Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Peaceful Sky


__ADS_3

"Aku akan langsung pulang ke Amerika. Jadwal keberangkatanku sudah tertunda beberapa hari," ucap Juan Pablo sebelum berpamitan kepada Adriano dan juga Mia. Di sana juga tampak Marco yang ikut bergabung. Sedangkan Miabella lebih memilih untuk menyendiri.


"Gianna pun sudah tak pernah menghubungiku. Semoga dia tak marah karena pertarungan terakhir kita hari itu," ucap Adriano mencoba kembali mengakrabkan diri dengan Juan Pablo.


"Dia terlalu sibuk. Setelah kematian tuan Emiliano Moriarty beberapa tahun yang lalu, aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memberi sedikit tugas. Seperti yang kau tahu, Adriano. Dirimu sudah tak mau peduli dengan kasino kita yang berada di Inggris. Karena itulah, aku meminta Gianna untuk mengelolanya," terang Juan Pablo dengan nada bicara yang sangat biasa. Entah mengapa pria itu seperti tak memiliki senyum hangat sama sekali.


Adriano tertawa renyah saat mendengar ucapan Juan Pablo barusan. "Terlalu banyak hal yang harus kuawasi. Lagi pula, aku yakin kasino itu berada dalam pengelolaan orang yang tepat," ucapnya. "Selama Miabella kuliah di Inggris, aku pernah mengunjunginya beberapa kali. Aku sempat mampir ke sana. Apakah anak buahmu tidak mengatakannya?"


"Kebanyakan yang kutugaskan di sana adalah orang-orang baru," jawab Juan Pablo. Pria asal Meksiko tersebut kemudian terdiam untuk beberapa saat. Perhatiannya beralih kepada Miabella yang sedang asyik menyendiri menatap langit siang hari yang cerah. Suatu kebetulan karena hari itu cuaca pun tidak terlalu panas.


"Bolehkah aku berpamitan kepada Miabella?" tanya Juan Pablo meminta izin.


"Tentu saja, Juan. Dia keponakanmu. Kau tak perlu meminta izin," jawab Mia seraya tersenyum lembut.


Juan Pablo mengangguk pelan. Pria dengan setelan blazer serba hitam itu kemudian berlalu meninggalkan Adriano dan yang lainnya. Dia berjalan gagah menuju ke tempat di mana Miabella berada. Tanpa rasa canggung, Juan Pablo berdiri di sebelah gadis cantik bermata abu-abu tersebut.


Miabella pun segera menoleh. "Paman," sapanya.


"Aku akan berangkat ke Amerika. Entah kapan akan kembali ke Italia," ucap Juan Pablo dengan tatapan menerawang. "Langitnya berwarna biru. Indah sekali. Baru kali ini aku mengaguminya." Pria bermata cokelat madu tadi tersenyum kelu.

__ADS_1


"Lalu, apa yang kau lihat selama ini?" tanya Miabella yang belum mengalihkan pandangan dari sang paman.


"Langit malam," jawab Juan Pablo seraya membalas tatapan gadis cantik di sebelahnya. "Aku hanya melihat kegelapan, dan sedikit sekali menyaksikan awan putih di siang hari."


"Aku rasa, setelah pulang dari sini kau akan mengubah objek pandangmu," sahut Miabella tersenyum lembut.


"Mungkin karena itulah tiba-tiba aku ingin datang ke Italia. Terima kasih, Bella. Apa kau sungguh-sungguh telah memaafkanku?"


Miabella tak segera menjawab. Sepasang mata abu-abu miliknya masih menatap lekat kepada Juan Pablo. Gadis itu seakan tengah merekam rupa sang paman dalam ingatannya. Setelah merasa puas, barulah Miabella mengalihkan pandangan ke depan. Walaupun harus sedikit memicingkan mata, tapi dia tetap memaksa untuk terus melawan dan seakan ingin membedah dengan detail apa yang ada di ujung penglihatannya.


"Aku tak terlalu ingat seperti apa rupa asli ayahku selain dari selembar foto. Aku senang karena bisa melihatmu secara langsung. Ibuku mengatakan bahwa kalian cukup mirip, karena dia bahkan pernah mengira bahwa kau adalah ayahku yang hidup kembali." Miabella tersenyum simpul.


