Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Pregiudizio


__ADS_3

Tanpa merasa lelah, Adriano kembali terbang ke kota Roma. Perjalanan dari Brescia yang harusnya ditempuh dalam waktu kurang lebih lima jam melalui jalur darat, terasa lebih singkat dengan menggunakan helikopter yang kebetulan belum kembali ke Monaco. Setibanya di tempat tujuan, Adriano segera bertemu dengan Patrizio. Pria tersebut saat itu tengah berada di lokasi syuting, yang tiada lain adalah club milik Adriano sendiri.


"Kapan kau tiba dari Monaco?" tanya Patrizio setelah mereka berpelukan dan saling bertukar kabar.


"Beberapa saat yang lalu," jawab Adriano seraya melihat sekeliling ruangan luas yang kini telah disulap sedemikian rupa. "Luar biasa," gumamnya merasa takjub.


"Kami akan memulai acara sebentar lagi. Oh, iya suatu kehormatan karena kau bisa datang kemari. Bagaimana jika kau duduk sebentar dan menyaksikan jalannya syuting bersamaku?" tawar Patrizio kemudian.


"Apa acaranya berlangsung lama?" tanya Adriano terlihat memasang ekspresi ragu.


"Tidak juga, hanya sekitar tiga jam. Namun, aku yakin kau akan sangat menikmatinya. Kau pasti terhibur melihat bakat-bakat dari seluruh Italia," terang Patrizio sedikit membujuk.


"Baiklah, tapi hanya sebentar," jawab Adriano setuju. Dia lalu duduk sambil berbincang ringan bersama Patrizio, hingga para juri acara tersebut memasuki ruangan. Mereka semua berjumlah empat orang. Tiga di antaranya adalah wanita bertubuh sintal yang merupakan model sekaligus penyanyi papan atas Italia. Sementara satu lagi ialah seorang pria pencari bakat. Salah satu dari ketiga wanita yang menjadi juri adalah tentu saja Carina de Rossi.


Carina terlihat begitu sumringah saat melihat kehadiran Adriano di sana. Dengan segera, wanita cantik berpenampilan aduhai itu memberikan sapaan hangatnya untuk sang pemilik tempat tersebut. Seperti biasa, dia mencium pipi Adriano dengan lembut. Patrizio juga memperkenalkan Adriano pada ketiga juri lainnya.


"Bagaimana jika kita berfoto bersama?" cetus salah seorang juri wanita yang mengenakan pakaian dengan belahan dada rendah, sehigga memperlihatkan setengah dari payu•daranya yang besar.


"Oh, tentu saja. Ide bagus, Letizia," Patrizio menyambut baik ide dari wanita bernama Letizia tersebut. Setelah itu, mereka berjejer dengan posisi Adriano yang berada di tengah, dan diapit oleh tiga juri wanita berpenampilan seksi nan anggun. Sedangkan Patrizio dan pria satunya lagi berdiri di sisi kiri dan kanan.


Sementara Carina memanfaatkan momentum tersebut untuk berdekatan dengan Adriano. Dia berpose sambil meletakkan tangan kirinya di atas pundak pria bermata biru tersebut. Adriano tak sempat menolak saat itu. Beberapa gambar pun berhasil diambil. Karena merasa tidak nyaman, Adriano akhirnya memutuskan untuk pamit. Dia tak jadi menonton jalannya syuting. Dirinya tak ingin mencari masalah, terlebih jika mengingat kecemburuan Mia yang sangat besar padanya. Adriano lebih memilih untuk menemui Benigno dan berbincang sebentar dengan anak buah kepercayaannya tersebut. Setelah selesai melihat keadaan club, Adriano memutuskan untuk membeli beberapa hadiah untuk Miabella dan juga Damiano. Menjelang sore, dia baru kembali ke Casa de Luca. Kepulangannya disambut rona ceria dari sang putri dan tentu saja Mia.


