Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Cuore Stanco


__ADS_3

Keesokan harinya, Adriano baru membuka semua pesan yang Coco kirimkan. Terkejut dan tentu saja merasa tak percaya atas temuan dari sahabat Matteo tersebut. Dengan segera, dia menghubungi pria berambut ikal itu untuk berbicara secara langsung. Tanpa harus menunggu lama, panggilan dari Adriano segera tersambung.


"Pronto," suara Coco terdengar lesu di ujung telepon.


"Apa kau baik-baik saja, Ricci?" tanya Adriano yang merasa heran, karena mendengar pria di seberang sana tak seperti biasanya.


"Tidak. Aku tidak baik-baik saja, Amico," jawab Coco yang kemudian diiringi sebuah keluhan panjang.


"Apa kau sedang ada masalah? Tekanan batin atau ...."


"Tutup mulutmu!" sergah Coco. Nada bicaranya yang tadi terdengar lesu, tiba-tiba menjadi tegas. Sepertinya pria itu merasa kesal.


"Hey, tenanglah. Maaf karena aku baru bisa membuka pesanmu sekarang. Seharian kemarin aku menghadiri acara pesta yang diadakan oleh Arsen. Kau masih ingat dia, bukan?" jelas Adriano sambil melepas blazer yang dikenakannya, kemudian melempar pakaian itu ke atas kasur.


"Oh, iya. Pria Yunani itu?" tanya Coco seraya manggut-manggut pelan. "Memangnya pesta apa yang kau hadiri hingga tak sempat membuka pesan dariku?" Coco kini menopang dagu dengan wajah memelas.


"Arsen baru menikah. Dia merayakan acara pesta resepsinya di ...."


"Oh, astaga!" sela Coco dengan tiba-tiba. Dia membenamkan wajah pada lengan yang diletakkan di atas meja. "Ya Tuhan, Amico. Kenapa semua orang sudah menikah, sementara aku belum?" suara Coco begitu lirih dan terdengar hampir menangis.


Sementara Adriano tak kuasa untuk menahan tawa. Akan tetapi, dengan sekuat tenaga dia tak melakukan hal itu, demi menjaga perasaan pria yang kini telah menjadi partner bagi dirinya. Adriano hanya mampu mengulum senyum sambil sesekali menggaruk alis.

__ADS_1


"Aku tahu kau pasti sedang menertawakanku saat ini," tukas Coco dari seberang sana.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Tentu saja tidak," bantah Adriano sambil kembali mengulum senyumnya. "Baiklah, begini ... um ... kau tahu bukan jika segala sesuatu akan kita dapatkan pada saat yang paling tepat. Jadi, anggap saja bahwa putaran keberuntungan belum berpihak padamu. Jika tidak hari ini, mungkin besok. Jika tidak besok ... mungkin ... lusa .... barangkali?" Adriano mengakhiri kata-katanya dengan nada yang terdengar sedikit ragu, membuat Coco kembali mengeluh pelan.


"Aku sama sekali tidak mengerti, Amico. Kenapa makin ke sini, kepiawaianku dalam merayu perempuan jadi semakin berkurang. Sulit sekali meyakinkan Francesca agar dia bersedia untuk segera menerima lamaranku," Coco lagi-lagi mengeluh. "Aku benar-benar tak habis pikir. Padahal Daniella saja yang terlihat galak dan mengerikan, bisa dengan mudah menerima lamaran Marco. Lalu, apa yang yang terjadi padaku?"


Niat Adriano untuk membahas masalah Don Vargas dan juga Nenad Ljudevit, akhirnya dia tunda sesaat demi mendengarkan curahan hati dan keluh kesah Coco hingga beberapa saat. Berbagai posisi telah Adriano lakukan. Awalnya dia berdiri sambil bersandar pada dinding, lalu duduk di atas ranjang. Tak lama, pria bermata biru itu kemudian turun dan memilih untuk kembali berdiri di dekat jendela yang terbuka lebar. Hampir setengah jam berlalu, tetapi Coco tak juga menghentikan ocehannya. Pria bermata cokelat itu terdengar sangat putus asa, karena keinginannya untuk segera menikah tak juga terlaksana.


"Jadi, bagaimana?" tanya Coco lagi setelah beberapa saat berlalu.


