Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Hotel Trevi 2205


__ADS_3

Adriano tampak ragu ketika dia hendak menaiki helikopter yang akan membawanya kembali ke Monaco. Pria itu berkali-kali menoleh kepada Mia yang terus menemani sambil menggenggam jemarinya. “Kau kenapa, Sayang? Kenapa dirimu kelihatan gugup,” tanya Mia yang melihat gelagat tak biasa dari sang suami.


“Apa kau akan baik-baik saja sendirian di sini?” Adriano malah balik bertanya.


“Bicara apa kau, Sayang? Aku tidak sendirian. Ada banyak sekali orang di sini,” ujar Mia seraya menautkan alisnya lalu tertawa renyah.


“Ya, kau benar,” Adriano memaksakan senyum, kemudian menangkup wajah cantik Mia. Lembut dan hangat, Adriano mencium bibir istrinya. “Maaf karena aku harus kembali malam ini juga. Aku akan berkoordinasi dengan Pierre untuk menentukan langkah apa yang akan kami lakukan selanjutnya,” tutur Adriano.


“Aku mengerti,” balas seraya Mia mengangguk pelan. Tak lupa dia juga balas menangkup pipi suaminya. “Kau tampan sekali. Mata birumu selalu menghanyutkan,” rayunya tiba-tiba, membuat Adriano terkekeh.


“Ada apa ini? Tak biasanya kau merayuku,” pikirnya keheranan.


“Entahlah. Sepertinya akhir-akhir ini aku suka sekali melihat mata indahmu,” jawab Mia sembari tersipu.


Adriano tertegun sejenak dan tampak berpikir. “Mungkin sepulang dari Monaco nanti sebaiknya kau melakukan tes kehamilan,” cetusnya sambil tersenyum lebar.


“Mungkinkah?” Mata indah Mia terbelalak lebar. “Jadwal datang bulanku memang sudah mulai tak beraturan akhir-akhir ini. Kadang terlambat, tapi tak lama kembali lagi,” gumamnya.


“Tunggu aku kembali, Mia. Nanti kita akan mengetes kehamilanmu bersama-sama,” tegas Adriano yang masih tetap dalam posisi menangkup wajah cantik sang istri.


“Aku takut kecewa seperti kemarin-kemarin,” balas Mia bimbang.


“Jangan begitu. Kita bisa terus mencoba lagi seandainya gagal,” rayu Adriano diiringi tawa pelan.


“Dasar. Kau memang nakal.” Mia mencubit pinggang Adriano yang terasa begitu keras dan kokoh. “Ti amo, Adriano,” bisiknya lirih.


“Ti amo, Mia.” Adriano membalas ucapan istrinya dengan lebih lembut dan syahdu. Dia mendaratkan ciumannya sekali lagi sebelum bergegas memasuki helikopter. “Akan kusuruh Dante dan Serafino untuk terus mengawal kau dan Miabella,” serunya sambil melambaikan tangan.


“Jangan khawatir berlebihan!” Mia balas melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Dia tak beranjak sampai helikopter yang ditumpangi Adriano terbang dan menghilang di atas langit Casa de Luca.

__ADS_1


Sekitar lima belas menit perjalanan yang harus ditempuh, hingga Adriano tiba di landasan helikopter. Landasan itu berada di atap mansion. Seperti biasa, Pierre sudah siaga menyambutnya. “Selamat datang, Tuan. Aku sudah membaca email yang Anda kirimkan tadi siang,” ujarnya.


“Ya, apa kau sudah mengirimkan beberapa anak buah kita ke hotel Trevi?” tanya Adriano sambil berjalan melintasi landasan dan terus menuju lift yang mengantarkannya langsung menuju ruang kerja.


“Sudah, Tuan. Seperti yang Anda perintahkan. Mereka semuanya menyamar menjadi tamu-tamu hotel. Tak ada yang akan mengetahui jika mereka adalah anggota Tigre Nero, termasuk pria aneh yang berusaha menjebak Anda itu,” tutur Pierre dengan nada bicaranya yang selalu terdengar tenang.


“Bagus,” puji Adriano seraya menekan kunci otomatis ruang kerja. “Apa kau sudah membaca pesan Jacob yang kukirimkan ulang padamu?” tanyanya lagi.


“Sudah, Tuan. Aku sudah berusaha melacak nomor yang mengirimkan pesan kepada Anda. Dia mengajak bertemu di kamar 2205. Akan tetapi, hasilnya nihil. Nomor itu sama sekali tak bisa terdeteksi,” jelas Pierre.


“Lalu, bagaimana dengan kondisi kamar yang telah dipesan Jacob untuk pertemuan kami besok malam? Apa mereka sudah berhasil melihat ke dalam?” tanya Adriano setelah berada di dalam ruang kerja, kemudian duduk di kursi kebesarannya.


“Salah satu dari anak buah kita menanyai seorang pegawai housekeeping yang bertugas menyiapkan kamar 2205. Kamar itu memang benar disewa atas nama Jacob Karlsberg, sesuai dengan isi pesannya. Namun, tak ada satu pun yang mencurigakan di kamar itu,” terang Pierre.


“Apa mereka tidak menemukan benda berbahaya seperti pistol atau senjata lainnya?” cecar Adriano.


“Tidak ditemukan barang-barang berbahaya yang mungkin disembunyikan di dalam kamar itu, Tuan. Anak buah yang kutugaskan sangat meyakini itu, karena mereka sempat memeriksa menggunakan alat pendeteksi logam,” jawab Pierre.


