Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Mr. Underwear


__ADS_3


Miabella berlari kecil menuju kamar yang ditempati Mia dan Adriano. Gadis cilik itu menggedor-gedor pintu dengan keras. “Daddy Zio! Daddy Zio!” serunya dengan suara khas yang masih terdengar sedikit cadel, tapi begitu nyaring.


Mia dan Adriano yang saat itu masih terlelap, segera terjaga dari tidur mereka. Keduanya saling pandang untuk sesaat. "Selamat pagi, Mia," sapa Adriano. "Seperti inikah yang Matteo rasakan setiap pagi?" gumamnya pelan seperti pada diri sendiri.


"Daddy Zio!" Kembali terdengar seruan nyaring Miabella, membuat Mia memberi isyarat kepada Adriano yang masih memandanginya agar segera membuka pintu.


Adriano tersenyum kecil. Tak biasanya dia bangun kesiangan seperti itu. Pria bertubuh tegap tersebut mengeluh pelan seraya menyibakkan selimut. “Alarmnya keras sekali,” ujar Adriano tenang, seraya berjalan menuju pintu dan membuka kunci.


Tampaklah Miabella dengan pakaian renang dan sebuah ban berbentuk angsa. “Selamat pagi, Bella. Kostum yang bagus.” Adriano menautkan alis, saat melihat gadis kecil itu tersenyum lebar padanya.


“Ayo. Temani aku berenang,” ajak Miabella dengan mimik menggemaskan.


“Ya, Tuhan. Ada apa, Sayang? Kenapa kau sudah ribut pagi-pagi begini?” Mia datang menghampiri mereka. Seketika dia terkejut melihat putrinya yang sudah mengenakan pakaian renang. “Jangan katakan kau ingin berenang sepagi ini.” Mia ikut menautkan alisnya.


“Kata siapa ini masih pagi, Ibu? Kakek Damiano bahkan sudah pergi ke kebun,” bantah gadis kecil itu. “Ayo, Daddy Zio!” Tanpa banyak bicara, Miabella menarik tangan Adriano dan menuntunnya menuju kolam renang. Adriano sempat menoleh kepada Mia, yang masih terpaku di ambang pintu menyaksikan kelakuan putrinya. Pria itu hanya tersenyum.


Setibanya di dekat kolam renang, Miabella dan Adriano berdiri sejenak di tepiannya. “Coba celupkan kakimu. Apakah airnya tidak terlalu dingin?” Adriano sedikit membungkuk dan menyejajari tinggi gadis kecil itu. Miabella menurut. Dia memegangi lengan Adriano, kemudian mencelupkan kakinya pada permukaan air kolam. “Bagaimana?” tanya Adriano meyakinkan.


“Tidak dingin,” jawab Miabella seraya menggeleng dan menoleh kepada ayah sambungnya tersebut.


“Baiklah. Tunggu sebentar, karena kita tidak ….” Adriano tidak melanjutkan kata-katanya, ketika melihat Mia datang ke sana dengan membawakan mereka handuk. “Apa kau ingin ikut berenang bersama kami, Nyonya?” tanya Adriano dengan tatapannya yang menggoda terhadap Mia.


“Ah, tidak. Aku hanya membawakan handuk untuk kalian. Lagi pula, aku harus menyiapkan sarapan,” jawab Mia. “Apa kau ingin kubuatkan sesuatu, Sayang?” tawar Mia seraya melirik putri kecilnya, yang masih berdiri menunggu Adriano di pinggir kolam.


“Aku ingin Frittata, Ibu,” sahut gadis kecil itu.


“Apa cuma Miabella yang kau tawari, Mia?” protes Adriano pelan.


“Ah, ya. Aku lupa jika sekarang aku telah memiliki dua anak,” ujar Mia dengan senyum geli. “Jangan berenang terlalu lama, Sayang. Akan kupanggil kalian jika sarapan sudah siap,” lanjutnya seraya berlalu dengan diiringi tatapan dari Adriano. Dia asyik memandangi Mia dan mengabaikan gadis kecil yang sejak tadi sudah bersiap di pinggir kolam.


“Apa kau sangat menyukai ibuku, Daddy Zio?” tanya Miabella polos. Membuat Adriano tersadar dan segera menoleh.

