
Oxana menyaksikan video yang diputar oleh Romeo dengan saksama. Gadis itu terdiam selama pemutaran berlangsung. Paras cantiknya yang tadi terlihat khawatir dan takut, kini berubah menjadi murung seketika. Oxana pun tertunduk dengan dalam.
“Jelaskan padaku apa yang mereka bicarakan.” Romeo menyimpan kembali ponselnya di dalam glove box. Di sana juga masih ada sekitar dua buah ponsel lagi yang merupakan miliknya. “Ayo katakan!” suruh Romeo dengan nada bicara yang jauh lebih tegas dari sebelumnya dan bahkan terkesan membentak, membuat Oxana langsung beringsut ke samping sambil meringis ketakutan. Sikapnya sangat jauh berbeda, dengan saat sebelum malam penculikan terjadi. Hal itu membuat Romeo yakin bahwa gadis cantik bermata biru tersebut berada di bawah tekanan.
“Astaga. Aku tidak ingin berbuat kasar terhadap wanita,” keluh Romeo yang melihat Oxana sangat ketakutan karena sikapnya. “Ayo katakan sesuatu padaku,” pintanya dengan jauh lebih tenang.
Oxana mengangguk ragu. “Aku mengenal salah satu dari mereka yang bermama Artem. Dia yang pertama kali membawaku ke Italia,” terangnya.
“Lalu?” tanya Romeo setengah menghadapkan tubuh ke arah gadis cantik itu.
“Dalam video tadi, mereka membicarakan tentang penyelundupan heroin yang dimasukkan ke dalam senjata ilegal. Selain itu, mereka juga merencanakan untuk mengirimkan gadis-gadis dari luar Italia. Para gadis tersebut katanya akan disebar untuk dipekerjakan di klub-klub kecil dan murahan sebagai pekerja se•ks komersial,” terang Oxana. Gadis cantik itu tertunduk dengan semakin dalam. “Aku merindukan ibuku,” ucapnya pelan.
Romeo terdiam dan berpikir. Dia memperhatikan si pemilik rambut pirang di sebelahnya dengan saksama. “Mereka bertiga sudah mati semalam,” ucapnya.
“Sungguh?” Oxana mengangkat wajah dan memandang ke arah Romeo dengan rona tak percaya. “Pantas saja Artem tidak datang pagi ini,” gumam gadis itu.
“Apa dia kekasihmu?” tanya Romeo.
“Tidak. Tentu saja bukan,” bantah Oxana. Dia lalu terdiam sejenak. “Artem akan datang setiap pagi ke tempat kami untuk meminta uang harian,” jelas Oxana pelan.
“Kami?” ulang Romeo.
Oxana mengangguk. “Saat pertama datang ke Italia, aku dan beberapa gadis lainnya dibawa ke sebuah gedung apartemen. Mereka mengatakan jika itu merupakan sebuah agency yang bisa menyalurkan bakat kami. Namun, saat tiba di sana yang kami dapati justru sekelompok pria menakutkan yang memaksa para gadis untuk ....” Oxana tak melanjutkan kata-katanya.
Sementara Romeo tampak memicingkan mata. Pikirannya langsung tertuju pada gedung yang menjadi tempat dirinya dan Miabella disandera malam itu.
“Apa lagi yang kau tahu tentang mereka?” selidik Romeo.
Oxana menggeleng. “Aku tidak mengetahui banyak hal. Namun, waktu itu sepintas diriku pernah mendengar bahwa mereka butuh kekuasaan dan nama besar yang akan menjadi tempat untuk bernaung di Italia. Akan tetapi, aku tidak memahami sama sekali apa yang mereka maksud,” jelasnya.
“Ada berapa orang gadis yang tinggal bersamamu?” tanya Romeo lagi.
“Sepuluh orang. Mereka bekerja di klub yang sama denganku pada malam hari. Pada siang harinya, kami bebas mencari pekerjaan lain sebagai tambahan untuk upeti,” tutur Oxana.
