Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Badly Lost


__ADS_3

Adriano yang menyadari sikap Juan Pablo, semakin erat merengkuh pinggang ramping Mia. Dia juga mengusap-usap lembut punggung mulus istrinya, sehingga Mia langsung bereaksi. Wanita cantik dengan gaun belahan tinggi pada bagian bawahnya itu menoleh sesaat kepada sang suami. Dia pun tampak membisikan sesuatu yang membuat Adriano tersenyum kalem, lalu menatapnya penuh arti. Sesuatu yang tak luput dari perhatian Juan Pablo saat itu. Pria latin tersebut barulah bersedia untuk mengalihkan perhatiannya dari Mia.


Namun, hal itu tak berlangsung lama. Sesaat kemudian, Juan Pablo kembali mengarahkan pandangan kepada sosok cantik yang telah menarik perhatiannya.


"Tunjukkan kehebatan Anda, Don Vargas," ujar salah seorang relasi pria asal Amerika Latin tersebut.


"Oh, tentu saja. Aku ingin segera memamerkan keahlianku pada tuan D'Angelo," sahut Don Vargas diiringi gelak tawa penuh percaya diri.


“Aku juga tidak sabar untuk melihat pertarungan ini. Akan tetapi, sebelum itu maka kupersilakan agar Tuan dan Nyonya D'Angelo untuk menikmati minuman dan hidangan yang telah tersedia,” sela juan Pablo. Bersamaan dengan itu, datanglah seorang pelayan yang membawa nampan berisi beberapa gelas sampanye mewah. Dengan cekatan, Juan Pablo meraih dua gelas dan memberikannya kepada Adriano juga Mia.


Mia melirik Adriano terlebih dulu sebelum menerima gelas kristal berisi sampanye mahal itu. Setelah Adriano mengangguk, barulah dia berani mengambil gelas yang telah disodorkan oleh Juan Pablo. Ujung jemari keduanya tanpa sengaja saling bersentuhan, sehingga membuat wajah pria dingin dan tak pernah tersenyum itu memerah seketika. Juan Pablo pun tampak salah tingkah hanya karena hal kecil tersebut.


Adriano yang melihat adegan tadi, lagi-lagi harus menahan rasa cemburu yang kian memuncak. Namun, Dia menutupinya dengan senyuman kalem nan menawan. “Istriku tak terbiasa meminum alkohol. Kuharap Anda tidak menawarinya lagi, Tuan Herrera,” ujar Adriano sambil tersenyum samar.


“Akan kuingat hal itu, Tuan D’Angelo,” sahut Juan Pablo dengan mimik sedikit terkejut.


“Ayolah, aku sudah tidak sabar,” ajak Don Vargas lagi yang langsung melingkarkan tangannya di pundak Adriano. Dia mengarahkan pria berpostur tegap itu pada deretan meja permainan yang masih berada satu ruangan dengan tempat berlangsungnya pesta. Di antaranya, terdapat meja poker, Baccharat, Big Six Whels dan meja roulette, permainan favorit Adriano tentunya.


“Lihatlah suamimu ini beraksi Mia,” bisik Adriano seraya menempatkan diri di depan meja roulette, setelah sebelumnya dia membantu Mia untuk duduk di sampingnya. Sambil memegang gelas sampanye, Mia terus memerhatikan Adriano dan para pria yang mulai larut dan asyik dalam permainan. Sesekali dia meneguk minuman dalam gelas kristal yang sedari tadi dipegangnya. Pria-pria itu berlomba menyebutkan sebuah angka sebagai taruhan. Mereka juga menyiapkan tumpukan koin-koin berbentuk besar yang terbuat dari plastik tebal.


Wanita cantik itu cukup tertegun saat mencicipi sampanye yang terasa begitu manis. Walaupun termasuk ke dalam minuman beralkohol, tetapi aromanya sama sekali tidak kuat, dengan cita rasa yang tak pahit. Itu tak seperti minuman beralkohol lain yang pernah Mia coba. Dirasa nikmat, wanita itu kembali meneguk sampanye lagi dan lagi.


“Jangan terlalu cepat dalam meminum sampanye, Nyonya. Minuman ini didesain untuk dinikmati secara perlahan. Apalagi Anda tidak terbiasa mengkonsumsi minuman keras sebelumnya,” ucap Juan Pablo yang ternyata berdiri di belakang Mia.


Mia pun segera menoleh dan mendongak. Wajah cantiknya mulai memerah secara alami, akibat pengaruh alkohol yang mulai merasuk ke dalam darah. “Rasanya enak sekali, Tuan,” Mia meringis, kemudian berdiri.

__ADS_1


“Mia, kau hendak ke mana?” sigap tangan Adriano memegang lengan sang istri, mencegahnya untuk pergi.


“Sampanyeku habis. Aku ingin mengambil lagi,” jawab Mia polos.


“Biar aku saja yang mengambilkan,” tanpa menunggu persetujuan dari Mia, Juan Pablo segera menjentikkan jarinya pada salah seorang pelayan. Seorang wanita muda kemudian datang menghampiri mereka. Dia membungkuk serta mendengarkan secara saksama ucapan Juan Pablo. Sesaat kemudian, wanita muda itu pun segera berlalu.


