
Maserati GranCabrio Sport hitam milik Adriano, telah terpakir di halaman mansion milik Don Vargas. Pria dengan kemeja putih dan tatanan rambut gelap yang disisir rapi ke belakang itu, segera keluar dari dalam mobil mewah tersebut. Adriano melangkah dengan gagah sambil melepas kaca mata hitam bermerk terkenal yang dia kenakan, lalu memegangnya menggunakan tangan kanan. Bersamaan dengan itu, tampaklah dua orang pengawal yang segera menyambut kedatangan sang ketua Tigre Nero di sana.
"Don Vargas sudah menunggu Anda," ucap salah seorang dari dua pengawal tadi. Sementara Adriano tidak menjawab. Dia hanya menanggapi dengan sebuah anggukan kecil. Kembali dilangkahkannya kaki dengan penuh wibawa menuju bagian dalam mansion. Adriano pernah datang sekali ke tempat tersebut saat menghadiri jamuan pesta. Namun, saat itu dia tak terlalu memperhatikan dengan detail dari setiap barang yang ada di sana. Barulah kali ini, Adriano melihat foto berukuran besar dari Don Vargas dalam seragam militer. Pria dengan kemeja putih tadi tertegun sejenak, lalu memandangi foto itu. Di sana, Don Vargas terlihat jauh lebih muda dari yang dia kenal saat ini.
"Itu hanya sebagian dari kenangan masa mudaku, Tuan D'Angelo," suara Don Vargas dengan logat Amerika Latinnya yang sangat kental, seketika mengejutkan Adriano. Pria bermata biru tersebut segera menoleh kepada sang pemilik mansion mewah, yang tengah berjalan ke arahnya.
"Rupanya Anda juga berasal dari kalangan militer," Adriano menanggapi ucapan pria paruh baya dengan rambut agak gondrong itu.
"Ya, begitulah. Aku adalah seorang perwira angakatan darat," balas Don Vargas yang kemudian berdiri di sebelah Adriano seraya memandangi foto masa mudanya yang tampak sangat gagah. Pria itu pun tersenyum simpul. "Ah, sudahlah. Tidak ada yang menarik untuk dibahas dari masa laluku, karena aku lebih menikmati kehidupanku yang sekarang. Diakui atau tidak, kita akan jauh lebih dihargai jika memiliki pamor dan gelimangan materi yang berlimpah. Omong kosong dengan kebaikan," ucap pria itu lagi. Dia lalu mengarahkan tangannya agar Adriano melanjutkan langkah ke bagian lain mansion.
Adriano berjalan berdampingan menuju beranda samping. Di sana ada satu set sofa berwarna putih. Don Vargas pun mempersilakan sang ketua Tigre Nero untuk segera duduk. Tak berselang lama, dua orang pelayan wanita datang menghampiri mereka. Keduanya menyuguhkan beberapa kudapan sebagai teman minum kopi. Setelah itu, mereka lalu berdiri dengan memberi jarak dari tempat duduk sang majikan beserta tamunya.
"Sebenarnya, aku ingin berbincang-bincang dengan Anda semalam. Namun, sayang Anda memilih pulang cepat," ujar Don Vargas memulai percakapan di antara mereka.
"Aku minta maaf. Semalam aku tidak bisa berkonsentrasi," kilah Adriano. Tak mungkin dia mengakui bahwa dirinya dibakar api cemburu atas perlakuan Juan Pablo terhadap Mia.
"Ya, tidak apa-apa. Lagi pula, Anda sudah menang telak dalam permainan," sahut Don Vargas seraya tertawa pelan. Dia lalu meneguk kopinya sesaat. Setelah itu, Don Vargas kembali meletakkan cangkir keramik yang dia pegang di atas tatakan kecil. "Omong-omong, apa Anda tidak tertarik untuk ikut bergabung dalam bisnisku?" tawarnya.
"Bisnis apa lagi?" tanya Adriano setelah meneguk kopinya.
"Aku dengar bahwa Anda merupakan produsen narkoba terbesar di Eropa. Sesuatu yang sangat luar biasa. Kita berdua tahu seberapa menguntungkannya usaha tersebut," seringai Don Vargas.
"Itu sudah menjadi rahasia umum," balas Adriano tenang seraya menyilangkan kakinya.
__ADS_1
"Ya, benar sekali. Namun, apa Anda pernah mencoba untuk berbisnis dalam bidang penjualan senjata? Itu sama menguntungkannya dengan narkoba," Don Vargas kembali menunjukkan seringainya.
"Senjata?" ulang Adriano. Pria bermata biru itu menatap lekat lawan bicaranya. "Seperti apa?" tanya Adriano.
“Segala macam jenis senjata. Mulai dari senapan serbu, pistol berkaliber kecil hingga senjata-senjata antik,” jawab Don Vargas sambil tersenyum lebar.
“Aku sama sekali tidak tertarik untuk terjun dalam bisnis senjata, Don. Aku bahkan sempat berpikiran untuk mengalihkan bisnis narkoba yang selama ini kupegang, dan berpikiran untuk murni menjadi pebisnis saja. Membesarkan resort, kasino dan klub malamku,” tutur Adriano dengan mata menerawang lurus ke arah taman di depan beranda.
“Apa aku tidak salah dengar?” Don Vargas tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Dia menoleh dan terbelalak. Pria itu juga meletakkan cangkir kopinya dengan begitu saja, lalu menatap tajam kepada Adriano.
Pria rupawan bermata biru tersebut malah terkekeh pelan. “Itu hanyalah bagian rencanaku di masa depan, Don. Mia menginginkan kami hidup tenang, jauh dari bahaya,” ujarnya.
