Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Red Wolf Mystery


__ADS_3

"Bagaimana, Tuan muda?" seru Carlo yang masih menghadapi kedua pria tadi. Tangan dan kakinya sibuk menghalau semua serangan yang diarahkan kepada dirinya.


“Sudah kepalang tanggung! Habisi saja semua!” seru Romeo. Dia juga sibuk mengarahkan pistolnya pada pria yang bersembunyi di balik dinding lain bangunan tadi. Pemuda tampan itu menutup satu mata sambil berfokus mengarahkan senjata api yang dia pegang, pada objek yang berada beberapa meter di hadapannya.


Dengan penuh perhitungan, Romeo melesatkan pelurunya dan ternyata tepat mengenai sasaran. Peluru itu bersarang di kepala pria yang tengah bersembunyi di sana. Dia lalu mengedarkan pandangan, mencari kawan si pria terakhir yang baru saja dirinya habisi. Namun, pria itu tak ada di manapun. Romeo, kemudian berjalan mengendap-endap tanpa menjauh dari dinding, hingga dia tiba di depan pintu masuk utama yang sudah terbuka lebar.


Lain halnya dengan Carlo. Kali ini, tinggal satu orang lagi yang harus dia hadapi. Lawannya merupakan seorang pria berpostur tinggi besar. Pria tadi tampak begitu bernafsu untuk menghabisi lawannya menggunakan belati, dengan cara mengayun-ayunkan benda tajam itu ke arah Carlo. Namun pengawal tampan bermata biru tersebut lebih dulu menghindar ke samping, sekaligus melayangkan tendangan pada tangan yang tengah mencengkeram belati. Belati itu pun terlepas dari genggaman dan terjatuh ke tanah.


Merasa mendapat peluang, Carlo segera melesakkan satu tendangan berikutnya ke ulu hati pria tinggi besar tadi hingga terhuyung ke belakang. Namun, pria asing tersebut langsung dapat menguasai diri. Dia kembali tegak berdiri sambil mengepalkan tangan ke depan dada.


"Ah sial!" gerutu Carlo. Dia kembali konsentrasi dan bersiap memasang kuda-kuda. Setelah tinggal bersama Adriano, Carlo tak hanya belajar menembak. Dia juga terus mengasah ilmu beladirinya. Carlo bahkan menguasai beberapa jenis ilmu beladiri tersebut dengan sangat baik.


Kedua orang itu berada pada sikap waspada. Mereka saling menunggu siapa yang akan menyerang terlebih dulu. Akan tetapi, konsentrasi Carlo sedikit terpecah, ketika dirinya mulai menyadari bahwa sosok Romeo tak terlihat lagi di tempat dia berada. Rupanya, pemuda rupawan berambut pirang itu memutuskan untuk masuk ke dalam bangunan. Lagi-lagi, dia mengambil sebuah keputusan bodoh, tanpa berkoordinasi atau mempertimbangkan terlebih dahulu segala konsekuensi dari tindakannya tersebut.


“Sial!” gerutu Carlo lagi. Dia sudah dapat merasakan bahwa Romeo akan menghadapi bahaya di dalam sana. Ingin segera menyusul sepupu Miabella tersebut, akhirnya Carlo berinisiatif untuk menyerang lebih dulu. Dia berlari kencang sambil menyiapkan pukulan yang langsung dirinya hantamkan ke dagu pria itu.

__ADS_1


Barnekel berujung lancip yang dia pasang di tangannya berhasil meretakkan rahang si pria, meskipun setelah beberapa kali sempat meleset karena lawannya pun berada dalam sikap siaga. Namun, tentu saja Carlo tak akan menjadi anak asuh Adriano, andai dirinya tak memiliki sesuatu yang membuat sang ketua Tigre Nero merasa tertarik yaitu daya juang tinggi.


Carlo terus menyerang sambil melayangkan pukulan-pukulan mautnya, hingga ujung dari barnekel kini berhasil menembus ke bawah dagu musuh. Pria tinggi besar itu pun memekik kesakitan, lalu mundur beberapa langkah ke belakang dengan darah yang mengucur deras dari bawah dagunya. Dia terhuyung dalam posisi tubuh yang sudah sempoyongan dan kesulitan untuk tegak kembali.


