
Miabella menjatuhkan ponselnya begitu saja. Dia terus berontak untuk menolak kedua pria bertubuh tinggi besar yang memaksanya masuk. “Carlo!” teriak gadis itu, tapi suaranya langsung menghilang karena mereka segera membekap mulut Miabella, sambil terus memaksanya masuk ke mobil.
Sementara Carlo berdiri terpaku. Dia seakan dapat menggambarkan dengan jelas semua reka adegan yang dialami oleh Miabella. Tanpa pikir panjang, pengawal pribadi Miabella itu bergegas menuju ke kamar Adriano. Pria dengan tato yang memenuhi lengannya tersebut mengesampingkan segala rasa segan. Selama dirinya tinggal di mansion, ini adalah kali pertama dia mengetuk ruang pribadi sang tuan besar. Terlebih, Carlo melakukannya pada tengah malam seperti itu.
Cukup dengan dua kali ketukan di pintu, telah langsung membuat Adriano membukanya. Dia muncul sambil mengikatkan tali kimono di pinggang. “Ada apa kau kemari malam-malam begini?” tanya pria bermata biru itu heran. Adriano kemudian menyugar rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan.
“Nona Miabella dan putra pertama tuan Marco de Luca telah diculik. Dengan atau tanpa izin dari Anda, saat ini juga aku akan berangkat ke Italia,” lapor Carlo. Raut dan nada bicaranya saat itu lebih dari sekadar serius.
“Jangan mengada-ada, Carlo. Ini sudah terlalu malam, putriku ada di Casa de Luca. Aku sudah memastikan hal itu dari Dante bahwa Miabella tidak ke mana-mana,” sanggah Adriano.
“Dia tidak pergi bersama Dante, Tuan. Nona keluar berdua saja dengan putra sulung tuan Marco. Dia bahkan tidak membawa ponselnya. Aku rasa nona pergi dengan diam-diam.” Kedua tangan Carlo sudah terkepal sempurna di samping tubuh. Masih terngiang di telingaanya, ketika Miabella meneriakkan nama 'Carlo' sebagai bentuk permintaan tolong.
Sementara Adriano tak segera menjawab. Dia menatap Carlo beberapa saat, sebelum akhirnya kembali masuk untuk mengambil ponsel. Tanpa membuat Mia merasa terganggu dari tidurnya, sang ketua Tigre Nero kembali ke pintu kemudian mengajak pria yang jauh lebih muda darinya itu untuk sedikit menjauh. Sedangkan kamar tadi telah tertutup rapat.
Adriano tampak menghubungi seseorang yang tiada lain adalah Dante. Dia menyuruh salah satu anak buah kepercayaannya tersebut agar memeriksa kamar Miabella. Beberapa saat lamanya kedua pria lintas usia itu menunggu laporan dari Dante, hingga ponsel milik Adriano bergetar sebagai pertanda adanya panggilan masuk. Pria itu pun segera menjawab panggilan tersebut. “Bagaimana?” tanya Adriano yang mulai memasang raut serius.
“Nona tidak ada di kamarnya, tuan,” lapor Dante yang seketika membuat wajah tampan Adriano menjadi merah padam.
“Bodoh!” sentak Adriano dengan tiba-tiba. “Kau benar-benar tidak bisa kuandalkan!” Adriano begitu murka.
“Maafkan aku, tuan. Beberapa jam yang lalu aku sudah memastikan nona ada di dalam rumah. Di kamera pengawas juga tak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Aku hanya melihat tuan muda Romeo beserta adiknya yang ....” Dante tak melanjutkan penuturannya, ketika dia melihat Tobia berjalan menuju dapur. “Astaga ....” Pria pecinta anjing itu mengeluh pelan.
“Kenapa?” tanya Adriano.
“Nona pergi dengan cara mengelabuiku, tuan. Sepertinya dia dan tuan muda Romeo memang bekerja sama agar bisa menyelinap keluar,” terang Dante penuh sesal.
Adriano mendengus kesal. “Hubungi Benigno dan minta agar dia mengerahkan anak buahnya untuk menyisir wilayah Brescia. Aku akan menghubungi Marco. Beritahu aku jika ada kabar terbaru,” titah Adriano yang langsung saja menutup pembicaraan itu meskipun Dante belum memberikan jawaban.