__ADS_1
“Kalian diberi kebebasan, lalu kenapa tidak melarikan diri?” Romeo tampak tak habis pikir.
“Tidak mungkin. Masing-masing gadis telah dipasang chip yang bisa mendeteksi keberadaan kami. Sedikit saja kami keluar dari jalur, maka ... maka kau pasti sudah tahu seperti apa akibatnya. Kami hanya sekumpulan gadis biasa.” Tatap mata Oxana terlihat semakin sendu.
Romeo pun menjadi serba salah karenanya. Pemuda itu tak bisa bergerak sendiri. Di Italia, jaringan yang sedang dia bahas dengan Oxana mungkin belum terlalu besar dan kuat. Akan tetapi, entah di negara asal mereka. “Ketahuilah bahwa orang-orang di apartemen yang kau maksud telah ditumpas habis seluruhnya. Namun, ada satu orang yang berhasil melarikan diri. Czar. Apa kau mengetahui siapa pria itu?” Romeo terus mencecar Oxana dengan berbagai pertanyaan.
“Czar?” ulang gadis cantik tersebut. Dia terlihat amat resah saat mendengar nama pria berjanggut tersebut. “Di tubuhku masih ada alat pendeteksi. Sebaiknya kau segera menjauh jika tak ingin ....” Belum sempat Oxana melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara keras pada jendela kaca mobil Romeo. Oxana pun terdiam.
Namun, tidak dengan Romeo. Dia segera bergerak cepat. Pemuda tampan tersebut menyalakan mesin mobil lalu menginjak gas. Bersamaan dengan itu, terdengar suara letusan tembakan dari arah belakang. Beruntungnya karena kendaraan yang dia bawa sudah dilapisi dengan anti peluru. Akan tetapi, meski begitu Romeo masih belum terbebas. Beberapa meter di belakang mobil yang dia kendarai, ada sekitar dua buah mobil sedan yang terus mengikutinya.
“Kau tidak akan bisa bersembunyi ke manapun selama membawaku, karena ada alat pendeteksi ini.” Oxana kembali terlihat resah. Dia memegangi kalung yang terpasang padanya. Kalung itu berukuran kecil dan seakan menyatu dengan leher gadis cantik tersebut.
“Kau tidak bisa melepasnya sendiri?” tanya Romeo sambil terus memacu kendaraan dengan lincah. Lihai, dia mengendalikan kemudi menyusuri jalanan yang tidak terlalu lebar di antara pepohanan cukup rindang. Bakat dari seorang Marco sebagai pembalap liar, menurun pada kedua putranya.
“Tidak bisa. Kalung ini bahkan tidak putus meski dipotong menggunakan pisau atau gunting,” sahut Oxana dengan tubuh terguncang. “Ya, Tuhan. Pagi ini aku belum sempat sarapan,” ucap gadis cantik berambut pirang itu tampak memelas.
“Aku tahu siapa yang bisa melepas kalungmu," ucap Romeo sambil menyeringai. Pemuda itu mempercepat laju kendaraannya.
“Kau bisa menahan lapar, ‘kan?” tanya Romeo sambil memutar kemudi. Dia sengaja melewati gang-gang sempit di luar jalan utama kota agar tak terlihat oleh orang-orang yang mengejarnya. Walaupun demikian, orang-orang misterius itu masih dapat menemukan mereka.
“Bisa. Jika terpaksa,” jawab gadis itu sembari berkali-kali menoleh ke belakang.
“Sampai radius berapa kilometer kalung itu berfungsi?” tanya Romeo lagi.
“Aku rasa bahkan hingga ke luar Italia pun, mereka masih bisa menangkap sinyalnya,” jawab Oxana.
“Baiklah, kalau begitu. Mari kita giring mereka ke kandang harima.,” Romeo tertawa lebar. Dia memutar kendaraannya seratus delapan puluh derajat, sehingga saling berhadapan dengan para pengejar.
