
Keesokan harinya.
Coco baru kembali dari Roma. Semenjak kematian Matteo, pria berambut ikal itu memang lebih sering menghabiskan waktu di Casa de Luca. Coco merasa khawatir dengan Damiano dan yang lainnya. Lagi pula, setelah pusat organisasi berpindah ke Palermo, di Casa de Luca hanya ada beberapa penjaga.
Pagi itu, Coco bertemu dengan Damiano yang hendak pergi ke perkebunan. Damiano memberitahunya bahwa Mia telah kembali. Namun, satu hal yang membuat Coco terkejut setengah mati, ialah ketika Damiano menceritakan tentang Adriano yang ternyata masih hidup. Adriano bahkan yang mengantarkan Mia kembali ke Casa de Luca.
"Di mana Mia sekarang?" tanya Coco. Raut wajahnya yang biasa terlihat ramah dengan senyuman dan segala tingkah kocak, kini berubah drastis. Pria itu, terkadang masih suka merenung sendiri sambil memikirkan kepergian Matteo.
"Mia ada di ruang kerja. Aku baru bicara dengannya tadi setelah sarapan," jawab Damiano tenang. "Jangan mengatakan sesuatu yang bisa memantik emosinya, Nak. Mia masih merasa terpuruk hingga saat ini. Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, maka utarakanlah dengan baik-baik, meskipun kalian telah saling mengenal sejak lama," pesan Damiano bijaksana. Dia seperti sudah dapat menebak apa yang akan Coco bahas dengan Mia.
Namun, Coco tak mengindahkan pesan dari pria tua itu. Dia mendengkus pelan, seraya berlalu begitu saja. Langkahnya pun tampak terburu-buru.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Coco langsung masuk ke ruang kerja Matteo. Raut wajahnya seakan tak terima, ketika mengetahui bahwa Mia kembali ke Casa de Luca dengan diantarkan oleh Adriano yang ternyata masih hidup. Di balik rasa tidak percaya, dia juga merasa kecewa atas sikap Mia yang dirinya pikir telah berpaling kepada pria itu.
“Kau sungguh keterlaluan, Mia!” ucap Coco dengan nada cukup tinggi dan tanpa basa-basi. “Jadi, selama ini kau pergi menghilang karena menemui Adriano D’Angelo? Luar biasa sekali+ Di mana rasa setiamu terhadap sahabatku? Aku dan kedua saudarimu, berkeliling Roma untuk mencari keneradaanmu! Namun, ternyata kau tengah bersama pria itu!” Coco terlihat begitu emosi.
Setelah kematian Matteo, pria itu memang seakan kehilangan rasa humor dalam dirinya. Dia begitu terpukul dan tentu saja tak dapat memercayai hal tersebut.
Hubungan persahabatan yang terjalin antara dia dan Matteo, memang lebih dari sekadar istimewa. Karena itulah, Coco sempat terpuruk sebelum akhirnya dapat kembali berdiri tegak, dan melanjutkan hidupnya dengan normal. Meskipun, rasa kehilangan itu tak juga sirna dari dalam hatinya.
“Apa maksudmu, Ricci?” Mia menoleh dengan raut tak mengerti. “Jangan bicara sembarangan padaku!” sergah Mia tak terima.
“Lalu, buktinya? Kau membawa pria yang kukira telah mati kemari. Apa maksud semua itu, Mia?” geram Coco. Dari awal, dia memang tidak terlalu menyukai Adriano, terlebih sekarang setelah Matteo tiada. “Apa kau tidak berpikir, bisa saja Adriano D’Angelo merupakan dalang dari tewasnya Matteo!” tegas pria berambut ikal itu lagi dengan nada tinggi.
“Adriano sudah bersumpah padaku bahwa dia tak ada hubungannya dengan kematian Theo ....”
“Kau percaya begtu saja, Mia? Oh, ya! Tentu saja. Aku sudah dapat menduganya!” Coco kembali mendengkus kesal.
