Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
End of Tension


__ADS_3

“Kesalahan berawal dari Marcus yang dengan gegabahnya memberikan link itu kepada Anda,” Lionel kemudian melotot tajam terhadap Marcus yang masih terikat dan kini terkena luka tembak.


“Sudah kukatakan bahwa semua itu kulakukan, hanya untuk menjebak dan menghentikan Adriano agar dia tidak bertindak lebih jauh lagi!” Marcus membela diri. Saat itu, dia tampak diliputi oleh emosi tinggi.


“Lihat kenyataannya!" sentak Lionel. "Tuan D’Angelo masih hidup sampai detik ini,” pria itu kemudian mengempaskan napas penuh kekesalan. Sementara di luar sana, sayup-sayup terdengar bunyi sirine mobil polisi dari kejauhan. Lionel yang telah mulai menenangkan diri, kini berubah panik dan berdiri. “Gawat! Mereka datang!” resahnya.


Dia berbalik dan mendekati Jules yang lengah. Pria itu segera merebut pistol yang sedang dipegang anak buah Adriano tersebut, kemudian menembak Marcus tepat di bagian kepala hingga tewas seketika. Baik Adriano maupun siapa saja yang berada di ruangan itu, terbelalak tak percaya. Darah segar dari luka tembak Marcus terciprat ke mana-mana. Noda merah itu mengotori kursi, lantai, dan juga baju mereka.


“Jika kami tak bisa menghentikanmu, maka biarlah polisi yang melakukannya,” Lionel tersenyum puas seraya melemparkan senjata itu kembali kepada Jules, “itu senjatamu. Sedangkan ini adalah rumah sewaan yang kalian tempati. Artinya, Anda adalah tersangka utama pembunuhan Mark Bolton, seorang turis dari Amerika," seringainya.


“Jangan konyol! Semua yang terjadi di sini sudah terekam oleh kamera CCTV!” sergah Adriano.


“Apa Anda yakin bahwa semua kamera itu berfungsi dengan baik? Asal Anda tahu, Marcus telah meretas semua benda elektronik yang berada di rumah ini, bahkan jauh sebelum Anda menempatinya!” Lionel tertawa keras.


Akan tetapi, tawanya harus terhenti ketika pintu depan didobrak oleh beberapa orang polisi berseragam dan bersenjata lengkap.


“Angkat tangan semuanya!” satu kompi polisi menerobos masuk. Mereka semua memakai pelindung lengkap beserta helm dan rompi anti peluru.


“Ck,” Adriano berdecak kesal seraya melempar senjata ke lantai. Begitu pula keempat anak buahnya. Mereka serentak mengangkat tangan tinggi-tinggi. Sementara, Lionel menghilang begitu saja. Adriano menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan, tapi tak menemukan pria misterius itu di manapun. “Astaga, Mia!” tiba-tiba ingatannya tertuju pada wanita yang teramat dicintainya. Dia takut Lionel akan naik dan membahayakan istri serta anaknya.


“Jangan bergerak, Tuan!” salah seorang polisi memberikan tembakan peringatan, lalu menyergap Adriano. Pria rupawan dan keempat anak buahnya itu dipaksa untuk telungkup di atas lantai. Adriano tak punya pilihan selain diam. Dia tidak melakukan perlawanan. Adriano tak ingin membuat situasi menjadi semakin runyam.


“Tolong, Sir. Salah satu dari kalian, bergeraklah ke atas. Lindungi anak dan istriku! Ada satu orang yang berbahaya. Dia baru saja membunuh pria yang terikat di kursi,” ujar Adriano pada salah seorang polisi.


“Tenanglah, Tuan. Kami akan memeriksa dengan saksama sebelum mengambil keputusan,” balas salah seorang polisi, membuat Adriano mengernyitkan kening karena keheranan. Suara polisi itu mengingatkan dia kepada seseorang yang dikenalnya

__ADS_1


“Detektif Ranieri?” gumam Adriano tak percaya.


Tak lama, terdengar tawa pelan. Seseorang membalikkan tubuh Adriano dan menariknya agar berdiri. “Kerja bagus, Tuan D’Angelo,” polisi itu menarik masker hitamnya dan menunjukkan wajah yang tak asing lagi.


“Ternyata benar kau Detektif Ranieri,” Adriano bernapas lega. Anak buahnya juga telah dilepaskan. Sedangkan para polisi itu tampak serius memeriksa setiap titik di tempat kejadian perkara.


Tampak pula jasad Marcus yang diangkat dan dimasukkan ke dalam kantung mayat.


“Terima kasih, Tuan D'Angelo. Berkat kasus kecelakaan yang menimpa Anda, aku jadi bisa bekerja sama dengan kepolisian Inggris, sehingga tak perlu lagi bergerak secara diam-diam,” ujar Detektif Ranieri seraya menepuk lengan Adriano dengan pelan.