Kendaraan-kendaraan itu tak menyangka jika mobil Romeo akan berbalik ke arah mereka. Panik, mobil-mobil itu bergerak mundur dengan kecepatan tinggi. Salah satu mobil mengalami selip ban dan menabrak mobil lain. Akibatnya, kedua kendaraan tersebut bertubrukan cukup kencang hingga terguling kemudian terbalik.
Romeo bersorak riang saat melewati mobil-mobil yang telah ringsek itu. "Rasakan itu!" cibirnya puas. Tujuan pemuda berambut pirang tersebut selanjutnya adalah Casa de Luca.
“Jangan gembira dulu. Masih ada lagi yang akan mengejarmu,” tegur Oxana mengingatkan. Gadis itu terlihat begitu gelisah.
__ADS_1
“Tenang saja. Kau tak tahu seperti apa kekuatan anggota klan de Luca,” seringai Romeo sembari memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengendarai mobil sport itu.
Tak berselang lama, mereka telah tiba di depan Casa de Luca. Para penjaga yang bertugas di sisi gerbang segera membukakan akses masuk untuk Romeo hingga tiba di depan bangunan utama.
Bersamaan dengan Coco dan Carlo yang hendak keluar ke suatu tempat.
“Paman! Jangan ke mana-mana dulu! Aku membutuhkan bantuanmu!” seru Romeo begitu dirinya turun dari mobil.
“Astaga! Kau badung sekali, Romeo! Marco kebingungan mencarimu, dan sekarang dia menyuruhku untuk menemukanmu!” gerutu Coco tanpa jeda. Dia merasa pusing melihat kelakuan anak-anak dari Matteo dan juga Marco, yang sangat jauh berbeda dengan ketiga anaknya.
“Kau sudah menemukanku. Jadi, sekarang adalah giliranku untuk meminta tolong padamu,” ujar Romeo enteng. Dia berbalik dari hadapan Coco dan berjalan ke samping mobil. Romeo lalu membuka pintunya dan membantu Oxana keluar dari sana.
Tentu saja hal itu membuat Carlo terkejut bukan kepalang. “Di-dia?” tunjuknya terbata.
“Siapa lagi ini?” Coco semakin terlihat naik pitam.
Namun, Romeo tak peduli. Dia mendorong tubuh gadis itu hingga berada tepat di hadapan Coco. “Tolong lepaskan chip yang tertanam di kalung ini, Paman,” pintanya seakan tanpa beban sama sekali.
“Kekacauan apa lagi yang kau lakukan, Romeo?” Coco sama sekali tak menanggapi permintaan keponakannya tersebut. "Aku yang seharusnya sudah kembali ke Roma, terpaksa menunda keberangkatan," gerutu Coco lagi.
“Gadis ini adalah kunci dari semua permasalahan kita,” jawab Romeo entah apa maksudnya.
“Apa maksudmu!” Suara Coco semakin meninggi.
“Gadis ini yang dijadikan umpan untuk menculikku beberapa hari yang lalu, Paman. Dia adalah saksi kunci bagi kita agar dapat membongkar akar dari organisasi Fedor,” terang Romeo dengan senyuman puas, membuat Coco berpikir untuk beberapa saat.
“Lalu, chip apa yang tertanam di kalung ini?” tanya Coco yang mulai tertarik dengan penjelasan Romeo.
“Ini adalah chip pelacak agar mereka bisa dengan mudah mencari gadis ini jika melarikan diri,” jawab Romeo.
Tak hanya Coco, Carlo pun ikut terbelalak mendengar penjelasan putra sulung Marco tersebut.
“Apa? Jadi, kau menggiring mereka semua untuk datang kemari?” seru dua pria lintas usia itu secara bersamaan dengan ekspresi tak percaya.
__ADS_1