
Pukul dua puluh empat lebih lima menit, Adriano baru tiba di hotel. Dia berdiri di depan pintu kamar. Sesekali, Adriano melirik ke arah Coco yang sejak tadi memperhatikannya sambil melipat kedua tangan di dada. Pria berambut ikal tersebut menyunggingkan sebuah senyuman penuh ejekan. "Tempat tidurku masih kosong jika kau mau," ledeknya seraya tertawa geli. Akan tetapi, Adriano tak memedulikannya. Pria bermata biru itu hanya mengempaskan napas panjang sebelum memutar pegangan pintu dan membukanya.
Adriano masih bisa bernapas lega karena Mia ternyata tak mengunci pintunya, sehigga dia bisa masuk dengan mudah. Di dalam kamar, tampak wanita itu tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Dia menatap sang suami yang baru saja tiba di sana. "Kau tidak tidur lagi, Mia?" Adriano berdiri di dekat ujung tempat tidur seraya membalas tatapan sang istri yang terlihat curiga padanya. Adriano kembali merasa lucu. Kebebasannya memang menjadi terbatasi dari semenjak dirinya memiliki seorang istri. Namun, hal itu tak membuat pria tiga puluh dua tahun tersebut menjadi terbebani.
Tanpa banyak bicara, Adriano melepas jaket hoddie yang dikenakannya. Tampaklah tubuh atletis berhiaskan tato di beberapa tempat. Sedangkan Mia masih terdiam memperhatikan sang suami, yang terlihat begitu menggoda dengan kulit kecokelatannya. Wanita itu tak bergerak sedikit pun, bahkan ketika sang suami mulai merangkak naik hingga berada di hadapannya. "Apa kau sengaja menungguku pulang?" tanya Adriano setengah berbisik. Wajahnya berada tepat di hadapan Mia, dengan posisi tubuh yang bertumpu pada kedua telapak tangan dan lutut.
"Jangan merayuku," tolak Mia pelan, "aku sedang kesal padamu," lanjutnya.
Adriano menanggapi sikap manja sang istri dengan sebuah tawa pelan. Pria itu bergerak semakin mendekat, hingga bibirnya dapat menyentuh bibir Mia. Akan tetapi, Mia tak membalas ciumannya. Dia tetap diam dan membiarkan pria itu bermain sendiri. Karena merasa diabaikan, pria bermata biru tersebut kemudian mengalihkan sentuhan bibirnya pada leher jenjang wanita cantik itu. Meskipun Mia terkesan tak ingin menanggapi semua godaan, setidaknya Adriano dapat mendengar helaan napas pelan sang istri yang sedikit parau. "Jangan jual mahal, Sayang" bisik pria itu dengan napas yang menghangat di dekat telinga Mia.
Sementara Mia sendiri masih berusaha untuk tetap teguh dan tak tergoyahkan. Namun, hanya dengan berupa cumbuan kecil yang diberikan Adriano padanya, ternyata langsung membuat pertahanan teguh yang berusaha dia bangun runtuh seketika. Ditangkupnya paras tampan sang suami, yang saat itu tengah membenamkan wajahnya di leher, mencium dan sesekali mengisapnya dengan lembut. "Jangan, Adriano. Nanti Miabella bangun," mulut Mia menolak, tapi bahasa tubuhnya mengatakan hal yang lain. Dia mere•mas pelan rambut belakang sang suami.
"Kalau begitu, jangan bersuara," bisik Adriano lagi, menghentikan sesaat sentuhan bibirnya di leher Mia yang mulai memerah.
Mia tidak sempat menjawab, terlebih karena Adriano lebih dulu menciumnya dengan penuh gairah. Dia tak mampu menahan serangan sang suami, hingga tubuhnya merosot dan akhirnya rebah dengan posisi telentang. Dalam posisi seperti itu, Adriano dapat bergerak dengan semakin leluasa. Disibakannya selimut yang menutupi sebagian tubuh sang istri. Tanpa melepaskan ciumannya dari bibir Mia, tangan kanan Adriano begitu cekatan melepas tali kimono hingga terbuka lebar.
"Aaahhh ...." desah Mia meluncur begitu saja ketika jemari Adriano mulai menggerayangi setiap bagian yang menjadi kesukaannya.
