Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Mia's Regret


__ADS_3

Adriano bergegas keluar dari ruang kerja dengan gagahnya. Beberapa saat kemudian, Pierre mengikuti dari belakang. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana, Mia baru saja merapikan meja. Walaupun ada banyak pelayan yang Adriano pekerjakan di mansionnya, tetapi tak membuat Mia menjadi sungkan untuk melakukan pekerjaan ringan seperti itu.


Lain halnya dengan Damiano dan juga Miabella. Keduanya tengah asyik bermain jari. Adriano segera menghampiri Mia yang tengah berdiri di dekat meja. Dia lalu membantu Miabella untuk turun dari kursinya.


“Aku pergi dulu,” ucap pria bermata biru itu sambil mengecup kening, pipi, dan bibir Mia. Barulah Adriano kemudian beralih kepada Miabella. Dia juga berpamitan terlebih dulu kepada Damiano sebelum berlalu meninggalkan mansion. Hal itu tak luput dari pengamatan Pierre yang terus berdiri tak jauh dari Mia.


“Apa yang akan kita lakukan lebih dulu, Kek?” seperti biasa, Miabella yang ceria terus melompat-lompat kecil sembari mengelilingi tubuh Damiano.


“Terserah kau saja, Nak. Namun, sebaiknya jangan dulu berlari-lari, karena kau baru saja mengisi perut kecilmu ini,” tutur Damiano seraya mengusap perut cucu kesayangannya, membuat Miabella tertawa riang.


“Baiklah, Kek. Aku ingin membaca,” celoteh Miabella, bersikap seakan-akan dirinya telah mengenal alfabet.


“Tuan Adriano sudah membangun ruang baca untuk nona Miabella. Beliau mengatakan bahwa tempat itu diperuntukkan bagi nona kecil, jika nanti dia sudah memasuki usia sekolah,” terang Pierre yang sedari tadi terdiam dan berdiri paling belakang.


“Oh, ya? Kenapa aku baru tahu akan hal itu Pierre? Adriano tak pernah mengatakan apapun padaku,” sahut Mia dengan sorot mata yang berbinar.


“Mungkin Tuan ingin memberi kejutan kepada Anda, Nyonya,” Pierre membalas tatapan Mia dengan datar.


“Astaga, Adriano,” desah Mia bahagia sembari menggelengkan kepalanya pelan. “Lalu, di mana letak ruang baca itu, Pierre?” dia kembali bertanya pada ajudan setia suaminya tersebut.

__ADS_1


“Mari kutunjukkan, Nyonya. Anda ingin ikut juga, Tuan Baresi?” tawar Pierre. Sementara Damiano hanya mengangguk pelan saat menanggapi tawaran tersebut. Sesaat kemudian, Pierre berjalan cepat mendahului Mia dan Damiano. Pria berambut pirang itu memandu mereka ke arah sayap bangunan sebelah kiri dari mansion mewah nan luas tersebut. Mereka melewati lorong yang seperti baru selesai dibangun. “Sayap kiri ini merupakan bangunan baru. Dulunya hanya berupa lapangan rumput yang dibiarkan kosong. Akan tetapi, Tuan D'Angelo kemudian memutuskan untuk menambah ruangan,” jelas Pierre. Langkahnya kemudian terhenti pada pintu masuk yang berukuran cukup lebar dengan daun pintu berwarna putih gading.


Pierre kemudian membuka pintu tadi lebar-lebar. Tampaklah sebuah ruangan luas dengan wallpaper bunga dan kupu-kupu. Di sana juga terdapat deretan rak yang tidak terlalu tinggi dan dipenuhi buku. Setiap rak menempel di tiap sisi dinding. Sementara di tengah-tengah ruangan, terdapat beberapa meja serta kursi berukuran kecil. Ada juga beberapa boneka dan berbagai mainan yang telah ditata dengan sangat artistik di atas lantai yang tertutup karpet bercorak lucu. Gambar-gambar khas untuk anak perempuan.


“Astaga,” mata indah Mia terbelalak sempurna. Begitu pula dengan Damiano yang tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya. Miabella juga terlihat sangat antusias. Balita cantik itu menarik-narik tangan sang kakek, lalu mengajaknya mendekati salah satu rak.


“Aku mau buku tentang putri-putri, Kakek,” celotehnya dengan ceria. Jari telunjuknya yang mungil mengarah ke bagian rak paling atas.


“Baiklah, Nak. Akan kucarikan untukmu,” ucap Damiano dengan wajah berseri. Dia tampak antusias memilihkan buku yang diinginkan oleh Miabella. Tak terkira perasaan bahagia yang mengisi hati Damiano saat itu. Miabella tidaklah salah dengan menganggap Adriano seperti ayah kandungnya.


Sementara Mia hanya mampu berdiri terpaku sembari bersedekap. Sesekali dia mengusap dadanya karena terharu atas semua perlakuan manis sang suami pada dirinya maupun Miabella. “Aku tak menyangka jika Adriano akan berbuat sampai sejauh ini pada kami,” gumamnya lirih.