__ADS_1


Pria itu tersenyum kecil, kemudian menurunkan tubuh tegapnya hingga sejajar dengan Miabella. “Aku harap kau tidak keberatan, Tuan Putri,” jawab Adriano lembut diiringi senyuman khasnya. Miabella menanggapi hal itu dengan sebuah gelengan kepala.


“Baguslah,” ucap Adriano lagi. “Sekarang, mari kita mulai kegiatan menyenangkan ini,” lanjut pria itu seraya melepas celana tidurnya. Dia lalu turun ke kolam renang. Dari sana, Adriano menyambut Miabella yang segera melompat. Gadis kecil itu tertawa riang. Dia terlihat sangat bahagia karena Adriano mengajarinya berenang.


Beberapa saat berlalu. Mia kembali ke kolam renang. Dia menyuruh Miabella agar menyudahi keseruannya pagi itu. Dengan terpaksa, Miabella menuruti sang ibu.


Sedangkan, Adriano melanjutkan acara renangnya sendirian. Dia terlihat begitu mahir dalam olahraga air tersebut. Adriano benar-benar asyik hingga tak menyadari ada seseorang yang datang ke kolam renang itu.


Sekitar sepuluh menit kemudian, pria bertubuh atletis tersebut memutuskan menyudahi aktivitas paginya. Dia naik ke tepian dan bermaksud untuk mengambil handuk. Akan tetapi, Adriano seketika tertegun. Handuk dan celana tidur yang tadi tersimpan di atas kursi santai pinggir kolam, telah raib dari tempatnya. Pria itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling area kolam renang. Namun, dia tak melihat ada siapa pun di sana selain dirinya.


Adriano mengeluh pelan seraya menyugar rambut yang basah. Titik-titik air masih menetes dari tubuhnya yang saat itu hanya mengenakan pakaian dalam. Dengan terpaksa, Adriano berjalan masuk dalam keadaan semi telanjang dan tentu saja kedinginan.


Pria tampan itu melenggang gagah dan tak peduli, meskipun telah membuat beberapa pelayan perempuan menjadi risi saat melihatnya. Tak terkecuali Francesca dan Daniella yang baru saja tiba di ruang makan. Kebetulan ruangan tersebut memang berada dekat dengan area kolam renang.


“Apa kau baik-baik saja, Tuan D’Angelo?” tanya Daniella yang menatap tak berkedip kepada adik iparnya tersebut.


“Kau ... terlihat ... basah,” timpal Francesca yang juga menatap lekat pada Adriano.


Sementara, Marco segera mendehem pelan sebagai teguran untuk sang istri. Berbeda dengan Coco yang tak kuasa menahan tawa.


Adriano menoleh kepada Mia, kemudian mengembuskan napas penuh keluhan. “Aku rasa, di rumah ini ada anak kecil selain Miabella dan kedua putra Marco,” jawabnya seraya melirik ke arah Coco, yang saat itu berusaha menahan tawa. Setelah itu, Adriano pun berlalu menuju kamar sambil menggeleng tak mengerti.


Tatapan semua yang ada di ruang makan, seketika tertuju kepada Coco yang sudah tak kuasa menahan tawa. Dengan tenang, pria berambut ikal tersebut duduk di salah satu kursi di meja makan. Sementara, yang lain terus menatap curiga terhadap dirinya.


Menyadari bahwa dia sedang menjadi pusat perhatian, Coco pun menghentikan tawa dan balas menatap mereka satu per satu. “Ada apa? Kenapa kalian melihatku begitu?” protesnya. “Lucu sekali suamimu, Mia,” lanjutnya sambil menggelengkan kepala dan kembali tertawa puas.


“Tak kukira bahwa kau sangat kekanak-kanakan, Ricci! Aku jadi ragu untuk menyerahkan Francesca padamu,” tegur Mia dengan kesal atas keisengan Coco.


Seketika raut Coco mendadak pias. “Astaga. Jangan begitu, Mia. Aku hanya bercanda. Lagi pula, hidup tanpa tawa tidak akan seru,” kilah Coco yang berusaha membela diri.


“Aku juga tidak masalah melihat Adriano seperti itu. Hiburan yang sangat indah bagiku,” celetuk Daniella, membuat Marco melotot tajam padanya.


