Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Duplicate


__ADS_3


Ketika makan malam tiba, Adriano kembali memperkenalkan Mia kepada Arsen. Pria itu tampak terkejut, karena tak menyangka bahwa rekannya ternyata telah mengakhiri masa lajang dengan menikahi seorang janda beranak satu. "Aku turut bahagia. Apapun keputusan yang Adriano ambil, dia pasti sudah memperhitungkannya dengan baik," ujar Arsen dengan bahasa Italia yang terdengar kaku. Sementara, Mia hanya tersenyum kecil saat menanggapinya.


"Apa dia temanmu, Daddy Zio?" tanya Miabella.


"Ya. Karena terpaksa," jawab Adriano seenaknya.


"Daddy Zio-mu memang pandai bercanda, Gadis Manis," jawab Arsen seraya tersenyum lebar kepada Miabella. Namun, perhatiannya kini teralihkan pada Olivia.


......................


Mia berdiri di depan cermin setinggi tubuhnya. Dia tak memakai gaun indah lagi, dari semenjak dirinya menjadi janda. Mia memperhatikan bentuk badannya. Baru saja dia akan menaikan resleting gaun, tiba-tiba Adriano sudah berdiri di belakang.


Pria itu meraih resleting gaun Mia, kemudian menaikannya perlahan. Lekat, tatapan sepasang mata biru Adriano tertuju pada punggung yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Terlihat begitu alami. Sesuatu yang membuat pria itu tak dapat bernapas dengan normal.


Adriano menelan ludah dalam-dalam. Naluri kelelakiannya seketika muncul, ketika melihat Mia sudah tampil begitu cantik dengan rambut panjang yang indah. Dia memberanikan diri memegang kedua lengan istrinya. Satu hal yang di luar kebiasaan Mia, yaitu mengenakan pakaian dengan pundak terbuka. Adriano mengelus lembut kedua lengan Mia. “Kau sudah siap?” tanyanya setengah berbisik.


“Aku belum memakai sepatu,” jawab Mia seraya mengalihkan pandangan ke lemari kaca berukuran besar, berisi sepatu-sepatu cantik yang telah Adriano sediakan.


“Kau memiliki banyak sepatu. Pilih saja salah satunya,” ucap Adriano tanpa mengalihkan pandangan dari cermin, sehingga dia dapat menatap wajah Mia dengan jelas.


“Bagaimana jika kau yang memilihkan untukku?" Mia menggerakkan bola matanya dengan tak beraturan.


“Keinginanmu adalah perintah bagiku,” bisik Adriano, seraya berlalu menuju lemari kaca tadi. Dia berdiri sejenak sambil berkacak pinggang. Pandangannya jeli memilih satu pasang, dari sekian banyak sepatu yang memenuhi lemari kaca itu.


Perhatian Adriano, akhirnya tertuju pada sepasang sepatu berwarna hitam dengan sol merah. Sepatu dengan ciri khas dari sebuah merk ternama dunia. Dia, lalu mengambil sepatu tersebut dan menyodorkannya kepada Mia.


“Selera yang bagus,” puji Mia diiringi senyuman.


“Karena itulah aku jatuh cinta padamu,” balas Adriano dengan tatapan yang menghanyutkan.


Mia tersipu malu mendengar jawaban penuh rayuan pria itu. Dia segera duduk di sebuah bangku khusus berlapis busa empuk. Mia menyibakkan bagian bawah gaun panjangnya. Dia mulai memasangkan sepatu yang Adriano pilihkan tadi.


Sementara, Adriano sibuk merapikan jas dan dasi kupu-kupu yang dikenakannya. Namun, perhatian pria itu lagi-lagi tertuju kepada Mia. Adriano, lalu melangkah ke arah wanita tersebut. Dia menurunkan tubuh di hadapan sang istri. Adriano meraih kaki jenjang Mia. Membantunya mengaitkan gesper kecil hingga tersambung sempurna.

__ADS_1


Mia hanya terdiam menanggapi perlakuan Adriano. Dia menatap pria yang bersedia melakukan hal sekecil itu untuk dirinya. “Terima kasih,” ucap Mia pelan, ketika Adriano sudah kembali berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantunya bangkit.


Mia tak kuasa untuk menolak hal itu. Namun, dia jelas tak ingin tergoda. Wanita cantik tersebut segera berlalu menuju meja, yang disediakan khusus untuk menyimpan perhiasan.