Tak berselang lama, pelayan itu datang bersama beberapa orang rekannya sambil membawa nampan dan troli berisi aneka macam hidangan. Juan Pablo mengambil satu gelas dan memberikannya untuk Mia.


“Terima kasih. Anda baik sekali,” ucap Mia dengan senyum manisnya. Dia lalu duduk kembali di samping Adriano dan meneguk sampanyenya lagi. Sesaat kemudian, Mia lalu mencondongkan tubuhnya pada Adriano sehingga bagian dadanya menempel di lengan pria itu, membuat Adriano seketika kehilangan konsentrasi saat seorang bandar memintanya untuk menyebutkan sebuah angka.


“Tuan D’Angelo,” bandar itu sampai harus mengulang pertanyaannya.


“Ah, maafkan aku,” perasaan Adriano makin tak karuan ketika Mia semakin merapatkan tubuhnya. Wanita cantik itu juga menyandarkan dagunya di pundak sang suami. Aroma parfume menguar dari tubuh Mia, membuat Adriano semakin tak dapat fokus pada permainan. Namun, sebisa mungkin dia harus mengembalikan konsentrasinya.


“Aku memilih taruhan bagian dalam,” Adriano meraup beberapa koin. Dia lalu menyebutkan sebuah angka dan meletakkan beberapa koin tersebut di angka yang dimaksud.


“Tolong lempar lagi bolanya,” pinta Adriano pada si bandar.


“Baik, Tuan,” bandar tersebut menuruti permintaan Adriano. Dia melemparkan sebuah bola perak kecil ke atas roda yang berputar.


“Sesuai tebakan Anda, Tuan,” ucap bandar itu yang segera disambut oleh tepuk tangan Don Vargas. Pria dengan rambut yang mulai memutih itu menyerahkan koin-koinnya kepada Adriano.


“Aku masih belum menyerah! Pasang lagi taruhannya,” Don Vargas mendorong tumpukan koin yang dia miliki. Koin yang menggunung itu kini telah berpindah ke tengah meja.


“Aku …,” kalimat Adriano terpaksa terjeda tatkala jemari lentik Mia mengusap lembut janggutnya. Dia melirik wanita cantik di sebelahnya untuk sesaat.

__ADS_1


“Anda akan mengganggu permainan Tuan D’Angelo, Nyonya. Sedikit menjauhlah dari suami Anda,” Juan Pablo membungkuk dan berbisik kepada Mia. Dia juga berani menyentuh bahu istri dari Adriano tersebut, kemudian menariknya mundur dengan lembut.


Tak terkira betapa panasnya hati Adriano melihat hal itu. “Jangan suruh istriku menjauh, Tuan Herrera. Aku tidak selemah itu. Dia sama sekali tidak menggangguku,” ujarnya dengan intonasi penuh penekanan.


“Ah, baiklah. Maafkan aku, Tuan. Aku hanya berusaha membuat kalian semua nyaman,” dalih Juan Pablo dengan sorot yang dingin dan tajam, seakan-akan hendak menantang Adriano.


“Sudah kukatakan bahwa dia adalah jimat keberuntunganku,” tanpa malu-malu, Adriano meraih dagu Mia kemudian mencium bibir burgundy itu dengan penuh gairah. Setelah puas, dia melepaskan tautannya dan kembali fokus ke meja roulette. Semua orang, tak terkecuali Don Vargas terpaku melihat sikap Adriano saat itu. Rasa cemburu telah membuat Adriano seakan kehilangan kontrol dalam dirinya.


Membalas tantangan Don Vargas sebelumnya, Adriano juga mendorong tumpukan koin ke tengah meja sambil menyebutkan beberapa angka. Si bandar mengangguk, lalu melemparkan bola kecil ke dalam roda yang berputar. Bola itu berhenti pada angka yang tidak jauh dari yang telah disebutkan oleh Adriano.


“Anda berhasil lagi, Tuan,” si bandar meraup seluruh koin di tengah meja, kemudian menyerahkannya pada sang ketua Tigre Nero.


“Ya, ampun. Ini sulit dipercaya,” Don Vargas menyugar serta mengacak-acak rambut putihnya.


“Kita kalah telak,” sahut salah seorang rekan Don Vargas. Wajah-wajah murung itu hanya bertahan beberapa menit, kemudian berganti lagi menjadi tawa ketika Adriano menawarkan untuk melanjutkan permainan.


Sementara Mia yang mulai bosan, menoleh pada Juan Pablo dan mengangkat gelasnya yang telah kosong. “Aku mau lagi,” pintanya setengah berbisik.


Tanpa banyak bicara, Juan Pablo langsung mengambilkan satu gelas di atas nampan dan memberikannya kepada Mia.


“Anda mulai mabuk, Nyonya. Jangan minum terlalu cepat dan terlalu banyak,” saran Juan Pablo. Kini pria itu mendekatkan dirinya dan duduk di sisi Mia. Wajahnya juga berada di dekat wajah Mia, membuat Adriano segera berdiri dengan tatapan tajam dan tangan terkepal.


🍒🍒🍒


Hai, satu lagi rekomendasi novel keren untuk dimasukkan rak favorit.

__ADS_1



__ADS_2