“Mataku butuh penyegaran, Sayang. Setelah menikah, aku tidak lagi melihat pria lain dalam keadaan telanjang selain dirimu,” dalih Daniella saat menangkap sorot keberatan dari suaminya.

__ADS_1


Marco hanya dapat medengkus pelan mendengar jawaban wanita berambut pirang itu. Harga dirinya sebagai ketua klan sedang dipertaruhkan di atas meja makan.


Sontak semua orang yang ada di sana terbahak mendengarnya, tak terkecuali Mia. Dia cukup bersyukur untuk hiburan pagi itu, yang berhasil mengembalikan sedikit senyumnya. Meskipun, tak dapat dipungkiri bahwa dia juga cukup terhibur melihat Adriano dalam penampilan seperti tadi.


Seusai sarapan, Adriano kembali membahas apa yang semalam dia bicarakan bersama Damiano dan Marco. Coco juga rupanya merasa penasaran, sehingga dia bergabung dalam perbincangan serius itu. Mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang kerja Matteo. Adriano ingin segera menuntaskan kasus kematian Matteo, demi memenuhi janjinya kepada Mia.


“Sebentar lagi, pengacara Matteo akan datang. Aku sudah membuat janji dengannya,” ujar Marco.


“Itu bagus. Sambil menunggu, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian.” Adriano membuka pertemuan hari itu dengan raut serius.


“Beberapa hari yang lalu, ketika Mia dan aku selesai berbelanja gaun pengantin. Kami, melewati gereja tempat terjadinya pembunuhan itu ....” Adriano terpaksa menghentikan penuturannya, saat melihat Damiano menunduk dalam-dalam sambil mengusap pipinya. Apa“Apa kau tidak keberatan jika kulanjutkan, Damiano?” tanya Adriano pelan.


Damiano segera mendongak dan mengulurkan tangan, sebagai isyarat bahwa dia tidak keberatan. “Tidak apa-apa. Lanjutkan. Semakin cepat kita mendapatkan titik terang, maka itu akan semakin baik,” jawabnya.


“Tempat itu adalah area terbuka. Banyak orang berlalu lalang. Apalagi, letak gereja tepat di sisi jalan raya utama,” jelas Adriano. “Sangat tidak mungkin jika si pembunuh melakukan penembakan secara terang-terangan, karena akan ada banyak saksi mata. Padahal, nyatanya tak ada siapa pun yang melihat pelaku. Tidak pula Mia yang berada di dekat Matteo saat itu,” sambungnya.


“Perlu digarisbawahi. Kami tidak mendengar bunyi letusan senjata sama sekali,” ujar Damiano yakin.


“Jadi, apakah artinya itu ....” Coco menatap pada Adriano dan Damiano dengan sorot tak mengerti.


“Kemungkinan besar, Matteo ditembak dari jarak jauh. Akan tetapi, tidak mungkin seorang penembak jarak jauh melakukan beberapa kali tembakan dalam satu waktu, kecuali ....”


“Kecuali?” ulang setiap orang secara serempak dengan raut penasaran.


“Kecuali jika terdapat lebih dari satu penembak jarak jauh. Mereka membidik Matteo secara bersamaan,” jawab Adriano.


Damiano menghela napasnya sembari menyandarkan punggung. Demikian pula Coco dan Marco yang terlihat lesu. “Ya, Tuhan. Siapa yang melakukan perbuatan sekeji itu?” geram Coco seraya mengepalkan tangannya.


“Untuk menguatkan teoriku itu, maka aku harus membaca laporan penyelidikan dari kepolisian,” lanjut Adriano.


“Tenang saja, Guido memiliki semua file-nya,” terang Marco.


“Kenapa dia belum datang juga?” Belum sempat Adriano mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, terdengar ketukan pelan di pintu ruang kerja. Semua orang menoleh ke arah suara.

__ADS_1


Di ambang pintu, berdiri seorang pria yang terlihat masih muda. Namun, rambut dan kumisnya telah memutih seluruhnya. “Halo. Selamat siang. Apakah aku terlambat?” sapanya seraya memamerkan senyuman lebar.


“Adriano, mari kuperkenalkan. Dialah Guido Aquillani, pengacara pribadi Matteo,” jelas Damiano seraya berdiri dan menyambut pria itu untuk masuk dan bergabung bersama mereka.


__ADS_2