“Aku akan segera ke Italia. Permisi, Tuan,” tegas Carlo. Namun, sebelum itu dia teringat akan sesuatu. Carlo lalu membuka layar ponsel yang sejak tadi dia genggam. “Ini adalah foto-foto terakhir yang nona kirimkan padaku melalui ponsel milik putra tuan Marco.” Pria bertato itu mengirimkan ketiga foto dari Miabella ke nomor ponsel Adriano. Setelah itu, dia segera membalikkan badan.
Carlo melangkah gagah meninggalkan Adriano yang terpaku menatap kepergiannya. Kali ini, ayah dua anak tersebut tak bisa mencegah tekad kuat anak asuhnya tadi. Sang ketua Tigre Nero pun kemudian segera menghubungi Marco. Dia mengabarkan berita yang menimpa Romeo beserta Miabella. Ketua klan de Luca itu juga sama terkejutnya dengan Adriano. “Siapa pelakunya?” tanya Marco dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
“Aku sudah mengirimkan foto plat nomor mobil pada anak buahku di Roma. Tunggulah sebentar sampai mereka berhasil menemukan nama pemilik mobil itu,” jelas Adriano. Dia tak bisa bersikap tenang sekarang.
__ADS_1
Entah di mana Miabella berada dan bagaimana kondisinya saat ini. Hal itu telah membuat Adriano begitu kalut, sehingga memutuskan untuk membangunkan Mia pelan dan hati-hati.
“Sayangku.” Adriano mengusap lengan Mia lembut. “Kita harus berangkat ke Brescia sekarang juga. Bersiaplah,” bisiknya.
Walaupun suara Adriano terdengar begitu pelan, tapi cukup membuat Mia terbangun dengan raut bingung bercampur terkejut. “Brescia? Ada apa? Apa yang terjadi?” cecar wanita cantik itu dengan was-was. Seketika benaknya melayang pada kedua putri yang menginap untuk beberapa waktu di Casa de Luca. "Miabella? Adriana?" gumamnya resah.
Adriano merasa ragu untuk mengatakannya pada sang istri. Namun, Mia tetap harus mengetahui yang sebenarnya. Adriano pun mengempaskan napas panjang sebelum memulai berbicara.
“Adriano, jangan membuatku takut,” desak Mia yang merasa tak sabar.
“Bella menghilang. Dia dan Romeo telah diculik oleh orang tak dikenal,” jawab Adriano kemudian.
“Astaga!” Mia terkejut bukan kepalang. “Bagaimana bisa?” tanyanya lagi dengan suara bergetar.
“Dante lalai dalam menjaganya,” sesal Adriano sambil menggelengkan kepala.
“Ah, seharusnya kau biarkan saja Carlo yang menjaga putri kita, Adriano. Kau tahu bahwa hanya dia yang dapat diandalkan,” sahut Mia kecewa. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Aku akan bersiap-siap.” Sambil menyeka air matanya, Mia turun dari ranjang dan langsung berganti pakaian. Demikian pula dengan Adriano. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, mereka telah siap keluar dari kamar menuju landasan helikopter di atap mansion. Sementara Mia tak banyak bicara saat itu. Adriano pun terdiam seribu bahasa, karena merasakan penyesalan dan juga kekhawatiran yang luar biasa.
Sedangkan Carlo sudah memacu motor besar kesayangannya. Dia bahkan telah tiba di perbatasan antara Monaco dan Italia melalui jalan besar antar kota. Carlo tak mengendurkan laju motor yang dia kendarai, hingga merasakan ponselnya bergetar di saku celana.
Carlo pun segera menepikan motor dan memeriksanya. Dia berharap bahwa itu adalah kabar baik yang datang dari Miabella. Namun, yang muncul ternyata nomor Adriano. Dengan segera dia menjawab panggilan masuk tersebut. “Pronto."
“Carlo, Benigno beserta anak buahnya sudah berhasil menemukan informasi tentang plat nomor kendaraan. Mereka bahkan telah menemukan alamat pemiliknya. Namun, tak ada apa-apa di sana,” papar Adriano.
“Siapakah pemilik kendaraan itu, tuan?” tanya Carlo penasaran.