Dikeluarkannya kotak perhiasan yang dia bawa dari Casa de Luca. Mia mengambil bros mawar pemberian Matteo, lalu kembali menutup kotak itu. Dia berdiri di depan cermin sambil menyematkan bros cantik tadi di bagian depan gaunnya. Satu hal yang tak Mia sadari adalah, Adriano memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan sangat detail.


“Aku akan melihat keadaan Miabella dulu,” ucap Mia seraya keluar dari kamar ganti tadi. Dia berlalu menuju ruang utama kamar mewahnya.


Sementara, Adriano masih berada di kamar ganti. Setelah memastikan Mia keluar menuju kamar Miabella, pria itu melangkah ke arah meja tempat menyimpan perhiasan. Dikeluarkannya kotak perhiasan milik Mia.


Tatapan dingin Adriano terlihat dengan begitu jelas, ketika dirinya mendapati selembar foto. Wajah tampan Matteo terpampang di sana, dengan senyuman khasnya. Dalam foto itu, tampak Mia tengah mencium mesra pipi mendiang suaminya yang sedang menggendong Miabella kecil. Satu hal yang menjadi perhatian Adriano adalah, wajah ceria Mia yang terlihat begitu lepas. Jauh berbeda dengan kondisi wanita itu saat ini. Mia lebih sering murung. Adriano meletakan kembali foto tadi.


Namun, tiba-tiba sebuah senyuman simpul muncul di bibirnya. Dia mengambil sesuatu dari kotak perhiasan itu. Adalah gelang kaki yang dulu dia berikan untuk Miabella.


Rupanya Mia masih menyimpan perhiasan tersebut. Setidaknya hal itu menjadi sebuah obat pelipur lara bagi Adriano.


Sebelum Mia kembali ke kamar, dengan segera Adriano menyimpan kembali kotak perhiasan itu ke tempatnya semula. Dia kembali merapikan penampilan, lalu keluar dari kamar ganti sambil membawa mantel untuk dirinya dan Mia.


Maserati New Quattroporte GTS Gransport, telah siap menunggu Mia dan Adriano di halaman mansion. Seorang sopir mengangguk hormat, ketika melihat tuannya telah muncul di sana. Adriano, segera membukakan pintu untuk Mia. Setelah itu, dia mengikuti masuk lalu duduk dengan nyaman. Adriano lagi-lagi harus mengesampingkan kegundahannya, karena percikan rasa cemburu.


Selama di dalam perjalanan, Adriano tak banyak bicara. Sesekali, dia melirik kepada Mia yang lebih memilih melihat ke luar. Pada jalanan kota Monte Carlo yang penuh gemerlap. Tak terbayangkan oleh Mia, karena dirinya kini akan berada di negara itu.


Mobil yang ditumpangi Arsen dan Pierre melaju lebih dulu. Kendaraan itu telah memasuki halaman sebuah mansion yang tak kalah megahnya dengan milik Adriano. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, petugas di pintu gerbang akhirnya mengizinkan mereka untuk masuk.


Adriano kembali membukakan pintu untuk Mia. Sementara, Sergei sudah menyambut mereka di depan mansion. Setelah itu, dia membawa Adriano dan yang lain menuju ke aula tempat berlangsugnya jamuan pesta.


Suasana di dalam sana sudah cukup ramai. Tak terlalu banyak tamu undangan yang hadir, berhubung itu hanya sebuah jamuan kecil. Jadi, yang datang hanya orang-orang tertentu.


“Don Vargas,” panggil Sergei, pada seorang pria tinggi yang tengah asyik berbincang dengan para tamu. Pria berambut cokelat dengan rentang usia sekitar empat puluh lima tahun. Pria itu segera menoleh. “Perkenalkan. Ini sahabatku, Tuan Adriano D’Angelo dan istrinya Nyonya Florecita Mia D’Angelo.” Sergei mengarahkan tangannya pada Adriano yang berdiri gagah di samping Mia.


Pria yang dipanggil dengan sebutan Don Vargas tadi, segera mengarahkan perhatian pada Adriano dan Mia. Sorot matanya begitu tajam seakan tengah menyelidiki. Namun, tak sesaat kemudian, Don Vargas segera mengulurkan tangan untuk menyambut Adriano. “Apa kabar, Tuan D’Angelo?” sapanya dengan logat khas Amerika Latin.