Don Vargas mengembuskan napasnya pelan, lalu kembali bersandar di sofa. “Sejujurnya, akan sangat disayangkan jika Anda mundur terlalu awal dari dunia hitam ini. Nama Adriano D’Angelo sudah menggema di mana-mana. Kekuasaan, wilayah, dan tentu fisik yang sempurna, semuanya sudah Anda menangkan,” pujinya tanpa jeda.
“Jangan terlalu berlebihan, Don. Aku tidak sehebat yang Anda kira,” elak Adriano. Ada sedikit rasa tak nyaman dalam hatinya.
Jantung Adriano seakan berhenti berdetak ketika Don Vargas menyebut nama itu.
“Siapa tadi yang Anda sebutkan tadi ?” desisnya seraya memicingkan mata.
“Nenad. Nenad Ljudevit. Dia adalah saingan terberatku dalam perdagangan senjata. Aku sangat membencinya. Dia selalu mengalahkanku dengan cara-cara yang licik. Kujamin, dia tidak akan bisa berkutik jika berhadapan denganmu,” tegas Don Vargas kembali menyeringai terhadap Adriano. Sisi lain dari pria yang selalu terlihat ramah itu mulai terlihat kini.
“Anda mengenal Nenad Ljudevit?” tanya Adriano. Matanya menyorot tajam kepada pria paruh baya yang tengah duduk di sofa tak jauh darinya itu.
__ADS_1
“Apakah Anda mengenalnya juga?” Don Vargas balik bertanya.
Dengan segera, Adriano menanggapinya lewat gelengan kepala. “Aku mendengar nama itu dari seorang teman,” ujar Adriano.
“Nenad Ljudevit merupakan seorang pedagang senjata asal Kroasia. Dia kerap berjualan dengan kasar, suka menyerobot wilayah orang lain dan sering berlaku curang. Banyak yang ingin membunuhnya, tapi mereka selalu saja gagal. Nenad itu bagaikan belut,” papar Don Vargas. "Kenapa aku berkata demikian? Karena dia memiliki perlindungan berlapis yang sulit untuk ditembus. Para pengawalnya merupakan orang-orang terlatih. Setahuku, bahkan ada beberapa dari mereka yang merupakan mantan militer dan sangat profesional," terang pria itu lagi.
Adriano terdiam sejenak seraya berpikir. Bayangannya kembali ke negara Inggris, di mana dia diculik oleh orang-orang tak dikenal dan hampir mati karenanya. Orang-orang itu juga terlihat sangat profesional. Pikirannya lalu beralih kepada Sergei. Menurut pengakuan pria asal Rusia itu, dia mengenal sosok Nenad. "Brengsek!" maki Adriano dalam hatinya. Tak salah jika dirinya telah menghabisi Sergei. Akan tetapi, jika memang otak dibalik penculikan serta percobaan pembunuhan atas dirinya memang benar Nenad Ljudevit, maka apa motifnya? Apa karena dia tahu bahwa Adriano tengah menyelidiki kasus pembunuhan terhadap Matteo de Luca?
Sesaat kemudian, perhatian Adriano kembali pada orang di hadapannya. “Anda tahu di mana Nenad tinggal?” tanya Adriano lagi.
“Seperti yang kukatakan tadi, Nenad bagaikan belut. Hidupnya berpindah-pindah. Dia tidak pernah menetap di satu tempat. Sosoknya pun sangat misterius. Tak ada yang tahu bagaimana rupa aslinya. Dia selalu menjalankan bisnis dengan bantuan orang ketiga,” jelas Don Vargas.
“Apakah dia sama seperti Elang Rimba?” celetuk Adriano tiba-tiba, membuat Don Vargas mendadak berubah pias.
“Elang Rimba?” ulang Don Vargas dengan suara bergetar. “Anda juga mengetahui tentang Elang Rimba?” bahasa tubuh pria paruh baya itu mulai terlihat tidak nyaman.
“Seperti yang Anda ketahui. Istriku adalah janda mendiang Matteo de Luca. Selama ini aku telah membantu dia untuk mengungkap pelaku pembunuhan suaminya. Aku sudah berhasil mengungkap dua dari empat penembak Matteo. Dua orang itu sudah berhasil kuantarkan ke neraka,” Adriano tersenyum samar. “Menurut Marcus Bolt, salah satu dari penembak itu adalah Elang Rimba. Dia menarik kesimpulan itu berdasarkan peluru yang dipakai dalam eksekusi,” imbuhnya. Wajah Adriano saat itu berubah dingin dan menakutkan.
“Elang Rimba berada jauh di atas Nenad. Makhluk itu adalah hantu. Kau tidak akan bisa menemukannya jika bukan dia sendiri yang berkehendak untuk menemuimu,” jelas Don Vargas datar.
“Anda berbicara seolah-olah mengenalnya dengan baik, Don Vargas?” Adriano kembali melontarkan pertanyaan yang terkesan hati-hati, tapi cukup menohok.
“Semua orang yang bergelut dalam dunia hitam di Benua Amerika, pasti mengetahui sosok Elang Rimba,” ujar Don Vargas seraya terkekeh. “Siapa pun yang ingin bisnisnya dilindungi, maka meminta bantuan kepada Elang Rimba adalah keputusan yang paling tepat. Sayangnya, Elang Rimba sangat selektif. Dia selalu pilih-pilih, siapa yang akan dan tidak ingin dia bantu,” lanjutnya.
__ADS_1
“Apakah Anda bisa membantuku untuk bertemu dengan Elang Rimba?” tanya Adriano masih terlihat tenang, tapi terlihat sangat serius.
Sedangkan Don Vargas terkesiap untuk sesaat, lalu kembali tertawa. “Aku mau saja membantu, asalkan Anda bersedia untuk bekerja sama denganku dalam mengalahkan Nenad,” jawabnya kemudian.