Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Di Balik Blazer Bianca


__ADS_3

“Oh tentu. Tak ada alasan bagiku untuk tidak memperkenalkan kalian berdua,” ucap Pierre seraya menoleh kepada Delphine. “Dia adalah Bianca Alegra. Rekan bisnis sekaligus kenalanku di Monaco.” Pierre kemudian mengalihkan tatapannya kepada Bianca yang masih berdiri anggun tak jauh darinya. “Nona Alegra, perkenalkan sahabatku sejak kecil ... Delphine Varane.”


Bianca menatap lekat wanita cantik yang masih berdiri, sambil memegangi pintu mobil yang sudah terbuka. Mantan kolega bisnis Adriano tersebut tampak memicingkan matanya. “Delphine Varane? Kau koki terkenal itu?” tanya Bianca meyakinkan bahwa dia tidak salah mengira.


“Astaga. Apa aku sangat terkenal?” Delphine tersenyum kikuk.


“Ibuku selalu menonton acara yang kau bawakan di televisi. Dia juga mencoba berbagai resep yang sering kau bagikan. Ibuku selalu ingin bertemu denganmu,” tutur Bianca dengan sorot mata yang sangat berbeda dari yang biasa Pierre lihat. Saat itu, Bianca tampak begitu bersahabat dengan senyumannya yang tak dibuat-buat sama sekali.


“Oh, pasti akan sangat menyenangkan jika kami bisa bertemu secara langsung. Sampaikan salamku untuk ibumu,” balas Delphine menanggapi penuturan Bianca.


“Tentu. Pasti akan kusampaikan. Dia tak akan menyangka tentang hal ini. Ah, tunggu sebentar.” Bianca merogoh ponsel dari dalam tas. Dia lalu menyodorkan benda tersebut kepada Pierre. “Tolong fotokan kami berdua,” pintanya tanpa basa-basi terlebih dulu. Kedua wanita cantik itu langsung berdiri dengan posisi saling berdampingan. Mereka memasang pose terbaik masing-masing.


Sementara Pierre yang tak habis pikir, menuruti saja kemauan dua wanita tadi. Dia mengambil beberapa foto dengan berbagai pose yang berbeda. Beberapa saat kemudian, Delphine pun berpamitan dari sana, dan meninggalkan Pierre berdua dengan Bianca yang tengah asyik memainkan ponsel. Rupanya Bianca mengirimkan foto-foto barusan kepada sang ibu. Sementara itu, Pierre masih berdiri di sebelah wanita cantik tadi. Dia menunggu untuk beberapa saat hingga Bianca kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.


“Aku ingin bertemu dengan tuan D’aurville,” ucap Bianca kemudian seraya melirik pria di sebelahnya.


“Ayahku sedang beristirahat. Kalau kau mau, datang saja lagi besok,” saran Pierre tenang.


“Tidak bisa,” tolak Bianca dengan segera. “Besok aku akan kembali ke Monaco. Ini adalah hari terakhirku di Perancis,” ucapnya kemudian.


“Oh, begitu?” Pierre tampak manggut-manggut. “Jika memang teramat mendesak, maka kau bisa mengatakannya padaku. Lagi pula, diriku yang mengambil alih sementara tanggung jawab perusahaan selama ayahku sakit. Jadi, tak ada salahnya kau jelaskan maksud kedatanganmu kemari.” Pierre menoleh kepada Bianca yang kembali memasang raut tak bersahabat. Wajah ceria dan hangat saat bersama Delphine tadi, tak wanita itu tunjukkan di hadapannya.


“Aku tidak yakin jika kau paham apa yang akan kukatakan, mengingat kau terlalu lama bekerja sebagai seorang ajudan,” sahut Bianca setengah mencibir.


“Kukembalikan semuanya padamu. Kau yang menentukan pilihan. Lagi pula, aku tidak rugi sama sekali jika kau tak ingin membicarakannya denganku,” balas Pierre santai sambil berbalik dan meninggalkan Bianca yang tetap bergeming di tempatnya selama beberapa saat.

__ADS_1


“Tunggu!” seru Bianca ketika Pierre sudah berada di ambang pintu mansion milik sang ayah. Wanita cantik itu buru-buru menyusul Pierre dan berdiri di dekatnya. “Aku meminta waktumu sepuluh menit saja,” ujarnya dengan dagu terangkat. Bianca seolah tetap mempertahankan keangkuhannya di hadapan Pierre.


“Mari, Nona Alegra.” Pierre menggerakkan tangannya pelan sebagai isyarat agar Bianca mengikuti langkahnya. Dia tersenyum simpul, lalu berjalan dengan gagah di depan. Setelah melewati koridor panjang, Pierre berhenti di sebuah pintu besar berukir emas. Dia memutar pegangannya yang juga terbuat dari emas, kemudian membuka lebar-lebar untuk Bianca.


“Silakan masuk.” Pierre mengulurkan tangan dengan sopan.


Masih dengan sikapnya yang arogan, Bianca mengangguk dan melewati Pierre begitu saja. Dia lalu duduk di sofa mewah dengan gayanya yang begitu anggun. “Aku ingin menagih janji ayahmu,” ujar Bianca ketus.


“Janji apa?” Pierre menautkan alis seraya melipat kedua tangan di dada. Posisinya masih tetap berdiri di hadapan Bianca.


“Tuan Alexander berjanji bahwa dia akan terus menyokong bisnisku sebagai pengganti mendiang ayah. Jadi, sekarang aku meminta padanya untuk menyelamatkan perusahaanku. Dalam tiga hari terakhir, saham perusahaanku terjun bebas. Aku ingin tuan Alexander melakukan sesuatu,” jelas Bianca.