Tak ingin berhenti dan membiarkan lawannya kembali dapat mengumpulkan tenaga, Carlo segera menyarangkan pukulan keras lagi. Kali ini, serangan yang dia lancarkan dilakukan dengan bertubi-tubi memakai benda tajam tadi ke arah rahang, hidung, dan juga pelipis. Pada akhirnya, pria itu pun benar-benar roboh dengan wajah bersimbah darah. Belum merasa puas, Carlo kemudian memukulkan barnekelnya ke ulu hati pria itu berkali-kali, sampai tubuh tinggi besar tersebut tak bergerak lagi.


"Pintu neraka menunggumu, Brengsek!" umpatnya sambil mengatur napas untuk sesaat.


Setelah memastikan bahwa pria itu benar-benar tewas, Carlo segera melangkahi mayatnya begitu saja dan bergegas masuk ke dalam bangunan. Hati-hati dan penuh kewaspadaan, mata birunya memindai setiap sudut ruangan untuk mencari sosok Romeo. Di sana, dia hanya menemukan mayat seorang pria dengan kepala berlubang karena terkena tembakan peluru. Akan tetapi, dia tak menemukan orang yang dirinya cari. Carlo pun memutuskan untuk memeriksa ruangan lain di bagian belakang.


Tanpa pikir panjang, Carlo menarik pisau lipat yang dia dapatkan dari Miranda. Pisau lipat itu selalu tersimpan di balik saku jaket bersama kalungnya. Dia melemparkan pisau lipat tadi dan tepat mengenai punggung tangan pria asing itu. Pistol yang berada dalam genggaman si pria sempat menyalak dan mengenai langit-langit ruangan, sebelum terlempar dan tergeletak di dekat Romeo yang mulai kehilangan kesadaran.


Carlo pun menerjang pria yang tengah kesakitan itu hingga roboh dengan posisi telentang. Bagian belakang kepala pria tadi mendarat di permukaan lantai kayu. Saking kerasnya hingga lantai tersebut menjadi retak.


Merasa di atas angin, Carlo menyeringai dan melompat ke atas tubuh pria berjenggot itu. Namun, ada sedikit keanehan di sana. Saat pria tampan itu berencana melancarkan pukulan, matanya menangkap mimik pria asing itu yang seakan ketakutan.

__ADS_1


Pria tersebut melotot dan terbelalak menatap pisau lipat yang masih menancap di punggung tangannya. Dia tampak terkejut, hingga gerakannya seolah membeku. Pria itu mendekatkan pegangan pisau lipat tadi ke wajahnya. Dia seperti tak merasakan sakit, padahal ujung belati itu menembus hingga ke telapak tangan.


Carlo pun dibuat keheranan dengan sikap aneh pria itu. Apalagi saat pria itu beralih mengamati wajah rupawan Carlo. “Krasnyy Volk?” gumamnya dengan mata masih tetap terbelalak.


“Apa kau mengenali benda ini?” Rasa penasaran Carlo sekarang jauh lebih tinggi dari keinginannya untuk menghabisi pria berjenggot tersebut.


Pria itu sudah membuka mulut sambil menatap Carlo dengan sorot ketakutan. “Ka-kau ….” Ucapnya terbata dalam bahasa Italia yang kaku.


Merasa tak sabar, Carlo mencabut pisau lipatnya dari telapak tangan, lalu menempelkan di leher pria itu. “Cepat katakan atau kupisahkan kepala dari tubuhmu,” ancamnya penuh penekanan.


Belum sempat pria tadi menjawab, terdengar suara Romeo yang mulai siuman. Carlo segera menoleh dan mendapati pemuda itu memegangi lehernya sendiri. Dia tengah berjuang untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin dari udara.


“Tuan muda!” seru Carlo seraya bangkit dan menghampiri pewaris tahta klan de Luca tersebut. “Apakah kau kesulitan bernapas? Biar kubantu.” Dengan cekatan, Carlo menyembunyikan pisau lipatnya kembali ke dalam saku, lalu menekan dada Romeo kuat-kuat sampai pemuda itu batuk-batuk.


Carlo kemudian membantu Romeo untuk duduk sambil menepuk-nepuk punggungnya hingga dapat bernapas dengan lancar. “Bagaimana? Apakah sudah lebih baik?” tanyanya khawatir.

__ADS_1


“Ya. Terima kasih, Carlo. Entah apa jadinya jika tak ada kau di sini. Mungkin aku sudah mati,” ucap Romeo lirih. Carlo sudah hendak menanggapi. Akan tetapi, dilihatnya pria berjanggut itu sudah tak berada di tempatnya lagi.


__ADS_2