“Adriano!” belum selesai rasa terkejut, seruan dari seorang wanita yang tak lain adalah Mia, membuat Adriano menoleh kemudian berlari. Dia memeluk erat istrinya yang berada di tengah anak tangga sambil menggendong Miabella. “Adriano, syukurlah kau baik-baik saja,” Mia membalas pelukan suaminya dengan lebih erat.


“Darah siapa itu, Daddy Zio?” Miabella yang polos, mengarahkan telunjuknya ke lantai ruang tamu. Segera saja, Adriano menutup mata Miabella dan berganti memeluknya.


“Bawa Bella ke atas, Sayang. Masuklah lagi ke kamar sampai semua kekacauan ini kubereskan. Kau tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, bukan?” tanyanya.


“Baguslah kalau begitu,” Adriano mengecup bibir Mia sekilas sebelum wanita itu meniti kembali anak tangga ke atas dengan Miabella.


Bersamaan dengan itu, Coco yang menuruni tangga, menghampiri Adriano.


“Bagaimana?” tanyanya penasaran.


“Ikutlah ke bawah. Detektif Ranieri telah menunggu,” ajak Adriano. Mereka berjalan tergesa-gesa, mendekati detektif dari Italia yang kini sedang sibuk berbincang dengan salah seorang polisi.


"Ah, dia adalah Tuan Adriano D”Angelo. Pengusaha asal Monaco yang selamat dari penculikan kemarin,” Ignazio Ranieri memperkenalkan pria tampan itu kepada rekannya.

__ADS_1


“Tuan Adriano, perkenalkan Sersan Johnson. Dia adalah wakil biro interpol London.”


Pria bernama Johnson itu mengulurkan tangan, kemudian menjabat erat Adriano dan juga Coco. “Maafkan peristiwa tidak menyenangkan yang Anda alami selama di Inggris, Tuan D’Angelo,” ucapnya.


“It’s alright, Sir. Lagi pula, aku sudah berencana kembali ke Monaco,” balas Adriano. “Jadi, siapa mereka sebenarnya?” tanyanya kemudian.


“Kami sama sekali tidak tahu,” Sersan Johnson membuang napas sambil menggeleng. “Detektif Ranieri awalnya mengirim red notice kepada kami, menerangkan bahwa ada gerakan berbahaya dari Italia yang telah berbuat onar di Inggris. Mereka adalah kelompok misterius bernama Tangan Setan. Akan tetapi, ternyata kami menemui jalan buntu.”


“Bagaimana dengan Thomas Bolton? Pria yang telah menculik dan membuatku celaka?” tanya Adriano lagi.


“Pria itu jauh lebih misterius lagi. Dia memang warga negara Inggris, tapi latar belakangnya benar-benar bersih. Tak ada cela sedikit pun. Dia memiliki toko suvenir kecil di pinggiran Birmingham. Tak pernah sekalipun melanggar hukum, bahkan hanya sekadar menerobos lampu merah,” papar Sersan Johnson.


“Lalu, apa yang mendasari pria itu dalam penculikan terhadap Adriano?” Coco yang semula diam, kini ikut bersuara.


“Hal itulah yang tengah kami selidiki, sampai satu jam lalu kami mendapati sinyal bahaya dari Detektif Ranieri. Kami mendatanginya dan detektif menuntun kami ke tempat ini,” jelas Sersan Johnson.


“Tentang Marcus Bolt yang sudah menjadi mayat, apa Anda mengenalinya?” tanya Adriano.


“Anak buahku sudah memeriksa mayatnya. Mereka menemukan dompet berisi kartu identitas dan beberapa lembar uang dollar. Pria itu tercatat sebagai warga negara Amerika bernama Mark Bolton. Dia datang ke Inggris dengan keterangan sebagai turis,” jelas sersan itu lagi.


“Menurut seorang pria yang bernama Lionel, Mark adalah adik kandung Thomas,” ujar Adriano seraya mengusap dagu.


“Siapa Lionel?” Detektif Ranieri menautkan alisnya.


“Pria itu datang bersama dengan Mark Bolton. Mereka bahkan tidak datang berdua. Ada belasan orang temannya yang tadi mengepung rumah ini.”

__ADS_1


Mendengar pernyataan Adriano, Sersan Johnson dan Detektif Ranieri saling pandang. “Bertambah lagi pekerjaan kita,” keluh pria berambut pirang dan setengah botak itu.


“Entah siapa lagi yang mengincarmu, Tuan D'Angelo. Namun, orang yang sudah berbuat keonaran tadi bukanlah Tangan Setan. Tidak ada bukti keterlibatan mereka sama sekali,” ucap Detektif Ranieri yakin.


__ADS_2