Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Crazy Idea


__ADS_3

“Kenapa kau membawa gadis ini kemari?" protes Miabella dengan tegas. Raut tak suka tampak jelas menghiasi paras cantik gadis bermata abu-abu tersebut. Tatapan tajam pun dia layangkan kepada sang pengawal yang saat itu terlihat serba salah.


"Jawab aku, Carlo! Kapan dan di mana kau bertemu dengannya? Bagaimana bisa kau melakukan ini? Kau tahu sendiri dia yang sudah membuatku dan Romeo berada dalam bahaya!” cecar Miabella tanpa henti sambil memukul lengan Carlo berkali-kali, untuk memprotes tindakan sang pengawal. Selain itu, Miabella juga bersikap demikian karena ditambah dengan rasa cemburu yang menggebu-gebu. Dia tak suka saat melihat pengawal kesayanganya tersebut memberikan senyuman hangat kepada Oxana.


“Aduh, sakit. Hentikan, Nona." Carlo meringis dan berpura-pura kesakitan. Padahal, pukulan sekencang apapun dari tangan seorang Miabella tak akan pernah mempan di tubuh atletisnya. "Bukan aku yang membawa gadis ini kemari, melainkan tuan muda Romeo,” bantah Carlo sambil mundur untuk menghindar. Oxana sendiri hanya diam memperhatikan tingkah mereka berdua.


“Kenapa Romeo membawanya kemari? Dasar pemuda bodoh!” tanya Miabella lagi yang diakhiri sebuah umpatan.


“Entahlah. Aku rasa mungkin tuan muda hanya ingin menolong,” jawab Carlo ragu. Sesekali, ekor matanya melirik ke arah Oxana yang masih berdiri mematung sambil memperhatikan dia dan Miabella secara bergantian.


“Sok jadi pahlawan!” dengus Miabella kesal. Gadis itu kemudian berlalu begitu saja tanpa memedulikan Carlo yang masih di sana. Miabella melangkah dengan agak tergesa-gesa.


“Tunggu, Nona!” cegah Carlo. Dia bermaksud untuk menyusul gadis cantik tersebut.


Namun, Oxana langsung menahan Carlo agar tetap di berada tempatnya. Gadis Rusia itu mencekal lengan si pria dengan cukup erat. “Tunggu dulu, bagaimana dengan kalung ini? Tuan berambut ikal tadi mengatakan padaku bahwa dia akan membantu membuka gemboknya,” tanya Oxana gelisah.


“Astaga. Benar juga.” Carlo baru teringat akan hal itu. Dia menepuk kening dengan pelan. “Mudah-mudahan saja tuan Ricci belum berangkat ke Roma,” harapnya. “Ayo. Ikut aku!” Carlo pun memutuskan untuk mengajak Oxana menuju kamar Coco yang berada di lantai satu. Beruntungnya, pria tampan berambut ikal tersebut masih ada di sana. Coco tampak sedang bersiap-siap merapikan diri. Menikah dengan seorang mantan model, membuat Coco dipaksa untuk selalu memperhatikan penampilan.


“Tuan!" Carlo mengetuk pintu kamar Coco yang setengah terbuka. “Oxana mencarimu,” ujarnya setelah ayah tiga anak itu menoleh ke arah mereka berdua.


“Oh. Ya, Tuhan! Kalungnya. Hampir saja aku lupa.” Coco buru-buru menghampiri Oxana dan menyuruh gadis itu mendongak. “Kita tidak memiliki cara lain selain mencoba satu per satu kombinasi angkanya,” ujar pria bermata cokelat tersebut sembari berdecak pelan.


“Aku akan coba membantu, Tuan," ucap Carlo.


“Ide yang bagus. Sekarang ambil kertas dan alat tulis. Kau yang menulis kombinasi angka yang telah kucoba. Dimulai dari urutan angka satu kembar berderet,” titah Coco. Carlo pun mengangguk setuju.

__ADS_1


Dua pria lintas usia itu mulai serius mencoba sekian ratus kemungkinan. Hampir dua jam lamanya mereka berkutat dengan gembok angka, hingga pada percobaan ke seratus satu, kalung itu berhasil terbuka. Tak terkira betapa gembiranya Coco dan Carlo saat itu. Mereka bagaikan seseorang yang memenangkan lotre berhadiah jutaan euro.


Oxana sendiri juga terlihat begitu lega. Berkali-kali dia mengusap leher yang sekian lama terikat oleh kalung. Benda kecil yang selama ini menghambat pergerakannya dalam menuju kebebasan.


Namun, kebahagiaan itu segera berakhir ketika ponsel Coco berbunyi. Nama Francesca tertera di layarnya. “Ya ampun. Aku sampai lupa. Aku ada janji makan malam dengan Francy dan teman-temannya.” Coco bergegas mengambil ponsel, kemudian berjalan menjauh. Raut ceria pria itu berubah memucat seketika, sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.


“Terima kasih,” ucap Oxana setengah berbisik. “Kalian sudah membebaskan hidupku,” lanjut gadis itu seraya tersenyum manis.


“Tak masalah,” balas Carlo mengangguk seraya memamerkan senyumannya yang memesona. “Apa rencanamu setelah ini?” tanyanya basa-basi.


“Entahlah, mungkin ….” Belum sempat Oxana menyelesaikan kalimatnya, terdengar ketukan pelan di pintu kamar yang membuat mereka mengalihkan perhatian ke sana.


