
Suasana hangat menghiasi meja makan pada malam itu, meskipun Daniella dan kedua putranya sudah dijemput oleh Marco untuk kembali ke Palermo. Sementara Coco dan Francesca masih berada di Monaco, karena rencananya mereka akan kembali ke Brescia bersama Adriano dan juga Mia. Miabella bersikeras untuk mengunjungi Damiano. Lama tak bertemu dengan sang kakek, membuat gadis kecil itu merasa sangat merindukan pria paruh baya tersebut. Akhirnya, Adriano pun setuju untuk berkunjung ke sana, meskipun dirinya merasa sangat lelah setelah perjalanan marathon ke Kroasia.
Berbagai menu khas Monaco, tersaji dengan lengkap di atas meja. Olivia dan beberapa pelayan yang menghidangkannya. “Kapan kau kembali dari Italia?” tanya Adriano. Tak biasanya pria itu bersikap peduli pada gadis berambut hitam tersebut.
“Aku hanya sebentar di Piana, dan langsung terbang ke Italia. Orang tuaku menitip salam untuk Anda dan juga nyonya,” jawab Olivia berdiri sejenak sambil menghadap kepada Adriano. Sepasang matanya selalu berbinar indah setiap kali menatap pria rupawan itu.
“Lalu, bagaimana dengan Arsen? Apa dia sudah kembali ke Yunani?” tanya Adriano lagi.
“Belum, Adriano. Tuan Moras sedang mengunjungi sahabatnya. Aku rasa dia baru akan kembali besok,” Mia menjawab pertanyaan sang suami yang sebenarnya dia tujukan kepada Olivia. “Dia mungkin tidak nyaman karena di sini hanya ada para wanita,” lanjutnya lagi.
“Lalu, Pierre? Sejak tadi aku belum melihatnya,” tanya Adriano lagi yang merasa heran karena sang ajudan tak ada saat dia kembali.
Mia yang baru mengisi piring Miabella dengan menu pilihan gadis kecil itu, kembali mengalihkan perhatian kepada sang suami. “Dalam dua hari terakhir, Pierre terus dihubungi oleh kerabatnya. Entah untuk urusan apa,” jelas Mia. “Ah, hampir saja aku lupa. Kemarin-kemarin tuan Herrera datang kemari,” ucap Mia yang membuat Adriano hampir tersedak. Pria itu segera meneguk minumannya dan menoleh kepada sang istri dengan sorot aneh.
“Untuk apa dia kemari?” tanya Adriano heran.
“Entahlah. Dia hanya mengatakan ingin bertemu denganmu. Namun, karena kau belum kembali dari Sicilia, maka dia pun langsung pulang. Aku rasa mungkin Pierre lebih tahu,” jelas Mia.
“Siapa tuan Herrera?” tanya Coco yang sejak tadi asyik menyantap makanan sambil menyimak obrolan sepasang suami-istri itu.
“Dia hanya seorang kenalan bisnis,” jawab Adriano tampak malas saat mengingat sosok pria berwajah dingin tersebut.
“Pria itu mengingatkanku pada seseorang. Ternyata memang benar jika di dunia ini kita semua memiliki duplikat masing-masing,” Francesca ikut berkomentar. Sedangkan Mia dan Adriano memilih untuk tidak menanggapinya, karena mereka tahu siapa yang gadis itu maksudkan.
“Memangnya dia mengingatkanmu kepada siapa? Aku harap bukan salah satu dari deretan mantan kekasihmu, Francy,” Coco menanggapi ucapan Francesca sambil kembali menyantap makanannya.
“Tentu saja bukan. Nanti akan kuberitahu,” balas Francesca. Dia merasa tak enak jika harus membahas hal itu di hadapan Mia dan Adriano.
Suasana yang tadi terasa hangat, berubah hening untuk sesaat. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing sambil menikmati santap malam.
Namun, Mia merasa tak nyaman dengan keadaan seperti itu. Dia pun menatap Coco dengan sorot penuh rasa ingin tahu. “Katakan sesuatu padaku, Ricci,” pintanya memecah kebisuan di meja makan tersebut.
Coco yang masih menikmati sisa-sisa makanan dalam piringnya, segera menoleh kepada Mia. “Apa, Mia?” tanyanya.
“Katakan bagaimana Adriano bisa sampai terluka seperti itu?” pinta Mia.
__ADS_1
“Memangnya tuan keren ini tidak mengatakan apapun padamu?” Coco balik bertanya sambil melirik kepada Adriano yang bersikap tak peduli sama sekali. Pria itu masih menikmati santap malamnya.
“JIka tahu, maka aku tak aka bertanya padamu,” balas Mia.