“Baik. Terima kasih atas undangannya,” balas Adriano.


“Aku sudah mendengar banyak tentang Anda dari Tuan Redomir. Masih muda tapi sudah meraih kesuksesan di atas rata-rata. Itu sebuah pencapaian yang sangat luar biasa,” sanjung Don Vargas, dengan senyuman di wajahnya yang terlihat menakutkan. Mia bahkan tak berani menatap pria itu berlama-lama.

__ADS_1


“Jangan terlalu berlebihan. Bagiku, itu hanya sebagian kecil dari sekian banyak target yang belum tercapai,” balas Adriano. “Oh, iya. Aku datang kemari bersama mereka berdua. Ini adalah ajudan setiaku, Pierre Corbyn. Lalu yang itu ….”


“Arsen Moras.” Don Vargas rupanya sudah mengenal sosok Arsen. “Apa kabar” sapanya seraya menyalami pria tampan asal Yunani tersebut. “Apa kesibukanmu saat ini? Apa kau masih menjadi calo?” Don Vargas dan Arsen sama-sama tergelak..


“Apapun kulakukan demi uang,” balas Arsen yang kembali mengundang tawa.


Mia yang tak tertarik dengan perbincangan tadi, mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula mewah milik Don Vargas. Seketika, matanya terpaku pada sosok pria yang berdiri di kejauhan, dengan posisi membelakangi. Pria itu memiliki postur sangat mirip dengan Matteo. Mia, bahkan sempat berpikir bahwa sosok tersebut merupakan mendiang suaminya yang telah kembali.


Tanpa sadar, kaki Mia melangkah meninggalkan Adriano yang masih asyik berbincang-bincang. Dia terus berjalan mendekati pria itu, kemudian menyentuh lembut bahunya. Namun, pada akhirnya Mia tersadar dan kecewa. Pria tadi bukanlah Matteo, meski sekilas memiliki kemiripan yang banyak.


“Apa ada yang bisa kubantu?” tanya pria yang kini telah menoleh pada Mia.


“Ah, maaf. Kukira Anda adalah seseorang yang kukenal,” jawab Mia gugup.


Sepasang mata pria itu memandang tajam kepada Mia. Iris mata berwarna cokelat madu, terlihat begitu teduh dan misterius. Hidung mancung dan tatanan rambut rapi dengan bentuk rahang yang sempurna. Namun, pria tadi memiliki warna kulit sedikit lebih gelap dibandingkan Matteo.


“Apa ada masalah, Mia?” Suara bariton Adriano seketika mengejutkan Mia. Wanita itu menoleh dan mendapati Adriano berdiri gagah, sembari memandang aneh pada pria yang tak dikenal tadi.


“Ah, pasangan Anda mengira bahwa aku sebagai orang lain,” jawab pria itu dengan dingin dan datar.


“Oh, begitu rupanya. Mungkin, istriku mengira bahwa Anda adalah mendiang suaminya yang telah lebih dulu berpulang. Kalian terlihat cukup mirip,” sahut Adriano menanggapi. Membuat Mia tertegun, karena tak mengira jika tebakan Adriano tepat sasaran.


Adriano kemudian menatap sendu pada Mia, sebelum meninggalkannya begitu saja. Dia kembali menghampiri tuan rumah pesta. Sedangkan, pria asing tadi juga memilih mengikuti Adriano. Dia berdiri gagah di samping Don Vargas.


Adriano cukup dibuat saat heran melihat hal tersebut. Akan tetapi, rasa penasarannya terjawab, ketika Don Vargas menepuk punggung pria asing tadi. Don Vargas bahkan merangkul pundaknya dengan akrab. “Perkenalkan. Ini ajudan pribadi sekaligus orang yang paling kupercaya di muka bumi ini,” ucap Don Vargas sambil tersenyum lebar. “Dia sudah kuanggap sebagai anak sendiri,” imbuhnya.


Pria tadi tersenyum samar. Dia mengulurkan tangannya pada Adriano, “Senang bertemu dengan Anda. Namaku, Juan Pablo Herrera.”


🍒


🍒


🍒


Hi, reader. Ini ceuceu bawakan rekomendasi novel seru. Jangan lupa tengok dan ikuti ceritanya ya😉

__ADS_1



__ADS_2