Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Primo Enigma


__ADS_3

Olivia menatap lekat kepada Mia juga Miabella, yang saat itu masih terlihat aneh dengan suasana mansion megah milik Adriano. Gadis berambut hitam tersebut tak pernah menyangka, bahwa kembalinya Adriano kali ini ke Monaco akan membawa sebuah kejutan yang teramat besar baginya. Perasaan indah yang telah tumbuh dalam hati gadis dari Pulau Corsica tersebut, menjadi hancur seketika. Terlebih, karena Adriano juga menikahi seorang janda.


Tak ubahnya dengan Olivia. Pierre pun sama terkejutnya atas keputusan diam-diam dari sang majikan. Pria empat puluh tahun itu merasa jika setelah peristiwa dua tahun yang lalu, Adriano terkesan banyak menyembunyikan rahasia dari dirinya. Padahal, Pierre merupakan ajudan kepercayaan pria rupawan itu sejak lama. Ada rasa kecewa dalam hati Pierre, karena dirinya bahkan tak bisa menghadiri acara pernikahan Adriano.


“Olivia, katakan pada kepala pelayan agar dia menyiapkan kamar untuk putriku,” titah Adriano sambil mengangkat tubuh mungil Miabella dalam gendongannya. Gadis kecil itu segera melingkarkan tangan di leher pria yang kini telah menjadi ayah pengganti baginya. Dia juga menyandarkan kepala di pundak Adriano dengan begitu nyaman, sehingga membuat Olivia ataupun Pierre beranggapan bahwa anak itu telah mengenal Adriano sekian lama.


“Baik, Tuan,” sahut Olivia dengan raut terpaksa. Lemas, kakinya melangkah ke bagian dalam mansion untuk menyampaikan pesan Adriano pada kepala pelayan.


Sementara, Pierre belum berbicara sepatah kata pun. Pandangannya lekat tertuju kepada Mia, dan sesekali pada gadis kecil yang masih bergelayut manja kepada tuannya. Pierre merasa pernah melihat wanita itu, tapi dia lupa kapan dan di mana tepatnya.


“Kau suka tempat ini, Principessa?” tanya Adriano sambil berjalan masuk bersama Miabella. Di sebelahnya, Mia memilih untuk tidak banyak bicara. Tak disangka, jika dirinya akan kembali ke tempat megah itu dengan status sebagai istri dari Adriano. Sedangkan Pierre mengirngi mereka dari belakang.


“Rumahmu sangat besar, Daddy Zio,” ucap Miabella polos, tetapi berhasil membuat Adriano tertawa pelan. Dia mencium pipi gembul gadis berambut cokelat itu dengan gemas. Terlihat jelas seberapa besar kasih sayang Adriano terhadap putri dari mendiang Matteo de Luca tersebut.


“Tempat seperti ini dinamakan mansion, Bella,” balas Adriano. “Kau pasti akan kerasan tinggal di sini. Aku akan menyiapkan tempat khusus untuk menjadi arena bermainmu. Kau pasti akan menyukainya, Sayang,” lanjut pria bermata biru itu dengan lembut.


“Aku terbiasa bermain dengan Kakek Damiano. Saat ibu tidak ada, kakek selalu membawaku ke kebun,” ucap Miabella lagi membuat perasaan Mia kembali teriris saat mendengarnya. Dia langsung tertunduk seraya menyentuh sudut matanya.


Sedangkan, Adriano hanya tersenyum samar saat menanggapi ucapan polos gadis kecil itu, seraya melirik kepada Mia yang masih terdiam.


“Mulai saat ini, ibumu tak akan ke manapun, Bella. Aku berjanji bahwa dia akan selalu menemanimu bermain, karena aku akan memarahinya jika sampai dia pergi lagi,” ucap Adriano sedikit bercanda, membuat Miabella tersenyum padanya.


“Bukankah kau sangat menyukai ibuku? Itu artinya kau tidak boleh memarahinya, Daddy Zio. Kakek Damiano yang mengatakan, jika sayang maka tidak akan marah. Karena itu kakek tidak pernah memarahiku,” ucap Miabella lagi, membuat Adriano hanya dapat menggaruk keningnya.