“Tercatat atas nama Alessio Bagliani, pemilik perusahaan tekstil terbesar di kota Milan,” jawab Adriano.
“Sepertinya aku tahu harus mencari ke mana. Baiklah. Tunggu kabar dariku, tuan,” tutup Carlo. Dia kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Tujuan Carlo kali ini adalah kota Milan. Lama perjalanan yang seharusnya menghabiskan waktu empat jam, cukup ditempuh dalam tiga jam saja. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari ketika Carlo tiba di pinggiran kota.
__ADS_1
Dia memelankan motornya dan berhenti di sebuah rumah sederhana.
Tanpa membuang banyak waktu, Carlo segera memarkirkan motor besar itu tepat di depan teras rumah tersebut. Dia mengetuk pntunya pelan dan menunggu selama beberapa saat, sampai si pemilik rumah membukanya.
Pintu pun terbuka. Seorang pria seumuran Carlo tampak mengucek mata. Dia terheran-heran melihat pengawal Miabella itu berdiri gagah di hadapannya. “Kau? Sedang apa di sini? Bukankah kau tinggal di Monaco?” tanya pria itu.
“Aku membutuhkan bantuanmu, Cedro,” jawab Carlo seraya memasuki rumah tanpa permisi. Baginya, sang pemilik rumah adalah lebih dari seorang sahabat. Tinggal bersama dalam panti asuhan semenjak mereka balita hingga usia remaja, membuat Carlo menganggap pria bernama Cedro itu seperti saudara kandungnya.
“Apakah ada masalah, Carlo? Kau tidak membuat tuan Adriano marah, ‘kan?” tanya Cedro penasaran.
“Tidak. Tentu saja tidak. Dia sangat baik padaku. Aku kemari hanya untuk mencari informasi,” jawab Carlo.
“Informasi apa?” tanya Cedro lagi.
“Tentang seorang pengusaha bernama Alessio Bagliani. Apakah dia masih tinggal di perumahan pusat kota?” Carlo malah balik bertanya.
“Aku sudah lama berhenti dari agen jasa penagih utang, Amico. Namun, dari kabar terakhir yang kudapatkan, rumahnya telah disita oleh pihak bank. Alessio sudah bangkrut. Perusahaannya juga sudah diambil alih oleh sebuah organisasi ….” Cedro kemudian terdiam. Dia tak melanjutkan kata-katanya.
“Organisasi apa?” desak Carlo.
“Um, maaf aku tidak bisa mengatakannya,” jawab Cedro ragu.
“Kenapa? Apa yang kau takutkan? Jangan khawatir, Cedro. Aku bekerja di bawah tuan Adriano. Asal kau tahu, dia juga termasuk salah seorang yang paling berkuasa di Italia,” bujuk Carlo tak berputus asa.
“Ya, tapi … tuan Adriano hanyalah seorang pengusaha. Bukan begitu?” timpal Cedro, membuat Carlo mengulum senyumnya. Wajar jika Cedro tak tahu siapa Adriano sebenarnya, karena memang Adriano sendiri yang menyembunyikan identitas sebagai ketua mafia terbesar di Eropa.
“Anggap saja tuan Adriano bisa membayar siapa saja untuk melindungimu. Percayalah padaku, Cedro. Kau akan aman. Aku juga tidak akan pernah membocorkan namamu sebagai pemberi informasi,” bujuk Carlo lagi.
“Hm.” Cedro menggaruk pelipisnya sambil berpikir untuk beberapa saat. Tak lama kemudian dia mengangguk dan mulai berbicara. “Alessio pernah menyewa organisasi mafia bernama Fedor. Memang organisasi itu terbilang kecil, tapi cukup kuat untuk menjaga semua aset miliknya. Hingga setahun lalu, Alessio bangkrut dan tidak mampu membayar upeti kepada Fedor. Sejak saat itu, dia menghilang. Kudengar, anggota Fedor telah membunuhnya,” tutur Cedro.
“Katakan padaku, di mana aku bisa menemukan markas organisasi itu?” mata biru Carlo tampak berkilat
“Jangan gila! Aku tak akan membiarkan dirimu berada dalam bahaya dengan masuk ke sarang mereka!” tolak Cedro tegas.
__ADS_1