Seketika, Mia menoleh dan terbelalak ke arahnya. Dia benar-benar terkejut atas perkataan Pierre, tapi dengan segera Mia menyembunyikan rasa terkejut itu dan berusaha bersikap biasa saja. “Apa maksudmu?” tanyanya pelan sambil memaksakan untuk tetap tersenyum.


Pierre tak segera menjawab. Dia malah mengalihkan pandangan lurus ke depan, ke arah Miabella yang asyik mendengarkan Damiano membacakan buku cerita untuknya. “Aku sudah tahu bahwa tuan D'Angelo telah menutupi kejadian tiga tahun lalu dengan begitu rapat. Dia menghilang selama beberapa hari, lalu muncul dalam keadaan penuh luka. Tak sekalipun dirinya mengungkap siapa pelaku penganiayaan itu,” tutur Pierre kemudian dengan tatapan menerawang.


“Tuan D'Angelo tak memberitahuku. Padahal saat berada di rumah sakit pusat Ajaccio, aku terus mendesaknya agar bicara. Namun, dia justru marah dan melarang diriku untuk bertanya lagi. Tuan bahkan tak ingin aku tahu, padahal aku yang telah mengenalnya semenjak dia masih remaja. Dia menutupi semuanya. Sebesar itukah cinta yang tuan D'Angelo rasakan untukmu, Nyonya?” Pierre menunduk dalam-dalam. Tampak sejuta rasa sesal dan kecewa menggelayut di wajah tampannya.


“Pierre, a-aku,” Mia terbata. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku mengaku bersalah. Aku … aku ... saat itu aku mengira bahwa dia akan membunuh Theo, tapi ternyata aku keliru. Aku memang berdosa padanya, Pierre,” wanita cantik itu terisak pelan. Sebisa mungkin dia menahan tangis agar Damiano ataupun Miabella tak mendengarnya. “Aku hidup dalam cengkeraman dosa itu, Pierre. Semuanya masih membebaniku bahkan hingga saat ini," lirih dan bergetar suara Mia terdengar di telinga Pierre.

__ADS_1


“Jangan pernah sakiti Tuan Adriano lagi, Nyonya, atau ….” Pria empat puluh tahun itu tak melanjutkan kata-katanya.


“Kau tak perlu mengingatkanku akan hal itu, Pierre,” Mia memotong kalimat pria tadi begitu saja. “Aku adalah istrinya, meskipun pada awalnya ini hanya sebuah pernikahan politik. Akan tetapi, saat ini aku sangat mencintainya. Entah berawal dari kapan cinta itu tumbuh hingga sedemikian besar. Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk menebus semua yang telah Adriano berikan padaku, mungkin nyawaku ini tidaklah cukup,” ujar Mia penuh rasa sedih dan sesal.


Pierre menatap nanar kepada istri dari majikannya tersebut. Tampak jelas kejujuran dan kesungguhan dari sorot mata wanita itu. “Apakah itu artinya ….”


“Aku akan melakukan apapun untuk Adriano. Kuserahkan semua yang kumiliki hanya untuknya. Aku tak berharap kau mempercayaiku, tapi inilah sebenar-benarnya yang kurasakan,” lagi, Mia menyela kalimat Pierre begitu saja, membuat pria bermata hijau itu diam seribu bahasa.


Namun, ada satu hal yang mengelitik rasa penasaran di hati Mia. "Jika boleh kutahu, dari mana kau bisa mendapatkan berita itu?" tanya Mia penuh rasa penasaran.


"Bianca Alegra," jawab Pierre setelah dirinya terdiam untuk beberapa saat.


"Bianca?" ulang Mia pelan. Wanita itu tampak berpikir. "Jika Adriano tak membuka mulutnya padamu, aku rasa dia juga tak akan melakukannya kepada siapa pun termasuk Bianca. Lalu, bagaimana dia bisa mengetahui kejadian yang sudah berlalu setelah sekian lama?" pikir Mia seraya mengernyitkan kening.


"Aku tidak tahu dari mana dia mengetahuinya. Jika Anda mau, maka aku bisa menyelidiki hal itu untukmu, Nyonya," tawar Pierre.


Mia menoleh dan menatap sesaat kepada pria bermata hijau itu. Dia tahu bahwa Pierre memiliki loyalitas yang sangat tinggi terhadap Adriano. Apakah itu artinya pria asal Perancis tersebut juga akan bersikap sama terhadap dirinya? Mia lalu tersenyum kecil.


"Aku tidak tahu berita buruk sekaligus memalukan itu telah tersebar ke telinga siapa saja. Jika memang kau tidak keberatan untuk melakukannya, maka silakan. Lakukan," ujar Mia lembut.

__ADS_1


"Karena tuan memintaku untuk menutupi kejadian itu dari siapa pun, maka aku harus mencegah dan memastikan bahwa berita buruk itu hanya berhenti cukup di telinga Bianca saja," ucap Pierre tegas.


__ADS_2