Pierre tak segera menanggapi. Dia malah memperhatikan Bianca dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Tidakkah kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan, Nona Alegra?” tanyanya kemudian. Nada bicara Pierre terdengar dingin dan datar.


“Memangnya apa yang salah? Tanyakan pada tuan Alexander. Aku yakin, dia masih mengingat janjinya,” sahut Bianca ketus.


“Kau datang ke sini dan meminta sesuatu yang tak masuk akal pada ayahku. Semua itu hanya berdasarkan janji yang pernah dia ucapkan di masa lalu?” Pierre terkekeh, kemudian menggeleng pelan.


“Memang seperti itu kenyataannya!” tegas Bianca sambil berdiri dan bersikap seolah-olah hendak menantang Pierre.


“Apakah kau seputus asa ini, Bianca? Sampai-sampai kau berpikiran untuk menagih janji tak tertulis dari ayahku,” desis Pierre.


“Jaga bicaramu, Pierre! A-aku ....” Bianca tergagap. Dia seakan tak mampu melanjutkan kata berikutnya.


“Ini dunia bisnis, Nona Alegra. Segala sesuatunya harus jelas dan dinyatakan dalam perjanjian hitam di atas putih. Jika kau berbicara hanya berdasarkan ingatanmu saja, maka seluruh dunia akan menertawakan dirimu. Sebagai seorang pengusaha, tentunya kau pasti paham bahwa kita tidak mengeluarkan uang begitu saja tanpa mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Pebisnis mana yang bersedia membuang uangnya percuma tanpa mendapatkan keuntungan apa-apa?” ujar Pierre.

__ADS_1


“Jika kau menginginkan bantuan dari D'Aurville, maka kau harus memberikan timbal balik yang setimpal.” Pierre menyeringai, menampakkan gigi putihnya yang berderet rapi. Puas sekali dirinya saat melihat raut Bianca yang seketika berubah menjadi pucat pasi.


"Sebaiknya aku pulang saja," ucap Bianca seraya beranjak ke dekat pintu.


"Apa kau ingin kuantar?" tawar Pierre.


"Tidak usah. Aku bisa naik taksi," tolak Bianca. Dia bermaksud untuk berlalu dari hadapan Pierre. Bianca membuka pintu dan bergegas keluar dari sana. Suara derap langkah dari hak sepatunya terdengar begitu berirama.


Pierre yang awalnya hanya berdiri mematung, segera melangkahkan kaki. Dia bergegas menyusul Bianca. Untunglah karena jarak wanita itu belum terlalu jauh. Dengan gerakan cepat, Pierre meraih pergelangan tangan wanita tersebut. Bianca pun seketika menoleh padanya. Namun, belum sempat dia melakukan protes, Pierre sudah lebih dulu mendorong mundur tubuh sintalnya hingga bersandar pada dinding.


"Jangan macam-macam, Pierre," cegah Bianca pelan. Terbayang kembali dalam ingatannya kejadian malam saat di pesta yang diadakan oleh Juan Pablo, ketika Pierre menciumnya tanpa permisi. Bukan tak mungkin hal itu akan kembali terulang, jika melihat gelagat serta raut aneh yang ditunjukkan pria bermata hijau tersebut.


"Manjauh dariku, Pierre!" tolak Bianca ketika pria itu semakin mendekat padanya. Pierre terus maju hingga dadanya bersentuhan langsung dengan dada Bianca yang membusung indah dan terasa kencang. Seketika, wanita cantik itu terdiam. Bianca tak berkutik. Dia hanya terpaku di saat Pierre mendekatkan wajah. Bianca pun segera memalingkan muka.


Tak ada pilihan lain bagi Pierre, selain mengecup leher jenjang wanita yang selalu bersikap angkuh tadi. Dia bahkan melakukannya hingga beberapa saat, menghirup parfume dari si wanita dengan aroma yang begitu lembut dan juga feminin.


"Kau ...." Bianca hendak protes. Namun, dengan segera dia mengurungkan niat tersebut. Wanita itu lagi-lagi hanya terpaku, ketika merasakan tangan Pierre yang berada di permukaan bagian depan blazer, kemudian menyibakkanya. "Pierre ...." Ucapan Bianca tertahan, saat pria itu bersikap lebih berani padanya.


Tatapan Bianca semakin sayu, ketika tangan Pierre menerobos masuk ke dalam tank top hitam yang dilapisi blazer. Jemari pria tersebut bergerak perlahan, terasa lembut memainkan sesuatu di baliknya. Bianca pun mende•sah pelan, teramat pelan karena dia takut ada orang lain yang mendengar. Bianca hanya menggigit bibir bawahnya, menahan setiap perlakuan Pierre.


"Apakah ini timbal balik yang kau maksud?" tanyanya pelan.


"Terserah kau anggap apa," jawab Pierre. Dia menarik serta mengeluarkan tangan dari dalam tank top yang Bianca kenakan. Tak dipedulikannya wanita yang terengah karena perlakuan barusan. "Akan kucarikan taksi untukmu," ucapnya kemudian. Dia membalikkan badan, bermaksud untuk meninggalkan wanita itu. Akan tetapi, belum sempat dirinya berlalu dari hadapan Bianca, wanita cantik tersebut lebih dulu segera mencekal pergelangan tangan Pierre seakan menahannya untuk pergi.


🍒 🍒 🍒

__ADS_1


Jangan ngintip yang lagi pacaran, baca novel ini dulu yuk



__ADS_2