Mia membalikan tubuh dan kembali menghadap jendela. Sesuatu yang selalu dilakukannya sejak dulu. Dia memandangi luasnya hamparan kebun anggur, yang kini dikelola oleh Damiano. Entah siapa yang nantinya akan mampu mengurus perkebunan luas itu, andai Damiano telah tiada.
“Karena itulah aku harus membuktikannya, Ricci,” ucap Mia dengan suara bergetar. “Aku benar-benar ingin tahu siapakah orang yang telah berani menghabisi suamiku, dengan cara yang curang seperti itu. Aku selalu memikirkan hal tersebut setiap saat. Hatiku tidak tenang sebelum dapat mengungkap dalang di balik semua ini.” Lirih, Mia berkata sambil mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
“Kenapa harus D’Angelo, Mia?” Coco belum juga dapat mengendalikan kemarahannya.
“Karena dia yang paling tepat, Ricci,” jawab Mia pelan.
“Matteo adalah sahabat sekaligus saudara bagiku!” Nada bicara Coco kian meninggi.
“Ya, dan dia adalah suamiku!” Mia tak kalah tegas seraya membalikan badan. Ditatapnya pria yang selama ini sudah dianggap seperti saudara. Coco bukan lagi orang asing. Mia selalu berbagi segala hal dengan sahabat dekat dari Matteo tersebut.
“Kau tahu sendiri seperti apa hubunganku dengan Theo. Kau menjadi saksi seberapa kuat ikatan perasaan yang terjalin di antara kami berdua.” Mia mulai menurunkan nada bicaranya. Sementara, air mata kembali membanjiri wajah cantik nan polos itu.
Semenjak kepergian Matteo, Mia tak lepas dari pakaian berwarna hitam dan tampil tanpa riasan. Dia selalu membawa duka dalam dirinya. “Aku begitu terluka. Menjadi seseorang yang paling menderita di antara kalian semua yang merasa kehilangan!” tegas Mia. “Kau pikir semudah itu melupakan rasa cintaku terhadap Matteo?”
Ccoo lagi-lagi mendengkus kesal. Pria itu memutuskan untuk duduk di salah satu kursi kayu yang ada di sana. Pikirannya kacau. Akan tetapi, dia berusaha untuk segera menetralkannya.
Coco memilih diam sejenak. Dia tak ingin berdebat dengan Mia. Kekasih Francesca tersebut menjadi saksi, dari keterpurukan Mja akibat kematian sang suami tercinta.
Sementara, Mia kembali melayangkan pandangan nanar ke luar jendela. Seperti mimpi, karena dirinya berani menginjakkan kaki kembali di tanah Casa de Luca, dengan segala kenangan indah yang begitu membekas.
Mia menoleh dan menatap pria tampan yang tak lama lagi akan menjadi adik iparnya. Dengan langkah tenang, wanita itu mendekat kepada Coco yang menatapnya sambil duduk. Mia pun ikut duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari tempat Coco berada.
“Aku sudah memikirkan rencana itu matang-matang, Ricci. Menurutku, ini adalah jalan satu-satunya agar aku bisa mengungkap siapa dalang dari kematian Matteo. Aku harap kau bisa mendukungku,” pinta Mia dengan lirih, serta raut wajah penuh sesal. Dia harus mengumpulkan segenap keberanian untuk dapat mengambil keputusan itu.
......................
Sebuah mobil sport merah berhenti di halaman depan Casa de Luca. Adriano, keluar dari kendaraan itu. Pria tampan tersebut melangkah masuk ke bangunan Casa de Luca, sambil melepas kacamata hitam yang dia kenakan. Sementara, tangan kirinya menjinjing sebuah paper bag dengan logo dari merk terkenal Italia. Dengan penuh percaya diri, pria itu melenggang tenang setelah disambut baik oleh seorang pelayan wanita.
“Di mana Mia?” tanyanya pada pelayan yang terlihat kebingungan. “Maksudku Miabella,” jelas Adriano lagi.
“Oh. Nona muda sedang berlatih piano bersama guru lesnya. Sebentar lagi juga akan selesai,” terang pelayan itu sopan.