"Apa kita perlu membawa Damiano ke rumah sakit?" tanya Adriano ketika dirinya tengah bercengkerama bersama Mia dan juga Miabella di kamar yang ditempatinya. Saat itu, Miabella tampak asyik bermain dengan boneka baru yang Adriano belikan untuknya tadi sore.

__ADS_1


"Aku sudah membujuknya, tapi paman tetap menolak. Dia lebih nyaman diperiksa oleh dokter keluarga. Ricci pun mengatakan demikian," terang Mia.


"Semoga dia hanya kelelahan," ucap Adriano lagi. Sebelum dia sempat melanjutkan perbincangan, suara dering pesan terlebih dahulu masuk ke ponselnya. Tanpa rasa curiga, Adriano meraih benda itu kemudian membuka pesan tersebut di dekat Mia. Namun, ternyata itu adalah sebuah kesalahan fatal yang dilakukannya, karena ternyata pesan itu berisi foto-foto antara dia bersama para juri termasuk Carina.


Adriano hanya dapat mengempaskan napas panjang seraya menggaruk kening. Dia lalu melirik kepada Mia yang tengah memandang ke arahnya dengan sorot mata aneh, penuh selidik, dan juga curiga. Tatapan yang membuat Adriano merasa tidak nyaman karenanya. "Aku bisa menjelaskanya, Mia," ucap Adriano kemudian dengan nada dan raut wajah penuh sesal. Dia tahu bahwa Mia pasti akan kembali pada kecemburuannya seperti saat di Monaco.


"Jangan merepotkan dirimu, Adriano," sahut Mia kesal. Dia yang awalnya bergelayut dalam dekapan pria bermata biru itu, kini menjauh. Mia lebih memilih mendekat kepada Miabella yang tengah asyik bermain.


Melihat gelagat kurang enak dari Mia, Adriano pun segera menggeser posisi duduknya. Dia mendekat kepada Mia. "Ayolah, Mia. Tolong jangan mulai lagi. Masih ada hal yang jauh lebih penting untuk kita bahas," bujuknya.


"Kau pikir hal seperti ini tidak penting bagiku?" sergah Mia jengkel.


"Ya, aku tahu itu sangat penting. Akan tetapi, sudah kujelaskan bahwa di antara kami tidak ada hubungan apapun selain persahabatan," sanggah Adriano.


"Kau, Sayangku. Kau sangat lucu," sahut Adriano tanpa menghentikan tawanya.


"Teruslah tertawa! Kupikir kau berbeda dengan pria lainnya, ternyata kau sama saja!" gerutu Mia semakin kesal. Dia lalu turun dari tempat tidur dan bermaksud untuk mengajak Miabella pergi ke kamar sang anak.


Dengan segera, Adriano mengikutinya. Dia meraih tangan Mia dan mencegah wanita itu untuk berlalu dari sana. "Mia, kumohon. Harus berapa kali kujelaskan padamu, bahwa aku tidak memiliki perasaan lebih terhadap Carina atau wanita manapun!" tegas Adriano yang mulai lelah dengan sikap Mia.


"Kau bisa saja menghindarinya, Adriano! Namun, entah kenapa kalian selalu bertemu. Lihatlah foto tadi! Kenapa kau tidak memilih untuk berdiri di sisi lain dan bukan malah berpose di dekat wanita itu!" protes Mia dengan tak kalah tegas.


"Astaga, Mia. Kau lihat dalam foto itu bukan hanya kami berdua. Di sana ada banyak orang dan ...."

__ADS_1


"Ya, aku tidak buta, Adriano! Aku tahu di sana ada orang lain selain kalian berdua. Akan tetapi, aku tidak tahu apa saja yang kau lakukan dari siang hingga petang di kota Roma!" sebuah kalimat yang bernada tuduhan, terlontar dari bibir Mia untuk Adriano. "Ayo, Sayang. Sudah waktunya untuk tidur," ajak Mia seraya meraih tangan Miabella yang tidak terganggu dengan perselisihan kedua orang tuanya.


