Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Lavato Via


__ADS_3

Mia tersenyum manis ketika Nico membawa dirinya menuju apartemen milik Adriano, yang terletak di pusat kota Brescia. Entah kejutan apa lagi yang sudah pria itu siapkan untuknya, selain dari gaun malam indah dan sepasang sepatu yang cantik. Malam itu, Mia berdandan tidak seperti biasa. Riasan yang dia gunakan jauh lebih terlihat dari kesehariannya.


Tak berselang lama, mobil yang Nico kendarai sudah tiba di tempat tujuan. Pria itu segera membukakan pintu untuk Mia. Dia juga mengantarkan wanita yang sudah tampil sangat anggun itu hingga ke ruang apartemen Adriano. Setelah itu, Nico bergegas kembali ke Casa de Luca.


Ruang apartemen mewah itu terlihat sepi. Terakhir kali Mia ke sana, adalah ketika dirinya sedang dilanda kemelut rumah tangga bersama Matteo. Kini, Mia kembali lagi ke tempat itu dengan status sebagai istri dari Adriano. Namun, di mana pria itu sekarang?


Dengan hati-hati, Mia melangkahkan kakinya di atas lantai berlapis marmer berwarna hitam yang sangat mengkilap. Pandangan wanita itu tertuju ke segala arah. Dia mencari sosok tampan yang telah mengundangnya ke sana. “Adriano?” suara lembut Mia menggema di dalam ruangan tanpa sekat itu. “Kau di mana?” kembali terdengar suara lembut Mia di sana. Namun, tetap saja tak terdengar ada jawaban dari pria yang tengah dia cari. Sambil mengempaskan napas pelan, Mia lalu mendekati meja dari mini bar kemudian meletakan clutch bagnya di sana.


Mia lalu mengeluarkan bedak padat miliknya. Dia bermaksud hendak merapikan riasan. Akan tetapi, wanita itu segera mengurungkan niat, ketika dia melihat bayangan seraut wajah tampan dalam pantulan kaca tempat bedaknya. Tersipu, wanita dengan rambut panjang yang digerai bebas itu sedikit menundukan wajah. Namun, ternyata Adriano tak juga menghampirinya. Pria itu masih berdiri dengan satu tangan di dalam saku celana. Sedangkan Mia juga tak berani menoleh.


Beberapa saat berlalu, Adriano membiarkan Mia berdiri dalam gelisah dan salah tingkah. Pada akhirnya, terdengar derap sepatu yang dikenakan pria itu semakin mendekat. Akan tetapi, bukan ke arah Mia berada. Adriano menyalakan sebuah pemutar musik. Tak lama, terdengarlah alunan lembut yang mengisi seluruh ruangan tersebut.


Sesaat kemudian, terciumlah aroma citrus bercampur wangi jeruk dan rempah-rempah yang menyegarkan. Mia sangat mengenal bau harum yang khas itu. Degub jantungnya mulai memacu. Entah kenapa dirinya harus merasa begitu gugup, terlebih ketika helaan napas berat Adriano mulai terdengar di telinga sebelah kanannya.


Mia ingin segera menoleh. Dia hanya dapat menggigit bibirnya dan berusaha untuk tetap terlihat tenang. Namun, sepertinya dia hendak pingsan saat itu, ketika Adriano memperlihatkan sebuah kotak kecil berwarna hitam ke hadapannya. "Apa ini?" tanya Mia. Dia akhirnya dapat mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Bukalah," suruh Adriano setengah berbisik.


Mia lalu mengambil kotak itu, sementara Adriano masih berdiri di belakang. Seketika, kedua matanya yang berwarna cokelat seakan tak mampu berkedip. Mia tak percaya dengan isi dari kotak tersebut. Adalah sebuah kalung dengan sembilan puluh enam butir berlian transparan, yang terjalin menjadi bentuk asimertis nan unik. Kalung itu tampak sangat berkilau dan tentu saja mewah. Mia tak mampu berkata apa-apa, bahkan ketika Adriano mengambil kalung tersebut dari dalam kotaknya.


Tanpa banyak bicara, Mia menaikan rambutnya agar tak menghalangi leher saat Adriano memasangkan kalung itu. Sesaat kemudian, Adriano memegangi lengan Mia dan mengelus lembut kulit wanita itu. "Kau menyukainya, Mia?" bisik pria itu.


Mia mengangguk pelan. Dia lalu menyentuh kalung berlian yang kini sudah terpasang di leher dan semakin mempercantik penampilannya. "Ini terlalu berlebihan, Adriano," ucap Mia pelan.


"Tidak ada satu hal pun yang terlalu berlebihan untukmu dan Miabella. Aku sudah terlalu lama menikmati semua ini sendirian. Kini saatnya kupersembahkan segalanya untuk kalian berdua. Aku benar-benar bahagia karena dapat memiliki dirimu dan gadis kecil itu," Adriano mengecup pundak Mia dengan mesra. Dia lalu membalikan badan Mia hingga menghadap padanya. Dirangkulnya pinggang ramping sang istri. Tubuh Mia terlihat kecil saat berada dalam dekapan lengan kekar Adriano.