__ADS_1


“Oh, baiklah. Kalau begitu aku tidak jadi memarahi ibumu, karena aku sangat menyayanginya.” Adriano tertawa pelan.


Sementara Mia segera menoleh dan menatap pria itu untuk sejenak, sebelum Olivia datang dan memberitahukan bahwa kamar untuk Miabella telah siap. “Kamar untuk nona kecil sudah siap. Nyonya Calantha menyiapkan kamar tamu utama yang berada di koridor utara,” lapor Olivia sambil sesekali melirik ke arah Mia.


“Oh, ya. Itu tempat yang bagus, karena menghadap langsung ke taman sebelah mansion. Kau pasti akan menyukai kamarmu, Bella.” Adriano kembali memberikan senyuman untuk gadis kecil yang sejak tadi belum turun dari gendongannya.


Sebelum beranjak menuju kamar Miabella, Adriano sempat menoleh kepada Pierre yang sejak tadi terdiam memperhatikan mereka. “Pierre, tunggu aku di ruang pertemuan. Ada sesuatu yang harus kita bahas,” titahnya dengan raut dan nada bicara jauh berbeda, dengan yang tadi dia tunjukkan kepada Miabella.


Tanpa banyak bertanya, pria berambut cokelat itu mengangguk hormat. “Baik, Tuan. Aku akan segera ke sana,” balasnya sopan. Dia bergegas menuju ruangan yang Adriano sebutkan tadi.


Sementara, Adriano dan Mia menuju kamar yang telah disiapkan untuk Miabella. Mereka meninggalkan Olivia yang masih terpaku di tempatnya, menatap pria pujaan berlalu bersama wanita yang baru dia nikahi.


Benar saja. Kamar yang dimaksud memang sangat nyaman, dengan jendela berukuran cukup lebar. Jendela itu menghadap langsung ke taman sebelah mansion. Ruangan kamar tadi pun sangat luas, untuk ukuran sebuah kamar tamu. Di sana terdapat tempat tidur besar, dengan ranjang yang dihiasi kelambu berwarna putih.


“Jangan terlalu berlebihan, Adriano. Aku takut Miabella akan menjadi gadis yang manja, jika kau memperlakukannya dengan cara seperti itu,” protes Mia pelan.


“Tak apa, Mia. Aku akan melakukan hal yang sama terhadapmu,” balas Adriano dengan tatapan penuh arti, kepada wanita yang juga tengah menatapnya. Namun, tak berselang lama Mia memilih untuk memalingkan wajah demi menghindari sorot mata biru yang terasa menghanyutkan, dan akan membuat siapa pun yang melihatnya pasti merasa terlena.


Mia tak ingin dan tentu saja belum merasa siap, untuk terjatuh dalam pusaran yang Adriano ciptakan untuknya. Dia sedang tak memikirkan masalah cinta kali ini. Wanita itu mengabaikan rasa sepi tanpa seorang pria. Bagi Mia, kesendirian akan jauh lebih baik daripada harus mengkhianati kenangan indahnya bersama Matteo.


Namun, lain halnya dengan keadaan dia sekarang. Pada satu sisi, Mia berharap agar Adriano dapat segera menemukan pelaku pembunuhan Matteo. Akan tetapi, di sisi lain dia harus siap untuk menyerahkan dirinya andai pria itu telah berhasil memenuhi janji. Mia terus termenung sambil menemani Miabella yang telah tertidur lelap.


Sementara, Adriano menuju ruang pertemuan untuk membahas sesuatu yang penting dengan sang ajudan setia. Pierre Corbyn telah menunggunya sejak tadi dengan begitu sabar. Dia segera menyambut kehadiran Adriano di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Ruangan pertemuan itu memang tidak terlalu luas, tetapi desain interiornya tampak sangat modern. Di sana juga dilengkapi dengan berbagai furniture penunjang, yang membuat kesan mewah serta elegan kian terasa.


Dalam ruangan tadi, terdapat sebuah meja berbentuk bulat, dengan beberapa kursi yang melengkapinya. Salah satu dari kursi di sana dikhususkan untuk Adriano. Pierre segera mempersilakan tuannya untuk duduk.


