Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Relaxing Dances


__ADS_3

Seperti yang telah dijanjikan semalam, lewat tengah hari Juan Pablo datang ke klub untuk menjemput Gianna. Namun, pria itu lebih memilih menunggu di luar. Sesekali, tatapan matanya yang dingin menjelajah ke sekitar area klub elite tersebut. Dia memperhatikan setiap detail yang dirasa menarik baginya.


Juan Pablo berdiri dengan setengah bersandar pada mobilnya. Sambil menyilangkan kaki, pria itu asyik memasukkan kedua tangan pada saku celana jeans yang dia kenakan. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria asal Meksiko tersebut. Akan tetapi, tatapannya yang tersembunyi di balik kaca mata hitam kini tertuju pada sesosok gadis cantik berkulit putih dengan rambut pirang yang digerai begitu saja.


Gianna berjalan mendekat. Tampilan kasual gadis dua puluh empat tahun itu, benar-benar memperlihatkan bahwa dia memang masih berusia belia. "Ciao. Apa kau sudah lama menunggu?" tanyanya dengan senyuman manis khas gadis bermata biru tersebut. Sebuah sikap apa adanya yang membuat Juan Pablo mulai terbiasa.


"Tidak juga," jawab Juan Pablo singkat. Dia segera membetulkan posisi berdirinya, kemudian membukakan pintu mobil untuk Gianna. Tanpa banyak bicara, gadis dengan celana jeans itu segera masuk dan duduk dengan nyaman di dalam mobil. Sesaat kemudian, Juan Pablo pun menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi.


"Apa letak villamu jauh dari pusat kota?" tanya Gianna berbasa-basi.


"Tidak terlalu," jawab Juan Pablo singkat seraya melajukan mobilnya. Sedan hitam itu pun berlalu meninggalkan halaman klub Angelo Notturno.


Selama di dalam perjalanan, Gianna terlihat begitu antusias. Ini pertama kalinya dia menyusuri sudut lain kota Roma. Sekitar setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Juan Pablo telah tiba di daerah pinggiran kota. Dia menghentikan sedan hitam miliknya di depan gapura yang berlapis batuan alam. Setelah membukakan pintu untuk Gianna, Juan Pablo lalu mengajak gadis itu memasuki gapura yang tidak terlalu besar tadi.


Villa milik Juan Pablo terlihat sangat asri. Halamannya luas berlapis rumput yang tertata rapi rata bagaikan sebuah karpet permadani. Di sana juga terdapat beberapa pohon rindang yang menjadikan nuansa alami semakin kental. Keduanya berjalan di atas batu berbentuk bulat, yang sengaja disusun sebagai pijakan hingga menuju teras. Ketika tiba di depan pintu, seorang pelayan wanita muncul dan segera mempersilakan mereka untuk masuk.


Suasana di dalam bangunan bergaya Tuscany itu ternyata tak kalah nyaman. Lantainya dilapisi ubin berwarna terraccota, sementara dindingnya bercat kuning gading. Pada setiap lawang pintu dan bukaan, dilapisi dengan batu bata yang disusun sebagai bingkai dan dibuat sedemikian rupa hingga terlihat rapi serta menarik. Jelas sudah, tangan dingin seorang arsitek hebatlah yang pastinya mendesain itu semua.


"Silakan duduk," Juan Pablo mengarahkan tangannya, pada sofa dengan warna putih tulang yang dilengkapi meja kecil berwarna putih. Pria bermata cokelat madu itu juga ikut duduk di sebelah Gianna yang masih merasa takjub dengan tempat tersebut. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya seraya melirik gadis cantik tadi.


"Tempat yang sangat menakjubkan. Jika villa ini adalah milikku, maka aku pasti akan betah berlama-lama di sini," ujar Gianna dengan wajahnya yang tampak ceria.


"Benarkah?" Juan Pablo memicingkan mata.


"Oh, tentu saja," sahut Gianna seraya melebarkan kedua matanya saking merasa semangat. Sementara Juan Pablo hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil. "Ini sangat luar biasa. Aku menyukai suasananya," ucap Gianna lagi seraya memeluk bantal kecil yang terdapat di atas sofa tadi.

__ADS_1


Untuk sejenak, Juan Pablo memperhatikan raut cantik Gianna yang terlihat polos. Sesuatu yang sangat jauh berbeda dengan Carina. Gianna mungkin kerap bersikap tak acuh, tapi dia terlihat manis dan apa adanya. "Apa ibumu berambut pirang?" tanya Juan Pablo setelah beberapa saat dirinya terdiam.


"Ya. Ibuku berambut pirang. Kenapa? Apa kau tidak menyukai gadis berambut pirang?" Gianna menoleh dan menatap pria latin di sebelahnya.


"Tidak juga," jawab Juan Pablo datar. "Ibuku berasal dari Spanyol. Dia memiliki rambut hitam yang sangat indah," terangnya tanpa diminta.


"Seperti rambutmu?" pandangan Gianna tertuju pada rambut hitam Juan Pablo yang tersisir rapi.


"Ya," jawab pria bermata cokelat madu itu tanpa melepas tatapannya dari Gianna.