“Lalu ... Mia? Um ... Nyonya de Luca?” tanya
__ADS_1
Adriano lagi.
“Sepertinya, nyonya ada di ruang kerja. Apa Anda ingin kupanggilkan agar nyonya menemui Anda di sini?” tawar pelayan itu masih tetap terlihat sopan.
“Tidak usah. Aku akan menemuinya langsung di sana,” tolak Adriano. Dia lalu mengikuti langkah pelayan yang mengantarkannya hingga depan pintu ruang kerja Matteo. Pelayan itu mengetuk perlahan. Setelah terdengar suara Mia dari dalam sana, si pelayan lalu membuka dan melaporkan bahwa Adriano datang untuk bertemu. Mia mengangguk serta mengizinkan pria itu masuk.
“Apa kabar, Mia?” sapa Adriano dengan senyuman menawan yang selalu menghiasi wajah tampannya. Dia meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja. “Aku membawakan sesuatu untuk Miabella. Semoga dia menyukainya,” ucap Adriano membuka percakapan antara mereka.
Mia menatap paper bag dengan logo terkenal itu untuk sesaat. Pandangan wanita cantik tersebut, kemudian beralih kepada pria rupawan berkemeja putih yang masih berdiri menatap dirinya. “Silakan duduk,” ucap Mia sambil mengarahkan tangannya pada kursi yang tersedia. Sementara, dia masih berdiri di dekat jendela.
“Kau tidak ingin duduk denganku, Mia?” tanya Adriano tanpa melepaskan pandangannya dari janda cantik Matteo.
Tanpa banyak bicara, Mia menuruti ucapan Adriano. Dia melangkah ke arah pria itu, kemudian duduk di salah kursi. Mia masih menjaga jarak dengan si pemilik mata biru tersebut. Hatinya gelisah dan tak tahu harus memulai dari mana.
Namun, sepertinya Adriano sudah dapat menebak apa yang tengah Mia rasakan saat itu. “Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?” tanyanya, membuat Mia segera membetulkan posisi duduk sehingga menjadi lebih tegap. Mia mengembuskan napas pelan. Sementara, Adriano masih memperhatikan dengan lekat. Membuat wanita itu menjadi salah tingkah.
“Ya. Kebetulan kau kemari. Kapan kau akan kembali ke Monaco?” Mia terlihat gelisah saat menanyakan hal itu.
“Aku bisa pulang kapan saja ke Monaco. Ini pertama kalinya aku kembali ke Italia setelah tiga tahun terakhir. Namun, jika kau merasa terganggu dengan kehadiranku di sini, maka aku akan bertolak ke Monaco hari ini juga,” ujar Adriano tenang.
“Ah, tidak. Bukan itu maksudku,” bantah Mia dengan segera.
“Lalu?” Adriano mengernyitkan keningnya.
Sementara, Mia terlihat kian gelisah. Wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu tampaknya merasa bingung untuk berkata apa.
“Ada apa, Mia? Katakan saja,” tanya Adriano lagi penasaran.
“Um, begini ....” Mia terdiam sejenak. “Jika kau berniat kembali ke Monaco, maukah kau mengajakku dan Miabella untuk ikut bersamamu?”
Seperti mendapatkan lotre jutaan dolar, ketika Adriano mendengar pertanyaan itu dari Mia. Raut wajah serius yang tadi diliputi rasa penasaran, kini tergantikan oleh binar indah dan berseri. Senyuman lebar pun terlukis di bibir yang dihiasi janggut tipis. Adriano memicingkan matanya, demi menelaah ucapan wanita itu. “Apa maksudmu, Mia? Kau sungguh-sungguh ingin ikut denganku?” Adriano meyakinkan dirinya atas pernyataan wanita itu.
__ADS_1
Mia mengangguk yakin. “Aku dan Miabella akan ikut denganmu ke Monaco. Akan tetapi, hanya setelah diriku berstatus sebagai Nyonya D’Angelo,” tegas Mia memberanikan diri mengatakan hal itu kepada Adriano.