanya dijamin beda dari yang lain. Ceuceu tahu sendiri. Jangan lupa mampir, ya 😉
__ADS_1