"Lalu bagaimana dengan ayahmu?" tanya Gianna lagi seraya menopang dagu.


"Ayahku?" Juan Pablo terdiam sejenak. "Dia juga berambut gelap dan bermata abu-abu," jelasnya.


"Matamu berwarna cokelat," ujar Gianna menatap lekat pria tampan di hadapannya, "terlihat sangat teduh," lanjut gadis itu yang seketika menghadirkan sebuah perasaan aneh di hati Juan Pablo.


Gianna mengangguk dengan yakin. "Sayangnya kau jarang sekali tersenyum," celetuk gadis itu dengan enteng.


"Kau orang pertama yang berani mengatakan hal itu padaku," balas Juan Pablo.


"Memangnya kenapa? Apa akan ada hukuman jika berkata seperti itu padamu?"


"Tentu tidak, hanya saja belum ada yang berani mengatakannya," jawab Juan Pablo lagi masih dengan ekspresi yang sama.


"Apakah semua wanita yang dekat denganmu tidak menyadari atau memang mereka tak mau tahu?" celoteh Gianna lagi. Gadis itu berpikir sejenak. "Apa kau sering mengajak gadis-gadis kemari?" selidiknya lagi.

__ADS_1


"Kau terlalu cerewet, Nona Moriarty," balas Juan Pablo menanggapi santai semua pertanyaan Gianna.


Sedangkan gadis muda berambut pirang tadi hanya tertawa renyah. Dia lalu mengeluarkan ponsel dan memutar sebuah lagu. Setelah itu, Gianna berdiri pada area kosong di dekat meja. "Kau pasti belum tahu jika aku pandai menari," ucapnya.


"Oh, ya?" Juan Pablo meletakkan kaki kiri di atas paha sebelah kanan. Sementara tangan kanannya terulur lurus di atas sandaran sofa. Sepasang matanya tajam memperhatikan postur indah Gianna, yang tengah meliukkan tubuh dengan penuh irama mengikuti iringan musik. Gadis itu tampak begitu lihai dan juga luwes dalam setiap gerakan. Ekspresi wajahnya pun tampak sangat memikat dan membuat tarian yang dia bawakan kian asyik untuk dinikmati.


Sesaat kemudian, Gianna menghampiri Juan Pablo yang masih duduk tanpa mengubah posisi sejak tadi. Dia menarik tangan pria itu dan membawanya berdiri, mengajak untuk menari bersama. Awalnya, Juan Pablo hanya terpaku dan terlihat kebingungan harus bagaimana. Namun, pada akhirnya dia mulai menemukan keseruan itu, karena Gianna dengan senang hati menuntunnya dalam bergerak. Untuk pertama kali, Juan Pablo tertawa lebar.


Suara alunan musik terus terdengar, meskipun telah berganti lagu. Mereka terlihat lelah, terutama Gianna yang lebih banyak menari jika dibandingkan dengan Juan Pablo. Gadis itu berdiri sambil bergerak pelan. Dia bersandar pada tubuh tegap yang mendekapnya dari belakang. Sesaat kemudian, Gianna lalu membalikkan badan dan menghadap kepada Juan Pablo yang masih merangkul pinggangnya.


Tarian penuh semangat tadi telah berganti menjadi sebuah gerakan pelan, diiringi lagu seriosa dari salah satu penyanyi kenamaan Italia. Gianna yang saat itu melingkarkan tangannya pada leher Juan Pablo, kembali bertanya dalam hati ketika dia teringat1 ucapan Carina tempo hari. Dari jarak sedekat itu, paras tampan Juan Pablo tampak sangat jelas. Gianna bahkan dapat melihat dengan jauh lebih detail, setiap pahatan tegas dalam wajah pria latin di hadapannya.


Makin lama, wajah mereka semakin mendekat. Helaan napas keduanya pun saling berbaur. Pertautan yang semalam tertunda karena perasaan ragu Juan Pablo, pada akhirnya terjadi juga ketika Gianna lebih dulu menyentuh permukaan bibir pria asal Meksiko tersebut.


Juan Pablo pun ternyata tak menolak. Dia bahkan terlihat sangat menikmati adegan ciumannya dengan Gianna, karena tak henti-henti dia memberikan lumat•an lembutnya terhadap gadis itu


"Apa kau tak ingin mengajakku bercinta?" bisik Gianna setelah mereka berhenti berciuman. Entah apa yang ada dalam pikiran adik tiri dari Adriano tersebut dengan bertanya seperti itu kepada Juan Pablo.


Sementara Juan Pablo masih terdiam, menatap gadis belia yang baru saja berciuman dengannya. Pria itu kemudian memicingkan mata seraya menggeleng pelan. "Maaf, Nona Moriarty," ucapnya dengan suara yang terdengar begitu dalam.


"Maaf untuk apa?" tanya Gianna resah.


Juan Pablo menelan ludahnya sebelum menjawab. "Aku tidak bercinta dengan wanita manapun."


🍒🍒🍒

__ADS_1


Ada yang kangen wajah Juan Pablo Herrera?



__ADS_2