Coco tertawa pelan. Dia lalu meneguk minumannya. Pria itu merekatkan kedua tangan dengan jemari yang saling bertaut, kemudian dijadikan sebagai penopang dagu di atas meja. “Kami melakukan perjalanan ke Kroasia. Di sana suamimu berhadapan dengan seseorang dan dia benar-benar keren,” tutur Coco.
“Apa? Kroasia? Bukankah kalian pergi ke Sicilia?” Mia tak mengerti.
“Ya, Mia. Dari Sicilia kami langsung pergi ke Kroasia,” Adriano memperjelas penuturan Coco.
“Untuk apa kalian pergi ke sana?” tanya Francesca mendahului Mia.
Coco tersenyum sambil menoleh kepada sang kekasih. “Sebuah misi, Francy,” jawabnya enteng. “Kami menemui seseorang dan Adriano berhasil melumpuhkannya dengan sangat mudah,” ujar Coco lagi tanpa beban sedikitpun.
“Ya, sangat mudah,” timpal Adriano dengan bernada sindiran.
Mia dapat memahami makna dari nada bicara sang suami. Dia mengatap pria bermata biru itu dengan lekat, kemudian beralih kepada Coco. “Siapa yang kalian datangi sehingga Adriano harus pulang dengan luka lebam seperti itu?” selidik Mia tegas.
“Hey, Mia tenanglah. Suamimu masih sehat dan kuat berdiri dengan tegak. Wajahnya juga tetap terlihat menawan meskipun dihiasi luka lebam. Lagi pula, gaya bertarung Adriano ternyata sangat luar biasa. Aku benar-benar kagum. Seharusnya kau melihat itu, Mia,” Coco tersenyum lebar, tetapi membuat Mia tampak semakin melotot padanya.
“Seorang dari empat eksekutor Matteo,” jawab Adriano membuat Mia begitu terkejut. “Kami berhasil menemukan keberadaan pembunuh bayaran itu dengan menelusuri link yang diberikan oleh Marcus Bolt. Pria tersebut berada di Kroasia. Aku dan yang lainnya memang sengaja tidak merespon semua panggilan masuk karena satu dan dua alasan,” jelas Adriano lagi. “Aku berhasil menghabisi pria itu, Mia. Artinya, tinggal tiga orang lagi yang tersisa. Aku berjanji akan mempersembahkan salah satunya ke hadapanmu,” ucap Adriano lagi dengan yakin, membuat Mia merasa tak percaya.
“Ya, kau memang bisa diandalkan, Tuan Keren,” Coco menanggapi ucapan Adriano.
“Lalu apa yang kau lakukan saat itu? Kenapa kau terlihat baik-baik saja, sementara Adriano terluka seperti itu? ” Mia menautkan alisnya karena heran.
“Dia sibuk merekamku, Mia,” jawab Adriano dengan tenang seraya menatap Coco yang balas menatapnya dengan sama. Jawaban dari Adriano membuat Mia semakin terbelalak. Begitu juga dengan Francesca yang tak mengerti dengan ulah konyol dari sahabat Matteo tersebut.
“Ricci! Kau benar-benar keterlaluan!” Mia berkata dengan nada meninggi.
“Hey, Mia. Tenanglah. Adriano dapat mengatasi semuanya dengan baik. Dia adalah tuan sempurna yang selalu dapat menyelesaikan segala masalah dengan mudah. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya,” ujar Coco dengan begitu tenang. Dia tak merasa terpengaruh dengan kekesalan Mia atas sikap isengnya.
“Bagiamana mungkin aku tidak mengkhawatirkan suamiku sendiri! Dasar bodoh!” umpat Mia sambil berdiri. “Ayo, Bella. Sudah waktunya kau masuk kamar,” Mia segera menuntun Miabella berlalu dari ruang makan dengan membawa kekesalannya terhadap Coco.
“Kau memang keterlaluan, Ricci. Aku tidak akan membelamu kali ini,” ucap Francesca seraya ikut berlalu meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Kini di sana hanya ada Coco dan Adriano yang tampak menyunggingkan senyumannya seraya menggeleng pelan.
Coco menggaruk keningnya. “Para wanita memang sangat sensitif,” ujarnya.
“Ya, begitulah. Sebelum kembali ke Italia, aku ingin bicara sebentar denganmu mengenai rencana perjalanan kita ke London. Seperti yang kau ketahui bahwa Marco sibuk dengan urusan organisasi. Selain itu, dia juga menjadi ‘tahanan’ dari Ranieri muda. Itu artinya, hanya kau yang bisa kuandalkan. Kau harus menemani dan membantuku, karena aku juga tak mungkin membawa Mia ataupun Pierre. Ada banyak urusan yang harus ditangani ajudanku di sini,” papar Adriano sambil mengusap-usap dagunya.
“Apapun akan kulakukan selama itu berhubungan dengan Matteo. Saat nanti kita berhasil menemukan Elang Rimba, ingatkan aku untuk mematahkan kedua tangannya,” balas Coco menanggapi ucapan Adriano.