"Ssst ...." bisik Adriano, membuat Mia segera mengatupkan bibir. Akan tetapi, cumbuan pria itu terlalu mematikan, sehingga Mia kembali mengeluarkan ******* pelan tanpa sengaja. Saat itu, Miabella tampak menggeliat perlahan seraya mengeluarkan rengekan manja. Dengan segera, Adriano menepuk-nepuk paha gadis kecilnya hingga kembali tertidur. "Jangan bersuara," bisik Adriano begitu dalam.
Sedangkan Mia tersenyum saat menanggapinya. "Kau sangat nakal," bisik wanita itu. Jemarinya terus berada di wajah Adriano.
__ADS_1
"Kau yang membuatku ingin selalu menjadi nakal," balas Adriano sambil menyeringai puas, ketika melihat Mia meringis sambil mencengkeram kencang belakang lehernya. Makin lama, sebuah senyuman terkembang di paras tampan pria itu. "Luar biasa," ucap Adriano pelan. Dia menarik tangannya, lalu memperlihatkan jemari yang telah basah oleh cairan lengket. Mia tidak menanggapi. Wanita itu tersipu malu. Namun, sikap malu-malunya tak berlangsung lama, ketika Adriano membalikan tubuhnya dengan cepat. Mia kini berada dalam posisi telungkup, membelakangi sang suami yang masih berada di atasnya.
Perlahan wanita itu memejamkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka, ketika Adriano mulai melakukan tugasnya dalam memberikan kepuasan batin untuk istri tercinta. Mia merasakan dirinya begitu ringan dan seakan terlepas dari sebuah kekangan, terlebih karena Adriano selalu memperlakukannya dengan begitu istimewa. Gaya bercinta Adriano sangat jauh berbeda dengan mendiang Matteo.
Sebuah lenguhan pendek meluncur begitu saja dari bibir Mia, membuat Adriano segera membungkam mulutnya. Dia memasukan ibu jari ke dalam mulut Mia dan membiarkan wanita itu mengulumnya. "Jangan bersuara, Sayang," bisik Adriano lagi di sela-sela helaan napas beratnya. Adegan itu terus berlangsung hingga beberapa saat, dan berakhir ketika Adriano mendekap erat tubuh Mia dari belakang. Wanita cantik itu dapat merasakan dengan jelas setiap detakan jantung sang suami, ketika dada Adriano menempel sempurna di atas punggungnya.
Pria bermata biru itu berhenti bergerak. Namun, helaan napasnya menderu dengan cepat. Lelah, Adriano terkulai sejenak di atas tubuh sang istri yang meliriknya sambil tersenyum lembut. "Kau memang luar biasa, Adriano," sanjung Mia yang sudah merasa puas atas apa yang Adriano berikan padanya. Pria bertubuh tegap dengan rambut gelap itu membalas sanjungan Mia dengan sebuah kecupan hangat di pundak dan belakang leher wanita tersebut. "Sudah cukup, Adriano. Aku sudah tidak kuat. Rasanya sangat melelahkan," tolak Mia halus.
"Aneh sekali, padahal kau tidak melakukan apapun," balas Adriano setengah meledek, membuat Mia segera mendelik padanya.
"Menyingkirlah. Aku ingin ke kamar mandi dulu," Mia tak bisa bergerak karena Adriano terus menindihnya dari belakang.
Pria itu tertawa pelan sambil membenamkan wajah di dekat leher Mia. "Aku mencintaimu, Mia," bisiknya yang diiringi sebuah kecupan lembut di pipi sebelah kanan wanita itu.
"Aku bahkan tak memperhatikannya. Kenapa malah justru kau yang lebih jeli?" Adriano kembali tertawa pelan.
"Bohong sekali jika kau tak pernah memperhatikan hal tersebut," cibir Mia yang kembali berbalas sebuah ciuman di pipinya. "Mata semua pria sama saja. Aku tahu itu," ucap Mia lagi.
"Oh ... kalau begitu besok-besok akan kutanyakan kepada Juan Pablo, tentang apa saja yang menjadi pusat perhatiannya dari dirimu," balas Adriano tak mau kalah seraya turun dari atas punggung Mia, membuat wanita itu menatap keheranan.