Tanpa merasa sungkan, Juan Pablo merengkuh pundak gadis muda itu. Dia bahkan mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih. "Aku juga pernah berada di posisimu saat ini, Bella. Ayah tiri yang merupakan idola terhebat dalam hidupku, meninggal ketika usiaku sebelas tahun. Tak hanya sampai di situ. Aku juga kehilangan seorang paman yang telah kuanggap sebagai pengganti ayah. Kau sesungguhnya masih sangat beruntung, karena dirimu dikelilingi oleh orang-orang yang mengasihi dengan tulus. Kau juga dapat mengekspresikan segala kesedihanmu dengan menangis."


"Apa saat itu kau tidak menangis, Paman?" tanya Miabella polos.


"Ayah tiriku dari kalangan militer. Dia terlalu malu untuk meratapi kesedihan. Ayahku mengatakan bahwa kematian merupakan bayangan setiap orang. Ia akan selalu mengikuti ke manapun kita pergi. Ayah akan lebih menyukai melihatku menangis, saat diriku menyambut kehadiran seorang anak. Tangis kebahagiaan." Juan Pablo menggumam pelan.


"Semua orang hidup dengan cara pandangnya sendiri, Bella. Kau juga pastinya memiliki jalan pikiran yang mungkin tak pernah terlintas dalam benak orang lain. Itu sah-sah saja. Kau sudah dewasa. Aku senang bisa memelukmu seperti ini. Suatu saat nanti, akan kukenalkan kau dengan putriku, Thia." Juan Pablo menurunkan tangannya dari pundak Miabella.

__ADS_1


"Kenanglah semua orang yang kau cintai, Bella. Karena hanya dengan cara seperti itulah, keberadaan mereka akan selalu terasa dan terus hidup dalam hatimu."


"Apa Paman akan pergi sekarang juga?" tanya Miabella sambil menyeka sisa-sisa air matanya.


"Aku harus segera berangkat, Bella. Telepon saja aku kapanpun kau perlu," ucap pria asal Meksiko itu. Dia lalu mengecup lembut kening Miabella.


Gadis itu mengangguk, kemudian memaksakan diri untuk tersenyum. "Sampaikan salamku untuk bibi Gianna dan juga putrimu Thia," ucap gadis itu lagi, sebelum Juan Pablo berlalu dari hadapannya.


"Tentu. Sampai berjumpa lagi, Miabella Conchetta de Luca." Juan Pablo menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. Setelah itu, dia lalu membalikkan badan dan terlihat kembali menghampiri Mia serta Adriano. Suami Gianna tersebut tampaknya sedang berpamitan kepada mereka.


Tanpa Juan Pablo ketahui, dari jarak yang tidak terlalu jauh ada sepasang mata yang terus memperhatikannya. Mata cokelat milik Coco mengawasi setiap pergerakan dari kakak tiri Matteo tersebut. Dia merasa heran, karena Miabella bisa langsung dekat dengan pria itu. Padahal, selama ini putri dari Matteo tadi selalu bersikap ketus terhadap dirinya. Jangankan untuk merengkuh dan mencium kening gadis cantik itu, untuk berbincang ala orang dewasa saja rasanya teramat sulit.


Sesaat kemudian, Juan Pablo telah tiba di halaman depan Casa de Luca. Dia meninggalkan acara lebih awal dari seharusnya karena harus mengejar pesawat. Pria yang masih terlihat memesona pada usianya yang telah menginjak setengah abad tersebut, tampak akan membuka kunci mobil ketika sebuah suara berhasil menghentikan geraknya. Juan Pablo pun segera menoleh.


Tampaklah Coco yang sedang berjalan ke arahnya. Pria itu memasang wajah yang tak seperti biasa. "Apa kau akan pergi?" tanya suami Francesca tersebut.


"Iya. Aku harus segera ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat," jawab Juan Pablo. Dia menatap pria yang berdiri tak jauh darinya.


"Aku mengenal Gianna. Dia pernah tinggal di sini selama beberapa waktu. Aku juga belum sempat mengatakan padanya, bahwa istriku Francesca masih menyimpan semua perhiasan yang dia hadiahkan dulu. Francy sangat menyukainya," ucap Coco berbasa-basi.

__ADS_1


"Syukurlah," balas Juan Pablo singkat. Sementara Coco terlihat canggung dan salah tingkah. Dia tak tahu harus berkata apa lagi, selain mengulurkan tangan untuk mengajak Juan Pablo bersalaman dengannya.


__ADS_2