Beberapa saat lamanya, mereka berdua menikmati alunan musik yang masih setia menemani. Merasa tak nyaman, Mia lalu mendongak, seakan memberi sebuah harapan dan juga jawaban dari permintaan maaf Adriano. Dia membiarkan pria itu menikmati bibirnya yang dipoles dengan warna burgundy.


"Aku mencintaimu, Mia. Bagiku, tak ada wanita cantik lagi selain dirimu. Tolong jangan pernah meragukan hal itu," ucap Adriano dengan setengah berbisik. Sedangkan Mia tak segera menjawab. Dia hanya menatap paras tampan bermata biru di hadapannya.


"Kau tahu? Sampai saat ini, aku masih merasa jika diriku tengah tertidur dalam buaian mimpi indah. Jika memang ini hanyalah sebuah mimpi, maka aku tak mengharapkan untuk terbangun," lanjut Adriano lirih. "Aku memang tak terbiasa untuk mengumbar kemesraan di depan umum. Bagiku, hanya dengan menggenggam tanganmu saja itu sudah sangat indah. Apalagi jika aku bisa sampai menyentuh dan menciummu sepuas hatiku," punggung tangan Adriano kembali membelai pipi dengan warna merah merona itu. Adriano kembali melu•mat bibir Mia, dengan sentuhan tangannya kini berada di punggung sang istri yang terbuka lebar. Gaun malam backless itu benar-benar telah membuat Mia tampil sangat luar biasa.

__ADS_1


"Katakan jika kau juga mencintaiku," pinta Adriano kemudian. Tanpa sadar Mia menganggukan kepalanya saat menanggapi ucapan pria itu. "Katakan, Mia," pinta Adriano lagi seraya menatap wajah cantik sang istri.


"Iya, Adriano," jawab Mia pelan. "Aku tak menyangka jika jaring asmara yang selalu kau tebarkan akhirnya dapat menjeratku dengan begitu cepat. Aku tak kuasa untuk melepaskan diri. Kau sudah mengikatku dengan kencang. Kau membawaku dalam kehidupan yang baru, melepaskanku dari bayang-bayang Matteo yang selama ini sangat sulit untuk dihilangkan. Kau ... kau melakukan segalanya untukku ...." Mia seakan kehabisan kata-kata. Dia hanya dapat mengulum bibirnya.


"Kau jauh lebih dari itu, Mia," balas Adriano. "Ketika tubuhku terombang-ambing di atas air, yang ada dalam kepalaku hanya satu. Bayangan gadis kecil berseragam sekolah itu, senyuman dan suaranya telah membangunkanku. Dia seakan mengembalikan kesadaran dan membuat diriku kembali dari kematian. Gadis kecil itu adalah dirimu. Kau adalah hidupku, Florecita Mia. Dua kali sudah aku diselamatkan olehmu. Lalu, apa yang bisa kuberikan untukmu? Apapun yang kau inginkan," Adriano menangkup wajah cantik Mia dengan kedua telapak tangannya.


"Kau ingin dunia, Mia? Tak hanya dunia, tapi juga surga akan kupersembahkan untukmu. Tetaplah bersamaku. Aku sudah bosan berada dalam kesendirian. Tetaplah denganku, Florecita Mia," lagi Adriano mencium bibir berwarna burgundy itu untuk kesekian kalinya.


"Bagaimana jika kita rayakan dengan segelas anggur dari Casa de Luca?" tawar Adriano dengan senyumannya yang menawan. Dia lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Mia dan berjalan menuju rak khusus tempat menyimpan minuman. Anggur Du Fontaine telah dituangkan ke dalam gelas. Adriano membawanya kepada Mia, yang sudah duduk di atas salah satu bangku bulat di dekat meja bar. Namun, Mia terlihat ragu. Dia belum pernah mencicipi minuman beralkohol meskipun dengan kadar rendah. Untuk menghargai Adriano, Mia menerima gelas kristal itu dan bersulang dengannya.


Satu tegukan telah berhasil membasahi tenggorokan Mia. Wanita itu menunjukan ekspresi yang tak biasa. Namun, Mia seakan ketagihan untuk kembali meneguk isi dalam gelas yang sedang dia pegang. Makin lama, entah berapa gelas yang sudah dia habiskan. Satu yang pasti, Mia mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.


Semua terasa begitu indah bagi wanita dua puluh sembilan tahun itu, terlebih saat Adriano berdiri di hadapannya. Pria itu kemudian menurunkan sedikit tubuhnya dan meraih kaki jenjang Mia yang berhiaskan sepatu high heels berwarna gold. Tanpa ragu, Adriano menjalarkan ciuman lembut menyusuri betis mulus Mia. Sementara Mia menyandarkan punggungnya pada pinggiran meja dengan kedua tangan yang dia rentangkan lurus. Jemari lentiknya menggenggam erat pinggiran meja tersebut. Sedangkan wajah cantik itu mendongak ke atas.


Mia sepertinya ada dalam pengaruh minuman. Tubuhnya terasa panas, ditambah karena dia mendapatkan perlakuan yang membuatnya merasa semakin terbakar. Dire•masnya rambut belakang Adriano yang tengah membenamkan wajah di antara pangkal pahanya. "Bawa aku," pinta Mia dengan lirih.

__ADS_1


"Ke mana?" bisik Adriano menghangat di telinga Mia.


__ADS_2