“Apa hubungannya dengan Juan Pablo?” tanya Mia seraya menautkan alis.
__ADS_1
“Tidak ada," jawab Adriano tenang. "Cepatlah ke kamar mandi,” ucap pria itu lagi sembari tersenyum menggoda. Tepat saat Mia berdiri dan hendak melangkah, Adriano menepuk pinggulnya dengan pelan.
“Adriano!” pekik Mia tertahan. Tubuh polos yang awalnya membelakangi sang suami, kini berbalik. Adriano dapat melihat dengan jelas keindahan lekuk tubuh sang istri. Gejolaknya kembali bangkit. Tanpa pikir panjang, dia segera berdiri dan membopong Mia, lalu membawanya masuk ke kamar mandi.
Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Ketika jarum jam pada arloji milik Adriano menunjukan pukul dua tiga puluh, mereka baru bersiap untuk tidur. Mia berbaring di sisi sebelah kanan, sementara Adriano pada sisi sebelah kiri. Sedangkan Miabella tertidur lelap di tengah-tengah. Gadis kecil itu tidur dengan posisi yang tak beraturan. Kaki mungilnya kini berada tepat di depan wajah Adriano.
"Astaga ... anak ini," keluh Adriano antara geli dan merasa terganggu. Dia tidak bisa tidur dengan nyaman, karena posisi tidur Miabella yang ke mana-mana. "Aku tidak bisa tidur, Mia," ucapnya seraya bangkit dan terduduk sebentar. Adriano kemudian turun dari kasur sambil membawa bantalnya. Dia berjalan menuju sofa. Adriano bermaksud untuk tidur di sana.
"Kau yakin akan tidur di sofa, Adriano?" tanya Mia yang juga ikut bangkit dan terduduk.
"Aku pernah tidur di kandang anjing," sahut pria bermata biru itu tanpa menoleh. Dia tengah sibuk menata bentalnya. Setelah itu, Adriano kemudian menatap dan tersenyum kepada Mia yang terus memperhatikannya. "Lupakan ucapanku tadi," senyum kalem itu terus dia layangkan dan terlihat sangat menggoda. "Sekarang tidurlah. Besok kita akan berangkat ke Birmingham," ucap pria itu lagi.
Mia tidak menjawab. Dia hanya menatap lekat kepada sang suami. Sesaat kemudian, wanita bermata cokelat tersebut mengangguk pelan. Sebelum memutuskan untuk kembali tidur, dia sempat melihat kepada Miabella yang kini menjadi penguasa kasur berukuran besar itu. Seutas senyuman muncul di bibir wanita cantik dengan rambut cokelat yang indah. Mia lalu membetulkan posisi tidur putri semata wayangnya. Dia juga menyelimuti tubuh gadis kecil tersebut. Miabella sudah benar-benar terlelap sejak beberapa jam yang lalu.
Pandangan Mia kini beralih kepada Adriano yang telah berbaring sambil bertelanjang dada. Entah pria itu sudah terlelap atau belum, tetapi Mia dapat melihat kedua mata Adriano yang kini terpejam. Setelah terdiam beberapa saat, Mia memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Dengan hati-hati, dia melangkah ke dekat sofa dan berdiri sejenak sambil memperhatikan sang suami yang sudah tertidur. Namun, ketika Mia hendak membalikan badan, cengkeraman tangan Adriano berhasil menghentikannya langkahnya.
Mia kembali menatap paras tampan yang masih terpejam itu. Sambil tersenyum, dia ikut merebahkan tubuhnya di atas sofa, berdesakan dengan Adriano yang segera mendekapnya erat dari belakang. "Kupikir kau sudah tidur," ucap Mia pelan.
"Aku tahu kau juga belum tidur," balas Adriano setengah berbisik. Dia semakin mempererat dekapannya terhadap Mia. "Aku suka saat dapat memelukmu seperti ini," bisik Adriano lagi.
"Kalau begitu ... teruslah peluk aku. Ini terasa begitu nyaman dan membuatku tenang," balas Mia seraya menggenggam tangan Adriano yang melingkar di tubuhnya.
__ADS_1
"Selamat tidur, Mia. Sayangku"