“Siapa wanita yang telah Anda nikahi itu, Tuan? Terus terang saja, aku merasa pernah melihatnya,” ujar Pierre. Kehadiran Adriano di sana, segera disambut oleh sebuah pertanyaan yang sejak tadi membuat sang ajudan berpikir keras.


“Akhirnya dia menjadi istriku yang sah, Pierre,” jawab Adriano sambil duduk di kursi kebesarannya dengan penuh wibawa. Pria itu kemudian membuka file-file yang dia bawa dari Italia. Belum juga terjawab pertanyaannya tentang Mia, tumpukan kertas di atas meja membuat Pierre kembali dihampiri rasa penasaran yang semakin besar.


Pierre saat itu sudah duduk di salah satu kursi yang berada dekat dengan Adriano. Pria itu fokus memperhatikan tumpukan kertas yang sedang diperiksa oleh majikannya hingga beberapa saat.


Tak berselang lama, terdengar suara helaan napas panjang meluncur dari bibir Adriano. Pria rupawan tersebut, lalu merapikan kembali tumpukan kertas di hadapannya. Dia mengalihkan pandangan kepada Pierre yang sejak tadi terlihat kebingungan juga begitu penasaran. "Pelajari file-file ini dengan baik," titahnya seraya menyodorkan map berisi lembaran kertas tadi, pada orang kepercayaannya tersebut.


"File apa ini, Tuan? Apakah Anda akan membeli tanah lagi?" tanya Pierre seraya menautkan alis. Dia meraih map itu kemudian membukanya. Baru membaca halaman depan, matanya sudah terbelalak sempurna. "Tidak mungkin. Apakah ini benar?" gumamnya tak percaya.


"Ya, Pierre," jawab Adriano meyakinkan. "Matteo de Luca tewas terbunuh sekitar satu tahun yang lalu di Milan. Dia diserang dari belakang dalam posisi tak bersenjata sama sekali." Adriano terdiam sejenak seraya mengembuskan napas panjang. "Kau tahu, betapa tangguhnya pria itu, sehingga yang menjadi lawan Matteo sampai harus menghabisinya dengan curang," lanjut pria itu lagi dengan nada penuh sesal.


"Maksud Anda?" tanya Pierre tak mengerti.


"Satu orang tak mampu melumpuhkan seorang Matteo de Luca, sehingga dibutuhkan empat orang sekaligus untuk mengeksekusi pria itu secara bersamaan. Aku benar-benar penasaran, siapa dalang di balik semua ini. Orang terdekatnya berpikir bahwa Matteo dihabisi dengan senjata yang sangat canggih, dan dilakukan oleh penembak jitu. Dia bahkan berpikir jika Matteo dihabisi dengan senjata hasil buatannya sendiri," tutur Adriano dengan tatapan menerawang.


"Sungguh akhir yang tragis. Namun, bukankah itu bagus, Tuan? Dengan tewasnya Matteo, artinya Anda tak perlu lagi bersusah payah mengotori tangan Anda dengan darahnya," ujar Pierre seraya menyeringai puas.


Adriano menatap tajam sang ajudan, ketika mendengar ucapan demikian. Tak salah Pierre berkata demikian, karena pria itu tidak mengetahui bahwa Adriano telah mengurungkan niat untuk membalas dendam, yang selama ini sudah dirancangnya dengan sebaik mungkin. "Aku tidak mengharapkan Matteo mati dengan cara seperti itu. Rasanya terlalu disayangkan, seseorang yang hebat seperti dirinya harus berakhir di tangan para pengecut," tegas Adriano dengan penekanan yang dalam.

__ADS_1


"Ya, Anda benar sekali. Namun, andai dia memang dihabisi dengan senjata buatannya sendiri ... itu akan jauh lebih mudah untuk dideteksi. Setahuku, senjata buatan Klan de Luca tidak dijual bebas pada sembarangan orang. Itu menurut yang kudengar dari kolega Anda Sergei Redomir," ujar Pierre.


__ADS_2