"Bagaimana apanya?" Adriano balik bertanya. Dia memejamkan mata untuk sejenak, ketika merasakan hembusan angin yang masuk lewat jendela berukuran tinggi dan cukup lebar itu.


"Itu yang sudah kukirimkan padamu tadi," sahut Coco menegaskan.


"Cukup untuk hari ini," balas Coco yang mulai terdengar jauh lebih tenang.


"Baiklah," Adriano membetulkan posisi berdirinya. "Kemarin aku baru tahu bahwa Don Vargas merupakan seseorang yang pernah berkecimpung di dunia militer. Hal itu semakin diperkuat dengan temuanmu kali ini," ujarnya dengan tatapan menerawang pada Laut Aegea yang indah.


"Rekanmu Arsen, pernah bercerita padaku bahwa Juan Pablo Herrera pun berasal dari keluarga militer. Ibunya adalah perawat di rumah sakit angakatan darat, sedangkan ayahnya merupakan seorang perwira. Sebastian Naldo Quintiero, sahabat dekat Don Vargas yang berjuluk Elang Rimba. Sementara istrinya bernama Mattea Juanita Herrera. Juan Pablo Herrera. Bagaimana menurutmu, Adriano?" tanya Coco. Dia seakan tengah menuntun Adriano pada apa yang ada dalam pikirannya.


"Apa meunurutmu ...." Adriano tidak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Sebastian Naldo Quintiero tidak diceritakan memilili anak. Apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan, Adriano?" tanya Coco lagi.


Adriano terdiam sejenak. Sesaat kemudian, pria dengan rambut gelap tersebut mengempaskan napas dalam-dalam. "Bisakah jika kita menyelidiki istri dari Sebastian?" tanyanya.


"Aku sudah mencoba hal itu barusan. Akan tetapi, tak ada catatan apapun tentang wanita tersebut selain pekerjaannya yang merupakan seorang perawat. Oh, astaga. Kenapa mereka begitu misterius?" keluh Coco.


Kedua pria itu sama-sama terdiam untuk beberapa saat, sebelum Adriano kembali berbicara, "Baiklah. Setidaknya kita sudah mendapatkan petunjuk. Kemarin Don Vargas mengatakan bahwa dia bersedia untuk mempertemukanku dengan Elang Rimba. Akan tetapi, ada syarat yang harus kupenuhi sebelumnya," tutur pria bermata biru itu.


"Oh, ya? Syarat macam apa itu?" tanya Coco penasaran.


"Dia ingin agar aku melenyapkan saingan bisnisnya yang bernama Nenad Ljudevit. Kau masih ingat nama itu? Nenad Ljudevit merupakan bandar yang telah menjual senjata hasil rakitan Matteo di pasar gelap," jelas Adriano.


"Itu sangat menarik. Kau terima saja, Amico. Aku rasa itu bukan hal sulit bagimu. Kau bisa menghabisi Andreja Borislav dengan mudah. Bukan tidak mungkin jika kau juga bisa membunuh bandar kurang ajar itu dengan sekali tendangan," saran Coco memanas-manasi Adriano.


"Begitukah menurutmu?"


"Ya. Tentu saja. Jika kau berhasil dalam misi ini, maka bukan tidak mungkin kau akan menjadi penguasa yang sangat disegani. Mendapatkan dua burung dalam satu kali tembakan, itu sesuatu yang sangat luar biasa. Di satu sisi, kasus Matteo terselesaikan, dan di sisi lain kau mendapatkan kejayaanmu."


Adriano kembali terdiam dan berpikir untuk beberapa saat. Dia tengah merenungkan serta mencerna ucapan dari Coco yang memang tidaklah keliru. Sebuah seringai kecil muncul di paras tampan penuh pesona pria tiga puluh dua tahun itu.


"Ya, kau memang benar, Ricci. Setelah aku berhasil menghabisi Nenad, maka aku akan memikirkan cara untuk menyelidiki keterkaitan Don Vargas dengan nama Elang Rimba. Namun, sebelum itu persiapkan dirimu dengan baik. Aku ingin kau menemaniku pergi ke suatu tempat, untuk mememukan Nenad Ljudevit," ujar Adriano dengan penuh wibawa.

__ADS_1


"Aku? Ikut denganmu? Ke mana?" tanya Coco.


"Zlatibor, Serbia," jawab Adriano penuh penekanan.


__ADS_2