Tampaklah Romeo yang berjalan mendekati Oxana sambil melemparkan tatapan penuh arti. “Aku mencarimu ke mana-mana,” ucap pemuda berambut pirang itu. Dia menarik sebelah lengan Oxana agar mendekat kepadanya. “Apa paman Ricci sudah berhasil membuka kalungmu?” tanyanya sambil mengangkat dagu gadis itu, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang sudah terbebas dari kalung tungsten tadi. “Baguslah,” sambungnya kemudian.


“Sekarang … apakah aku boleh pulang?” tanya Oxana ragu.


“Teman-temanku ….“ Suara Oxana terdengar begitu pelan. Namun, Romeo masih dapat mendengarnya.


“Mereka semua aman. Aku telah menyuruh anak buahku untuk membawa mereka kemari. Teman-temanmu akan ditampung untuk sementara di Casa de Luca,” ujar Romeo dengan enteng.


Apa yang Romeo katakan membuat Coco yang telah menyelesaikan panggilannya, langsung menoleh ke arah sang keponakan. “Apa?” seru ayah tiga anak itu tak percaya. Mata cokelat Coco melotot tajam kepada putras sulung Marco tersebut. “Kau jangan berbuat seenaknya! Apa kau sudah mendiskusikan hal ini dengan Miabella? Ingat, setan kecil itu yang memiliki kuasa atas tempat ini!” tegur Coco dengan tegas. Dia kembali berdecak kesal, karena lagi-lagi dibuat tak mengerti dengan ulah pemuda dua puluh tahun tersebut. "Setelah pulang dari sini, aku akan langsung memeriksa tensi darahku," ucapnya sambil berkacak pinggang.


“Astaga." Romeo tersenyum kalem. "Kau tenang saja, Paman. Bella tak mungkin menolak ideku ini,” ujar Romeo lagi seraya mengibaskan tangan. Dia bersikap seolah apa yang dirinya katakan tadi bukanlah sesuatu yang serius.


“Kurasa ini bukan ide yang bagus, Tuan Muda.” Carlo turut mengemukakan pendapatnya. Akan tetapi, pria itu seketika terdiam, saat Romeo memandang ke arahnya sambil tersenyum aneh. “Ah, terserahlah. Tak apa. Biar aku saja yang akan membicarakan hal ini dengan nona. Permisi,” pamit Carlo pada semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Sementara Romeo langsung memeriksa panggilan masuk ke ponsel utamanya. Kenapa dinamakan ponsel utama, karena di sana berisi nomor-nomor penting dari kontak seluruh anggota keluarga. Seperti yang telah diketahui, Romeo mengoleksi banyak ponsel dengan tujuan tertentu. Nama Marco tertera di layar sebagai pemanggil. Tanpa berlama-lama, Romeo pun segera menjawab panggilan dari sang ayah. "Pronto," sapanya.


"Akhirnya kau bisa dihubungi juga. Katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Marco tanpa berbasa-basi.


"Tak ada yang serius, ayah. Memangnya kenapa?" Romeo balik bertanya.


"Aku akan ke Casa de Luca lusa. Kau harus segera pulang," jawab Marco tegas.


"Apa? Pulang?" ulang Romeo tak percaya.


"Ya. Kembali ke Palermo. Pamanmu mengeluhkan banyak hal padaku. Ayolah, Romeo. Jangan pernah mencari masalah, terutama dengan ibumu. Kau tahu seperti apa dia. Ibumu saat marah akan jauh lebih menakutkan dari seekor beruang Grizzly." Marco yang saat itu berada di ruang tamu, melihat ke sekelilingnya untuk memastikan bahwa Daniella tak mendengar apa yang dia katakan. Pria itu pun bernapas lega. Namun, perasaan itu tak berlangsung lama, ketika dia melihat sosok Tobia yang ternyata tiba-tiba muncul dari balik dinding.


"Haruskah aku kembali secepatnya?" tanya Romeo.


"Ya!" tegas Marco. "Aku akan menjemputmu lusa. Sekalian ingin melihat keadaan perkebunan. Jadi, bersiap-siaplah."


Romeo terdiam seraya mengempaskan napas dalam-dalam. Niatnya untuk menampung para gadis di Casa de Luca, tentu tak mungkin untuk diteruskan jika Marco akan datang ke sana. Romeo kemudian menoleh kepada Coco yang sudah bersiap untuk pergi. "Jadi bagaimana, Paman?" tanya pemuda itu.


"Bagaimana apanya? Waktuku sudah banyak terbuang di sini," keluh Coco.


"Maksudku nasib Oxana dan teman-temannya," ucap Romeo bingung.


Coco menarik napas panjang, kemudian mengempaskannya perlahan. "Biarkan Oxana di sini, tapi tidak dengan teman-temannya. Bicaralah dengan ayahmu. Dia pasti bisa membantu," saran Coco.


Sementara Carlo melangkah gagah dengan pikiran tak karuan. Romeo memiliki senjata untuk berbuat semaunya. Bukan tak mungkin jika suatu saat nanti, pemuda itu akan membeberkan hubungan rahasia antara dia dengan Miabella. Carlo berpikir terlalu dalam, sampai-sampai dia tak menyadari dirinya sudah berada di depan kamar gadis itu.

__ADS_1


Pria tiga puluh empat tahun tersebut sempat menimbang-nimbang, apakah dia akan mengetuk pintu atau hanya menghubungi gadis yang telah mencuri hatinya itu melalui aplikasi pesan. Carlo pun memutuskan untuk mengetuk. Namun, sebelum tangannya menyentuh daun pintu, tiba-tiba dia teringat lagi akan sosok Grigori Kostya. Rasa penasaran kembali mendera sang pengawal tampan tersebut.


__ADS_2