"Tunggu, Mia! Apa maksudmu berkata seperti itu?" Adriano menghadang langkah Mia di depan pintu. "Kau menuduhku berbuat macam-macam dengan wanita lain? Itu sangat keterlaluan!" protes Adriano yang tak menyukai sikap dan perkataan Mia. Adriano menilai apa yang Mia lakukan sebagai sesuatu yang sangat berlebihan.


"Ibu, jangan bertengkar," Miabella yang sedari tadi tidak terlalu peduli dengan perselisihan itu, pada akhirnya merasa terusik. Gadis kecil tersebut mulai terisak.


Dengan segera, Mia meraih tubuh mungil putrinya kemudian dia gendong. "Tidak apa-apa, Sayang. Maafkan kami. Aku dan Daddy Ziomu hanya sedang mengobrol," ucap Mia menenangkan Miabella dengan segera.


Melihat hal itu, Adriano pun segera menenangkan diri. Dia tak ingin semakin terpancing emosi oleh sikap dan kata-kata Mia. Sedikit demi sedikit, pria bermata biru itu mengatur napasnya agar lebih teratur. "Dengarkan aku, Mia," ucapnya kemudian dengan intonasi yang terdengar jauh lebih tenang. "Aku sama sekali tidak marah ataupun keberatan dengan sikap cemburu yang kau tunjukkan. Namun, aku sangat kecewa karena ternyata kau tidak bisa menghargai kejujuranku. Entah apa lagi yang bisa kuberikan padamu untuk membuktikan perasaan cinta ini. Ingatlah satu hal Mia, kepercayaan adalah dasar utama dalam sebuah hubungan. Jika kau tidak memiliki hal itu untukku, maka ...." Adriano tidak melanjutkan kata-katanya. Dia lebih memilih untuk keluar kamar dan meninggalkan Mia yang masih terpaku sambil menggendong Miabella.


Adriano berjalan keluar. Dia pergi menemui Nicco dan meminta sang sopir agar mengantarkannya ke apartemen. Setibanya di sana, Adriano segera mengempaskan tubuh di atas tempat tidur. Dia begitu lelah atas segalanya. Semua hal yang telah terjadi, termasuk perselisihan dengan Mia yang tak seharusnya terjadi.


Malam kian larut. Tanpa terasa, Adriano pun terlelap dalam tidurnya. Dia terbangun ketika terdengar suara dering ponsel yang dirasa cukup mengganggu. Dengan setengah sadar, Adriano meraba-raba di atas kasur, mencari telepon selulernya yang semalam dia lemparkan dengan begitu saja. Dilihatnya sekilas nama si pemanggil. Setelah itu, Adriano meletakkan ponsel tersebut di atas telinga, sedangkan dirinya kembali memejamkan mata.


"Kau masih tidur, Adriano?" suara Arsen terdengar di ujung telepon.


"Ada apa?" sahut Adriano dengan suaranya yang berat juga parau.


"Tidak ada. Aku hanya ingin membicarakan masalah proyek di sini," jawab Arsen.


"Sepagi ini?" Adriano membuka mata kemudian menautkan alisnya. Namun, tak lama dia kembali terpejam.


"Apanya yang masih pagi?" protes Arsen. "Sekarang sudah jam sepuluh," ucap pria itu yang seketika membuat Adriano terkesiap. Pria itu terbangun dengan segera. Dia lalu melihat jam digital yang terletak di atas meja sebelah tempat tidur. Benar saja, saat itu sudah pukul sebelas siang, karena Italia lebih cepat satu jam jika dibandingkan dengan Inggris.

__ADS_1


"Lain kali saja kita bahas masalah pekerjaan. Aku masih ada urusan lain," tutup Adriano dengan begitu saja. Dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan aktivitas di kamar mandi, Adriano segera mengambil kunci mobil dari dalam laci. Dia bermaksud untuk segera kembali ke Casa de Luca dan menyelesaikan semua masalahnya dengan Mia. Bagaimanapun juga, hubungannya dengan wanita itu di atas segalanya. Namun, setibanya di halaman Casa de Luca, Adriano dibuat terkejut dengan kemunculan seseorang yang tak permah dia duga.


__ADS_2