“Kita akan mengetahui semuanya besok,” sahut Pierre. “Untuk saat ini, kami akan terus mengawasi siapa saja yang masuk ke dalam kamar itu," lapornya lagi.


“Kerja bagus, Pierre. Aku akan menunggu,” puji Adriano tersenyum puas. Pierre memang selalu bisa dia andalkan. Sesaat kemudian, Adriano lalu bersandar pada sandaran kursi. Kepalanya sedikit menengadah menerawang langit-langit ruangan. "Aku tidak akan tahu apa yang Jacob inginkan sebenarnya. Karena itu, akan kuikuti permainan yang dia siapkan untukku," ucap Adriano lagi.


“Benar sekali, Tuan. Untuk saat ini sebaiknya Anda segera beristirahat, agar kondisi Anda prima untuk menghadapi esok,” saran Pierre mengingatkan.


“Aku akan beristirahat di sini, Pierre. Kembalilah ke ruanganmu. Aku akan memanggilmu lagi jika membutuhkan sesuatu,” titah Adriano.


Pierre terdiam sejenak seraya memperhatikan tuannya. Adriano boleh saja menunjukkan sikap tenang. Namun, ajudan setia itu dapat melihat dengan jelas kekhawatiran yang begitu besar dari bahasa tubuh pria tersebut. “Baiklah, Tuan. Aku mengerti,” Pierre mengangguk, lalu membalikkan badan dan meninggalkan Adriano sendirian di ruang kerjanya.


Pria bermata biru itu sempat melirik ke arah pintu yang baru saja tertutup, lalu berusaha memejamkan mata. Adriano pun tertidur di sana, hingga tak terasa alarm jam digital di atas meja kerjanya sudah berbunyi. Angka pada jam digital itu menunjukkan pukul lima pagi. Adriano segera terbangun dan mematikan suara yang terdengar cukup nyaring tersebut. Setelah itu dia lalu bangkit. Adriano kemudian bergegas menuju kamar yang ditempatinya bersama Mia untuk membersihkan diri dan berganti pakaian di sana.

__ADS_1


Adriano tampak begitu menawan hanya dalam balutan T-shirt abu-abu yang dipadukan dengan celana jeans. Dia kemudian memasukkan setelan jas untuk pertemuannya nanti malam ke dalam tas ransel. Selesai berkemas, pria itu menyempatkan diri untuk menghubungi Mia.


Tak membutuhkan waktu lama bagi ibunda Miabella tersebut untuk mengangkat telepon yang ternyata panggilan video dari suami tercinta. “Apa kau akan berangkat, Adriano? Kenapa kau tak memakai kemeja?” tanyanya penuh selidik, seperti biasa.


“Nanti saja aku berganti pakaian di sana, Mia. Ini masih terlalu pagi,” kilah Adriano seraya mengulum senyum.


“Baiklah kalau begitu. Selalu berhati-hatilah, Sayang,” pesan Mia.


“Di mana Miabella? Kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Adriano ketika wajah lucu dan menggemaskan itu tak tampak di layar ponsel.


“Miabella tidur di kamar paman Damiano. Sepertinya dia belum bangun,” jawab Mia sambil tersenyum lebar.


“Baiklah. Sampaikan salamku untuknya. Aku pergi dulu. Nanti kuhubungi lagi. Ti amo, Mia,” ucap Adriano berpamitan.


“Ti amo, Adriano. Che Dio ti protegga sempre (semoga Tuhan selalu melindungimu),” balas Mia.


“Aku pergi dulu,” tutup Adriano sebelu mengakhiri panggilan videonya, kemudian bergegas meninggalkan kamar. Dengan agak tergesa-gesa, pria rupawan itu berjalan menuju halaman depan mansion, di mana Pierre sudah menunggunya sejak beberapa saat yang lalu.


“Selamat pagi, Tuan,” sapa pria asal Perancis itu sembari membukakan pintu mobil untuk Adriano. Pierre kemudian ikut duduk di sampingnya. Seorang sopir juga telah disiapkan untuk mengantarkan mereka menuju hotel yang dituju.


Setibanya di hotel Trevi, mobil yang Adriano tumpangi langsung menuju ke area parkir VIP. Di sana, beberapa anak buah Adriano sudah bersiaga menyambutnya. “Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda, Tuan,” lapor salah seorang dari mereka.


“Bagus,” sahut Adriano mengangguk dan menerima kunci kamar dari anak buahnya. Dengan ditemani oleh Pierre, dia masuk melalui lift khusus. Pria yang tadi menyambut mereka lalu menekan tombol menuju lantai yang sama, dengan lantai kamar yang telah dipesan oleh Jacob sebelumnya.


“VVIP 2211, Tuan. Tepat berhadapan dengan kamar 2205,” jelas anak buah Adriano lagi.


“Bagus. Apakah kalian sudah memasang kamera pengintai tambahan?” tanya Adriano memastikan sebelum memasuki kamarnya.


“Semua sudah siap, Tuan. Mulai detik ini, kita bisa mengamati siapa saja yang keluar masuk kamar 2205 sampai pukul delapan malam nanti,” jawab anak buah Adriano penuh percaya diri.

__ADS_1


Adriano mengangguk tanda mengerti. Dia lalu masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya bersama Pierre. Setelah meletakkan ransel yang dia bawa, Adriano kemudian berdiri di dekat jendela. Dia melihat keluar melaui kaca yang berukuran tidak terlalu lebar.


Lalu lintas di depan hotel tersebut tampak sangat normal. Namun, Adriano yakin jika Jacob pasti ada di salah satu sudut jalan. Bisa saja pria itu juga tengah mengawasinya.


__ADS_2