......................
Waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam, ketika Mia selesai membersihkan wajahnya dan berganti pakaian dengan lingerie satin berlapis kimono. Adriano pun baru keluar dari kamar ganti dengan celana tidur dan kaos putih polos. Sebelum naik ke ranjang, pria itu memperhatikan sang istri yang tengah menata bantal untuknya. Adriano lalu mendekat dan berdiri di belakang wanita berkulit kuning langsat tersebut.
Mia yang menyadari hal itu kemudian menghentikan apa yang sedang dilakukannya. Dia menegakan tubuh seraya berbalik.
Adriano tersenyum kecil. Dielusnya pipi Mia menggunakan punggung tangan. Dia tahu jika Mia masih merasa jengkel. Wajah cantik wanita itu terlihat masam. “Apa kau masih kesal, Mia?” tanya Adriano pelan. Sementara Mia tidak menjawab. Dia hanya mengempaskan napas pelan. “Kau begitu mengkhawatirkanku rupanya,” Adriano kian mendekat. Dia menyibakan rambut panjang Mia ke belakang, sehingga tampaklah leher jenjang sang istri dengan jelas. Tanpa permisi, pria bermata biru itu kembali mendaratkan ciumannya pada permukaan bibir Mia. Tak seperti biasanya, Mia kini merespon dengan melingkarkan tangannya di leher pria bertubuh tegap tersebut.
Makin lama, tubuh keduanya semakin merapat. Adegan ciuman itu pun berlangsung dengan semakin panas. Lihai, tangan Adriano melepas kimono yang Mia kenakan. Dia lalu merebahkan tubuh ramping sang istri di atas Kasur, sedangkan posisi Adriano sendiri kini berada di atas tubuh Mia. Dengan penuh gairah, pria itu mencumbui setiap lekuk tubuh sang istri, dengan sentuhan tangannya. Perlahan tangan itu terus bergerak menjelajahi permukaan kulit halus Mia yang begitu terawat. Adriano juga telah menurunkan tali kecil dari lingerie yang Mia kenakan, sehingga membuat dada sang istri terekspos dengan jelas. Tentu saja itu tak akan pernah dia lewatkan.
Adriano membenakan wajahnya di sana, menikmati apa yang selama ini hanya dapat dilihat dari luar, tetapi tak berani untuk dia sentuh. Berbeda dengan saat ini, ketika dirinya dapat memainkan hal tersebut dengan leluasa, membuat Mia menggelinjangkan tubuhnya saat menanggapi setiap rangsangan yang Adriano berikan padanya.
Pria itu melakukan segalanya dengan tidak tergesa-gesa. Dia ingin agar Mia dapat benar-benar menikmati cumbuannya.Wanita itu kemudian memejamkan mata, ketika rangsangan yang diberikan Adriano sudah melewati ambang batas dirinya. Mia melayang dan merasakan tubuhnya begitu ringan. Dia tak kuasa untuk berontak dari keindahan tersebut, dan hanya dapat menikmati setiap cumbuan yang diterimanya.
Dalam keadaan seperti itu, bayangan wajah tampan Matteo hadir dalam ingatan Mia. Dia seakan tengah berada di Casa de Luca, di atas tempat tidur yang selalu menjadi saksi penyatuan panas antara dirinya dan Matteo, dalam pergumulan penuh hasrat yang dilandasi cinta. Hal itu memang sangat indah, dan selalu membuat Mia terpesona kepada pria yang pernah menjadi ketua dari Klan de Luca tersebut. Matteo selalu tahu bagaiaman cara membuatnya merasa puas hingga tak mampu untuk berkata apa-apa. Bayangan tentang adegan percintaan tersebut, tampak begitu nyata melalui mata batin Mia.
“Aahhhhh … Theo ….” desah Mia diiringi sebuah lenguhan manja, sambil mere•mas rambut belakang pria yang saat itu tengah mencumbuinya tanpa henti. Namun, seketika Mia tersadar dan membuka matanya. Wanita itu tertegun dengan tatapan penuh sesal yang dia tujukan kepada Adriano. “Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk ….” Mia tak melanjutkan kata-katanya.
Adriano bangkit dari atas tubuh sang istri. Dia menatap wanita yang hampir saja dimilikinya malam itu, andai Mia tak menyebutkan nama yang membuat dirinya seketika kehilangan selera untuk melanjutkan permainan panas mereka. Tanpa berkata apa-apa, Adriano memilih beranjak ke pintu dan meninggalkan Mia yang masih termenung, sebelum akhirnya kembali tersadar dan segera membetulkan lingerinya yang hampir terlepas.
🍒
🍒
🍒
Satu lagi rekomendasi dari ceuceu. Silakan dicek dengan segera, ya.
__ADS_1